
Setelah pertarungan hebat dengan Odin, Rigel dan timnya terus bertarung dengan para petarung yang tersisa di zona E. Selain Odin, sayangnya tidak ada orang yang begitu kuat sehingga dikalahkan dengan sangat mudah oleh Rigel.
Kebanyakan dari mereka langsung menyerah begitu Rigel menggunakan Naga untuk mengancam mereka. Alhasil, dia mendapatkan sangat banyak jarahan perang berkualitas dari orang-orang yang menyerah. Mungkin akan terkihat seperti merampok harta dari bandit, namun di tempat seperti ini, itu diperbolehkan.
Setelah dipastikan bahwa dia akan lanjut ke babak selanjutnya, yaitu perempat final. Rigel memutuskan untuk pergi ke tempat Odin dirawat dan menanyakan beberapa hal. Terutama dengan bagian pembunuhan putra Moris. Menurut Rigel, ada beberapa hal yang mengganjal mengenai kasus ini.
Sikap Odin yang diceritakan Moris sangatlah berlawanan. Nyatanya, daru penilaian Rigel, Odin nampak seperti orang yang tidak akan membunuh tanpa alasan khusus. Meski begitu, tetap ada keperluan mendalaminya karena sampul buku tidak menjamin isi.
Bersama Leo, Garfiel dan Moris yang bergabung dipertengahan, mereka menuju ruang tempat Odin berada. Setibanya di sana, hanya ada Odin yang terbaring di kasur dan ruangan tampak sangat sepi. Hal ini bagus untuk berbicara, namun sebagai jaga-jaga, Rigel menempatkan Garfiel di luar untuk menghindari adanya telinga di dinding.
"Yo..., nampaknya kau sehat saja, Odin."
Rigel dengan santai menyapa. Odin menoleh dan tersenyum, namun itu hilang begitu melihat keberadaan Moris di belakangnya.
"Sebelum itu, apakah pedagang budak menjijikan mengetahui identitasmu?"
Odin bertanya, nampak tidak menyukai kehadiran Moris. Entah itu karena masalah pribadi atau memang karena dia membenci pedagang budak. Semuanya akan segera jelas saat ini.
"Apa maksudmu menjijikan, hah? Kau hanyalah pembunuh keji yang tidak memiliki hati nurani!"
"Kau menyebutku pembunug keji, namun bagaimana dengan hal yang telah kau dan putramu lakukan? Jangan coba-coba memutar balik fakta. Justru di sini kau penjahatnya, bajingan."
Suasana mulai menegang antara Moris dan Odin. Leo mulai menelan air liurnya, dia tidak terbiasa dengan situasi menegangkan seperti ini. Di sisi lain, Rigel menghela nafas dan membuka topeng yang menutupi wajahnya. Dengan wajahnya yang terekspos penuh, Odin dan Moris menatap mata Rigel yang berisikan perintah untuk diam.
"Aku tidak tahu apa permasalahan kalian, karena itu ceritakan perlahan dan baru bertengkar. Jika kalian terus seperti ini, pada akhirnya aku akan menghajar kalian berdua..."
Odin dan Moris tentu menuruti perintah Rigel. Sejak awal pertukaran pukulan sebelumnya, Odin telah mengetahui bahwa Rigel sangat berbeda dari kebanyakan orang yang dijumpai olehnya.
Kengerian dan kenyamanan, itulah yang dia rasakan. Awalnya dia juga tidak memahami arti dari perasaan ambigu seperti itu. Namun kini dia mengetahui, arti kengerian itu sendiri.
Tekanan kematian—tidak. Justru dialah kematian itu sendiri, batin Odin.
"Aku telah mendengar sebagian dari Moris. Apakah benar bila kau membunuh putranya?"
Rigel memulai pembicaraan dan berniat menjadi penengah sekaligus pengeksekusi jika diperlukan. Dia tentu tidak cukup bodoh untuk menghakimi salah satu dari mereka dan hanya mendengar cerita dari satu sisi. Hal pertama yang harus dilakukan adalah menengah dan mendengar cerita dari dua sisi.
"Ya..., aku memang membunuh putranya. Namun, ada alasan yang sangat jelas untukku membunuhnya."
