
POV PRISCILLA FLAMESWORD.
"Cilla, Seorang informan ingin berbicara denganmu."
Ucap Peri putih.
"Dia berkata bahwa ada sebuah informasi penting yang ingin dia beritahukan padamu."
Peri merah melanjutkan.
"Izinkan dia masuk."
Balasku.
Saat ini aku sedang berada di kantor serikat untuk mengurus dokumen dokumen yang sudah lama menumpuk. Sudah satu bulan lamanya semenjak Rigel menghilang dan saat ini kami, serikat Reqion sudah berada di lantai 87.
Berkat terbunuhnya para pangeran, kami tidak lagi harus mendaki lantai dengan cara menaklukan bos lantai. Karena biaya inti jiwa untuk portal telah di hilangkan semenjak kematian tiga pangeran, kami dapat dengan mudah mencapai lantai 75.
Berkat kematian para pangeran, yang aku asumsikan bahwa itu berkat Rigel, anggota squad Region semakin bertambah kuat dan ada banyak orang orang berbakat bergabung bersama kami sehingga kami dapat dengan mudah mencapai lantai 87.
Hanya tersisa satu pangeran neraka, dan jika Satan berhasil dikalahkan, kebebasan yang kami rindukan akan tercapai.
"Ketua serikat, mohon izin untuk melapor!"
Ucap Informan itu.
"Baik, katakan apa yang kau tahu dan tidak perlu berbelit belit."
Balas Priscilla.
"Aku mendengar ini dari seorang pedagang yang menuruni lantai untuk beberapa keperluan. Dia berkata bahwa di lantai 97 terdapat sebuah pintu rahasia yang tanpa sengaja ditemukan oleh sekelompok penyelidik.".
Ucap Informan.
"Pintu rahasia?"
Priscilla bingung.
"Ya, dari yang dikatakan pedagang itu, pintu lantai ini menghubungkannya kesebuah ruangan yang terdapat tiga boss tingkat tinggi yang sedang melindungi sebuah kunci yang seharusnya di lindungi oleh Lord Satan."
Ucap informan.
"Jika kunci itu dilindungi oleh tiga bos tingkat tinggi, apakah Lord Satan juga berada di sana?"
Tanya Priscilla.
"Tidak, tidak ada Lord Satan di dalam pintu itu. Namun, dari berita yang beredar, Lord Satan sering meninggalkan ruangan dan berkeliaran ke luar."
Ucap informan.
"Jadi untuk melindungi kunci itu dia memerintahkan tiga boss tingkat tinggi. Terlebih lagi pintu rahasia, ya? Bagus, informasi ini sangat membantu. Pertahankanlah kerja bagusmu!"
Priscilla memuji, sambil mengacungkan ibu jarinya.
"Masih ada satu hal lagi yang ingin kusampaikan kepadamu, ketua serikat."
Ucap Informan.
"Hal lain? Katakanlah."
Ucao Priscilla.
"Ini hanya sebuah rumor belaka, namun aku merasa anda akan tertarik mendengarnya."
Ucap informan dengan sedikit ragu.
"Lanjutkan."
Ucap Priscilla.
Ucap informan.
"Hah? Rumor macam apa itu!"
Priscilla membentak.
Informan itu sedikit takut namun dia tetap berbicara.
"Saya juga tidak mengetahui dengan pasti. Namun pedagang itu menyebutkan sesuatu tentang Creator atau semacamnya."
Ucap informan itu.
Creator? Rasanya aku pernah mendengar hal ini sebelumnya. Kalau tidak salah aku mendengarnya saat sedang sekarat setelau bertarung dengan Azazel. Ahh, itu dia!
Rigel mengatakan sesuatu tentang dia adalah pahlawan Creator. Lalu, jika aku menggabungkan nya dengan rumor tak jelas ini, maka...
"Aku mengerti, jadi begitu ya."
Ucap Priscilla sambil tersenyum.
"A-apa yang telah anda ketahui, ketua serikat?"
Tanya informan dengan ragu ragu.
