The Legends Of Creator Hero

The Legends Of Creator Hero
Pembawa pesan



Raja Britannia dan Raja dari Kekaisaran Timur tertawa terbahak-bahak saat mendengarkan apa yang di ucapkan Asoka. Beberapa bangsawan yang hadir juga menahan tertawa mereka, sementara bangsawan lain menatap orang-orang yang tertawa dengan bingung. Memangnya apa yang konyol dari ucapan Asoka? melindungi umat manusia dari kepunahan adalah prioritas utama yang harus di laksanakan.


"Kenapa kalian tertawa? aku tidak sedang mengatakan lelucon." Ujar Asoka dengan tegas.


Rigel dan Ozaru tetap menutup mulutnya, Ozaru sejak awal memang tidak menyukai kedua orang itu meskipun ini adalah pertama kalinya mereka bertemu. Untuk Rigel, dia sudah siap menghukum mati kedua babi itu di tempat. Namun tak terduga, Asoka mengulurkan tangannya yang menandakan bahwa dia bisa mengatasinya. Raja Britannia mulai menyerukan pendapatnya.


"Hahaha, beginilah generasi muda. Apa kau pikir dapat melindungi semuanya? itu hal yang bodoh." Ujar Altucray.


"Hem, di dunia ini, kemenangan adalah segala-galanya. Dengan kata-kata yang kau ucapkan sebelumnya, itu menandakan bahwa kau tidak berniat mengincar kemenangan, kan? Itu bodoh, kau tidak akan bisa melakukan hal itu dan hanya menjadi sia-sia tanpa sebuah kemenangan." Ujar Rudeus.


Rigel tidak mengerti, bahkan Asoka tidak mengerti jalan pikiran mereka. Kenapa mereka menganggap bahwa kemenangan adalah segalanya? justru pemikiran kuno seperti itu yang akan membawa umat manusia di ujung jurang kematian. Rigel masih berdiam di tempat, dia yakin bahwa Asoka dapat mengatakan sesuatu mengenai pemikiran kuno seperti itu.


"Aku akan mengatakan ini, sebagai generasi muda. Pemikiran kalian generasi tua sangat kuno." Ujar Asoka.


Altucray dan Rudeus tampak sedikit terprovokasi dengan apa yang baru saja di katakan Asoka. Pada awalnya, dia tidak ingin menimbulkan masalah yang dapat membuat perpecahan. Namun, bukan berarti dia bisa membiarkan tanah airnya di hina begitu saja.


"Apa artinya kemenangan tanpa ada orang yang bisa merayakannya? Jika umat manusia berhasil bertahan tanpa jumlah jiwa yang menurun drastis, maka itu bisa di sebut dengan kemenangan dan ada lebih banyak kebahagiaan saat kemenangan seperti itu tiba...Hanya karena aku pendatang baru, bukan berarti aku bisa kalian rendahkan begitu saja, dasar sampah..." Ujar Asoka dengan dingin.


Raja dari Britania dan Kekaisaran Timur mulai mengerang kesal. Bahkan Takatsumi yang diam menyaksikan tampak tidak terima dengan provokasi yang tidak di tunjukan kepadanya. Namun, sosok tak terduga menjadi orang pertama yang membalas provokasi Asoka.


"Oi, kau menghina Rajaku dengan sebutan sampah, itu berarti secara tidak langsung kau menghinaku. Hal seperti itu tidak bisa di maafkan kau tahu? sepertinya kau memang harus di beri pelajaran." Ujar Marcel, pahlawan Sabit.


Marcel mengeluarkan tombaknya dari pinggangnya. Sepertinya ukuran tombaknya juga bisa mengecil seperti tongkat Ozaru. Rigel tersenyum tipis dan mengambil langkah maju melindungi Asoka selagi tangan kirinya menggaruk rambutnya yang putih.


"Gelud nih? jika kau berniat menyakiti Rajaku," Rigel mengangkat kepalanya, matanya berkilau biru terang dengan senyuman jahatnya. "Maka aku tidak akan tinggal diam begitu saja." lanjut Rigel.