Odin tidak menyangkal sedikitpun tentangnya yang membunuh putra Moris. Namun, alasan yang membuatnya membunuh putra Moris membuat Rigel tertarik.
"Alasan? Ceritakan padaku, alasan apa itu."
Bukan permintaan, tetapi perintah. Odin tahu itu. Dia tidak memiliki tempat untuk menolak dihadapan Rigel. Dia juga tidak memiliki hak untuk menolak itu.
"Itu karena Moris dan putranya telah melakukan berbagai hal keji. Pernah sekali, mereka menjarah sebuah desa tempat istri dan anak perempuanku berada. Desa itu adalah satu-satunya tempat di perbatasan yang dimana Demi-human dapat tinggal. Omong-omong, istriku adalah Demi-human dan putriku memiliki gen demi-human yang lebih banyak, sehingga dia lebih condong ke ibunya yang setengah manusia, ketimbang manusia sepertiku. Saat itu, aku sedang tidak berada di rumah karena menjalankan tugas yang diberikan oleh Raja Altucray. Misi itu berupa mengusir Naga dari hutan Britannia dan itu berjalan mulus, sampai ketika aku kembali ke desaku...,"
Rigel tidak menyangka bahwa dulunya Odin bekerja untuk Altucray. Mungkinkah orang yang dia ingat ketuka melihat gaya berpedang Leo adalah Altucray? Yah, mari tanyakan rinciannya nanti.
"Itu telah terbakar habis dan penduduk desa ditangkap untuk dijadikan budak. Aku dengan panik berlari dan menuju ke rumahku, hanya untuk menyaksikan istri dan anakku dilecehkan lalu dibunuh oleh bajingan itu dan putranya!"
Kemarahan dan kebencian jelas terpancar di mata Odin. Rigel merasa Odin bisa kapan saja melompat dan mencekik Moris, namun dia menahannya, mungkin karena keberadaan Rigel.
"Kau menyaksikan istri dan anak perempuanmu terbunuh. Namun, dengan kemampuanmu, aku yakin kau lebih dari mampu untuk membunuh Moris dan putranya pada saat itu."
Jika saja Moris dan putranya berada di TKP pada saat itu, Rigel yakin 100% bahwa Moris dan putranya akan langsung mati ditempat. Namun saat ini Moris berada di belakang Rigel, yang berarti Odin tidak melakulannya pada saat itu.
"Saat itu aku tengah dalam kondisi yang buruk. Punggungku terluka dan lengan kiriku patah akibat mengusir Naga itu, sehingga hampir mustahil bagiku membunuhnya. Aku hanya bisa diam dan membisrkan mereka pergi, selagi meratapi istri dan anak perempuanku. Pada esoknya setelah akh memberikan pemakaman layak untuk istri dan putriku, aku pergi ke Britannia dan melaporkan hal itu kepada Raja Altucray. Namu sayangnya, tidak ada orang lain selain Raja Altucray yang mendukung perbudakan Demi-human. Dengan rasa muak dan kebencian didalam dada, aku memutuskan pergi dari Britannia dan menjalani hidup di tempat terpuruk Darkness. Entah kebetulan apa, aku tidak menduga akan bertemu dengan putra bajingan itu yang tengah mendukung seorang petarung wanita yang akan berhadapan denganku pada saat itu..., mungkin dia tidak mengingatku, namun aku mengingatnya karena kebencian mendalam ini...,"
Dari sini, Rigel mungkin sudah menduga akan seperti apa akhirnya.
"Aku bertarung melawan gadis itu, tentunya tanpa niat membunuhnya. Namun gadis itu tidak kunjung menyerah bahkan hingga saat dirinya sekarat. Disaat terakhir, putra bajingan itu turun ke arena dan meminta pengampunan terhadapnya dan rela memberikan apapun kepadanya. Terhadapnya yang telah melecehkan, memperkosa putriku aku tidak bisa memberinya pengampunan! Karena itulah, aku meminta nyawanya sebagai ganti nyawa gadis itu. Tentunya gadis itu memang sudah sekarat dan dia mati tanpa perlu aku mengotori tangan lebih jauh."
Sekarang Rigel mengerti keseluruhan ceritanya. Odin tidaklah salah karena dia berniat membalaskan kematian istri dan putrinya. Bahkan Rigel pernah berada diposisi Odin. Kebenciannya yang begitu mendalam terhadap Takatsumi dan sampai kematiannyapun kebencian Rigel tidak kunjung hilang.
