The Legends Of Creator Hero

The Legends Of Creator Hero
Masa lalu, Masa depan, Masa tak tergapai



Hutan Roh, sebuah tempat yang di tinggali oleh Peri dan beberapa hewan ramah serta monster yang tidak menyerang manusia. Tempat ini tidak mudah untuk di kunjungi manusia, karena harus mendapat izin dari penguasa hutan untuk memasukinya.


"Meski di luar hujan, namun di sini cuacanya tetap cerah, ya... sungguh misterius."


Rigel telah memasuki hutan Roh dengan teleportasi miliknya. Dia di sambut dengan peri-peri kecil yang berada di hutan ini. Meski keberadaan mereka membuat Rigel sedikit risih.


"Antarkan aku ke tempat Sylph berada." Rigel meminta bantuan kepada Peri kecil dengan wujud gadis cantik dan mungil.


Dengan ramah, Peri itu menuntun Rigel ke tempat Sylph berada. Peri kecil itu tampak mengatakan sesuatu, namun Rigel tidak dapat memahami apa yang sedang dia oceh kan.


"Mau di lihat berapa kalipun, tempat ini benar-benar berbeda dari hutan kebanyakan... Aku bahkan dapat merasakan Mana alam yang berlimpah di tempat ini." Rigel bergumam sendiri.


Peri kecil yang menunjukan arah tampak mengatakan sesuatu tentang hutan ini. Dia membusungkan dadanya dengan bangga akan sesuatu. Rigel hanya tersenyum pada tingkah laku si kecil itu sepanjang perjalanannya.


Setelah beberapa waktu berjalan, Rigel tiba di sebuah pohon yang lebih besar dari yang lainnya. Mungkin saja pohon ini yang terbesar di hutan Roh.


"Apakah ini pohon Zaitun? atau beringin?" Rigel bergumam. Dia tidak terlalu ingat seperti apa rupa pohon Zaitun, namun dia sangat tahu pohon beringin.


Pohon itu nampak berusia seratus tahun lebih, dapat di lihat dari cabang raksasa dan lumut hijau yang menempel di pohonnya. Mungkin saja jika tempat ini adalah pusat dari hutan Roh, karena banyaknya Mana alam yang berasal darinya.


Selagi rigel memandang pohon itu dengan kagum, Sylph turun dari puncak pohon itu. Wajahnya tampak kesepian dan sedikit kusut. Mungkin karena dia masih terharu karena dapat bertemu putrinya lagi, namun tidak akan mendengar suara putrinya lagi.


"Selamat datang, Pahlawan Rigel... Apa yang membuatmu datang ke sini?" Sylph menyambut Rigel dengan ramah.


"Aku ke sini untuk melihat gadis itu... Bolehkah?"


"Tentu saja, aku izinkan... Semua ini berkatmu yang telah mengalahkan Tortoise sehingga putriku dapat bebas, meski hanya tubuhnya saja..." Sylph menjawab dengan sedih.


"Ya, kita tidak dapat berbuat apa-apa mengenai itu... Lalu, di mana dia berada?" Rigel bertanya selagi memperhatikan daerah sekitar, mencari tempat yang mungkin.


"Dia ada di puncak pohon Roh." Sylph menoleh ke pohon besar, tempatnya berasal.


"Pohon Roh?" Rigel bergumam.


Jadi itu nama dari pohon besar yang ada di sana. Yah, Rigel tidak akan terkejut jika pohon itu yang menjadi sumber penghalang besar untuk memasuki hutan Roh selain mereka yang mendapat izin Sylph.


"Jadi, kita harus terbang ke sana, ya..." Rigel bergumam dan menatap puncak pohon yang mencakar langit. Mungkin saja, tinggi pohon ini lebih tinggi dari gunung di punggung Tortoise.


Sylph menggelengkan kepalanya dan tersenyum, "Tidak. Jika kau mencoba mendaki nya dengan terbang, maka pohon Roh akan menganggapmu penyusup dan menyerangmu dalam perjalanan."


"Kau tidak perlu khawatir dengan itu, tubuhku sudah pulih sepenuhnya dan beberapa serangan tidak akan dapat melukaiku."


Sylph meringis geli dan itu membuat Rigel bingung. Apakah Sylph menganggapnya sedang bercanda atau semacamnya?


"Maaf atas itu... Aku tahu jika kau itu kuat, Pahlawan Rigel. Namun pohon Roh mungkin tidak kalah kuatnya denganmu dan akan merepotkan jika kau bertarung dengannya... Pohon Roh akan terbangun dari tidurnya dan seluruh hutan akan melawanmu. Lagipula, aku tidak ingin kau menghancurkan hutan ku karena pertarungan dengan Pohon Roh." Sylph memberi teguran lembut.


