The Legends Of Creator Hero

The Legends Of Creator Hero
Rigel Vs Karaka I



Pasukan kematian telah berpencar, mencari keberadaan Karaka. Keamanan dari setiap negara di tingkatkan, terutama pada tempat pengungsian warga. Untuk pasukan dari Region, mereka dengan cepat sampai. Asoka mengirimkan Misa sebagai kepala tim medis dan beberapa prajurit yang saat ini membersihkan mayat.


Jika Misa sudah berada di sini, yang berarti keadaan Nisa telah membaik. Saat ini Misa sedang menyembuhkan budak yang hanya memiliki sedikit kegunaan. Rigel tidak bisa membiarkannya mati meskipun dia menginginkannya. Baginya, kematian adalah sebuah belas kasihan. Jika ingin membalasnya, Rigel harus melakukan sesuatu yang lebih menyakitkan dari kematian.


Selain itu, Rigel masih perlu menggunakannya sebagai Raja boneka yang berada dalam kendalinya. Untuk sekarang, Rigel akan berkeliling istana, mencari tempat yang belum pernah dia kunjungi di sini. Terutamanya adalah tempat Excalibur seharusnya berada. Rigel sejak dulu sudah tertarik dengan eksistensi pedang suci itu.


Setengah jam berlalu, sampai saat ini Rigel masih tidak menemukan di mana tempat itu berada. Nampaknya hanya orang-orang dari keturunan Pendragon saja yang mengetahuinya. Mau tidak mau, Rigel harus menunggu Tirith atau budaknya pulih dan menunjukan padanya.


Memutuskan untuk berhenti sampai di sini, Rigel bergegas menuju ruang tahta. Dalam perjalanan, tidak terduga dia bertemu dengan Altucray yang memaksakan diri untuk keluar dari kamarnya.


"Tunggu, Yang Mulia! anda harus beristirahat!" Misa mengikuti di belakangnya, mencoba untuk menghentikannya.


"Tidak bisa... Aku... Harus menemui, Putriku..." Dia merintih kesakitan selagi berpegang pada dindingnya.


Rigel menghampiri mereka selagi menghela nafas seakan kelelahan. Altucray dan Misa menyadari kedatangan Rigel.


"Kau...! kenapa kau baru datang sekarang?! bagaimana dengan putriku??" Altucray terlihat marah karena Rigel datang terlambat. Namun bukan berarti benar baginya menyalahkan Rigel atas apa yang terjadi.


"Kau pikir siapa kau, berani melimpahkan segala hal padaku? dasar budak kurang ajar. Aku akan menghukummu Nanti. Untuk putrimu yang bahkan tidak mengkhawatirkanmu, dia baik-baik saja. Bahkan dia mengajakku untuk bersetubuh dengannya..." Rigel sedikit memprovokasi Altucray dengan mengatakan itu.


Altucray hendak marah, namun dia menahannya. Selama putri tercintanya baik-baik saja, maka tidak ada masalah. Dia bersandar pada dinding dan perlahan merosot ke lantai karena lelah. Rigel mengulurkan kakinya ke kepala Altucray dengan santai.


"Hoi, budak. Jangan membuat kawanku kerepotan. Kau sudah bau tanah, sebaiknya berbaring di peti matimu dan jangan menyusahkan orang," Rigel beralih kepada Misa, "Bawalah dia kembali ke kamarnya. Jika dia tetap bersikeras untuk pergi. Potong saja kedua kakinya."


"Baik." Misa dengan patuh menuruti Rigel dan membantu Altucray berjalan ke kamarnya.


Rigel melanjutkan perjalanannya menuju ruang tahta yang sepi. Para bangsawan seperti Walther telah melakukan bisnis lain seperti mengatur orang-orang yang berada di wilayah mereka sendiri. Yah, mungkin beberapa dari para Bangsawan itu hanya takut dengan serangan iblis dan bersembunyi di Mansion mereka masing-masing.


Rigel duduk di tahta, namun untuk beberapa hal dia tidak merasa nyaman dengan situasi saat ini. Semua terlalu Damai di masa kekacauan ini. Meski kedamaian bukan hal yang buruk, namun itu bisa juga memberikan beberapa pertanda buruk. Rigel telah mengirimkan cukup banyak pasukan kematian untuk mencari keberadaan Karaka atau pilar iblis. Namun sampai saat ini tidak ada satupun laporan masuk.


Tidak dapat di pungkiri jika kejadian ini sedikit mengganjal. Rigel memiliki keyakinan penuh bahwa Karaka akan di temukan cepat atau lambat oleh pasukan kematian.


