The Legends Of Creator Hero

The Legends Of Creator Hero
Penaklukan lantai 15 part 5



"Ini bercanda bukan?"


Kata Mirai.


Padangannya terpaku pada Arch Licht yang mulai bangkit kembali. Sebelumnya, tubuhnya sudah hancur sangat parah dan hanya menyisakan kepala dan beberapa bagian lainnya berkat sihir cahaya Anastasia.


Semua orang mengerahkan seluruh kekuatan mereka demi serangan terakhir yang akan dilakukan oleh Wakil ketua Region, Anastasia.


Berkat strategi Rigel, kami berhasil memojokan Arch Licht sehingga dia tidak dapat menghindari serangan Cahaya milik Anastasia.


Aku akui serangannya sangatlah kuat, bahkan aku tidak yakin apakah aku dapat bertahan jika terkena serangan itu. Semua orang berfikir jika mereka telah berhasil, namun—


Arch Licht itu perlahan bangun dan meregenerasi tubuhnya dengan lambat. Saat ini, jubah dan tudung yang menutupi tubuhnya telah terlepas dari tubuh tengkoraknya dan menampilkan seluruh tulang tubuhnya.


Bagaimana bisa dia tetap bertahan dari elemen yang seharusnya menjadi musuh alaminya?!


Aku mengutuk dalam dalam mengenai plot tak terduga ini.


"Wakil ketua!"


Teriak seorang penyihir wanita.


Aku mengalihkan pandanganku ke tempat suara itu berada dan menemukan Anastasia terbaring di pelukan penyihir wanita itu.


Aku dapat merasakan mana perlahan memasuki tubuhnya, nampaknya dia hanya pingsan karena kehabisan mana.


Aku masih memiliki sebuah strategi, mungkin lebih seperti sebuah pertaruhan. Namun, pertaruhan ini sangat berbahaya dan kemungkinan berhasilnya sangatlah kecil.


Kami memasuki boss lantai pada tengah hari, ini sudah beberapa jam setelah kami memasukinya. Kemungkinan diluar saat ini sudah gelap namun, itu hanya kemungkinan!


"Apakah ada yang tahu jam berapa sekarang?!"


Aku berteriak.


Para penakluk lainnya menoleh ke arahku dan menggelengkan kepala mereka sebagai jawaban dari pertanyaanku.


"S-sudah b-eberapa jam setelah kita memasuki tempat ini. Seharusnya diluar saat ini matahari sudah terbenam."


Ucao seorang penyihir wanita.


"Sial!"


Aku mengutuk.


"Mirai! Kita harus melakukan sesuatu jika tidak semua orang akan mati!"


Aku berteriak ke arah mirai.


Dia hanya diam menatap kosong ke arah Arch Licht yang perlahan berdiri itu. Lalu, dia menoleh ke arahku dan mengatakan sesuatu matanya masih terlihat kosong.


"Percuma, aku sudah tidak memiliki kekuatan yang tersisa lagi."


Kata Mirai.


Air mulai menetes dari matanya entah karena takut akan kematian atau karena tidak dapat membantu apapun lagi.


Ini situasi terburuk, Mirai dan Anastasia sudah tidak dapat diharapkan lagi. Aku bisa saja meninggalkan mereka dengan berteleportasi namun,


Jika aku meninggalkan mereka, aku tidak akan dapat mengetahui informasi apapun tentang pangeran neraka yang berada di lantai 25.


Ini juga merupakan alasanku memilih bergabung dengan Region. Aku mungkin bisa menghadapi Azazel seorang diri namun presentasi keselamatanku akan menurun jika aku tidak mengetahui apapun tentangnya.


Musuh yang tidak diketahui lebih mengerikan dari pada musuh yang sangat kuat.


"Sial, jika saja matahari belum terbenam..."


Aku mungkin dapat mengalahkannya!


Suaraku tidak sampai keluar karena itu hanya akan memberikan harapan palsu bagi pasukan penakluk.


Rencanaku adalah membawa Arch Licht ini ke tempat yang masih disinari matahari. Karena, matahari juga merupakan elemen cahaya jadi matahari adalah musuh alami para monster tipe Undead.


Itulah alasan mereka sering berkeliaran di tempat yang tidaj terjangkau matahari atau saat malam hari.


Haruskah aku mengaktifkan Curse series? Karena kekuatan itu berasal dari kutukan, aku yakin pasti ada bayaran yang diperlukan saat mengaktifkannya.


Aku terus berdebat dengan pikiranku untuk menggunakan seri kutukan atau tidak. Lalu, orang yang mendengarkan keluhanku mengatakan sesuatu.


"Oy, aku mendengarmu menggumamkan seandainya matahari belum terbenam, bukan?"


Suara itu berasal dari pria kasar yang membelaku untuk bertarung solo sebelum memasuki tempat ini.


Aku tidak mengetahui siapa namanya, untuk saat ini aku akan memanggilnya Mr. Braund.


"Ya, memangnya kenapa?"


Rigel bertanya.


"Jika matahari belum terbenam, apakah aku dapat berasumsi kau dapat mengalahkan ******** tulang itu?"


Tanya tuan Braund.


Aku tidak mengatakan apapun mengenai pertanyaan dan hanya mengangguk untuk memberikan kepastian.


Tuan Braund terus melihatku dan mengangguk dengan jawabanku, dia mefokuskan dirinya kembali ke arah Arch Licht yang sudah berdiri tegak.


