
Phoenix telah memecah tubuhnya menjadi dua. Kini para Pahlawan harus menghadapi dua Phoenix, di sertai monster dan lahar panas yang menyembur dari perut bumi.
Di lihat dari sisi lain, Pahlawan mungkin tampak terpojok. Di hadapi tiga kondisi berbahaya di saat bersamaan tentu tidak semudah membalikan tangan.
Di mulai dari kelelawar api, hingga Salamander dan beberapa monster api kecil lainnya mulai menyerbu. Para Pahlawan saling membelakangi, melindungi sisi satu sama lain.
"Ini jadi sangat merepotkan." Takumi mengutuk.
"Di satu sisi, kita harus menghadapi dua Phoenix yang terbang di sana dan di sisi lain para keroco ini menyusahkan!" Ujar Ozaru.
"Belum lagi lahar yang keluar menjadi kewaspadaan utama, setetes saja kena kita akan menjadi Yakitori." Ujar Yuri.
Mereka mulai bergidik ngeri, tentunya tidak ingin mendapatkan nasib seperti itu.
"Meski begitu, bukan berarti situasi ini tanpa harapan. Kita hanya perlu membentuk tiga tim yang masing-masing menangani satu hal untuk di kerjakan." Takatsumi menyerukan pendapatnya. Tentunya Rigel benci mengakui, namun dia memikirkan hal yang sama dengannya.
Mengabaikan lahar yang menyembur keluar memang sebuah pilihan, namun akan ada beberapa resiko terkena beberapa cipratan darinya. Tubuh manusia mungkin langsung dapat terpanggang dengan mudah bila di hadapkan lahar panas.
"Itu bukan pilihan buruk, namun siapa yang akan melakukan apa?" Ujar Marcel selagi menebas Elang api yang mendekat.
Semua tentu mengalihkan perhatian pada Rigel, orang yang berkemungkinan besar dapat berpikir disaat-saat kritis, sama halnya dengan Takatsumi. Dia mulai menggaruk kepalanya dengan jengkel.
"Aku benar-benar berharap kalian menggunakan isi kepala kalian dengan baik," Dia menghela nafas lelah, "Untuk Phoenix, benar, bagaimana jika kita menyerahkannya pada yang memiliki fleksibilitas dan kelincahan yang tinggi."
Memikirkan orang yang dapat bergerak cepat, beberapa nama langsung tercantum di dalam kepalanya.
"Ozaru, Nadia dan Ray, kalian cukup lincah dan kuyakin menghindari serangan Phoenix bukan masalah besar. Lalu satu lagi, Merial, kau bantu untuk menghambat pergerakan yang satu bersama Ray dan Nadia. Untuk Ozaru, aku yakin kau dapat memegang satu untuk dirimu sendiri."
Ozaru saat ini tidak seperti dirinya yang bodoh, kemungkinan besar cara bertarungnya berubah dan Rigel cukup yakin Ozaru dapat memegang satu.
Ray dan Nadia tidak di ragukan lagi orang-orang yang paling lincah. Meski kelincahan saja tidak akan cukup menghadapi Phoenix, keberadaan Merial merubah segalanya.
"Bukan pilihan buruk, aku tidak masalah dengan itu. Nadia setuju, Merial dan Ray tidak di ragukan lagi bahwa mereka tidak keberatan sama sekali.
"Yah, kupikir burung itu memang lawan yang cocok. Aku akan langsung memulai saja, Kinton!" Tanpa menunggu yang lain, Ozaru melompat dan menaiki awannya menuju Phoenix.
"Kita juga harus bergegas!" Ray memimpin, di ikuti Nadia dan Merial.
Satu telah di tangani. Belum waktunya menarik nafas lega, masih ada dua duri untuk di bersihkan.
"Aku, Hazama dan Aland akan mencoba mengatasi lahar-lahar keparat ini, sisanya bersihkan monster yang menghalangi, bergerak!"
Para Pahlawan berpecah menjadi tiga tim yang mengerjakan hal berbeda. Tim Ozaru menghadapi Phoeni, tim Marcel monster kecil dan Rigel akan mengatasi sumber lahar.
Terdapat 3 tempat di mana lahar keluar bagaikan air mancur, jaraknya tidak saling berjauhan satu sama lain.
"Jadi, apa yang harus kita lakukan tentang ini?" Hazama bertanya.
"Mungkin kita harus menutupnya dengan sesuatu?" Aland memberi saran.
Memang menutupnya bisa menjadi solusi terkini, namun tentunya itu tidak akan bertahan lama. Hanya masalah waktu sampai lahar itu meledak keluar.