"Terkecuali, dia berada di sebuah tempat yang tidak akan dapat di jangkau pasukanku..."


Rigel dapat memikirkan tiga tempat yang tidak akan bisa di jelajahi pasukannya. Tempat itu adalah Hutan Roh, Kerajaan iblis dan negaranya sendiri, Region. Hanya orang-orang terpilih dan memiliki kualifikasi saja yang dapat memasuki hutan Roh. Meski Rigel memiliki kualifikasi untuk masuk, namun pasukan kematiannya adalah pengecualian. Lagipula Rigel yakin Karaka juga tidak akan bisa memasuki hutan itu. Jadi hutan Roh telah tersingkir dari pilihan.


Untuk kerajaan iblis sendiri, Rigel tidak memiliki apapun untuk di komentari. Dia sendiri tidak tahu menahu tentang kerajaan itu, namun tetap ada kemungkinan Karaka pergi ke sana.


"Yang terakhir hanya Region yah... Seharusnya tidak mungkin dia dapat menyusup tanpa ketahuan sama sekali. Dengan keamanan super ketat saat ini, hampir tidak ada jalan untuk menyusu—"


Dia terhenti oleh kata-katanya sendiri. Rigel dapat mendengar kata-kata Tirith menggema di telinganya. Dia berniat memancing amarahmu jauh lebih dalam.


Rigel tidak memikirkannya, bahwa mungkin ada satu cara untuk Karaka menyusup tanpa ketahuan. Melalui Teleportasi atau Portal yang sama dengan Lucifer. Bahkan mungkin sudah terlambat bagi Ciel mengawasinya, karena Leorang mungkin hanya mengawasi daerah di luar dinding saja.


Rigel menghantamkan tinjunya dan membuat tahta di dudukinya memiliki retakan di mana-mana. Dengan kesal dan tergesa-gesa, Rigel berteleport ke Region dengan harapan kekhawatirannya tidak terjadi.


Rigel tiba di gerbang masuk Region. Kekhawatiran terburuk Rigel benar-benar terjadi. Gerbang Region telah di hancurkan, dan bangunan di dalamnya porak-poranda. Beruntung bahwa warga telah di ungsikan, namun tetap ada korban jiwa dari para prajurit yang bertugas. Rigel berjalan dalam keheningan. Meratapi banyak nyawa prajurit hilang.


*Bom!


*Dor! Dor!


Rigel dapat mendengar suara ledakan dan baku tembak dari Kerajaan. Nampaknya Karaka masih berada di sini dan para prajurit sedang berhadapan dengannya. Tanpa membuang waktu, dengan kecepatan penuhnya Rigel menuju TKP.


Sesampainya, Rigel di sambut dengan pemandangan para prajurit yang menembaki Karaka dari segala arah. Peluru Riflle nampaknya tidak dapat menembus tubuhnya sama sekali. Rigel melihat Merial dan Asoka yang berlumuran darah dengan wujud transformasi singanya. Terlihat sangat jelas bahwa dia bertarung habis-habisan dengan nafas terengah-engah.


Namun bukan itu yang menjadi perhatian Rigel, melainkan sesuatu yang berada di salah satu tangan Rigel. Tubuh seorang gadis berlumuran darah. Kepalanya di cengkraman oleh Karaka dan tubuhnya tidak lagi bergerak. Gadis itu adalah Nisa.


Keadaannya menjadi jelas. Karaka menyusup ke dalam istana dan menghancurkan segalanya sampai dia menemui Nisa di ruang perawatan dan membunuhnya.


"KARAKAAAA!!!"


Auman Rigel bergema keras dan membuat perhatian semua orang teralhikan ke arahnya. Amarah, haus darah dan keinginan membunuh yang begitu besar bercampur menjadi satu kesatuan. Tidak ada lagi strategi, tidak ada lagi kekhawatiran. Tidak ada apapun lagi yang Rigel pikiran selain membunuh Karaka.


"Ara? aku ketahuan ya? Selamat datang, Rigel!" Karaka menyeringai dengan sangat senang selagi menunjukan kepala Nisa ke arahnya.


Jika dia berniat memancing kemarahan, maka selamat, dia telah berhasil. Sebuah ranjau yang tidak seharusnya di sentuh oleh Karaka, yaitu orang-orang yang Rigel sayangi.