Aku terkejut dengan pernyataan yang dia buat. Pernyataannya bukan hanya omong kosong belaka, namun itu berisi kata kata yang kuat dari orang yang bertekad untuk melihat hari esok.


Aku tidak langsung menerima bantuannya, melainkan mengajukan pertanyaan.


"Mengapa kau mau repot repot membantuku?"


Tanya Rigel.


"Karena, hanya kau orang yang berjuang paling keras disini dan memiliki hati sekeras baja. Aku tau kau lebih kuat daripada siapapun yang ada disini namun kau mencoba menyembunyikan kekuatanmu."


"Karena itulah aku membenci dirimu yang mencoba membaur dalam kegelapan. Namun, kau tidaj mencoba meninggalkan dan membiarkan kami mati,


Alasan itu sudah cukup bagiku memberikan bantuan untuk melihat hari esok dan juga, melihat sosokmu yang berjuang lebih keras dari pada siapapun mengingatkanku kepada putraku."


Aku hanya menatapnya dalam diam. Kupikir dia termasuk orang orang yang membenciku karena telah membantai banyak jiwa dan mengambil inti jiwanya.


Namun, aku tidak menyangka bahwa dia membenciku karena aku menyembunyikan kekuatanku yang sebenarnya.


Aku kagum kepadanya karena mengetahui aku menyembunyikan kekuatanku yang bahkan Mirai dan Anastasia tidak ketahui.


"Kalau begitu aku menerima bantuanmu. Kita kembali ke topik utama, apakah kau memiliki proposal yang bagus karena mendengar gumamanku?"


Rigel bertanya.


Dia mengangguk dan mulai menjelaskan.


"Jika memang benar diluar saat ini sudah malam hari maka aku mengetahui sebuah tempat yang saat ini baru mulai terbit matahari meskipun aku tidak mengetahui apakah mataharinya sudah terbit atau belum."


"Tempat yang baru pagi hari?! Aku tidak mengetahui bahwa setiap lantai memiliki perbedaan antara siang dan malam hari."


Rigel berseru.


Sejauh yang aku ketahui, seluruh lantai yang telah dia lalui memiliki siang dan malam di waktu yang sama dan fakta bahwa ada lantai yang memiliki rentan waktu yang berbeda jelas membuatku terkejut.


Jika tempat itu ada, aku dapat berasumsi bahwa tempat itu mungkin berada dilantai atas.


"Tidak semua lantai seperti ini. Aku tidak tahu mengenai waktu di lantai 16 ke atas jadi aku tidak dapat mengatakan bahwa lantai ini satu satunya yang memiliki garis waktu berbeda."


Katanya.


"jika bukan berada dilantai atas, dilantai berapa? Cepatlah karena mahkluk itu tidak akan berdiam diri menunggu untuk dibunuh."


Ucap Rigel sambil menunjuk ke arah Arch Licht.


Arch Licht itu mulai meraum dengan keras dan mulai melafalkan sihir. Mantranya lebih lambat dari pada sebelumnya mungkin karena dia telah kehabisan mana dan staminanya.


"Lantai tujuh, aku tidak dapat memastikan apakag matahati sudah terbit atau belum, keadaan terburuknya kita harus menunggu sekitar satu atau dua jam sebelum matahari terbit."


"Lantai tujuh ya? Kalau begitu baik saja."


Ucap Rigel.


"Lalu, bagaimana caramu akan mengalahkannya setelah mengetahui hal itu?"


Tanya tuan Braund.


"Aku akan membawa Arch Licht itu keluar dari sini dan membawanya ke lantai tujuh."


Ucap Rigel.


Tuan Braund terkejut mendengar pernyataan konyolku tentang membawa bos lantai turun ke lantai tujuh.


"Apa kau sudah gila, nak? Bagaimana caramu membawa boss lantai menuruni lantai?"


Tanya tuan Braund.


"Sejak awal kita semua sudah gila karena mencoba mengalahkannya. Namun, aku memiliki sebuah cara pasti yang dapst dengan mudah memindahkannya."


Tuan Braund hanya diam tanpa menanyakan apapun namun keheningan itu hanya berjalan sebentar.


"Aku akan ikut denganmu untuk mengalahkan mahkluk ini, nak."


Kata Tuan Braund dengan sungguh sungguh.


Meskipun itu tidak membantu namun aku menghargainya dan menolaknya.


"Sayangnya itu tidak akan bisa tuan Braund. Aku ingin kau tinggal disini dan menjelaskan situasinya kepada orang orang lalu, jangan biarkan semua orang membuka pintu ke lantai 16 sebelum aku kembali.


Karena akan merepotkan saat aku datang kesini dan boss lain sudah muncul."


Kata Rigel dengan sedikit bercanda.


"Yah, kau mungkin benar. Karena kau kuat aku akan mempercayaimu dan menunggumu datang. Lalu, satu hal lagi, namaku bukan Braund, tau?"


Aku mengabaikan kata katanya, aku menarik nafas dalam dalam dan menahannya lalu menerjang ke arah Arch Licht dengan cepat.


Akh melompat tepat ke arah wajahnya dan saat aku tepat berada di garis pandangnya, aku meneriakan skillku.


"Skills : Teleport!"


Sinar putih kebiruan menyinari tubuh tengkorak Arch Licht dan aku lalu, kami perlahan menghilang dari lantai yang menghubungkan lantai 15 dan 16.