
Leo berekspresi ngeri ketika memdengar kata "Pasar Gelap, Darkness." Rigel teringat bahwa Leo dulunya adalah seorang budak. Tentunya, dia pasti memiliki beberapa pengalaman mengerikan di sana.
"Ada apa Leo? Wajahmu berubah menjadi mengerikan dan membuat Riri dan yang lainnya ketakutan."
Mendengar perkataan Rigel, Leo mulai mengendalikan dirinya dan menenangkan perasaan yang keluar darinya. Rigel menyadari, bahwa pengalaman Leo di sana sangatlah bukan hal yang patut di ingat. Tapi mau tidak mau Leo harus menceritakan padanya tentang apa saja yang dia alami di tempat itu.
"Maaf, aku sedikit terbawa tadi."
Meninggalkan kata-kata itu, Rigel membawa Leo peegi ke suatu tempat dan memintanya membicarakan pengalamannya di Darkness. Memang terdengar mengerikan, ketika Rigel membawa keluar kenangan pahit yang ingin dilupakan Leo. Namun mau bagaimana lagi, dirinya tidak akan pernah menang melawan keingintahuannya. Mereka tiba di pinggiran hutan dan duduk di sebuah batang pohon yang jatuh.
"Jadi, bisakah kau menceritakan kisahmu? Jika di pikir-pikir, aku sama sekali tidak tahu apapun hal yang kau alami saat menjadi budak. Yah, mungkin sebagian besar karena aku tidak perduli pada saat itu."
Rigel benar-benar harus memperbaiki kebiasaan buruknya untuk mengabaikan hal kecil yang menurutnya tidak berguna.
Leo kembali pahit ketika mulai mengingat kenangan terpuruk yang ingin di lupakan namun itu telah tertanam di dalam otaknya. Seseorang tidak dapat melupakan kenangan yang paling berkesan bagi mereka, tidak hanya manusia, nampaknya itu juga berlaku pada Demi-human. Justru sebaliknya, seseorang dapat melupakan kenangan yang sangat tidak berkesan dengan mudah.
"Aku... Berasal dari tempat menjijikan itu. Tidak hanya Demi-human sepertiku, tetapi ada beberapa manusia, Elf dan ras lain yang di jadikan budak. Banyak orang yang membeli budak pria untuk di adu dalam permainan kematian dan ada juga orang-orang yang membeli budak wanita untuk kepuasan belaka."
Tentunya Rigel telah menduga hal seperti itu akan terjadi. Lagipula semenjak tahu bahwa adanya sistem budak di dunia ini, tidak mengejutkan bila moral dan kemanusiaan orang-orang sangatlah sedikit. Mereka adalah orang-orang yang menganggap bahwa budak jauh lebih rendah dari mereka, tanpa menyadari bahwa mereka semua sama.
Mereka hidup dengan bernafas, makan, minum dan memiliki hasrat akan sesuatu. Tidak ada yang lebih tinggi atau rendah dari keduanya, namun karena minimnya kesadaran semacam itulah yang membuat Rigel benar-benar muak dengan perbudakan.
"Untuk kami budak yang masih anak-anak selalu mendapat pekerjaan kasar, makanan tak layak, dan yang terburuk penyiksaan. Aku bahkan tidak bisa melupakan, bagaimana rasanya cambuk yang menyayat tubuhku... Di Darkness, kami di paksa untuk berlatih bertempur agar dapat bergabung dalam permainan kematian... Terkadang, ada beberapa bangsawan mengunjungi tempat itu untuk menyaksikan anak-anak seperti kami di siksa dan dipermainkan oleh pertarung di sana... Teman-temanku, pamanku, semuanya mati karena permainan itu!"
Leo mengatupkan giginya dengan erat, air mata mulai berjatuhan dan tubuhnya bergetar marah. Dia sama sekali tidak memiliki nasib baik, sebelum berjumpa dengan Rigel secara kebetulan. Jika saja Rigel memilih untuk tidak menyerang pedagang budak yang membawa Leo, mungkin sampai sekarang dia akan tetap menjadi budak, hanya untuk menjadi hiburan para bangsawan.
