The Legends Of Creator Hero

The Legends Of Creator Hero
Jeritan penyesalan



Empat hari telah berlalu semenjak penyerangan kepada Region. Selama empat hari itu, tidak ada gerak gerik apapun terjadi sehingga pertahanan kuat Region telah di nonaktifkan dan tingkat bahaya di turunkan ke peringkat tiga dan akan di hilangkan saat delapan hari telah berlalu.


Warga telah kembali menjalani aktifitas mereka, mulai dari membersihkan jalanan, menyiapkan makanan untuk para pekerja yang membangun kembali Region dari awal. Rigel bisa saja membuatkan sebuah rumah dengan mudah, namun warga menolaknya dan ingin membangunnya dengan usaha mereka sendiri. Rigel tidak menolaknya karena dia juga membutuhkan istirahat. Jadi untuk saat ini, Rigel sedang senggang dan berkeliling kota.


Setiap kali Rigel melewati para pekerja, mereka selalu memberikan hormat kepada Rigel. Karena melelahkan untuk membalas hormat mereka satu persatu, Rigel memilih untuk mengabaikan mereka. Pembangunan kota berjalan dengan cepat, bahkan Ray dan Fang turut membantu sesekali. Meskipun sangat merepotkan untuk mengurus berbagai hal, namun Rigel merasakan senang karena membuat sebuah Negara dari Nol.


Rigel telah berjalan sampai ke pinggiran kota yang masih belum di perbaiki. Dan dari kejauhan, suara seorang gadis kecil memanggilnya dengan riang.


"Kak Rigel~"


Rigel menoleh untuk mencari tahu siapa itu, di sana, Riri sedang berlari menghampirinya selagi melambaikan tangannya. Tidak hanya dia, namun anak-anak kecil lain yang seumurannya mengikuti di belakangnya, jumlahnya ada tiga orang anak perempuan dan dua laki-laki. Rigel mencari puing batu terdekat dan duduk di atasnya.


Senyuman tumbuh di mulut Rigel saat melihat anak-anak itu dapat bermain di bawah terik matahari dengan riang.


"Selamat pagi, Kak Rigel..." Kata Riri selagi bernafas kasar karena lelah, sementara anak anak lain menatap Rigel dengan kekaguman.


"Selamat pagi, Riri. Apa kau baik-baik saja?" Tanya Rigel.


"Ya, aku baik-baik saja." Balas Riri.


"Wahh, dia benar-benar pahlawan yang di ceritakan ayahku!" Ujar salah satu anak laki-laki dengan semangat.


"Benar! kau hebat Riri karena Tuan Pahlawan bisa mengenalmu!" Seru anak lainnya.


Entah kenapa, Riri tersenyum bangga dan membusungkan dadanya selayaknya membanggakan dirinya. Nampaknya, dapat di kenal oleh seorang pahlawan adalah sesuatu yang hebat di kalangan anak-anak. Rigel tidak bisa menahan senyum saat melihat Riri yang menyombongkan dirinya di depan anak-anak lain.


"Apa yang sedang kalian lakukan di pinggiran kota ini? Tempat ini belum mendapat perbaikan, jadi bisa saja ada puing-puing jatuh sehingga menjadi bahaya bermain di sini." Rigel memberi peringatan kepada anak-anak kecil itu.


"Awalnya kami ingin menemui anak itu dan menemaninya. Namun karena Riri bilang dia melihat tuan Pahlawan berjalan kesini, kami memutuskan untuk mengejarmu..." Seru anak lain.


Riri yang membusungkan dadanya, terkejut seolah teringat akan sesuatu yang penting dan berjalan mendekat ke Rigel.


"Anak itu?" Gumam Rigel.


"Kak Rigel, bisakah kami meminta tolong kepadamu? Mungkin ini terdengar sangat egois tapi, bisakah kau menolong anak itu? dia selalu terlihat kesepian, namun dia selalu menjauh dari orang lain dan berkata bahwa dia bisa mandiri." Ujar Riri dengan sedih, begitu juga anak lainnya. Mereka tampak sedih saat membahas anak yang mereka panggil dengan anak itu.