Dalam satu kedipan mata, Rigel sudah meluncurkan tendangannya tepat di wajah Karaka dan membuatnya terhempas keluar kerajaan. Bersamaan dengan itu, Karaka melepaskan genggamannya pada Nisa dan mengerahkan seluruhnya untuk bertarung dengan Rigel.


"HAHAHAHA, Bagus sekali, Rigel! Datanglah padaku!"


Rigel melesat dan mengincar kepala Karaka dengan kakinya, namun kali ini berhasil menahannya. Angin berhembus kencang dan tanah memiliki retakan karenanya. Rigel hendak mengambil jarak dari Karaka, namun tangan lain Karaka meraih kakinya dan menghantamkan Rigel ke tanah dengan sangat kuat.


Sedikit darah keluar dari mulutnya, namun itu tidak membuat Rigel berhenti. Selagi awan debu menutupinya, Rigel mengerahkan Mana alam yang telah dia kumpulkan dan membentuk ratusan Asura Punch yang mengarah langsung menuju Karaka.


Karaka merentangkan ke empat tangannya dan menepukannya secara bersamaan. Berkat gelombang udara dari tepukan nya, Asura Punch dapat di tangani dengan mudah. Namun saat dia menyadarinya, Rigel sudah berada di langit dan sebuah tangan Mana super besar meluncur ke arahnya. Bukan ketakutan yang di rasakan nya, melainkan suka cita.


"Bagus! Benar, seperti itu Rigel! buatlah aku jauh lebih terhibur dari ini!" Karaka mengulurkan tangannya ke langit dan menembakan energi besar kemerahan.


Laju tinju raksasa perlahan terhenti oleh ledakan energi dari Karaka. Rigel tahu bahwa itu tidak akan berguna, karena itu dia menggunakannya sebagai umpan. Rigel menggunakan teleportasi jarak dekat dan berada di belakang Karaka. Dia mengulurkan tangan kirinya dan menggunakan kekuatannya.


"Material Buster!"


Ledakan lainnya muncul dari belakang Karaka dan itu membuatnya terkejut. Dia seharusnya tidak memiliki cara untuk berlindung dari serangan itu. Karaka menghentakkan salah satu kakinya dan bergumam, "Dinding Energi."


Sebuah dinding merah tembus pandang memblokir serangan Rigel. Karaka telah berhasil memblokir dan menghancurkan Asura Punch raksasa Rigel di saat yang bersamaan. Dia tidak pernah ingin terus menerus menerima serangan Rigel.


"Sekarang giliranku, Rigel!" Karaka dengan kecepatan gila yang tidak sesuai ukurannya melesat ke arah Rigel.


Tidak tinggal diam, Rigel menghindari Karaka selagi mengeluarkan serangan demi serangan terhadap Karaka. Manusia biasa tidak akan pernah bisa mengikuti kecepatan mereka. hantaman demi hantaman, pukulan demi pukulan mereka berikan sampai salah satunya tumbang.


Rigel berputar dan mengerahkan kekuatannya untuk menendang Karaka, namun di hentikan ya dengan tangan Karaka. Tangan lainnya terulur dan menghajar Rigel sampai terhempas ke tanah. Kawah terbentuk dengan Rigel sebagai intinya. Rasa sakit menjalar di seluruh tubuh, namun amarah yang besar membakar semua rasa sakitnya.


Karaka melompat dan mengulurkan dua tangan kirinya. Bersamaan dengan itu, dua buah tinju energi raksasa terbentuk dan menghantam Rigel.


*Bom!


Karaka sedikit mengambil jarak, "Kau pikir hanya kau yang bisa melakukannya?" Dia sedikit mengejek Rigel. Awan debu berkumpul, menutupi pemandangan sekitar sampai perlahan menghilang.


Saat awan debu menghilang, sesuatu berwarna biru dapat di lihat dengan jelas, "Dan kau pikir, hanya itu yang aku punya?"


Rigel mengaktifkan Void tahap pertama untuk menghilangkan serangan Karaka sebelumnya. Karaka menatap dengan terkejut, di sisi lain Rigel menatap dengan penuh kemarahan, namun berbeda dari sebelumnya. Dia saat ini sudah bisa berfikir dingin tidak seperti sebelumnya yang seakan bisa gila kapanpun.


Rigel perlahan mengepalkan tinju kanannya yang memiliki Rune biru, "Pertarungan baru saja di mulai, jangan besar kepala dulu, Bodoh."


Meski Rigel tidak mencoba untuk provokasi, namun dari suaranya sendiri jelas mengukir kekuatan dan begitu mengintimidasi. Hal itu semakin memacu semangat bertarung Karaka dengan Rigel.