"Tenanglah... Sekarang kamu tidak akan mengalami hal seperti itu lagi, selama hidupmu yang tersisa. Di masa depan, aku akan menghapuskan perbudakan di dunia ini, aku akan menyamaratakan derajat semua orang di dunia ini. Baik itu manusia, atau Demi-human sepertimu. Region dan Britannia akan menjadi titik awal, dari perubahan dunia ini. Kamu dapat memegsng kata-kataku, Leo."
Rigel berdiri dan membelakangi Leo. Dia memang belum melakukan pergerakan intens tentang merubah dunia ini karena begitu banyak masalah di pundak. Namun, hal itu tidak mendorongnya untuk menghentikan keinginannya.
"Dengan keberadaanku di dunia ini, aku akan menjadi dewa yang merubah dunia busuk ini! Segala hal yang kalian ketahui akan musnah di telan kehampaan dan aku akan memberikan pengetahuan yang benar-benar baru... Tidak dapat di pungkiri bahwa di masa depan, saat ketiadaanku peperangan akan terjadi. Namun aku akan mencegah peperangan, dengan menjadikan Region negara adidaya dengan kekuatan tempur terkuat di dunia dan menyatukan seluruh kerajaan."
Memang terdengar seperti hayalan kosong belaka. Namun jika itu Rigel, bukannya mustahil menundukkan dunia ini dihadapan satu pemimpin.
Dia membenci dunia ini. Namun karena dia membencinya, dia berniat merubahnya menjadi dunia yang tidak lagi dia benci. Kehidupan sama rata, tiada kasta tinggi atau rendah, perdamaian yang benar-benar sejati, dimana setiap orang dapat merangkul bagai saudara tanpa perduli akan perbedaan.
"Benarkah? Apakah, ayah bisa menciptakan tempat indah yang hanya ada di mimpi seperti itu?"
"Tentu saja, hanya aku satu-satunya di dunia ini yang dapat mewujudkannya. Aku memang tidak bisa menciptakan kehidupan dengan kekuatanku, namun selain itu, tidak ada satupun hal yang tidak dapat kuciptakan. Aku adalah Creator! Aku soson yang menciptakan banyak hal. Aku akan menghancurkan dunia ini dan menciptakan yang baru. Itulah arti dsri keberadaanku yang sebenarnya... Jadi, berhentilah menangis, acungkan taringmu, ulurkan tanganmu untuk meraih masa depan yang di inginkan... Bersamaku, kita raih Oasis impian!"
Rigel mengulurkan tangan, terhadap Leo yang berderai air mata, mungkin karena terharu akan kata-kata Rigel sebelumnya. Dia akan melakukannya, dia yakin jika itu Rigel, pasti kata-katanya memiliki wujud. Tidak seperti ucapan orang biasa yang tidak memiliki tulang, kata-kata Rigel memiliki pondasi yang kuat, sehingga apa yang dikatakannya bukan isapan jempol belaka.
"Ya... Jika itu kau, ayah, aku akan mempercayainya. Aku akan berusaha yang terbaik, bahkan jika harus mati demi mimpi itu, akan kulakukan!"
Leo mulai bersemangat, membersihkan air di wajahnya dan bersama Rigel kembali ke Region. Butuh waktu untuk Leo dan Cebol menyiapkan barang-barang yang mereka perlukan. Berbeda dengan Rigel yang segalanya telah siap dengan adanya kemampuan Creator miliknya. Sehingga tidak perlu repot-repot menaruh hal-hal ke infentory.
Karena menunggu persiapan mereka akan buang-buang waktu, Rigel memutuskan untuk terbang sendirian ke sana dan menjemput mereka dengan teleportasi atau memberikan kordinat lokasi kepada Ciel.
Rigel tidak tahu lokasi tepat Pasar Gelap Darkness, sehingga perjalanan di butuhkan untuk Ciel menghitung lokasi pastinya. Selain itu, tempatnya berada di luar jangkauan yang bisa di jangakau Ciel.
"Yah, meski dia maha karya terbesarku, bukan berarti dia tanpa kekurangan. Mungkinkah aku harus membuat satelit atau semacamnya agar Ciel dapat menjangkau ujung dunia sekalipun?"