Rigel tidak tahu siapa anak yang mereka maksud, namun mendengarkan permintaan kecil mereka bukanlah hal yang buruk untuk mengisi waktu senggangnya. Rigel beranjak berdiri dan berkata...


"Baiklah, akan aku lakukan. Antarkan aku ke tempat anak yang kalian maksud berada. Namun aku juga tidak menjamin dapat menolongnya." Ujar Rigel.


"Baiklah! Terima kasih Kak Rigel. Kalau begitu kemarilah..." Riri meraih tangan kanan Rigel dan memimpin jalan.


Anak-anak lainnya berjalan di sisi Rigel selagi anak laki-laki menatap lengan kiri Rigel dengan penasaran. Mereka pasti belum pernah melihat yang seperti ini.


"Tuan Pahlawan, bisakah aku bertanya mengenai lengan kirimu itu?" Tanya anak laki-laki.


"Aku juga penasaran dengan mata kirimu yang selalu tertutup, bisakah kau menceritakannya?" Tanya anak lainnya.


"Baik, kita mulai dari tangan kiri ini. Tangan ini adalah tangan palsu yang terbuat dari logam yang sangat keras. Kalian bisa memukulnya jika mau, namun jangan menangis jika tangan kalian terasa sakit saat memukulnya." Ujar Rigel.


"Aku akan mencobanya!" Ujar anak laki-laki yang bertanya sebelumnya dengan semangat.


Rigel sedikit merendahkan tubuhnya dan meluruskan lengannya agar anak laki-laki itu dapat memukulnya dengan mudah. Anak itu membuat kuda-kuda untuk meninju, saat dia meninjunya...


*Pack...


Tangannya membengkak merah dan anak itu terlihat sedang menahan rasa sakit. Rigel berfikir jika dia akan segera menangis. Namun kenyataan berkata lain.


"Kuhh! ini sangat keras, Tuan Pahlawan! Bahkan tanganku terasa sangat sakit saat memukulnya! Bisakah aku memiliki lengan yang sama seperti milikmu?!" Tanya anak itu dengan semangat, anak kecil lainnya juga terlihat bersemangat.


"Boleh saja, asalkan kau mau memotong tanganmu itu baru aku memasangkan lengan seperti ini. Rasanya sangat sakit saat lenganmu putus." Ujar Rigel.


Ekspresi anak-anak terlihat ngeri saat Rigel mengatakan bahwa mereka harus memutuskan lengan mereka jika ingin mendapatkan lengan buatan yang sama ddengan miliknya. Membayangkan rasa sakit saat memutuskan lengannya, anak-anak itu membuat Ekspresi ngeri dan menyerah untuk mendapatkannya.


"Lalu, bagaimana dengan mata kirimu, Tuan Pahlawan?" Tanya seorang anak perempuan.


"Sama seperti lengan kiriku, mata kiriku juga hancur karena sesuatu sehingga tidak dapat melihat lagi dan akan tertutup seperti ini." Balas Rigel.


Dia tidak pernah berniat menjelaskan bahwa mata kirinya itu telah mendapat pengganti yang lebih baik, meskipun dia hanya bisa menggunakannya saat ingin menggunakan Ciel.


Tidak butuh waktu lama bagi Rigel dan anak lainnya sampai di tempat anak yang di maksud oleh Riri. Rigel memandangnya dengan terkejut, anak itu nampak sedang membangun rumahnya sendirian. Kalau tidak salah, dia adalah anak yang memprotes Rigel saat berhadapan dengan pedagang budak di Ruberios.


"Anak itu, dimana orang tuanya? dan kenapa dia berusaha membangun rumahnya sendirian?" Gumam Rigel.


"Entahlah, dari yang di katakan pendatang baru lainnya, dia tidak memiliki orang tua. Orang tuanya telah lama mati." Balas Riri.


