
POV KAMADA TAKUMI.
Matahari sudah menampakkan wujudnya yang menandakan pagi hari. Burung burung mulai berkicau dan ternang untuk mencari mangsa.
Takumi dan Bell bergegas menuju desa Silvet di bagian Timur Britania.
"Kita berangkat sekarang?" Tanya Bell.
Takumi mengangguk sebagai jawaban. Dia mengambil jalan memutar yang di tunjukkan oleh Bell yang menurutnya jika lancar, perkiraan mereka akan tiba pada tengah hari.
Dalam perjalanan, Takumi tidak bertemu dengan monster monster lemah karena berkat Bell yang membawa potion yang dapat mengusir monster monster lemah. Meski seharusnya senang dengan itu, jelas sekali ada hal lain yang menyebabkan tidak ada monster sama sekali.
"Emm? Ada apa Takumi?" Tanya Bell.
"Ah, tidak,aku hanya sedikit berfikir. Meskipun hal yang baik untuk tidak bertemu monster, namun sangat mencurigakan jika kita tidak bertemu satupun dari mereka selain monster kecil seperti slime."
Takumi dan Bell mulai memasuki hutan-hutan dan seolah menjawab kecurigaannya sebuah anak panah melesat di depan keretanya dan membuat Naga yang menarik kereta ketakutan.
Saat mereka berhenti, sekumpulan orang-orang kasar yang mengenakan penutup wajah muncul di sekitar dan memblokir jalan sehingga Takumi tidak dapat melarikan diri. Mereka membawa senjata seperti pedang, busur dan kampak.
"Mereka adalah bandit gunung!"
Kata Bell.
"Bandit gunung ya? Ini pertama kalinya aku bertemu dengan bandit." Takumi tersenyum.
Mereka tidak tahu bahwa orang yang coba mereka rampok adalah seorang pahlawan. Karena Takumi menyembunyikan wajah dan identitasnya, mereka tidak mengetahui siapa yang ada di kereta. Tidak mungkin ada orang yang cukup bodoh untuk mencoba merampok seorang pahlawan.
Takumi menatap Bell sebentar dan seolah merasakan tatapannya, Bell menoleh dan mengangguk.
"Butakan daerah sekitar saat aku memberikan aba aba." Bisik Takumi.
Bell mengangguk pelan sebagai jawaban.
Takumi dan Bell turun dari pedati, lalu salah satu dari mereka yang mungkin bos mereka maju ke depan menghadap. Wajah mereka saat ini tertutupi dengan sebuah tudung yang memungkinkan untuk menyembunyikan identitas mereka.
"Oy, jika kalian tidak ingin terluka, maka jadilah bayi manis dan jangan melawan." Ucap bos dari bandit itu.
Bos bandit itu memiliki dua buah pedang di pinggangnya dan sebuah belati kecil di saku kakinya. Pria itu mengenakan sebuah topeng hitam yang menutupi wajahnya.
Takumi hampir tidak bisa menahan senyumnya mengenai adegan yang seperti di dalam game RPG ini.
Meskipun mereka hanya seorang bandit, mereka bukanlah seorang amatiran. Dua orang diantara mereka berdiri di belakang Takumi dan Bell sembari mengacungkan senjatanya. Beberapa dari mereka telah melafalkan sihir dan sisanya sedang memeriksa barang bawaan kami.
Meskipun mereka menganggapnya sebagai pedagang dan Bell sebagai petualang pemula, mereka tidak meremehkan lawannya sedikitpun. Boss dari para bandit menghampiri Takumi perlahan dan menepuk bahunya
"Oyy pedagang, lepaskanlah jubahmu itu dan biarkan aku mengambil barang berharga yang kau sembunyikan itu." ucapnya sambil menyeringai.
Saat tangannya hampir mencapai bahu Takumi, dia mengarahkan tombaknha menuju kepalanya, namun Bos bandit itu berhasil menghindarinya.
