
Butuh waktu setengah jam untuk Rigel dan Takumi memindahkan semua pejuang yang ada. Anggota terakhir telah di angkut oleh Takumi. Semua orang telah berkumpul di dermaga kapal.
"Sudah semua?"
Takumi mengangguk sebagai jawaban. Saat ini, Rigel sedang menunggu Cold dan Ray yang sedang menjemput putri tertua Walther yang akan ikut bergabung dengan pasukan.
"Aku berharap dia bukan orang yang egois."
Takumi nampaknya lebih khawatir dengan sifat dari putri Walther. Dari yang di beritahu Cold, putri tertua Walther memiliki pendirian yang sangat kuat dan berpegang teguh pada pendiriannya lalu, dia juga sangat keras kepala. Selain itu, Cold bilang dia memiliki kepribadian yang unik.
"Yah, selama dia dapat berkontribusi besar dan tidak membebani kita, aku tidak masalah dengannya."
"Itu memang benar tapi..."
Sebelum Takumi menyelesaikan kata katanya, seorang demi human menyela pembicaraan kami.
"P-permisi tuan pahlawan, m-maaf atas ketidak sopananku. T-tuan Cold dan putri tuan Walther sudah sampai, mereka akan segera tiba di sini."
"Baiklah, terima kasih atas infonya. Kembalilah ke tempatmu."
Rigel mengizinkan pejuang demi human itu pergi untuk melakukan pekerjaannya. Demi human itu menunduk hormat dan pergi ke tempatnya.
"Yah, karena tidak ada hal lain yang kita lakukan, lebih baik kita tunggu mereka di pelabuhan."
"Kau benar, kalau begitu ayo kita turun."
Rigel dan Takumi turun dari kapal dan menunggu kedatangan Cold dan putri dari kepala keluarga Ainsworth. Tidak lama setelah Rigel dan Takumi turun, Cold dan Ray datang bersama seorang gadis berambut coklat yang menggunakan zirah ringan perak. Dia juga membawa sebuah pedang sihir, tongkat sihir dan juga cambuk.
"Hei, Rigel. Entah kenapa aku merasakan hawa tidak menyenangkan dari gadis itu."
Takumi membisikan kata katanya ke telinga Rigel.
"Mungkin hanya perasaanmu saja."
'Gadis ini kuat. Aku bisa merasakan energi sihir dalam jumlah besar darinya. Namun, aku penasaran untuk apa cambuk yang dia bawa.'
Rigel terus mengamati gadis bangsawan itu dari ujung kaki hingga rambutnya. Gadis itu memiliki rambut berwarna coklat serta mata berwarna hitam. Tubuhnya ramping dan ideal dengan dada yang besar.
"Yo, Rigel. Aku sudah membawamya, dia adalah putri tuan Walther."
Ray mengkonfirmasi gadis itu kepada Rigel. Wajah gadis itu sedikit memerah dan dia tersenyum lembut lalu meletakan tangan kanannya di dadanya dan tangan kirinya di punggungnya untuk memberi hormat.
"Salam kenal, tuan pahlawan. Aku adalah putri dari Walther Ainsworth sekaligus penerus keluarga Ainsworth. Namaku Merial Ainsworth. Aku datang kesini untuk berkontribusi dalam membebaskan pulau Yurazania."
"Salam kenal, aku adalah pahlawan Creator, Amatsumi Rigel. Tidak perlu bersikap formal kepadaku karena aku tidak terlalu menyukainya."
"Aku adalah pahlawan tombak, Kamada Takumi. Sama sepertinya, aku juga tidak suka formalitas seperti itu."
"Kalau begitu mari kita naik, sebentar lagi kita akan mulai berlayar."
"Baik."
Semua orang setuju dengan Rigel dan naik ke kapal untuk mengatur ulang posisi. Rigel dan yang lainnya berkumpul di kabin kapten untuk membahas strategi dan penempatan perahu. Nisa membawa beberapa cangkir dan teh untuk orang orang.
"Emm, Nisa. Apakah ada minuman kopi atau semacamnya?"
"Emm, apakah yang kau maksud adalah minuman berwarna hitam itu? Aku memiliki beberapa, memangnya kau mau?"
