
Hampor setengah jam berlalu saat Rigel menaiki pedati menuju ke desa bocah itu berada. Saat mencapai desa kecil itu, semuanya terlambat.
Ada hampir setengah dari penduduk telah di bunuh dan di racuni oleh Black Viper. Ada beberapa wanita yang terbaring lemah tanpa busana di sekitar.
"Ini pasti ulah goblin sialan itu!"
Cold mengutuk.
Ini tidak dapat tertolong lagi karena sudah cukup lama semenjak pasukan goblin yang di pimpin Black Viper menyerang.
"Setidaknya cari dan kumpulkan orang yang masih hidup! Aku akan menghabisi ular dan goblin sialan itu."
Rigel melesat dan mencari hawa kehadiran monster yang berada di sekitar desa.
"Kalian juga kumpulkanlah orang orang yang selamat dan sembuhkan mereka yang terluka!"
Yuri memerintahkan beberapa anggota partynya untuk menolong warga. Anggota party Yuri mengangguk dan mulai berpencar sementara Yuri mulai mengejar Rigel.
'Hawa ini?... Mereka tidak berpencar, melainkan tetap dalam kelompok.'
Rigel merasakan para goblin itu menyerang desa dalam kelompok besar dan tidak berpencar menjadi kelompok kecil. Goblin tidak pintar namun mereka tidaklah bodoh. Mereka dapat berfikir bahwa bertarung dalam kelompok besar lebih baik dan bahkan mereka terkadang bergabung dengan monster kuat untuk ke selamatan mereka, contohnya mereka bergabung dengan Black Viper.
Gwar!
"Wah, Wah. Maafkan aku yang sudah mengganggu pesta kalian, namun sayangnya kalian harus menjadi subjek uji coba senjataku."
Rigel mengeluarkan dua pistol koboy yang telah di ciptakan sebelumnya.
"Baiklah, sekarang kita lihat apakah senjata modern dari abad 20 dapat melukai monster seperti kalian."
Seolah mengerti provokasi Rigel, para goblin mulai berlari dan menerjang Rigel. Satu goblin melompat tepat di depannya.
Dor!
Rigel menembak kepala goblin yang melompat ke arahnya dengan pistol yang berada di lengan kirinya.
Dor! Dor! Dor! Dor! Dor!
Rigel terus menembak sambil menghindari kerumunan para goblin yang datang kepadanya. Saat pistolnya ke habisan peluru, Rigel hanya perlu membuat pelurunya langsung di dalam pistol tanpa perlu memasukannya.
"Hmhm, sepertinya ini berguna untuk membunuh monster. Kalau begitu, mari kita coba senjata selanjutnya."
Rigel menaruh kedua pistolnya di saku yang berada di pinggangnya. Rigel mengambil sebuah benda bulat di infertory, benda itu adalah sebuah granat.
Rigel melompat ke atas dan menarik pemicu granat lalu melemparkannya ke kawanan goblin. Salah satu goblin menangkap granat seperti orang bodoh dan tersenyum mengejek lalu....
Duar!!
Bomb itu meledak dan memberikan kekuatan destruktif yang cukup besar. Awan kabut menutupi daerah sekitar karena ledakan itu, lalu hujan panah ke emasan turun dari langit dan menghujani para goblin.
"Hujan panah!"
Gwarw!!!
Goblin menjerit kesakitan karena hujan panah yang menghujani mereka. Rigel melompat untuk berdiri di samping gadis yang mendatangkan hujan panah tersebut.
"Melihat senjata senjata yang seharusnya tidak berada di dunia ini, ternyata kau benar benar Rigel."
Ucap Yuri.
"Awalnya aku juga hampir tidak mengenalimu, Yuri. Apakah berat badanmu bertambah?"
Rigel mengejek.
"Meskipun penampilan luarmu sangat berbeda, namun dari kata kata dan sifatmu sama sekali tidak berubah ya."
Mereka berdua sama sama tersenyum saat para goblin mulai mengaum marah.