"Apa kau tidak bisa menghilangkan lava ini seperti hal yang kau lakukan sebelumnya, Rigel?" tanya Aland.
"Aku akan melakukannya, lain kali saat ingin kuhancurkan dunia ini."
Menghilangkan lava sama dengan membuat dunia ini kehilangan sumber hidupnya. Rigel tidak tahu dengan benar, namun dari yang dia ketahui lava adalah material penting pembentuk dunia.
"Lahar termasuk material yang memiliki sifat cair," Hazama perlahan menyerukan pendapat, "Sifat cair memiliki satu kesamaan, mereka selalu bergerak ke tempat yang lebih rendah. Bagaimana jika kita menutup lubang dan membuatnya mengalir kembali ke pusatnya?"
"Itu memang ide cemerlang, namun bagaimana cara kita melakukannya? bahkan bagiku mustahil membuat lubang yang cukup dalam hingga mencapai kerak nya. Tetapi itu memberiku beberapa pemikiran bagus, Hazama."
Membuat lubang yang mencapai kerak bumi tentunya mustahil dengan hanya satu orang dan itu terlalu mubazir waktu. Namun, lain halnya dengan membuat ruang lebar di bawah tanah yang akan menampung lava yang keluar.
"Aku akan membuat ruang cukup besar di dalam tanah, setidaknya itu dapat membeli waktu selama beberapa menit. Sampai saat itu, bisakah kau menahannya untukku membuat sebuah lubang baru?"
Dengan Perisai Hazama, seharusnya dia bisa menutup lubang dengan Perisainya selagi Rigel membuat lubang baru di sisi lubangnya dan menutupnya.
"Bukan berarti kita memiliki rencana lain. Mari kita coba melakukannya." Hazama tersenyum dan menciptakan Perisai untuk menghentikan Lava menyembur keluar.
"Yah, sejak awal aku tidak pandai dalam berfikir." Aland dengan santai memukul Perisai Hazama dan membuatnya berada di kedalaman tanah sehingga Rigel bisa memasukinya dan membuat saluran baru.
"Baiklah, aku pergi." Rigel melompat masuk dan membuat saluran untuk lava pergi.
Di lain sisi, Ozaru tengah berhadapan langsung dengan Phoenix yang berpecah dua dan dia menangani satu untuk dirinya sendiri.
Ozaru melompat dari Kinton, memutar tongkat dan membanting nya tepat di kepala Phoenix. Hantaman nya begitu kuat, menciptakan suara keras dari tulang Phoenix. Ozaru dengan sigap melompat untuk mengambil jarak, namun Phoenix mengejarnya dengan kecepatan terbang yang gila.
Ozaru memanfaatkan gaya hempas dari tongkat yang di perbesar dan menhindari Phoenix. Menyadari targetnya lolos, dia melepaskan beberapa bulu yang terbang menuju Ozaru dengan cepat.
Ozaru mengubah tongkatnya menjadi besar, membuat ratusan bulu menghantam tongkatnya.
*DUAR!
Ledakan besar bertubi-tubi terjadi seketika bulu-buku itu menabrak tongkatnya. Satu dari mereka cukup kuat untuk menghabisi sekelompok manusia dalam satu ledakan dan dia harus menghadapi banyak dari itu.
Tanpa di sadari, Phoenix sudah tepat di belakangnya dengan mulut terbuka lebar. Dia tidak mencoba memakannya, melainkan mengeluarkan sesuatu dari mulutnya.
Ozaru dengan sigap membalikkan tongkat untuk melindungi tubuhnya, namun tentunya sudah terlambat. Dia terhempas kembali ke tanah dengan punggung sedikit terbakar.
"Kurgh! beruntung diriku meminimalisir kerusakan dengan tongkatnya." Gumam Ozaru selagi perlahan bangkit dan membersihkan kotoran di punggung.
Dia terlalu meremehkannya sehingga membuat penjagaannya kendur. Mungkin sudah lama, sejak terakhir kali dirinya yang cemerlang bertarung di pertarungan.
"Sepertinya aku harus benar-benar serius menghadapi ini..." Gumam Ozaru.
Tetapi benar-benar merepotkan menyerang tanpa coba membunuhnya karena akan menimbulkan ledakan. Selain itu, hal yang kau minta untuk melemah di saat-saat terakhir juga memberatkanku, Rigel. Batinnya.
Dia menoleh ke sisi lain, menemukan Ray dan timnya bertarung seimbang dengan Phoenix.
Dia melepaskan bulu-bulunya, namun ketiganya sangat lincah yang membuat setiap serangan yang dia lancarkan tidak mengenai mereka. Meskipun tanpa perlindungan dari Hazama mereka dapat bertahan selama beberapa waktu jika dengan cermat menghindar setiap serangan.