"Aku telah mengerti. Odin, aku tidak menyalahkanmu atas kebencian itu dan membunuh putra Moris. Aku juga pernah merasakannya dan tidak ada hak bagiku menghalangi niatmu untuk membalas dendam. Lalu, Moris..., kau tidak sepenuhnya salah, kau juga tidak sepenuhnya benar. Sistem menjijikan seperti perbudakan memang sudah mengakar begitu dalam di dunia sampah ini. Namun, kau tidak bisa memprotes apapun atas kematian putramu. Yang kau rasakan saat ini sama persis dengan yang dirasakan Odin dan juga keluarga dari orang-orang yang kau renggut kebebasannya... Apa ada keluhan? Katakanlah bila itu ada."
Perbudakan memang tak termaafkan, karena melanggar hak asasi manusia. Namun di dunia ini, perbudakan adalah hal yang wajar dan merupakan hukum alam. Yang lemah akan ditindas oleh yang kuat, sementara yang kuat terus menindas yang lemah.
"Ergh... Tidak—Saya tidak memiliki keluhan apapun atas kata-kata anda, Pahlawan Creator, Tuan Rigel..., jika begitu, bisakah saya pamit undur diri untuk menginginkan pikiran ini?"
Rigel mengangguk memberikan izin. Moris meninggalkan tempat dengan wajah pahit yang sangat jelas tidak menerima kenyataan. Pergerakan Moris mungkin agak mencurigakan, terutama atas kekecewaannya kepada Rigel kali ini. Sepertinya diperlukan langkah penanganan.
"Leo, kau ikuti Moris dan jangan sampai diketahui olehnya. Jika Moris melakukan gerak-gerik mencurigakan dan menunjukan tanda penghianatan, bunuh saja dia tanpa perlu keraguan."
"Ya. Kalau begitu, akh permisi..."
Begitu Leo meninggalkan ruangan, keheningan singkat terjadi dan Odin nampaknya menunggu Rigel untuk berbicara. Karena tidak baik untuk terus berdiri, Rigel menggunakan Creator Skill dan menciptakan kursi yang nyaman untuknya.
"Jadi, sekarang karena hanya kita berdua, kau bisa membicarakan hal yang ingin kau bicarakam sebelumnya, atas ajakanku untuk pergi ke Region."
Odin mendengus dan tersenyum, dia merasa ketegangan sebelumnya telah hilang begitu saja. Dia benar-benar mengakui bahwa Rigel adalah sosok yang menarik minatnya lebih dari siapapun. Tentunya dalam hal baik.
"Sebelumnya saya meminta maaf atas perkataan kasar saat di arena. Saya melakukan itu karena berpikir bahwa tuan Pahlawan berniat menyembunyikan identitasnya."
Odin sedikit membungkuk dan meletakan tangan kanan ke tempat jantungnya berada. Rigel melambaikan tangannya, menandakan bahwa itu bukan apa-apa.
"Tenang saja, akh tahu itu. Lalu, kau boleh berbicara tanpa formalitas semacam itu, karena tudak cocok dengan karaktermu."
"Baiklah, kalau begitu. Terima kasih atas kemurahan hati anda..., aku akan melanjutkannya ke topik utama. Sebenarnya, dari perkataanmu sebelumnya tentang perbudakan menandakan bahwa kau tidak menyukainya, benar kan?"
"Ya, karena di duniaku tidak ada hal seperti itu dan sangat memuakan bagiku melihat oranh-orang yang memiliki derajat sama namun merendahkan para budak dan menganggap mereka memiliki derajat yang lebih baik."
Budak juga makhluk hidup, begitu juga Demi-human. Mereka makan, minum, buang air dan juga menangis. Tidak ada perbedaan spesifik antara manusia dan setengah manusia.
"Kalau begitu jelas bahwa kau membenci perbudakan..., lalu, izinkan aku bertanya satu hal. Apa yang akan kau lakukan tentang perbudakan dimasa depan? Tergantung jawabanmu, mungkin aku akan menolak tawaran untuk pergi ke Region."