"Mudah saja, ini adalah informasi tidak langsung yang dikirim dari orang yang ku kenal, nampaknya dia sedang berada di lantai 97 dan menyuruhku untuk menemuinya di lantai itu. Aku dapat mengasumsikan satu hal, bahwa dia ingin mengakhiri labyrint ini melalui pintu rahasia itu. Beritahukan para petinggi dan semua orang, kita akan menaklukan lantai secepat mungkin, tujuan kita adalah—
...Lantai 97!...
POV AMATSUMI RIGEL.
Enam bulan berlalu semenjak bebernya informasi mengenai pintu rahasia yabg menghubungkannya ke lantai 100. Aku yakin pesanku sudah sampai ke telinga Priscilla dan aku berharap dia dapat meraih lantai 97 dengan cepat.
Mengenai informasi yang mengatakan bahwa satan berada di hutan seribu warna, aku sudah mencarinya dan pada akhirnya tidak menemukan hasil apapun.
Namun, aku mendapatkan sebuah pesan yang tertulis di dalam hutan seribu warna. Pesan itu menyebutkan jika aku berhasil mengalahkan ketiga boss di pintu lantai tersembunyi dan mendapatkan kunci terakhir, pelatihanku di labyrint neraka akan selesai lalu seluruh ingatanku tentang orang tuaku, teman temanku, siapa aku dan yabg terakhir ingatan tentang seorang gadis yang sangat mencintai diriku dan juga kucintai.
Pesan ini yang memacu semangatku untuk mengetahui segalanya, terutama siapa gadis yang kucintai. Aku memang tidak mengingatnya, namun hatiku merasakan kerinduan akan sesuatu yang berharga bagiku.
Hanya butuh beberapa waktu lagi untuk penaklukan lantai rahasia ini dimulai. Karena tersebarnya rumor mengenai lantai tersembunyi ini, seluruh orang yang terjebak di labyrint berkumpul di lantai 97 untuk melakukan penaklukan terakhir terhadap Labyrint neraka ini.
"Berita tentang serikat Region sedang menuju lantai 97 juga sudah tersebar luas. Master bartender itu benar benar bekerja dengan cepat."
Gumam Rigel.
Ini semua berkat master bartender yang sebelumnya aku suruh untuk menyebarkan berita tentang pintu rahasia dan juga rumor palsu untuk Priscilla. Aku yakin dia akan mengerti maksudku dari romor yang tersebar itu.
"Sekarang, yang jadi masalahnya adalah ini."
Gumam Rigel.
Aku sedang dalam dilema besar. Aku masih berfikir keras untuk menyerap inti jiwa ini atau tidak. Jika aku menyerap 1juta inti jiwa mayat hidup dan juga 1 inti jiwa Arch Licht, apakah dengan begini aku dapat menciptakan pasukan mayat hidup?
Aku mengingat jika diriku adalah seorang pahlawan dan jika aku menggunakan pasukan kematian, bukankah aku sama saja dengan menodai gelar pahlawan? Lagipula ini benar benar melenceng jauh dari kekuatan Creatorku.
Ada banyak keuntungan dari menggunakan pasukan kematian ini. Keuntungan pertama adalah aku tidak perlu khawatir untuk mengirim mereka sebagai pasukan bunuh diri karena mereka memang sudah mati sejak awal. Keuntungan kedua, aku dapat bertarung dengan efektif karena aku tidak perlu mengkhawatirkan serangan liar mengenai orang.
Namun dampak buruknya adalah aku mungkin akan mencoreng gelar pahlawan dan bukannya tidak mungkin bahwa akan ada banyak orang yang membenciku karena menggunakan orang mati sebagai pasukan.
"Tunggu, memangnya apa masalahnya jika aku menodai gelar pahlawan? Lagipula aku tidak mengalami dampak spesifik apapun, kan?"
Gumam Rigel sambil melihat dengan teliti inti jiwa Arch Licht.
"Huh, masih ada banyak waktu. Aku mungkin hanya akan menggunakannya saat nyawaku sedang terancam."
Gumam Rigel.
Lalu, aku beranjak bangun dari pohon yang tampak seperti pohon sakura tempatku bersandar untuk beristirahat. Aku berjalan menuju kota, lebih tepatnya pilar penghubung lantai dimana ada sangat banyak pasukan yang berkumpul untuk menyelesaikan labyrint ini dan mengambil kembali kebebasan kami yang seharusnya menjadi hak kami.