Memang bukan pilihan yang buruk untuk menciptakannya, namun tentunya akan sangat melelahkan dan butuh waktu lama membuatnya.
"Berbicara tentang itu, mungkin benda yang dapat menembakan laser mematikan dari luar angkasa terdengar bagus. Itu juga berguna untuk melenyapkan kerajaan Iblis jika aku mengetahui lokasinya. Bukan hal buruk, jika ada kesempatan akan kubuat."
Senyuman jahatnya mulai tumbuh selagi berbagai pemikiran gila merasuki kepalanya. Dengan adanya benda seperti itu, dia tidak perlu lagu merusak alam dengan Nuklir dan cukup dengan menembakan seramgam dari luar angkasa yang tidak mengandung Nuklir.
Tanpa sadar, Rigel telah melaju cukup jauh dan melewati negara seperti Kekaisaran Timur dan melaju menuju Pasar Gelap. Mungkin saat ini dia sudah menempuh setengah perjalanan.
"Hmm?" Rigel berhenti melaju, menatap daerah sekitar selayaknya mengamati.
Aku merasa seperti ada yang sedang mengawasiku asalnya dari... Hutan berkabut di sekitar. Namun aku tidak tahu dimana lokasi pastinya...
Rigel terus mengamati sekitar tanpa terlewat satupun hal dilewatkan. Di mulai dari Mana, aroma, suara bahkan pergerakan pepohonan tidak luput dari pengawasannya. Hutan di bawahnya memang berkabut, namun tidak memengaruhi sama sekali pengelihatan atau pendengarannya. Hanya saja, Mana, suara dan aroma bercampur sehingga sulit membedakan keganjilan yang ada.
"Mungkinkah hanya perasaanku saja?"
Rigel mengamati sekali lagi namun tidak menemukan apapun dan menganggap bahwa itu hanya perasaannya saja. Rigel kembali melanjutkan perjalanannya menuju Pasar Gelap.
Tengah hari, Rigel telah mencapai Darkness dan memutuskan kembali untuk menjemput yang lain. Setibanya di sana, dia menemukan Leo, Cebol, Ray, Merial, Asoka, dan Ozaru yang nampak semakin dekat dengan Misa. Rigel tidak tahu, apa yang Ozaru lakukan selama ini, mungkin saja dia tengah menghibur Misa yang masih berduka. Buktinya, ekspresi Misa jauh lebih baik saat ini.
"Sepertinya kau tidak akan kembali dalam waktu lama, ya. Selama kau pergi, aku akan menjaga negaramu, jadi tenang saja. Lalu, aku akan membantumu mencari peri yang hilang."
"Ya, aku serahkan padamu, Ozaru."
"Rigel, sebelum kau pergi, aku ingin membicarakan satu hal tentang Ruberios. Saat ini, Pahlawan yang tersisa di sana hanyalah Pahlawan Hazama namun kini dia belum sadarkan diri, sehingga tidak ada yang tersisa untuk melindungi negara itu."
Asoka nampaknya khawatir dengan Ruberios yang bukan negaranya. Jika di pikirkan memang benar bahwa Pahlawan yang mati berasal dari Ruberios. Dimulai dari Nanami Lalu Argo. Untuk Ozaru, Rigel menculiknya sehingga hanya menyisakan Hazama. Belum lagi saat invasi iblis, Ruberios mungkin yang menerima kerusakan paling besar selain Region.
"Benar juga... Ray, maukah kau pergi ke sana untuk melindung Ruberios? Aku juga akan meminta Marcel atau yang lain dari Kekaisaran Timur mengirimkan satu untum Ruberios."
Sejauh ini, Kekaisaran Timur satu-satunya yang memiliki Pahlawan lengkap. Jadi, keputusan terbaik adalah mengirimkan salah satunya untuk beberapa waktu.
Rigel sendiri tidak berniat mengirim Merial atau Ozaru untuk ikut bersama Ray, karena pertahanan Region juga perlu di perhatikan.
"Asoka, kirimkanlah juga 50 tentara dengan senjata api dan persediaan yang cukup untuk pergi bersama Ray ke Ruberios. Lalu, kirimkanlah kabar kepada Pahlawan di Kekaisaran Timur untuk mengirim satu dari mereka ke Ruberios."