Memang terlihat lancang karena Odin bertujuan mengetes Rigel yang seorang Pahlawan. Namun, Rigel sama sekali tidak merasa terganggu. Baginya, Odin hanya bertanya dan tidak ada maksud lebih. Selain itu, Odin termasuk sumber daya manusia yang berharga untuk meningkatkan petarung.
Rigel teringat pesan pangeran neraka, Satan, saat masih berlatih di labyrint. Pesan itu berisi 'Kumpulkanlah rekan sebanyak mungkin karena Ragnarok bukanlah peperangan individu, melainkan pasukan dengan pasukan'. Meski benci mengakui, namun kata-katanya tidaklah salah. Kekuatan satu individu memang penting, namun tiada manfaat jika hanya satu yang kuat. Untuk hal itu, membawa Odin ke sisinya adalah jalan terbaik.
"Hal yang akan kulakukan tentang perbudakan, ya..., seharusnya tidak perlu dipertanyakan lagi. Aku membencinya dan aku akan menghancurkan segala hal yang kubenci. Akan kusingkirkan perbudakan daj diskriminasi demi-human. Akan kuciptakan dunia indah dimana semua orang dapat merangkul tanpa memperdulikan ras ataupun kekurangan. Itulah arti dariku yang membangun Region, yang akan menjadi langkah awalku mengubah dunia busuk ini."
Tidak ada keraguan dalam kata-kata ataupun mata. Justru yang tergambar adalah keyakinan mutlak bahwa dia akan benar-benar mewujudkannya. Odin memahami arti dari kenyamanan yang dia rasakan dari melihat Rigel.
Dia begitu terharu, akan kata-kata kuat yang dilontarkan Rigel. Bendungan air mata seakan ingin roboh, namun masih dapat tertahankan. Tekad Rigel yang begitu kuat tersampaikan dengan jelas kepada Odin.
"Jadi begitu. Sepertinya kau memang berbeda dari Pahlawan lain yang pernah kujumpai dalam perjalanan dulu..., kalau begitu aku akan memberikan jawabanku atas ajakanmu."
Odin bangkit dari kasurnya dan berlutut di hadapan Rigel dengan penuh syukur. Wajahnya begitu ikhlas dan tabah, tidak ada sedikitpun tanda kekesalan ataupun yang lainnya. Hanya ada wajah yang sepenuhnya ingin menyerahkan kesetiaannya kepada satu orang.
"Aku menerima ajakanmu untuk pergi ke Region, Tuan Rigel..., Cita-cita anda untuk menyingkirkan perbudakan dan diskriminasi, mungkin terdengar seperti impian yang sulit tergapai bagi kebanyakan orang..., meski begitu, harapan untuk impian itu terwujud tetap ada. Untuk itu, aku akan menyerahkan jiwa, raga dan seluruh milikku untuk membantumu mewujudkannya... Kesetiaan ini hanya untukmu, nyawa ini untukmu, raga ini untukmu, kesenangan ini untukmu, segalanya kuserahkan hanya untukmu..., bahkan jika Neraka adalah tujuan akhir untuk impian itu, dengan lapang dada akan kujelajahi neraka."
Tiada hal lain yang dapat membuat Odin begitu bahagia selain menemukan orang dengan pemikiran sama sepertinya. Dia sedikit menyesal karena tidak bertemu dengan Rigel sejak awal, namun tetap bersyukur bahwa menyerahkan kesetiaan kepadanya.
"Baiklah..., aku akan menerima kesetiaanmu sebagai prajurit, sebagai kesatria, sebagai pelindung dan juga sebagai teman seperjuanganku... Sebutkanlah nama lengkapmu."
"Ya..., namaku Odin, Blacksword Odin."
"Blacksword Odin, kesatriaku Odin. Angkatlah kepalamu dan berdirilah disisiku untuk mewujudkan impian kita bersama-sama."
Rigel mengulurkan tangannya kepada Odin dan tidak ada alasan untuk Odin menolaknya. Dia mendapatkan satu lagu rekan baru yang memiliki tujuan sama. Meski masih dipertanyakan seberapa jauh kesetiaan Odin, Rigel akan langsung memberikannya sebuah tugas, mengenai persiapan yang sudah dibuat Rigel.
***
Selamat hari raya idul fitri, mohon maaf lahir batin🙏