"Mundurlah Rigel, tanpa senjata modern itu kau sangat lemah. Biar aku saja yang menghabisi mereka karena serangan jarak jauh adalah ke ahlianku."
Ucap Yuri.
"Kau hanya melihat seekor kucing kecil namun tidak menyadari bahwa kucing kecil itu adalah seekor singa."
Yuri tidak mengerti apa maksud dari perkataan Rigel. Saat awan kabut mulai menghilang, Rigel memasukan kembali senjata senjata miliknya.
"Yah, nampaknya senjata modern bisa membunuh monster. Kalau begitu, akan kutunjukan sedikit dari apa yang kupunya."
Rigel menjentikan semua jari jarinya dan perlahan berjalan menuju pasukan goblin yang tersisa.
"Apa yang kau lakukan?! Meskipun mereka hanya goblin, jumlah mereka yang banyak sangat merepotkan."
Yuri berteriak kepada Rigel yang terus melangkah menuju kawanan goblin. Rigel hanya mengabaikan peringatan yang di berikan Yuri dan menghadapi goblin yang menghampirinya.
'Seratus tahun aku menjalani pelatihan di dimensi yang berbeda. Sebagian besar waktu pelatihan itu di gunakan untuk membantai lebih dari sepuluh juta penduduk labyrint neraka termasuk temanku.'
Batin Rigel.
Rigel menyentuh dadanya, tempat inti jiwa Priscilla yang kini menjadi kalung berada. Rigel tersenyum saat kawanan goblin mendekatinya. Rigel memejamkan matanya.
'Namun entah kenapa, aku merasakan perasaan senang saat ini. Sepertinya aku akan menjadi orang yang menikmati pertarungan.'
Satu ekor goblin melompat ke arah Rigel dan menyodorkan pisau kecilnya. Saat goblin itu sudah sangat dekat, Rigel membuka matanya dan tersenyum seperti iblis. Matanya memancarkan mata dari seseorang yang menikmati pembantaian dan pembunuhan.
Kaki kiri Rigel terangkat tinggi dan mencapai wajah goblin yang berusaha menyerangnya. Telapak kaki Rigel mengenai wajah goblin dan Rigel menghantamkan kakinya ke tanah bersamaan dengan goblin itu. Kepala goblin yang berada di kaki Rigel hancur karena di injak olehnya.
Para goblin terkena provokasi Rigel dan mulai menyerang secara bersamaan. Rigel hanya mengayunkan kakinya karena ukuran para goblin hanya sekitar pinggangnya. Rigel memutar tubuhnya dan meraih kaki goblin yang melompat ke arahnya dan melemparkannya dengan kuat ke goblin lainnya.
Yuri tidak bisa membantu, dia sangat terkejut dengan pertarungan Rigel. Dia tidak pernah menyangka jika pahlawan yang seharusnya terlemah di antara mereka, kini menjadi sangat kuat, mungkin lebih kuat darinya.
"Hahaha, ayolah! Apa hanya ini yang kalian punya?! Dimana pemimpin kalian, Black Viper!"
Rigel terlihat sangat senang saat membunuh goblin goblin itu dan memancing agar Black Viper memperlihatkan dirinya. Rigel bahkan tidak mengeluarkan keringat dan pakaian serta tubuhnya tidak ada yang terkena noda darah.
Rigel terus membunuh para goblin hanya dengan seni bela dirinya dan meledakan goblin dengan teknik mana yang dia kuasai. Ini hanyalah pembantaian satu pihak.
Duar!
Sesuatu mulai keluar dari dalam tanah dan menggeliat keluar. Ukurannya sebesar rumah namun tubuhnya sangatlah panjang, dia memiliki sisik berwarna hitam dengan mata berwarna coklat dan lidah yang tampak seperti cambuk terus menjulur, itu adalah Black Viper.
"Akhirnya, boss monster muncul."
Ucap Rigel.
"Berhati hatilah! Racunnya sangatlah mematikan, jika terkena, kulitmu akan meleleh."
Yuri berteriak.