Merial mengulurkan Cambuknya dan melilit di sekitar leher Phoenix. Nadia berlari dan melompat, menjadikan cambuk sebagai pijakan, dia kembali melompat hingga mencapai Phoenix.
Nadia mengulurkan cakarnya dan menggores cukup dalam tubuh Phoenix. Ray berjalan ke bebatuan tinggi dan melompat selagi berputar, mencoba memotong sayap Phoenix.
*KIEK!
Dia berhasil memotongnya, namun tidak cukup untuk menjatuhkannya. Melihat itu, Nadia yang sama-sama terjun bebas dengannya berteriak dan Ray memahami niatnya. Dia meraih kedua kaki Nadia dan melemparkannya ke udara dan Nadia mengulurkan cakarnya dan berhasil memotong sayap Phoenix.
Dia kehilangan kendali dan terjatuh di tanah. Tidak berniat melewatkan kesempatan itu, Merial dengan sigap melilit dan membatasi pergerakan Phoenix dengan Cambuknya.
"Kita tidak bisa membunuhnya begitu saja." Ujar Nadia selagi berjalan ke sisi Merial, begitu juga Ray.
"Ya, kita harus membunuhnya bersamaan atau ledakan super besar akan terjadi dan membumi hanguskan kita."
"Karena itu aku memilih membuatnya tidak bergerak. Yang harus kita lakukan saat ini menahan yang satu ini dan menunggu aba-aba Pahlawan Ozaru untuk menghabisinya..." Merial berhenti sesaat dan Ray melanjutkan perkataannya.
"Atau kita tunggu Rigel dan Pahlawan lain tiba di sini."
"Manusia brengsek! cepat lepaskan aku sebelum kalian merasakan akibatnya!"
"Untuk keuntungan macam apa kami melakukan itu? jika itu terjadi, maka kami akan tamat. Tidak ada bedanya dengan dirimu lepas atau tidak." Ray membalas dengan dingin sontak membuat Phoenix sangat marah.
"Ha seperti apa yang di lakukan umat manusia, hingga kau memiliki kebencian sedalam samudra?" Merial bertanya.
Sejauh ini, kebencian yang di tunjukan Phoenix tak masuk akal. Tidak ada satupun sejarah menyebutkan bila umat manusia mengganggu Phoenix atau Malapetaka lain. Merial berpikir, ada kemungkinan beberapa kejadian tak tercatat dalam sejarah. Contohnya pembangkitan Pahlawan yang baru-baru ini Rigel ungkapkan.
"Kalian benar-benar rendahan! tidak menyadari dosa-dosa yang selama ini kalian miliki! Keberadaan kalian sudah merupakan dosa, kehadiran kalian sebuah dosa, kehidupan kalian dosa, segala hal tentang kalian termasuk dosa!"
Alasan yang paling tidak logis, benar-benar di luar harapan. Kebenciannya benar-benar tak berdasar dan mungkin saja dia memang murni membenci manusia. Meski tidak memiliki apapun yang menjadi alasannya dan hanya muak dengan keberadaan Manusia.
"Keberadaan kalian benar-benar hina! berperang dengan sesama Ras, demi wilayah, saling membunuh satu sama lain dan menodai dunia ini dengan darah menjijikan. Merendahkan Ras lain, menganggap keberadaan kalian lebih superior ketimbang yang lain! Kalian benar-benar harus di musnahkan!"
Jika begitu, tidak ada kata-kata yang dapat di gunakan untuk melawannya. Hal itu adalah sejarah terkelam umat manusia, tidak dapat di bantah bahwa manusia telah menodai dunia ini dengan sejarah kelam.
*DUMB!
Ledakan terjadi, mereka mengalihkan perhatiannya dan menemukan Ozaru terhempas ke permukaan dan memiliki luka yang cukup memprihatinkan.
Phoenix membuat bola api, dia berniat meledakan Ozaru.
Ray hendak membantu, namun terhenti ketika melihat satu sosok melompat dan menggagalkan serangan Phoenix dengan menghantam kepalanya.
"Rigel!"
Tubuhnya di penuhi dengan tanah dan dia tampak begitu kelelahan. Hazama dan Aland menyusul di belakangnya. Jika mereka sudah berada di sini, berarti urusan lava yang keluar telah di selesaikan.
Mengikuti mereka, Takatsumi dan yang lainnya telah tiba. Para Monster kecil nampak telah di bereskan dan kini hanya tersisa biang masalahnya, Phoenix.