Bos bandit mundur beberapa langkah untuk menghindari tombak dan berusaha mengambil pedang yang berada di pinggangnya.
"Sekarang!" Teriak Takumi.
Bell mengangkat tangannya tinggi tinggi dan mengucapkan sebuah mantra "SHAMACK!"
Saat Bell meneriakan mantranya, asap hitam nan tebal muncul dan membutakan area sekitar dengan asap hitam.
Dia memutar tombaknya dan mengayunkannya ke leher bandit itu untuk membuatnya pingsan tanpa membunuhnya.
Woosh!
Takumi merasakan sebuah serangan sihir mendekat dan melompat kesamping untuk menghindari serangan itu. Seolah menantikan serangan itu datang, Bell melesat menuju arah serangan itu untuk menghadapi para penyihir yang menyerang.
Meskipun daerah sekitar menjadi gelap, Takumi masih dapat melihat bayangan orang orang dan merasakan beberapa hawa kehadiran orang disekitar. Lalu....
Ting!
Sebuah pisau menerobos asap dan hampir mengenai tubuh Takumi. Dia menangkisnya dengan tombaknya dan melihat seorang bandit datang sembari menghunuskan pedangnya.
Takumi mengalirkan sedikit mana ke tombaknha dan menerjang langsung ke arah bandit itu. Namun, dia berhasil menahannya dengan pedangnya.
Takumi menarik tombaknya dan mengayunkannya dengan sangat kuat. dia mengayunkan kepinggang Bos bandit sambil berharap dia menghindarinya dengan melompat mundur, namun sebaliknya—
Dia menerjang maju dan memukul perut Takumi dengan gagang pedangnya dengan keras. Pukulannya sangat cepat dan kuat.
Khak!
Takumi muntah dan mengeluarkan semua makanan yang dia makan hari ini.
Orang ini cukup kuat! gelar Bos bandit bukan bualan belaka...
Meskipun dia kuat dan cepat, bukan berarti dia berada di atas angin. Jika dari tingkatan mana dan kekuatan, sudah pasti Takumi berada di atasnya.
Namun, jika dari teknik serangan dan kecepatan serangan, dia jauh berada di atasnya.
Kabut hitam mulai menghilang dan Takumi dapat melihat dengan jelas wujud bos bandit gunung itu.
Dia mengelus pinggangnya seperti orang tua.
"Yare yare. Sepertinya orang tua ini sudah terlalu lama bersantai sampai sampai tidak menggerakan tubuhnya." Ucapnya sambil terkekeh.
Takumi mencoba berdiri, menjadikan tombaknha sebagai penyangga tubuh dan Lansung mengambil kuda kuda bertempur.
Dia memusatkan seluruh fokusnya kepada musuh di depan dan mengalirkan mana secara konstan ke tombak miliknya.
"Hoho? Fokus yang sangat bagus, anak muda. Cobalah untuk tidak di permalukan oleh pria tua ini, anak muda."
Dia mengacungkan tangannya seolah menyuruh untuk maju menghadapinya. Meskipun seluruh wajahnya ditutupi topeng, sehingga sulit untuk melihat ekspresinya.
"Jika itu permintaanmu, baiklah pak tua. Jangan membenci anak muda ini jika berhasil menghancurkan beberapa tulang punggungmu."
Takumi tersenyum mengejek untuk sedikit Memprovokasinya meskipun dia tahu itu tidak berguna. Lalu, pak tua itu tertawa dengan ringan mendengar ejekannya.
"Hahahaha, semangat yang bagus, anak muda. Jangan khawatir, pak tua ini sudah sering mengalaminya di masa muda dulu."
Bos bandit itu menyamping dan melebarkan kakinya. Dia memasang kuda kuda unik yang belum pernah di lihat Takumi sebelumnya.
Takumi bersiap untuk saling bertukar pukulan dengan bos bandit yang tampak terhibur bahagia atau meremehkannya.
'Pertarungan ini tidak akan mudah, sialan.'