
Begitu menyelesaikan urusannya dengan Red, tanpa menunggu waktu lebih lama, Rigel pergi menemui orang selanjutnya, ratu peri Sylph.
Tempat yang seperti biasa damai, hutan yang begitu segar dan menyejukkan hati. Yang mengejutkan adalah tidak banyak lagi peri kecil yang bertengger di bahu Rigel seperti biasa.
Mungkin itu dikarenakan ratu mereka yang memerintahkan untuk mencari Priscilla yang hilang. Namun tidak perduli seberapa keras usahanya, mereka tidak akan pernah bisa menemukannya, karena mungkin Priscilla berada di dimensi berbeda.
Rigel berjalan tanpa tujuan dan tidak sadar bahwa dia berjalan menuju pohon Roh. Biasanya, setiap kali dia tiba di tempat ini, Sylph akan datang sendiri dan menyambutnya, tanpa perlu bagi Rigel mencarinya. Namun kali ini berbeda, nampaknya dia tengah melakukan sesuatu.
Dia tidak tahu banyak tentang hutan Roh, jadi tidak ada salahnya memulai dari tempat yang dia ketahui. Untuk itu, Rigel terbang mendaki pohon Roh yang ketinggiannya menembus awan putih.
Beberapa menit berlalu semenjak dia terbang dan mencapai puncak pohon roh. Dia dapat merasakan energi sihir yang telah dia kenal tidak jauh di depan sana. Ada banyak roh yang datang dan pergi dari tempat ini.
Rigel menemukan seorang gadis cantik yang dikelilingi roh. Bibirnya memang tersenyum, namun ekspresinya menggambarkan kesedihan. Dia membiarkan tangannya menjadi tempat bertengger para peri kecil yang hanya terlihat seperti butiran cahaya.
Dia berbalik dan menyadari keberadaan Rigel mendekatinya. Sebelum menyapa Rigel, dia memerintahkan para peri kecilnya untuk pergi dan menghampiri Rigel.
"Maaf karena tak dapat menyambutmu. Aku masih bersusah payah melacak jejak Priscilla, namun hasilnya adalah nol besar," Sylph terlihat sedih dan kecewa. Dia telah berusaha sangat keras, namun tidak mendapatkan hasil apapun.
"Tidak perduli seberapa keras kau mencari, tidak akan ada hasil apapun yang didapatkan."
Sylph menjadi semakin pahit akan kenyataan yang ditekankan Rigel. Dia sendiri telah mengetahuinya, namun bersikeras menolaknya.
"Untuk hal itulah, aku datang. Priscilla telah ditahan oleh seseorang yang tidak diketahui identitasnya."
"Seseorang...," Sylph mulai merenung sesaat sampai wajahnya terlihat benar-benar marah, "Apa mungkin itu Lucifer dan antek-anteknya??" lanjutnya dengan nada marah.
Untuk pertama kalinya, Rigel melihat langsung kemarahan Sylph. Tidak terduga ratu peri yang biasanya tenang dapat memancarkan aura berbahaya seperti itu.
"Tenang lah, kemarahan mu juga berdampak pada para peri,"
Cahaya yang melayang di udara mulai melayang dengan liar dan meski samar, mereka memancarkan cahaya redup kemerahan yang nampak melambangkan amarah. Menyadari itu, Sylph menarik nafas dalam untuk menenangkan dirinya.
"Yah, mengenai sosok itu, mari kita bahas nanti, karena ada hal lain yang ingin kutanyakan dan ku minta kau lakukan. Ini demi menyelamatkan Priscilla."
Rigel telah mengenal Sylph dan mengetahui kelemahan terbesarnya yang terletak kepada Priscilla. Mengenai kekuatannya secara langsung, tidak dapat ditentukan. Rigel tahu bahwa Sylph itu kuat, namun dia tidak pernah bisa menebak sampai batas mana kekuatannya.
Bukan pilihan bijak menjadikannya musuh dan fakta bahwa dia berada di pihaknya patut untuk disyukuri.
"... Baiklah, jadi, hal apa yang ingin kamu bicarakan terlebih dahulu??"
Mungkin pertanyaan Rigel ini tidak berhubungan dengan situasi yang terjadi kali ini. Namun, kali ini dia tidak berniat menunda apapun tentangnya yang nampaknya menjadi kunci besar segala kejadian di masa lalu. Juga, kemungkinannya tidaklah nol, bila sosok itu adalah orang yang ingin Rigel bahas lebih dahulu.
