
"Tunggu apa maksudmu dengan mahkluk ini, Rigel~,"
Mirai tersenyum dan mengeluarkan suara lembut, namun aku tahu dia sedang marah sebenarnya.
"Mirai! Bukankah aku sudah memperingatkanmu untuk tidak mengganggu anak baru dan apakah kau kesini untuk minum Alkohol?!"
Anastasia memahami Mirai.
Anastasia adalah wakil komandan dari serikat Region, soal kemampuan dan daya tempur yang dia miliki tidak perlu di ragukan lagi karena dia wakil ketua, orang terkuat setelah ketua itu sendiri.
Meskipun aku belum pernah mekihat wakil ketua bertarung, aku dapat merasakan energi sihir dalam jumlah yang besar di dalam tubuhnya yang kecil dan feminim, tidak seperti gadis otot di sebelahku.
Anastasia sama seperti Mirai, dia adalah petinggi yang dikirim pasukan utama untuk membantu kami dalam menaklukan lantai 16 hingga lantai 23.
Meskipun kami dapat melewati lantai ini dengan menukarkan batu jiwa, kamu tidak melakukannya karena pada akhirnya batu jiwa itu akan masuk kedalam saku Azazel dan hanya akan membuatnya semakin kuat.
Lagipula, moto utama dalam squad Region adalah tidak menggunakan batu jiwa yang berasal dari manusia.
"Maafkan aku, Rigel karena tidak mengawasi Mirai dengan baik sehingga dia datang dan mengganggumu."
Anastasia menundukan kepalanya ke arahku. Aku dengan ringan melambaikan tanganku ke arahnya.
"Ah, tidak apa apa wakil ketua, meskipun benci bagiku untuk mengakuinya dia juga termasuk rekan kami dalam penaklukan."
Kata Rigel dengan santai.
"Yah kalau begitu, Mirai~ kurasa kau tahu kemana kau harus pergi sekarang, ayo jangan buang buang waktu."
Kata Anastasia.
"Hee!"
Mirai tampaknya sedikit ketakutan melihat Anastasia mengatakan itu. Aku tahu Anastasia sedang marah karena beberapa urat muncul di dahinya.
Namun, bagiku meski dia terlihat marah, kesan yang diberikannya adalah lucu. Aku tidak tahu bagian mana dari dirinya yang membuat Mirai takut.
Bahkan aku juga meragukan apakah wanita secantik dan selembut Anastasia benar benar orang yang kuat.
Aku terus melihat mereka pergi lalu menyesap kopiku yang kini menjadi dingin.
***
Matahari sudah berada pada posisi puncaknya, saat ini adalah tengah hari, waktu dimana kami akan memasuki dan menaklukan boss yang menjaga pintu di lantai 16.
Kami sudah berkumpul di depan pintu yang menghubungkan lantai 15 dan 16. Saat ini, wakil ketua Anastasia, Mirai dan beberapa petinggi lainnya berada tepat di depan pintu.
Saat ini wakil ketua sedang berbicara kepada kami semua.
"Saat ini kita akan mrnaklukan penjaga lantai 16! Bentuklah tim kecil yang dapat membantumu menutupi kekuranganmu, salinglah membantu satu sama lain, kematian tidak di izinkan! Itu saja, sekarang menyebar dan Bentuklah kelompok.
Para Vanguard bersiaplah di posisi terdepan sementara para support rapalkanlah sihir peningkatan!"
Anastasia menepuk tangannya ke langit yang menandakan untuk pasukan membentuk kelompok dan membuat formasi yang sudah di tentukan.
Disana, barikade tembok daging yang berisi oleh para Vanguard telah terbentuk dengan perisai besar dan pedang di lengan mereka, sementara para petarung lainnya sedang mempersiapkan senjata mereka.
Para penyihir pendukung sudah melontarkan sihir pendukung kepada para vanguard yang akan menjadi benteng pertahanan kami.
Anastasia mengangguk karena kecakapan kami namun dia menemukan sesuatu yang mencuri perhatiannya, itu adalah aku.
"Rigel? Kenapa kau belum berada dalam kelompok? Kau tidak bisa bertarung seorang diri cepatlah bergabung dengan salah satu kelompok."
Kata Anastasia dengan khawatir dan melirik ke beberapa kelompok lain.
"Tenang saja wakil ketua, aku lebih cocok bertarung sendirian dari pada berkelompok."
Kata Rigel.
"Tapi, kau tidak memegang senjata apapun di lenganmu dan kau hanya menggunakan jubah itu tanpa armor yang melindungi tubuhmu."
"Aku memilikinya, mereka ada di dalam penyimpananku. Aku akan menggunakannya pada waktunya nanti."
" Meskipun begitu! Bertarung sendirian itu berbahaya!"
Anastasia berteriak marah.
Entah kenapa dia terlihat sangat khawatir terhadapku, padahal baru beberapa minggu kami bertemu. Aku akui bahwa dia lebih dekat denganku daripada kadet lainnya, namun hal itu tidaj dapat menjadikannya sebuah alasan.
"Tenang saja, wakil ketua. Meskipun benci mengakuinya, dia adalah orang yang berkontribusi besar di lantai 10 saat menghadapi Salamander raksasa."
Suara seorang pria terdengar dari salah satu kelompok. Aku menoleh ke arah pria itu.
Dia adalah pria kasar berbadan besar dari salah satu petarung. Aku ingat apa yang dia maksud dengan berkontribusi besar di lantai 10.
Seakan mengetahui bahwa dia akan tetap terbunuh pada akhirnya, Salamander itu membengkak dan berusaha meledakan diri. Saat dia hampir meledak, aku melangkah di depan semua orang dan menciptakan
Dinding besi untuk menutupi seluruh tubuh Salamander itu dan membentuk dinding besi raksasa untuk melindungi kami semua dari ledakan.