Artinya, jika Pohon Roh menganggap Rigel musuh, dia akan bangun dan bergerak selayaknya monster Pohon. Jika benar, maka akan sangat merepotkan untuk menghadapinya bersama seisi hutan Roh.


"Lalu jika aku tidak bisa terbang ke sana, bagaimana kau bisa naik dan turun dengan bebas? dan juga, bagaimana caraku melakukannya?" Rigel bertanya, Sylph hanya tersenyum lembut selagi sayap kupu-kupunya mengibas-ngibas.


"Aku telah mendapat izin dari Pohon Roh, dan jika kau ingin melakukannya, kau juga harus mendapatkan izin dari Pohon Roh. Ikuti aku..." Sylph menuntun Rigel ke sisi lain Pohon Roh.


Rigel tanpa perlu bertanya, mengikuti Sylph tanpa ragu. Setelah beberapa lama berjalan, mereka sampai di sisi lain pohon Roh. Di sana terdapat sebuah kristal tanpa warna yang menempel di bagian poon Roh. Kristal itu cukup besar dan menawan, Mana alam yang terkandung di dalamnya juga sangat besar.


"Kau harus melalui ujian dari Pohon Roh... Aku tidak akan memberitahukan rincian ujiannya, namun waktu yang kau jalani dalam ujian akan berlalu dengan cepat. Satu tahun di dalam ujian sama dengan sepuluh menit di sini. Jadi kau tidak perlu tergesa-gesa menghadapinya." Sylph mulai menjelaskan.


Rigel menganggukkan kepalanya, menandakan bahwa penjelasan Sylph mudah di Terima olehnya. Jika terdapat garis waktu seperti itu, kemungkinan besar ujian itu menyuruh Rigel menjalani sesuatu. Memang sangat di sayangkan karena Sylph tidak memberitahu rincian ujiannya, namun setidaknya Rigel dapat menerka-nerka isinya.


"Kau hanya perlu menyentuh ujung kristal itu, dan ujian akan di mulai... Sebagai seniormu dalam menghadapi ujian, aku dapat memberikan saran yang bagus... Jangan melarikan diri, jangan menutup suara, jangan menutup cahaya dan berikan jawaban... Itu saja dariku, selamat menikmati ujian." Sylph tersenyum ramah seperti biasa dan mempersilahkan Rigel untuk memulai.


Rigel mencatat baik-baik saran Sylph di kepalanya. Dia tidak tahu ujian semacam apa yang akan di laluinya, jadi sedikit saran akan berguna.


"Baiklah, kalau begitu, aku akan memulainya sekarang." Rigel perlahan menyentuh ujung kristal itu.


Rigel terbelalak, segala macam ingatannya muncul seakan di tarik keluar dan bercampur menjadi satu ke satuan. Rigel membuka matanya, dia tiba di sebuah tempat yang hanya memiliki kegelapan dan beberapa bintik cahaya yang memberikan penglihatan.


"Dimana ini?" Rigel bergumam, selagi menatap sekitarnya.


Ujian akan di mulai... Ujian hanya memiliki satu bentuk kesatuan namun memiliki banyak jalan bercabang bagai akar pohon...


Suara aneh bergema di telinga Rigel yang entah dari mana datangnya. Rigel mencari-cari asalnya, namun itu sia-sia. Dia tidak dapat melihat apapun selain bintik cahaya yang terlihat seperti bintang.


Akar pohon akan menuntunmu ke satu tempat, tubuh pohon... Tubuh pohon akan menghasilkan daun dan buah kecerdasan... Hanya ada satu ujian!... Hadapilah segalanya! Masa lalu! Masa depan! dan masa yang tidak akan pernah kau capai! Hadapilah segalanya maka buah kecerdasan akan muncul... Ujian di mulai.


Tempat yang awalnya di isi dengan kegelapan mulai berubah, ke sebuah tempat lapang dengan matahari senja. Di sana, terdapat jutaan orang yang di kumpulkan di satu tempat dan seorang pria yang berada di tempat berlawanan dengan yang lainnya dan dengan cepat melesat ke arah kerumunan itu dan membunuh semua orang satu persatu.


Ini adalah kejadian saat Rigel menghadapi sepuluh juta penduduk Labyrint. Dia benar-benar tidak ingin mengingatnya, namun berkat ujian pohon Roh, dia harus menyaksikannya langsung. Mereka tidak berwujud monster seperti yang Rigel lihat saat dulu.