"Aku tahu bahwa ini tidak berkaitan, namun aku butuh kamu untuk menjawabnya...,"
Sylph adalah ratu peri yang sudah hidup dalam waktu lama, sama halnya dengan Red. Namun, kemungkinan besar bahwa Sylph lebih banyak melakukan kontak kepada Pahlawan dan manusia ketimbang Red. Karena itu, pilihan tepat untuk memilih bertanya kepada Sylph ketimbang Red.
"Apakah kau mengetahui pria bernama Aludra, yang hidup pada masa Pahlawan generasi pertama??"
Sylph sedikit tertegun terhadap nama yang tidak diduga akan keluar dari mulut Rigel. Sebuah nama yang tentunya Sylph ingat dan masih segar dalam kepalanya. Dia tentu terkejut mengapa Rigel mengetahuinya, namun tidak lagi memikirkannya karena itu Rigel, bukannya mustahil untuknya mengorek cerita dari orang-orang tua.
"Ya, aku sangat mengenalnya karena dia termasuk orang penting pada masa kekacauan itu."
Nyatanya tidak salah Rigel mencoba membahas sosok Aludra itu, karena Sylph bahkan mengingat namanya.
"Penting? Apa maksudnya?? Apa kau tahu asal-usulnya juga?"
Apakah mungkin dia Pahlawan atau pribumi asli yang sangat kuat sampai mampu berdiri sejajar dengan Pahlawan generasi pertama? Atau bahkan, kemungkinan lain...
"Ya, kalau tidak salah dia sama sepertimu, manusia yang dipanggil dari dunia lain. Namun, dari yang kutahu dia bukanlah seorang Pahlawan, melainkan manusia yang ikut terpanggil bersama salah satu Pahlawan. Namun sayangnya aku tidak begitu tahu mengenai rinciannya."
Jika begitu, artinya ada 13 orang yang terpanggil ke dunia lain, namun hanya satu dari mereka yang tidak memiliki kualifikasi sebagai Pahlawan, karena mereka hanya terjebak dalam pemanggilan atau semacamnya. Dia juga bukan Pahlawan sehingga tidak memiliki senjata ilahi. Namun, nampaknya Aludra ini memiliki hal lain yang membuatnya setara dengan Pahlawan.
Tentunya hal itu sangat mengejutkan. Tidak akan ada orang yang pernah menduga bahwa seseorang selain kandidat Pahlawan dapat terpanggil bersama-sama ke dunia lain. Tentunya rincian lebih lanjut membuatnya penasaran, namun sungguh disayangkan karena Sylph tidak mengetahuinya dan itu hanya akan menjadi cerita lain.
"Apa yang terjadi dengan Aludra itu? Jika dia bukan Pahlawan dan hanya manusia biasa, lantas apa yang membuatnya menjadi sosok penting??"
Ada dua kemungkinan yang dapat terpikirkan. Entah bagaimana Aludra menemukan cara untuknya bertarung atau sesuatu yang lain seperti mendapatkan berkah yang membuatnya menjadi kuat.
"Aludra berbeda dari Pahlawan. Dia tidak mendapatkan senjata Pahlawan dan bahkan berkah Index seperti Pahlawan lain dan manusia serta setengah manusia dunia ini. Dia hanyalah manusia tanpa karunia apapun, seakan dewa membencinya dengan tidak memberi apapun padanya. Namun justru karena itu, dia mendapat keuntungan bahwa tidak akan menerima dampak buruk dan efek samping apapun dari menggunakan segala hal yang mungkin menimbulkan kutukan. Karena keuntungannya itu, dia menggunakan Artifak sebagai benda yang membantunya bertarung di dunia yang sangat keras bagi sosok tanpa berkah sepertinya."
Jika yang dimaksud adalah artifak kuno, maka tidak mengejutkan dia dapat berdiri sejajar dengan Pahlawan lain.
Seperti yang diketahui, bahwa Artifak kuno adalah barang dan senjata peninggalan para dewa untuk membantu manusia bertahan hidup. Tidak hanya untuk melawan monster, tetapi bertahan dalam perang Ragnarok yang mereka mulai dengan menggunakan pion hidup.
"Dia terus menjelajah kebeberapa tempat untuk mengumpulkan Artifak kuno demi satu tujuan yang tidak diketahui. Aku juga tidak tahu berapa yang dia miliki, namun setidaknya dia mengumpulkan cukup banyak hingga mampu bersaing dengan 12 Pahlawan. Dia juga nampaknya menyembunyikan Artifak yang dia temukan, bahkan sampai saat ini keberadaannya tidak diketahui."