Pria itu adalah orang yang berada di sampingku saat aku meraup tanah dengan tangan kananku dan mengangkatnya ke atas untuk menciptakan dinding besi.
"Aku tidak tahu sehebat apa kekuatannya yang sebenarnya, namun aku dapat dengan percaya diri bahwa dia memiliki lebih banyak dari apa yang diamiliki. Lagipula dia adalah penakluk solo yang menaklukan lantai 1-7.
Jadi, tidak ada kekhawatiran bahwa dia akan terbunuh karena dia lebih bisa menjaga dirinya sendiri."
Pria itu menatapku dengan kesal sambil menjelaskan opini yang bagus untuk membuat wakil ketua mundur. Aku tersenyum kepada pria itu sebagai ucapan terima kasih dan dia mengangguk sebagai balasan.
"B-baiklah kalau begitu. Tapi, jangan memaksakan diri jika itu mengancam nyawamu!"
Aku mengangguk dengan tegas setelah wakil ketua Anastasia memberiku peringatan. Aku ingin melihat sebagus apa kemampuan wakil ketua Anastasia.
Aku tahu dia adalah seorang Arc wizard dan aku ingin melihat elemen apa yang akan dia gunakan dalam pertarungan ini dan untuk mirai,
Aku tidak meragukan kemampuan bertarungnya karena aku pernah melihatnya menghajar salah satu dari anggota penakluk.
Mirai mengalahkan penakluk itu dengan kedua jarinya yang menusuk hidung dari penakluk itu dan menghempaskannya ke langit. Karena alasan itulah aku memanggilnya wanita otot.
Untuk para petinggi lainnya, aku tidak terlalu perduli. Mereka lumayan tangguh, aku sudah melihatnya beberapa kali saat sedang menaklukan lantai lantai sebelumnya.
Anastasia mengangguk setelah melihat ke arah kami. Kami semua bersiaga untuk meningkatkan kewaspadaan.
"Baiklah, akan membuka pintunya."
Kata Mirai.
Dia mengulurkan tangannya ke arah pintu dan mendorongnyw secara perlahan. Pintu perlahan terbuka, didalamnya hanya berisi Kegelapan.
Kami akan dapat melihat isi dari lantai itu saat telah memasuki pintu itu. Mirai menoleh ke arah kami dan mengangguk.
Dia membuka infertory index lalu tidak lama sebuah pedang besar muncul di punggungnya dan senjata yang terlihat seperti gauntle muncul di tangannya. Dia benar benar gadis otot.
Aku memfokuskan diriku untuk Menyerap mana di atmosfer dan mengakirkannya keseluruh tubuhku sebagai perlindungan. Ini lebih baik daripada menggunakan armor berat yang hanya menghambatku.
Mirai dan Anastasia memiliki keterkejutannya sendiri saat menperhatikan aku dapat membuat pelindung menggunakan mana. Mereka akhirnya tahu aoa yang dimaksud pria tadi bahwa tidak perlu mengkhawatirkanku bertarung solo.
Selain aku, rupanya hanya Mirai, Anastasia dan para petinggi lain yang dapat menggunakan mana sebagai pelindung tubuh.
"Baiklah, kita masuk sekarang!"
Mirai meraung.
Kami semua melangkah maju mengikuti mirai yang berjalan memimpin sementara para petinggi lainnya bergabung dengan tim keahlian mereka.
Lantai yabg tadinya terlihat gelap gulita kini mulai terlihat sinar dan memperlihatkan isi dari lantai tersebut. Pintu lantai tertutup yang membuat kami tidak dapat keluar tanpa menggunakan kristal teleportasi.
Bagiku sendiri mudah untuk kabur bahkan tanpa kristal karena aku memiliki kemampuan teleportasi bawaan pahlawan.
Saat kami semua memasuki lantai, kami menemukan apa yang ada di dalam lantai itu.
Di dalamnya terdapat aula kerajaan yang tampak sangat luas, disana juga ada sebuah singgahsana yang diduduki oleh tengkorak yang ukurannya terlalu besar untuk dianggap sebagai tengkorak manusia.
Tengkorak itu mengenakan pakaian yang biasanya digunakan seorang Magic caster. Di belakang tahtanya, terdapat dua tengkorak naga yang saling membelakangi.
Kami mencari cari monster yang akan melindungi pintu menuju lantai 16 namun tidak menemukan apapun didalamnya.
"Apa? Tidak ada monster sama sekali dilantai ini."
Ucap salah satu pasukan penakluk.
Bahkan Mirai, Anastasia serta para petinggi lainnya bingung dengan apa yang sedang terjadi disini.
Bahkan, meskipun mereka tidak mengetahuinya, aku tahu siapa musuh yang akan kami hadapi. Meskipun mahkluk itu mampu menyembunyikan energi sihirnya namun tidak dengan aura membunuhnya.
Seakan menjawab apa yang ada dalam pikiranku, energi sihir mulai terkumpul di sekitar tengkorak magic caster itu dan membuat semua orang waspada termasuk aku.
Langit langit bergetar seakan ingin runtuh yang membuat semua orang khawatir. Lalu, tengkorak itu memancarkan cahaya berwarna merah di kedua mata serta dadanya.
Tengkorak itu mulai melafalkan sebuah mantra.
"Ahaha, ini, hanya mimpi bukan?! "
Kata salah satu prajurit.
Sesuatu mulai keluar dari tanah saat tengkorak itu mengulurkan tangannya dan tengkorak lainnya yang lebih kecil merangkak keluar dari tanah.
Lawan yang kami hadapi kali ini adalah Raja para undead, Arch Licht.