"HENTIKAANNN!!!" Rigel berteriak histeris saat menyaksikan dirinya membantai semua orang.


Rigel berlari menuju dirinya yang membantai orang-orang. Rigel berusaha menggunakan tubuhnya untuk menghalangi orang yang akan terbunuh, namun tubuhnya di tembus selayaknya bayangan biasa.


"Hentikan!!! sadarlah jika kau sedang di kendalikan! Hentikan!!" Rigel terus berteriak, namun percuma saja, suaranya tidak akan mencapai apapun.


Pada akhirnya Rigel di paksa menyaksikan teman-teman seperjuangannya di Labyrint terbunuh satu persatu.


"Mirai, braund, Anastasia, Priscilla..." Rigel bergumam sedih, dia ingin menangis namun air matanya tidak bisa keluar seperti keinginannya.


Rigel ingin menutup mata dan telinga, namun dia teringat saran Sylph, untuk tidak menutup cahaya, suara dan jangan melarikan diri. Rigel harus bertahan dan menyaksikannya sampai akhir.


Rigel telah menyaksikan masa lalunya, sampai saat Priscilla menghembuskan nafas terakhirnya dan suara yang sama mulai berbicara...


Masa lalu berakhir di sini... Sekarang hadapilah masa depanmu!


Pemandangan mulai berganti lagi, menjadi tempat yang tidak di ketahui Rigel. Langit merah dan udara berbau darah, tanah di hiasi darah dan mayat manusia. Rigel tidak tahu tempat apa ini, namun dari isi ujiannya, ini adalah masa depan yang mungkin saja akan terjadi.


Di depan Rigel, dia melihat Takumi berlari menghadapi seorang pilar iblis. Takumi melompat mencapainya namun pilar itu sudah menunggunya dan melubangi perut Takumi.


"Takumi!" Rigel berteriak histeris.


Meskipun tahu bahwa ini tidak nyata, namun terasa benar-benar nyata. Pemandangan beralih, kini menjadi Yuri yang tercabik-cabik oleh Duri, Ozaru yang kepalanya di penggal, Hazama yang Terpanggang habis, Marcel, Nadia, dan Petra memiliki lubang di dada mereka.


Semua yang Rigel kenal mati tepat di depan matanya tanpa terkecuali. Rigel mulai gemetar, dia hampir tidak kuasanya menahan kemarahan dan kesedihannya. Ujian ini cukup untuk membebani mentalnya.


Di akhir, Rigel harus menyaksikan Tirith dan Merial yang tertidur mati di depan matanya. Hatinya terasa tercabik-cabik, namun Rigel menahan diri untuk menutup matanya.


Masa depanmu selesai sampai sini... Selanjutnya... Hadapilah masa yang tidak akan bisa kau raih...


"Rigel... Rigel... Rigel! kenapa kau melamun? kau akan terlambat ke sekolah lo?"


Rigel terkejut dan membuka matanya lebar-lebar. Sosok yang ada di depannya, wanita di depannya adalah ibunya. Orang yang Rigel cintai, namun tak pernah bisa dia cintai. Hatinya semakin sakit, namun tak ada air mata yang mengalir.


Rigel memandang sekitar, dia sekarang berada di sebuah rumah sederhana yang rapih, tangan kiri dan mata kirinya kembali. Rigel mengenakan pakaian sekolah SMA.


Apakah ini yang di maksud masa yang tidak akan pernah kugapai?


"Hora. Cepatlah berangkat, jika tidak ingin terlambat. Kau sudah membuat kedua gadis itu menunggu!" Ibunya memarahi Rigel dan mendorongnya menuju pintu keluar sebelum Rigel bisa mengatakan sesuatu.


Matahari di luar bersinar terang, Rigel melihat dua orang gadis cantik yang berseragam sekolah, sama sepertinya. Mereka terlihat seperti orang luar negri, dengan rambut Keemasan dan Merah maroon.


"Ti-Tirith? P-priscilla?" Rigel bergumam. Dia berdiri tak bergeming dengan orang-orang yang dia lihat saat ini.


"Ya, ini aku. Jangan-jangan, kau masih melindur atau merindukanku?" Priscilla menggoda Rigel.


"Mana mungkin dia akan merindukanmu! mu-mungkin saja dia rindu kepadaku saja." Tirith berkata selagi wajahnya merah merona.