Rigel mengangguk dan mengerti. Patut bahwa dia tidak pernah melihat banyak Artifak kuno. Mungkin karena pria bernama Aludra ini mengamankannya dan menyembunyikannya di tempat yang tidak akan diketahui.
Sylph baru menceritakan tentang awal dan cara bertarung Aludra. Dia belum menceritakan berbagai hal yang dilakukan Aludra. Selain itu, Rigel juga telah memastikan bahwa sosok misterius itu bukanlah Aludra, karena dia tidak menggunakan Artifak untuk menyerang Rigel sebelumnya.
"Jika dia memiliki banyak Artifak kuno, maka tidak diragukan dia orang yang sangat kuat. Lantas, hal hebat semacam apa yang sudah dia lakukan??"
Tidak mungkin orang dengan kekuatan seperti itu tidak campur tangan dengan beberapa kejadian yang tercatat maupun tidak didalam sejarah.
Sylph tidak langsung menjawab, dia justru tampak berjuang mengingat dengan jelas hal-hal yang terjadi pada waktu itu. Dari yang awalnya mulai mengingat-ingat, kini berubah menjadi ekspresi serius, selagi meletakan tangannya di bibirnya.
"Apa ada sesuatu yang mengganjal?" Rigel bertanya karena begitu penasaran dengan ekspresi Sylph.
"Ya..., ini sangat aneh, bahwa ingatanku tentangnya menjadi samar-samar dan aku juga tidak dapat mengingat kejadian yang nampaknya penting. Seharusnya tidak mungkin bagiku untuk dapat melupakan satupun ingatan yang telah tertanam didalam kepalaku..."
Jika dia berkata begitu, maka itu kenyataannya. Mungkin Sylph akan menjadi satu-satunya sosok yang dapat mengingat tujuh miliar nama dan wajah manusia dalam sekali lihat.
"Nampaknya memang ada yang janggal mengenainya ya..., di kota Darkness, aku membunuh orang gila yang dipanggil Pilar iblis Marionette. Entah mengapa, setelah melihat wajahku, dia langsung beranggapan bahwa aku adalah sosok bernama Aludra."
Tidak dapat dipastikan bahwa dia memiliki wajah yang mirip dengan Rigel, mengingat kepribadian Marionette yang gila dan jiwanya yang rusak. Tidak akan mengejutkan bila Marionette benar-benar tidak mengingat wajah Aludra dan hanya mengingat beberapa hal yang identik tentangnya. Contohnya, seperti rambut putih.
Begitu dia mendengar Rigel menyebutkan nama Marionette, Sylph nampaknya mulai ingat sesuatu.
"Fakta bahwa kau mengalahkannya memang mengejutkan, namun berkat itu aku ingat hal yang dilakukan Aludra. Dulunya tidak ada perbudakan di dunia ini, namun berkat Aludra hal itu terwujud dan nampaknya Marionette mahkluk hidup pertama yang menjadi budak. Aku murni tidak tahu cerita lengkapnya, namun dapat kupastikan itu bukan hal baik. Lalu, aku juga ingat satu hal lain...,"
Sylph kini menatap langsung mata Rigel dengan tegas,
"Bahwa Aludra lah yang menciptakan dan menyarankan sihir penyegelan Tortoise dengan mengorbankan Priscilla dan empat dari Pahlawan."
Rigel sedikit tertegun setelah mendengarnya. Selama ini dia selalu berpikir bahwa Sylph atau Priscilla sendiri yang membuat segel semacam itu, namun kenyataannya jauh diluar pikirannya.
"Aludra yang menciptakan dan menyarankan segel itu? Sungguh tidak dapat dipercaya," Rigel bergumam lirih. Meski tidak bisa dipercaya, dia harus mempercayainya karena Sylph tidak akan berbohong.
"Yang lainnya, apa kau mengingat hal lain tentangnya??"
Tidak terduga pembahasan tentang pria yang sama misterius nya dengan penculik Priscilla mengandung berbagai hal dan misteri tak terpecahkan lainnya.
Rasa penasarannya semakin menguat, namun itu hancur dengan Sylph yang menggelengkan kepalanya.
"Sayangnya aku tidak dapat mengingat hal lain tentangnya. Aku merasa ada dinding penghalang yang sengaja memblokir sebagian besar ingatanku tentang satu individu itu."