Suasana di ruangan menjadi tegang, setiap orang yang menghadiri telah siap untuk melindungi dirinya masing-masing, sementara para kesatria Ragu akankah mereka harus menghentikan para pahlawan atau tidak.


Para pahlawan lain tanpa terkecuali menyiapkan senjata mereka, kalau-kalau ada serangan liar yang mengarah ke pada mereka. Bahkan Ozaru tidak tinggal diam saat melihat tiga pahlawan tersisa dari Kekaisaran Timur berjalan mendekati Rigel.


Marcel menatap Rigel dengan tajam, begitu juga sebaliknya. Mereka sama-sama tidak memberikan celah apapun untuk menyerang, sampai sebuah Perisai cahaya muncul di tengah Rigel dan Marcel. Hanya ada satu orang yang bisa menggunakan Perisai sihir sekuat ini, yaitu Hazama. Dia sedang mengulurkan tangannya yang terikat dengan Perisai.


"Hentikanlah pertikaian kalian, ada terlalu banyak orang akan mati jika pertarungan pecah." Ujar Hazama dengan dingin.


Setelah beberapa saat, Rigel mengikuti peringatan Hazama. Selain Asoka dan Merial, Rigel tidak menjadi masalah jika semua orang yang ada di sini mati. Namun setelah memikirkannya kembali, Rigel berubah fikiran. Akan merepotkan jika semua pahlawan bekerja sama untuk melenyapkan fraksi Asoka.


"Seperti yang di katakan Pahlawan Perisai, para pahlawan tidak seharusnya berkelahi satu sama lain. Justru kalian harus menjalin kerja sama yang baik demi masa depan." Ujar Alexei.


Rigel hanya diam mendengarkan selagi memperhatikan Marcel agar dia tidak melakukan serangan diam-diam terhadap Asoka.


"Lagipula, sejak awal yang memulai adalah Raja Rudeus dan Raja Altucray. Raja Asoka hanya membalas sedikit provokasi dari Raja Rudeus, jika ada seseorang yang harus mendapat hukuman, sudah pasti itu orang yang memulainya, bukan yang membalasnya." Lanjut Alexei.


Tanpa di duga bahwa Alexei sama sekali tidak merasa takut saat menyinggung dua kerajaan besar dan juga seorang pahlawan. Rigel harus membuat penilaian ulang mengenai Alexei, awalnya Rigel berfikir bahwa Alexei tidak jauh berbeda dengan Altucray dan Rudeus.


"Tsk... Baiklah. Aku akan melepaskannya untuk kali ini." Ujar Marcel selagi berjalan kembali ke tempatnya sebelumnya.


"Apa kita tidak jadi berkelahi?? padahal aku Raja kera yang hebat dan super kuat ini belum mengeluarkan kekuatannya, Hahahahahah." Ujar Ozaru, tertawa terbahak-bahak.


Mari biarkan orang gila ini sibuk dengan dirinya sendiri. Bahkan tidak ada seorangpun yang berusaha membalas ucapannya. Yah, Kata-kata tentang dirinya kuat bukanlah sebuah bualan belaka, karena tanpa di duga, Ozaru menyimpan beberapa trik yang bahkan tidak di ketahui Rigel.


"Hm, hoi pak tua. Apakah acara ini sudah selesai? jika sudah, kami akan undur diri di sini. Aku tidak sudi berbagi udara dengan pak tua seperti mereka itu." Ujar Rigel.


"Hmm, yah. Yang tersisa hanyalah acara penutupan dan beberapa diskusi. Jika Tuan Creator beserta fraksi Asoka tidak ingin menghadirinya, maka tidak apa." Ujar pak tua pendeta.


Jika begitu, Rigel dan Asoka akan undur diri. Tidak ada gunanya lagi mereka berada di sini lebih lama, bahkan Asoka dan Merial setuju dengan ini. Rigel memimpin jalan untuk pergi ke luar, namun dia berhenti sejenak.


"Sebagai bonus kecil, aku akan memberitahu ini kepada kalian... Pemimpin iblis, Lucifer telah terbangun." Ujar Rigel.