Rigel tidak dapat mengatakan apa-apa, dia terkejut saat melihat kedua gadis ini bersama. Di sisi lain, ibunya tersenyum jahil dan menggoda, "Hoho? dasar putraku ini nakal sekali. Kau membuat dua gadis cantik ini tergila-gila padamu." Ibunya berbisik di telinganya dengan jahil.


"A-aku tidak seperti itu..." Rigel membalas dan berjalan menghampiri Tirith dan Priscilla.


Ibu Rigel, Fortuna tersenyum dan melambaikan tangannya, "Berhati lah kalian... Jangan bertengkar karena memperebutkan putraku, ya. Dia masih milikku saat ini..." Fortuna menggoda.


"Jangan khawatir, ibu. Aku akan merampas Rigel darimu, suatu saat nanti." Priscilla membalas Fortuna, di sisi lain Tirith tampak bermasalah terhadap Priscilla yang memanggil Fortuna sebagai Ibu.


"K-kalau begitu, kami berangkat dulu!" Tirith mengejar Rigel bersama Priscilla.


Rigel berjalan di tengah-tengah kedua gadis itu, "Ne, Rigel. Apakah kau tahu film terbaru yang akan di rilis esok siang? aku ingin menontonnya. Bagaimana kalau besok kita bolos dan pergi menonton?" Priscilla, meraih lengan Rigel dan menekannya ke dadanya.


"I-itu licik! kau tidak boleh menggunakan bola dada itu untuk merayunya! Selain itu, bolos itu tidak baik dan akan mempengaruhi masa depanmu, Rigel. Tolak saja ajakannya." Tirith berkata dengan sedikit kesal selagi menyingkirkan Priscilla yang memeluk tangan Rigel.


"Kenapa? apa kau cemburu terhadapku, Tirith?" Priscilla membusungkan dadanya ke depan Tirith.


"Jangan sombong hanya karena punyamu sedikit lebih besar dariku." Tirith gemetar dan memusuhi dada Priscilla.


"Kalau begitu kita tentukan saja. Rigel, antara aku dan Tirith, siapa yang akan kau pilih menjadi pasanganmu?" Priscilla mengatakan hal konyol, "Tentu saja aku, kan?" Dia kembali mendekati Rigel.


"Untuk apa aku memilih satu jika bisa memiliki keduanya?" Rigel berkata dengan sarkastis.


Mendengar jawaban itu, Ntah kenapa Priscilla dan Tirith cemberut dan bersama-sama meninggalkan Rigel dalam perjalanan.


Setelah beberapa waktu berjalan, Rigel mencapai sekolah dan saat dia memasuki kelas, dia di sambut dengan seseorang.


"Yo Rigel! kau hampir terlambat, apa mereka berdua membuat masalah lagi?" Takumi merangkul tangannya ke Rigel.


"Selamat pagi, Rigel."


"Ya, selamat pagi, Yuri."


Rigel terus di kejutkan dengan berbagai hal. Namun jujur saja, dia merasa ini bukan sesuatu yang buruk. Bell berbunyi, jam pelajaran pertama di mulai. Guru pelajaran pertama memasuki ruangan.


"Silahkan duduk, pelajaran akan bapak mulai."


Bukankah itu, Ray?


Hari-hari sekolah Rigel terus berlanjut. Setiap orang yang dia kenal ada di sini dan bersama-sama dengannya menikmati kehidupan sekolah. Rigel sangat menikmatinya, namun dia menyadari bahwa ini tidaklah nyata.


Bell sekolah berbunyi, menandakan sekolah telah berakhir. Takumi dan yang lainnya berkumpul di sekitar Rigel untuk pulang bersama. Namun, Rigel tidak kunjung bangkit dari kursinya.


"Ada apa Rigel?" Tirith bertanya khawatir.


"Apa kau sedang menahan BAB atau semacamnya?" Priscilla juga bertanya.


"Wajahmu tampak pucat. Katakanlah jika ada hal yang mengganggumu." Takumi tersenyum lembut.


"Cukup... Hentikanlah semua sandiwara ini!" Secara mengejutkan Rigel berteriak dan membungkam semua orang.


"Ini sangat menyenangkan... Dunia ini sangat indah untuk menjadi kenyataan. Aku sadar bahwa tidak akan bisa tinggal di dunia yang seperti ini... Bahkan jika bisa, aku ingin menetap di sini bersama kalian selamanya, sampai akhir. Namun aku tidak bisa, masih ada hal yang harus aku lakukan..." Rigel tertunduk dan bangkit dari kursinya. Dunia secara lambat mulai memudar.