Meski harus dikecewakan dengan sangat, tidak ada pilihan lain selain menghentikan pembahasannya di sini saja. Bahkan jika Sylph dapat melupakan sosoknya, tidak akan mengejutkan bila hampir tidak ada orang lain yang dapat mengingatnya.
Lagipula, Aludra hidup di seribu tahun yang lalu. Mustahil manusia dapat hidup dengan waktu selama itu.
"Yah, mau bagaimana lagi, mari kita sudahi tentangnya di sini," Rigel menggaruk kepalanya dan sedikit memejamkan mata, "Selanjutnya, mari kita bahas sesuatu yang akan telah berada dalam jangkauan."
Suasana kembali serius, karena topik berubah ke arah yang telah dinantikan Sylph.
"Dalam waktu dekat, aku dan Pahlawan lain akan menghadapi White Tiger yang kini sudah bergerak. Tidak hanya itu, aku berniat mendeklarasikan perang kepada Naga malapetaka."
Sylph tertegun dan jejak ketenangan di wajahnya mulai menghilang karena cukup terkejut. Dia berpikir bahwa itu cukup gegabah, bahkan untuk Rigel sekalipun.
"Bukankah itu terlalu awal? Naga malapetaka bukanlah sesuatu yang dapat dikalahkan dengan sangat mudahnya. Dia adalah Naga yang bahkan dapat membunuh setengah rasnya seorang diri."
Sylph sepertinya juga mengetahui setidaknya beberapa bagian dari peperangan para Naga. Jadi tidak akan mengejutkan bahwa dia sedikit kurangnya tahu tentang kekuatan Acnologia.
"Itu karena sosok aneh dan misteri yang menculik Priscilla akan menunggu di sana,"
Sylph kembali terkejut dengan kata-kata Rigel dan kini dia sedikit terlihat marah. Bukan kepada Rigel, tetapi sosok yang menculik Priscilla.
"Dia mengatakan sesuatu tentang permainan, bahwa aku harus mengalahkan Acnologia dan sebagai hadiah, dia akan mengembalikan Priscilla dan mengungkapkan identitasnya. Memang, dalam materi tidak ada hal berguna dalam hadiah yang tidak pantas disebut hadiah karena Priscilla milik kita sejak awal. Namun, prioritas kita saat ini adalah menyelamatkan Priscilla, jadi tidak ada jalan lain."
"Begitu, jadi kau datang ke sini dengan tujuan meminta bantuanku, ya??"
Dia tajam sehingga menusuk tepat pada point utamanya. Melawan Acnologia lalu sosok yang hampir membuatnya mati. Bahkan dengan keberadaan Pahlawan lain, mengalahkan keduanya bukan sesuatu yang bisa dilakukan.
Untuk itu, keberadaan Sylph sangat diperlukan dalam pertempuran itu. Tentunya, jika bisa Rigel juga menginginkan bantuan dari Red dan rekan Naga lainnya yang kini terpencar satu sama lain.
"Ya... Meskipun aku tidak mengenal apa itu kekalahan, namun ini pertama kalinya aku benar-benar merasa akan mempelajari yang namanya kekalahan. Karena itulah, aku membutuhkan bantuanmu untuk berkontribusi dalam menyelamatkan Priscilla dan menaklukkan Acnologia. Bagaimana? Apa kau mau mengulurkan tanganmu untuk menyelamatkan Priscilla bersamaku??"
Rigel mengulurkan tangannya, namun bukan dengan tujuan jabat tangan atau apapun. Meski tidak harus menanyakannya, dia tahu jawaban apa yang akan diambil Sylph.
"Bahkan tanpa perlu bertanya, kau seharusnya sudah memahami bahwa aku begitu lemah jika itu sesuatu yang menyangkut Priscilla. Baiklah jika begitu, aku akan bekerjasama untuk kali ini saja dan juga..., mungkin ini akan jadi kali pertama bagi manusia zaman ini merasakan amukan ratu peri."
Senyuman Sylph terlihat lembut, namun mengerikan dibeberapa tempat. Meskipun Sylph hanya berkata 'untuk kali ini saja,' dia masih memiliki hutang budi tak terbayar kepada Rigel, sehingga dia dapat menagihnya kapanpun. Namun, sekarang masih belum waktunya untuk itu.
Maka telah diputuskan, bahwa pemimpin para peri dan ratu hutan roh akan turut andil dalam perang melawan Acnologia dan pengikutnya. Selanjutnya, hanya tersisa tempat untuk menghabisi White Tiget.