"Baiklah, tunggu sebentar."
Rigel sedikit senang karena mendapatkan minuman lain selain teh yang tidak dia mengerti. Lalu, Takumi menatap Rigel dengan jijik.
"Bagiku Teh sudah cukup buruk, namun kopi? Ugh, aku tidak bisa membayangkan saat kau meminum itu, serbuknya menempel di tenggorokanmu."
"Hmm, aku bingung, memangnya apa yang kau minum di duniamu sebelumnya."
Selagi Rigel terus bercakap cakap dengan Takumi, Nisa sudah datang dan membawakan secangkir kopi untuk Rigel. Rasanya memang pahit karena tidak di padukan dengan gula ataupun susu, Rigel diam diam membuatnya menggunakan imagination Creator.
"Karena kehadiran Merial di sini, kita harus mengatur ulang penempatan setiap orang. Apakah ada yang punya usul?"
Rigel bertanya ke pada semua orang sementara Merial tersenyum lembut. Setelah beberapa saat, Ray mengangkat tangannya.
"Emm, aku punya usul. Mungkin lebih baik jika nona Merial bersama anda di kapal pertama. Karena, jika misalkan sesuatu terjadi, baik Rigel atau tuan Takumi pasti akan bertindak dan jika itu terjadi tidak akan ada yang mengarahkan kapal pertama. Mungkin lebih baik untuk nona Merial bersama kalian."
"Hmm, itu alasan yang bagus, Ray. Meskipun Takumi bagus dalam berpidato, aku tidak yakin dia juga bagus dalam memimpin. Lalu untukku sendiri, meskipun aku bisa melakukannya namun aku sendiri tidak menginginkannya karena merepotkan. Aku tidak masalah jika yang lainnya terutamanya Merial tidak keberatan."
Rigel memandang semua orang yang nerada di dalam ruangan rapat ini satu persatu. Nampaknya, tidak ada orang yang keberatan dengan keputusan ini.
"Bagaimana denganmu, Merial? Apakah kau tidak keberatan berada di kapal yang mayoritas penumpang nya adalah pria?"
Rigel bertanya karena khawatir dengan ke tidak nyamanan Merial. Namun, entah kenapa wajah Merial memerah.
"Ya, saya pikir itu usulan yang cukup bagus."
Nampaknya tidak ada masalah dengannya sehingga tidak perlu waktu lama untuk pembahasan lebih lanjut.
"Untuk sekarang, lebih baik kita kembali ke tempat masing masing. Kita akan berangkat sekarang juga."
Cold dan yang lainnya mengangguk dan semua orang pergi dari kabin kapal.
Selagi semua orang sudah kembali ke kapal yang harus mereka berikan perintah, Rigel menyuruh Merial untuk menaruh barang barangnya di kamar kapal.
Rigel berdiri di tempat supir kapal yang di kendarai oleh seorang budak manusia.
"Semuanya, bersiaplah kita akan berangkat sekarang!"
"Ya, Pak!"
Semua awak kapal secara serempak langsung bekerja mengikuti perintah Rigel. Layar kapal yang berukuran besar telah di turunkan. Namun, yang unik dari kapal di dunia ini adalah adanya sebuah alat sihir yang menciptakan angin sehingga membuat kapal dapat berjalan meskipun arah angin sedang tidak menentu.
"Hei, berapa lama waktu penggunaan alat sihir itu?"
Rigel bertanya kepada seorang manusia yang mengendarai kapal.
"Ya, pak! Alat sihir itu akan bekerja kurang lebih delapan jam lamanya. Namun, karena ini masih pagi, saat kita mencapai tengah laut, keadaan angin akan stabil jadi kita bisa mengistirahatkan alat sihir itu sementara."
"Hmm, begitu ya."
'Meskipun cara kerjanya hampir mirip sebuah kipas raksasa, namun yang menjadi perbedaan besar adalah daya yang di gunakan untuk mengaktifkanya. Aku yakin benda itu pasti menggunakan batu sihir seperti manatite untuk bekerja.'
Ya, setidaknya hal bagus untuk dapst berlayar cukul lama tanpa khawatir soal angin. Mungkin yang dikhawatirkan adalah kehadiran monster dan baday sahaja.