"Memangnya kau mau pergi ke mana Rigel?! dan berapa lama kau akan pergi?!" Tirith bertanya dengan khawatir.


"Aku akan pergi, ke sebuah tempat yang jauh, sebuah tempat yang jauh berbeda dari tempat ini. Kemungkinan, aku akan pergi untuk selamanya." Rigel menjawab.


"Kenapa? kau bisa tinggal di sini selamanya jika kau mau, kenapa kau memilih pergi?!" Priscilla bertanya selagi meraih kedua tangan Rigel.


"Masih ada hal yang harus aku lakukan dan juga, aku ingin tinggal di sini, namun aku sadar bahwa ini semua tidak nyata... Aku harus pergi dari sini." Rigel berkata dengan sedih.


"Kau tidak harus pergi, Rigel... Selalu ada pilihan untuk lari dari tanggung jawab, apa salahnya dengan mencari kebahagiaan dan meninggalkan tugasmu?" Takumi berkata.


"... Ya... Aku tahu itu, aku sangat tahu akan pilihan semacam itu... Namun, aku tetap harus pergi. Ini bukan tempatku berada, surga semacam ini, tidak pantas untukku tinggali." Rigel menatap mereka dan tersenyum sedih.


"Jika kau tidak lagi memiliki tempat, datanglah kemari, kami akan menyambutmu dengan senang hati." Yuri tersenyum kepada Rigel.


Semua teman-temannya tersenyum lembut ke arah Rigel. Sosok mereka terasa semakin jauh dan sebelum dia benar-benar pergi, "Tolong sampaikan salamku pada ibu! aku akan baik-baik saja! aku ini kuat, dan dia tidak perlu khawatir! aku akan selalu, selalu dan selalu mencintainya!"


"Ya..." Sosok Ibu Rigel yang melambaikan tangan tiba-tiba muncul di antara mereka, "Aku mendengarnya dengan jelas. Aku tahu bahwa putraku sangat kuat dan tidak akan meninggalkan tanggung jawabnya."


Hatinya sangat sakit, namun air mata tidak keluar. Setidaknya, ada hal lain yang lebih baik ketimbang air mata. Rigel mengulurkan jempolnya dan mengeluarkan senyuman lebar yang belum dia keluarkan selama ini.


Ujianmu selesai sampai sini... Kau telah melalui segala macam Masa, sekarang berikan buah kecerdasanmu...


Buah kecerdasan, Rigel paham betul maksudnya. Mungkin buah yang dia maksud adalah jawaban atas apa yang sudah dia lalui.


"Ya... Aku telah memahami banyak hal. Aku tidak bisa melakukan apapun terhadap masa lalu, karena itu sudah terjadi dan aku hanya bisa menyimpannya selagi memperbaiki kesalahan yang ku perbuat. Masa depan, aku tidak yakin apakah yang aku lihat benar-benar masa depanku atau hanya buatan belaka, tetapi, masa depan masih bisa berubah. Akun akan merubahnya ke arah yang bahkan tidak dapat kau bayangkan... Dan yang terakhir, masa terakhir itu benar-benar menyenangkan, itu memang sebuah tempat dimana aku tidak akan meraihnya. Tempat di mana ibu ada..." Rigel berhenti sejenak dan mengambil nafas.


"Itu memang sangat di sayangkan, namun, aku pasti akan membangun sebuah dunia di mana teman-teman dapat tersenyum seperti di masa itu. Lagipula, surga seperti itu bukanlah tempatku..."


Hahaha, jawaban yang bagus... Selamat, anak muda. Kau lulus ujian... Dari hal ini kau telah mempelajari, bahwa kenyataan tidak akan pernah seindah dalam ujian... Masa lalu adalah guru terbaik untuk menjadikanmu sosok yang sempurna... Masa depan adalah sesuatu yang tidak pasti dan kau dapat merubahnya dengan usaha... Masa yang tidak akan kau gapai bukan berarti kau tidak bisa membuat Masa yang serupa dengannya... Dan Surga tidak akan pernah terbuka untuk orang yang mengotori tangannya sepertimu, anak muda. Namun, aku menyukai dirimu yang seperti itu... Aku akan memberikanmu sebuah imbalan, naiklah kepuncak dan kau akan mendapatkannya...


Rigel hanya diam dan mengangguk dengan penuh tekad. Butuh banyak keberanian untuknya meninggalkan Masa sebelumnya dan Rigel jalan yang Rigel pilih adalah Masa bodo dan meninggalkan dunia seperti surga itu.


Sekarang, akun akan menemuimu segera dan mencari cara membangunkanmu, Priscilla...