Memang benar racun monster ini sangatlah berbahaya hingga menempatkannya di monster ranking A. Selain tubuhnya yang panjang dan racunnya, yang menyusahkan dari monster ini adalah dia tidak bisa di bunuh selama Core nya tidak hancur.
Sulit untuk mencari letak keberadaan Core miliknya di tubuh panjangnya belum lagi, sebagian besar tubuhnya masih berada di dalam tanah.
"Hei, Yuri. Apakah kau tahu di mana letak Core monster ini berada?"
Tanya Rigel.
"Sangat sulit menentukannya karena mereka memiliki tempat yang berbeda. Namun, kita bisa mencobanya dari kepala."
Balas Yuri.
Saat Rigel hendak menyerang Black Viper, para goblin yang tersisa mulai bergerak dan hendak menyerang Rigel.
'Tch! Mereka memang menyusahkan saat berkelompok.'
"Light Arrow!"
Panah cahaya melesat dan menyerang para goblin yang tersisa. Rigel terkejut dan menoleh ke arah Yuri.
"Biar aku saja yang mengurus para goblin, kau hadapilah yang hitam itu!"
Rigel hanya mengangguk dan berhadapan langsung dengan Black Viper. Rigel menatap Black Viper sambil mencari keberadaan Core miliknya.
Ssssttsss!
Black Viper mendesis ke arah Rigel dan membuka mulut menjijikannya untuk memperlihatkan dua taringnya yang panjang.
"Kau sudah terlihat jelek jadi tidak perlu membuatnya tambah jelek."
Black Viper mengeluarkan racunnya ke arah Rigel, Rigel melompat kekanan dan melompat lagi menuju ke kepala Black Viper.
"Mana Hand : Hand Of Midas!"
Tangan ke emasan raksasa yang terbuat dari mana muncul dan menggenggam kepala Black Viper. Rigel mencengkram kepala black Viper menggunakan Hand Of Midas dengan erat dan menghancurkan kepalanya.
Darah dan racun mulai keluar dari kepala Black Viper yang remuk karena Hand Of Midas milik Rigel.
Alasan Rigel menamakannya hand of midas karena tangan mananya berwarna ke emasan. Dalam mitologi mesir kuno, ada sebuah cerita tentang raja midas yang mendapatkan berkah dewa. Dia dapat mengubah benda apapun yang di sentuhnya menjadi emas namun karena kekuatan itu juga midas mati kelaparan karena setiap makanan yang di sentuh berubah menjadi emas.
"Jika tidak ada di kepalanya, berarti di sekitar tubuhnya."
Gumam Rigel.
'Mencari di tubuhnya yang panjang akan merepotkan. Aku harus memikirkan sebuah cara yang lebih mudah.'
Setelah beberapa saat berfikir, Rigel menemukan sebuah cara yang mungkin sangat efektif.
"Baiklah, pertama mari kita hancurkan mulutmu."
Rigel melesat ke arah Black Viper dan menggunakan Hand Of Midas untuk menghancurkan rahangnya. Black Viper mendesis ke sakitan saat rahangnya tidak bisa menutup.
Rigel berdiri di mulutnya dan mengulurkan tangan kananya.
"Creator Skill : imagination Creator!"
Rigel mulai menciptakan ratusan bomb dan memasukannya ke dalam mulut Black Viper lalu meledakannya.
Duar!!
Tubuh black Viper mengembang dan hancur karena semua ledakan di dalam tubuhnya. Core milik Black Viper hancur bersamaan dengan tubuhnya. Rigel menoleh ke arah Yuri yang menghadapi para goblin.
"Nampaknya yang di sana juga sudah selesai."
Yuri membunuh goblin terakhir dengan sekali serang. Dia menyadari tatapan Rigel dan tersenyum, Rigel juga membalas senyuman Yuri.
"Baiklah, mari kita lihat pekerjaan mereka."
Ucap Rigel.
Yuri mengangguk dan mereka berdua pergi bersama ke tempat Cold dan party Yuri mengumpulkan semua penduduk yang tersisa.