Namun itu tidak cukup untuk menjelaskan kenapa dia berusaha membangun rumah sendiri. Rigel melepaskan tangan Riri dan berjalan menuju anak yang sedang membersihkan puing-puing seorang diri.


"Apa yang sedang kau lakukan di sini?" Tanya Rigel.


"Apa kau buta, tentu saja aku sedang membangun rumah..." Ujar bocah itu.


Meskipun dia seorang bocah, dia memiliki lidah setajam silet. Rigel terus menatap bocah itu untuk memahami seperti apa kepribadian yang dia miliki.


"Aku yang salah, kalau begitu akan ku ganti pertanyaanku. Kenapa kau melakukannya seorang diri? Karena kau yatim piatu, kau tidak seharusnya melakukan ini. Asoka akan melakukan sesuatu pastinya." Ujar Rigel.


"Tidak butuh. Aku akan hidup mandiri tanpa perlu bantuan apapun. Satu hal lagi, aku membenci pahlawan sepertimu." Tegas anak itu.


"Apa alasanmu membenci pahlawan? Akun tidak ingat melakukan sesuatu yang buruk padamu." Balas Rigel.


Bocah itu, yang sejak tadi terus membersihkan puing-puing berhenti dan menatap Rigel. Secara mengejutkan, dia berlari dengan cepat menuju Rigel dan menikamkan besi yang di sembunyikannya ke perut Rigel.


Tentu saja Rigel tidak akan terluka dengan seorang amatir seperti bocah itu. Rigel dengan mudah meraih besi itu dan mengangkat bocah itu lalu melemparnya secara lembut agar dia tidak terluka.


"Padahal kau sekuat ini, namun kenapa kau tidak menolong semua orang?! jika saja kau ada pada hari itu, orang tuaku, kakakku, dan semua orang desa tidak akan mati!" Ujar anak itu, wajahnya merah padam karena marah.


"Pahlawan apanya yang bahkan tidak datang untuk menolong desaku?! hanya karena kami desa kecil, kau dapat mengabaikannya begitu saja?! Jangan bercanda kau?!" Lanjutnya.


Rigel diam mendengarkan, sementara anak-anak lain tampak prihatin kepadanya. Rigel tidak mengerti, kenapa anak ini bersikeras melimpahkan segalanya kepadanya? Jika dia membenci pahlawan tidak apa. Karena Rigel juga tidak menyukai gelar pahlawannya. Saat Rigel seumuran bocah itu, entah sudah berapa kali dia mengharap kedatangan pahlawan. Rigel ingin di selamatkan dari panti asuhan yang seperti neraka itu. Namun berkali-kali juga harapannya di khianati.


Rigel tahu apa yang membuat bocah ini menjadi seperti ini. Dia mirip dengan Rigel, harus mengalami banyak hal berat selagi kecil. Anak ini butuh di selamatkan, dia ingin di selamatkan.


"Apa kau tahu apa yang menjadi penyebab orang tuamu terbunuh?" Tanya Rigel.


"Tentu saja karena kau tidak datang untuk menolong!!" Bocah itu membalas pertanyaan Rigel dengan cepat. Dia meletakan kedua tangannya di wajahnya dan mulai menangis.


Entah cara ini akan berhasil atau tidak kepadanya, tidak ada pilihan bagi Rigel selain melakukannya.


"Bukan. Ini adalah salahmu, salahmu karena terlalu lemah di dunia yang keras ini..." Balas Rigel dengan matanya yang menyeramkan.


"Apa maksudmu ini semua salahku?! aku tidak mengerti!!" Teriak anak itu.


"Kau itu lemah, apa begitu saja tidak mengerti? karena kau lemah, kau tidak bisa melindungi orang yang kau sayangi. Karena kau lemah desamu di serang. Karena kau lemah krang tuamu mati!" Ujar Rigel, menaikan suaranya.