"Aku mengerti, akan segera kulakukan."
"Seperti yang di harapkan dari tuan Pahlawan Rigel! Anda benar-benar dapat berpikir kristis dengan cepat dan menemukan solusi terbaik!" Cebol memberikan pujian berlebihan kepada Rigel.
"Aku mungkin akan menetap di sama dan tidak dapat keluar masuk dengan Teleportasi untuk beberapa alasan. Namun tetaplah kirimkan informasi setiap harinya melalui Ciel dan juga Ozaru, Merial, Asoka. Aku serahkan penjagaan kepada kalian."
"Kau tidak perlu khawatir tentang negara ini. Aku dan yang lain akan melindunginya. Selain itu, ada kadal raksasa di gunung ini yang akan membantu menjaga Region."
Mungkin kadal yang di maksud Ozaru adalah Red, yang kini mendiami gunung di belakang kerajaan selagi menjaga pintu menunu Batu Ramalan yang di pindahkan Rigel. Red tidaklah lemah, dia Naga murni yang sudah hidup sangat lama. Jadi, kemampuannya bisa di percaya. Yang menjadi masalah adalah, mau atau tidaknya dia membantu melindungi Region.
"Yah kalau begitu, kami pergi dulu."
Leo dan Cebol berjalan ke sisi Rigel dan menghilang, pergi bersama Rigel ke hutan dekat Darkness berada. Pemandangan di sekitar berubah, menjadi pepohonan lebat dan di depan mereka terdapat benteng batu yang cukup besar dengan kastil besar di tengah benteng.
(Sumber : Maou Gakuin.)
"Tempat ini tidak berubah sama sekali, masih busuk seperti dulu," Ujar Leo, menatap gerbang dengan dengki dan kemarahan tertentu.
"Aku akui itu, namun bagi pedagang budak sepertiku. Tempat inu ladang harta." Ujar Cebol selagi tersenyum dan mengusap kedua tangannya.
Berbeda dengan yang lain, Rigel justru tertarik dengan konstruksi bentengnya yang terlihat sangat kokoh. Benteng itu tidak berdiri dengan hanya batu, tetapi dengan logam sihir yang cukup kuat. Dari perkiraan Rigel, benteng itu menjadi yang terkuat kedua setelah Region.
"Sepertinya tempat ini cukul menarik minatku. Aku jadi tertarik untuk melihat seperti apa di dalamnya. Namun sebelum itu..."
Rigel mengambil rambut palsu berwarna hitam dari infentory, jubah hitam dan menciptakan sebuah topeng hitam yang terlihat seperti tengkorak wajah manusia.
Penyamarannya sangatlah di butuhkan agar identitasnya tidak di ketahui. Di mulai dari rambut, mata dan tangan kirinya harus di sembunyikan karena hanya dia yang memiliki sesuatu semacam itu di dunia ini.
Leo dan Cebol tidak memerlukan penyamaran karena mereka hanya akan terlihat seperti orang biasa dan tidak memiliki reputasi seperti gelar konyol, Pahlawan.
"Bagaimana menurut kalian tentang penyamaranku?"
"Itu hebat, Ayah! Aku bahkan hampir tidak mengenalimu!"
"Yaa! Saya bahkan baru tahu bahwa ada benda yang dapat menyamarkan dan mengubah rambut seperti itu! Benda itu akan menjadi keajaiban bagi orang botak!"
"Benda ini bernama rambut palsu, yah kita lewatkan hal itu. Sebelum memasuki tempat itu, ada baiknya kalian tidak memanggilku dengan namaku."
"Maksud ayah, seperti nama samaran?"
"Ya... Mari ambil dari nama margaku... Amatsumi... Benar, panggil saja aku Matsu selama di kota Darkness. Lalu, hilangkanlah formalitasmu saat bicara denganku, Cebol— tidak, sebaiknya aku memanggilmu dengan nama aslimu."
"Itu nama samaran yang bagus... Kalau begitu, panggil saja aku Moris."
"Baiklah... Kalau begitu, mari kita masuk ke Darkness!"