Perasaan menyenangkan yang sangat-sangat Nostalgia. Ntah berapa lama dia berada di neraka, Karaka hampir tidak pernah merasakan hal ini. Karaka mulai gemetar, bukan takut, tapi sebaliknya.


"Kukukuku... Ternyata benar, aku benar untuk mempercayai Lucifer tentang dirimu, Rigel. Aku tidak menyangka akan menjadi semenyenangkan ini... Neraka sangat membosankan, hanya ada orang bodoh di sana dan manusia tolol yang menangis memohon." Karaka menatap telapak-telapak tangannya dan perlahan menatap Rigel.


"Aku telah menjumpai banyak sekali jenis manusia, di mulai dari pejuang hebat hingga penjahat kelas kakap... Namun mereka semua memiliki kesamaan, mereka akan takut di hadapan eksistensi yang jauh lebih tinggi. Tidak perduli seberapa hebat mereka, semuanya sama, takut akan Neraka." Karaka mulai tersenyum lebar dan semakin gemetar.


"Tetapi kau berbeda... Orang pertama yang kutemui... Kau orang pertama yang aku temui. Kau tidak takut pada sosok yang lebih tinggi darimu. Bahkan sekali lihat aku langsung tahu, ada begitu banyak orang yang berusaha menarikmu ke neraka di bawah sana." Karaka menatap tempat Rigel berpijak, seolah melihat ada ratusan zombie yang merangkak naik.


Rigel hanya diam dan tidak menanggapi Karaka. Mungkin masih ada hal lain yang ingin dia bicarakan, Rigel yakin itu dan memanfaatkannya untuk menyiapkan sesuatu.


"Neraka tempat yang sepi, namun begitu bising. Neraka tempat penderitaan, namun begitu menyenangkan. Neraka tempat yang hangat sekaligus dingin. Kau pastinya akan pergi ke neraka, sama sepertiku, Rigel." Karaka menyeringai lebar seperti biasa. Dia seakan bertindak untuk menanamkan rasa takut akan Neraka pada Rigel. Tanpa dia tahu, itu sia-sia.


"Tidak perlu mengingatkanku tentang Neraka. Karena sejak awal memang tempat itu tujuan akhirku. Aku berasal dari sana, dan akan kembali ke sana. Surga bukan tempat yang pantas, untuk orang sepertiku."


Rigel belum pernah merasakan bagaimana dan seperti apa surga itu sendiri. Dia bahkan tidak pernah berfikir akan dapat mengetahui jawabannya. Apakah itu menyenangkan atau justru membosankan. Jika dia harus memilih jawabannya, maka dia akan memilih yang terakhir.


Karaka mulai memeluk tubuhnya sendiri karena terlalu senang. Dia telah memahami, sangat-sangat memahami apa yang baru saja Rigel katakan. Dia menyatakan bahwa sejak awal dia memang bertujuan untuk berakhir di Neraka. Manusia pada umumnya akan memilih surga, tempat yang di katakan begitu indah. Namun Rigel malah memilih sebaliknya. Yang berarti, sejak awal Rigel bahkan tidak takut sama sekali pada tempat yang di sebut Neraka.


"Aku benar-benar tidak menyesal, menunggu selama ratusan tahun untuk pergi. Dan aku mendapatkan apa yang kuinginkan. Izinkan aku mengatakan hal terakhir sebelum mulai, Rigel." Karaka mulai mengepalkan tangannya dan membungkukan tubuhnya sedikit ke depan.


Menatap itu, Rigel juga mengambil kura-kura bertempurnya. Segala hal yang di butuhkan saat ini adalah bertarung habis-habisan setelah memulai.


"Aku jatuh cinta padamu, Rigel, aku sangat mencintaimu. Kau adalah satu-satunya orang yang sangat kuakui. Karena itu, mari pergi ke neraka bersama dan kita bertarung sepuluh ribu tahun. Di neraka kita abadi, tidak masalah jika kita menghabiskan waktu dengan bertarung."


"Sayangnya aku sangat membencimu dan itu menjijikan saat kau mengatakan cinta. Namun, terima kasih atas undangan baik hatimu. Tetapi, aku akan mengirimmu kembali ke tempat yang bukan neraka. Kau akan pergi ke kehampaan!"


Dengan satu kata terakhir Rigel, pertarungan mereka langsung di mulai. Rigel dan Karaka sama-sama melesat dan menghantamkan tinju mereka satu sama lain. Mereka salin menatap mata dengan senyuman haus darah mereka.