Semua orang memiliki wajah terkejut, bahkan Alexei yang awalnya terlihat sangat tenang juga sama terkejutnya dengan semua orang. Hmm, sepertinya Hazama tidak memberitahukan itu padanya.


"Tuan Creator, mohon tunggu sebentar. Kau tidak sedang bercanda mengenai ini kan? bahwa Raja iblis telah terbangun dari tidurnya?!" Ujar Alexei.


"Hmm, sepertinya kau tidak terkejut dengan fakta bahwa Lucifer tertidur. Kau justru lebih terkejut jika dia terbangun." Ujar Rigel.


Tentu bagi Rigel itu sedikit aneh. Rigel dan pahlawan lainnya bahkan tidak mengetahui itu namun bagaimana Alexei mengetahuinya?


"Yah, dalam kitab Ruberios tertulis bahwa Raja iblis akan tertidur untuk memperkuat kekuatannya dan akan terbangun saat perang hampir tiba." Ujar Alexei.


Kitab Ruberios, satu hal yang Rigel tidak ketahui dan membuatnya ingin melihat itu secara langsung. Lalu, fakta mengejutkan bahwa Lucifer akan terbangun saat Ragnarok tidak lama lagi akan terjadi sangat mengejutkan. Lalu, apakah hal ini yang ingin di sampaikan Priscilla? namun apa hubungannya ini dengan jiwanya?


"Jadi maksudmu, Ragnarok sudah tepat berada di depan kita?" Tanya Rigel.


"Tidak, itu belum pasti sebuah kebenaran. Hanya batu ramalan yang dapat menunjukan kapan waktunya tiba. Kemungkinan hanya tersisa empat atau lima tahun sampai itu tiba Namun, yang pasti, saat Raja iblis terbangun, dunia akan mulai bergerak. Tidak ada waktu bagi kita untuk bersantai, sudah saatnya parah pahlawan harus merangkul satu sama lain demi menghadapi bencana-bencana yang akan datang." Ujar Alexei.


*Bak.........


Pintu besar terbuka lebar, sebuah Elang besar masuk ke dalam ruang pertemuan dan di bawahnya, para kesatria sedang mengejarnya. Semua orang berwaspada dengannya, para kesatria menarik pedangnya dan para pahlawan mempersiapkan senjatanya. Merial bahkan melompat masuk untuk melindungi Asoka. Di sisi lain, Rigel hanya diam menatap selagi Elang itu berputar di atas dan mendarat. Ada sesuatu di punggung Elang itu.


saat Elang itu mendarat, dia langsung di kepung oleh para kesatria. Namun Elang itu sama sekali tidak melakukan perlawanan.


"Beraninya kau menyusup ke dalam pertemuan Kaisar surgawi! Tunjukanlah dirimu!" Teriak salah satu prajurit.


*Piiekk.........


Elang itu menjerit seakan mengatakan bahwa dia tidak berniat buruk. Namun para prajurit tidak memperdulikan suara Elang malang itu sampai seorang gadis yang berada di punggungnya keluar.


"T-tunggu, aku k-kesini untuk menyampaikan pesan..." Ujar gadis itu dengan gemetar.


Gadis itu terlihat berantakan, sepertinya dia telah terbang dari tempat yang jauh dengan sangat lama.


"Berhenti! biarkan dia bicara dan lepaskan Elang itu!" Tanpa terduga, Asoka berteriak dan menghampiri Elang itu.


Dia mengelus paruh burung Elang itu dan Elang itu seakan menikmati tangan hangat milik Asoka.


"Aku tidak tahu apa yang membuatmu bersedih, namun semuanya Baik-baik saja." Asoka memeluk kepala burung itu dengan lembut dan burung itu seakan mengerti kasih sayang Asoka.


Rigel menghampiri gadis yang terlihat berantakan dan gemetar. Dia memegang rambutnya selagi gemetar, matanya membengkak karena habis menangis. Rigel menundukan tubuhnya dan menepuk lembut bahunya.


"Tenanglah, kau tidak akan mendapat masalah. Katakanlah apa yang kau lakukan di sini dalam satu tarikan nafas." Ujar Rigel.