Riri dan anak lainnya tampak sedikit terkejut saat mendengar Rigel menaikan suaranya. Mereka hanya berfikir bahwa Rigel adalah orang lembut dan kuat.


Cara untuk menyelamatkannya adalah terus menyalahkannya, salahkan dia atas segalanya, salahkan dia atas apa yang terjadi. Terus salahkan dan jatuhkan dia, maka dia akan bangkit dengan sendirinya.


"Semuanya...Salahku?" Gumam anak itu.


"Benar, itu semua salahmu terlalu lemah sehingga tidak bisa melindungi keluargamu. Andai saja kau lebih kuat, kau pasti bisa melindungi setidaknya satu orang." Ujar Rigel.


Kenyataan memanglah kejam. Dunia ini sangatlah keras untuk anak-anak tanpa orang tua. Rigel memahami hal itu dengan baik.


"Lalu apa yang harus aku lakukan? Meski aku menjadi kuat, siapa yang harus ku lindungi? dan apa yang harus aku lindungi?? aku sudah tidak memiliki apapun lagi untuk di lindungi..." ujar anak itu selagi menangis.


"Lihatlah sekelilingmu, ada banyak orang yang bisa kau lindungi. Semua orang di Region adalah keluargamu, keluarga barumu. Tidak perduli dari mana asal usulmu, Region adalah sebuah tempat dimana semua orang bisa menjadi keluarga dan merangkul tawa bersama-sama." Rigel mengambil langkah kepada bocah yang mulai berlutut selagi menangis.


Rigel mengulurkan tangan kanannya dan menepuk kepala bocah itu dengan lembut.


"Mulai saat ini kau juga anggota keluarga kami, Region. Jadilah lebih kuat dan lindungilah keluarga barumu, jangan biarkan apa yang terjadi di desamu terjadi di sini juga. Angkatlah kepalamu dan berhenti melihat kebelakang dan hadapilah orang yang berdiri di depanmu..."


Bocah itu mengikuti kata-kata Rigel dan memandang ke depan. Di depannya, wajah Rigel yang tersenyum adalah pemandangan pertama yang dia lihat dan di belakangnya, wajah Riri dan anak-anak lainnya adalah hal kedua yang dia lihat. Pemandangan ketiga, bayangan orang-orang mulai muncul di tengah silaunya matahari. Dia tidak menyadarinya, ada begitu banyak orang yang perduli kepadanya selama ini. Namun dia tidak pernah berniat menghadapi mereka.


Air mata mulai mengalir deras, suara amarah, kesedihan, dan penyesalan yang tak bisa keluar akhirnya dapat keluar dari tenggorokannha.


"Aaaaaahh... euhghhgghh.... Uahhhahhhhh...!!!"


Anak itu mengeluarkan semua emosi di hati kecilnya dan berharap kesedihannya tersampaikan pada dunia dan orang tuanya. Dengan ini anak itu telah terselamatkan dari masa lalunya, dia pasti akan berjalan kedepan cepat atau lambat.


"Kau mirip denganku, bocah. beritahukan namamu padaku." Ujar Rigel.


"Leo... N, namaku Leo..." Ujarnya selagi terisak-isak karena tangisnya.


"Leo, ya..."


Rigel telah memutuskan satu hal. Anak ini, Leo. Dia akan menjadi sosok kedua yang akan mengendalikan Ciel selain Rigel. Entah bagaimana, Rigel yakin bahwa Leo akan berhasil. Dengan begini, Rigel tidak perlu khawatir meninggalkan Region saat pertemuan Kaisar Surgawi. Hanya butuh waktu satu minggu dari sekarang sampai hari itu tiba...


***


Buat kalian yang mau gabung Gc Creator Hero dan juga WOSP, silahkan kunjungi profil gw dan di situ sudah tersedia grup chatnya.


Oh iya, untuk bagian prolog gw ubah sepenuhnya jadi silahkan baca kembali. Bahkan jika tidak juga tidak apa-apa karena tidak berpengaruh pada apa yang terjadi kedepannya.