"T-tuan P-pahlawan..." Ujar gadis itu selagi mulai menatap mata Rigel.


Lalu, secara tak terduga, gadis itu menundukan kepalanya di lantai, tepat di depan Rigel. Dia kembali gemetar, air mulai keluar dari matanya.


"T-tuan pahlawan, kumohon, kumohon, balaskan dendam kematian teman-temanku... Mereka adalah pahlawan, karena telah... menjadi orang yang mengabarkan...hal ini....dan mengutusku sebagai...pembawa pesan...." Ujarnya, terisak tangis.


Rigel tetap diam mendengarkan, saat gadis itu kembali mengangkat kepalanya dengan air mata di wajahnya, dia mengatakan hal yang membuatnya nekat menyusup ke sini.


"T-tortoise, Kura-kura malapetaka terlepas dari segel... Teman-temanku menjadi orang pertama yang di injaknya... Dia berada di Selatan Britannia, dan sedang menuju ke sana...Kumohon... Bunuh mahkluk keparat itu untuk teman-temanku!!" Ujar gadis itu, memohon dengan sangat.


"A-apa?! Tortoise, maksudmu Tortoise yang itu?! Bagaimana mungkin!" Ujar Altucray.


Bahkan Negara besar seperti Britannia, akan hancur dalam beberapa detik oleh mahkluk itu. Rigel tidak tahu wujud sebenarnya dari kura-kura ini, namun dia dapat membayangkan bahwa ukurannya cukup besar.


Rigel menyentuh pipi gadis itu dengan lembut dan Rigel mengeluarkan senyuman terbaik yang dia miliki.


"Tenang saja, pengorbanan rekan-rekanmu tidak akan sia-sia... Aku akan menjamin, namamu dan rekanmu akan tercatat dalam sejarah, sebagai orang-orang yang menyelamatkan umat manusia dari kekejaman Tortoise." Ujar Rigel.


Gadis itu kembali menangis dan menggumamkan "Terima kasih." secara berulang-ulang.


Rigel kembali berdiri dan menatap Asoka lalu Merial dan Ozaru.


"Merial, Ozaru, Lindungilah Asoka selagi aku pergi." Ujar Rigel.


"Apa kau ingin menghadapinya sendirian, Rigel?!" Tanya Asoka dengan khawatir.


"Aku tidak akan sebodoh itu, Asoka. Aku hanya akan memberi salam kepada mahkluk itu. Takumi, aku juga meminta tolong untuk melindungi Rajaku!" Ujar Rigel, dan dalam sekejap Rigel terbang menuju tempat Kura-kura berada.


"Oi Monyet putih! aku ikut denganmu!" Ozaru berlari keluar namun Rigel bahkan tidak berniat menunggunya.


"Kinton, datanglah!" Teriak Ozaru.


Sebuah awan bergegas turun dari langit dan menuju Ozaru. Tanpa basa-basi, Ozaru melompat dan naik di atasnya lalu pergi mengejar Rigel.


"Petra, kau ikutlah bersamanya untuk memastikan kebenaran." Ujar Marcel.


"Baiklah" Balas Petra, pahlawan kipas.


Dia menggunakan senjata kipasnya dan menghempaskan tubuhnya ke udara sehingga memungkinkan dia untuk terbang.


Rigel terbang dengan cepat, dia merasakan bahwa ada dua orang yang mengikutinya tidak jauh di belakang. Namun Rigel tidak sempat mengurusi itu, dia ingin mengkonfirmasi seperti apa Tortoise itu. Mungkin saja, bencana yang di maksud Priscilla adalah kura-kura ini.


"Tch... Sepertinya benar kata Alexei, bahwa dunia telah bergerak. Pertarungan kedepan tidak akan mudah..." Gumam Rigel.


Dalam pertarungan ini, ada kemungkinan bahwa salah satu pahlawan akan mati, atau mungkin seluruhnya akan mati. Nyawa setiap orang akan benar-benar menjadi sebuah taruhan. Pertarungan Para pahlawan dengan bencana alam Tortoise semakin mendekat!