
Sing!!!
Rigel dan Diablo saling beradu senjata, Diablo dengan cakarnya sementara Rigel dengan pedangnya. Mereka berdua saling tersenyum satu sama lain saat bertukar pukulan. Ada satu kemiripan dari Rigel dengan Diablo, mereka sama-sama menikmati adrenalin pertarungannya.
Mereka saling menyerang satu sama lain dengan kecepatan yang melebihi manusia normal. Rigel mengambil jarak dengan Diablo dan menghunuskan pedangnya selagi menggumamkan skill miliknya.
"Seribu tebasan kilat...!!!" Ujar Rigel.
Dalam satu gerakan kilat, Rigel telah memberikan Diablo seribu tebasan kepadanya namun Diablo berhasil menangkis seluruh tebasan itu dengan mudah dan sekarang gilirannya untuk menyerang.
"Kekuasaan api neraka : Amaterasu...!!!" Ujar Diablo.
Bola api hitam ke unguan menerjang langsung ke arah Rigel dengan kecepatan yang cukup gila. Rigel tidak menghindar, dia malah bergerak langsung menuju bola api hitam itu dengan senyum gila di bibirnya. Bola Amaterasu meledak dengan kekuatan yang gila sehingga asap hitam menghalangi daerah sekitar. Diablo tidak pernah berfikir jika Rigel akan mati hanya dengan serangan itu, jadi dia tidak lengah sedikitpun.
Tidak lama setelah ledakan terjadi, terdengar suara tembakan yang sangat keras dari dasar kabut hitam. Beberapa peluru meluncur ke arah Diablo dengan cepat. Melihat benda yang tidak pernah dia lihat, Diablo menggunakan sayapnya untuk menutupi seluruh tubuhnya, namun sayangnya itu tindakan percuma.
Cruch!
Peluru-peluru Rigel menembus sayap Diablo hingga ke tubuhnya. Seharusnya kedua sayapnya itu tahan kepada serangan sihir apapun, begitulah yang di fikirkan Diablo. Namun sayangnya, peluru yang menembus tubuhnya bukanlah sebuah sihir seperti yang dia kira. Diablo dapat merasakan tubuh tempat peluru itu mengenainya membakar kulit dan dagingnya, meskipun itu tidak akan sampai membunuhnya.
"Hahahaha, jadi ini kemampuan dari benda yang ada di saku pinggangmu. Menarik, sangat menarik! Tunjukanlah semua yang kau punya Pahlawan...!!!" Ujar Diablo.
Bukannya kesal dan merengek kesakitan, Diablo justru tertawa dan Ekspres kebahagiaan terukir jelas di wajahnya.
"Sayangnya kau mungkin akan mati sebelum melihat semuanya...!!" Ujar Rigel.
Rigel berputar keluar dari awan hitam dan mengayunkan pedangnya untuk menebas leher Diablo dengan kekuatan penuh.
Bang!!
Diablo berhasil menahannya dengan kuku-kukunya yang panjang dan tajam. Rigel tidak berhenti untuk mencoba memotong kepalanya, meskipun tidak berhasil, setidaknya dia harus berhasil memotong kedua tangannya. Diablo mengerutkan alisnya, dia tahu niat Rigel. Meskipun dia dapat memulihkan kedua tangannya, namun Diablo butuh waktu sekitar 5 detik untuk memulihkannya. Dalam jeda 5 detik itu, kemungkinan Rigel memenggal kepalanya sangatlah besar.
Ada tiga buah cara ampuh untuk mengalahkan seorang iblis yaitu dengan memotong kepalanya, membuatnya kehabisan tenaga sehingga tidak dapat beregenerasi dan yang terakhir, melenyapkan seluruh tubuhnya tanpa tersisa apapun.
Krak...
Track...!!
Rigel berhasil memotong kuku Diablo dan sebelum bilah pedangnya mencapai leher Diablo, sebuah ledakan hitam keluar dari tubuh Diablo sehingga memaksa Rigel untuk mengambil langkah mundur.
"Tch..." Rigel mendecakkan lidahnya.
Selagi Rigel menjauh dan memperhatikan cahaya hitam yang menyelimuti seluruh tubuh Diablo, dari belakangnya, Rigel merasakan sesuatu yang sangat mengancam dan mengeluarkan hawa membunuh yang sangat besar. Itu adalah Diablo.
'Sejak kapan dia disana?!?!' Batin Rigel.
Bang!
Rigel mendapatkan pukulan yang sangat keras sehingga terhempas ke darat. Tanah tempatnya mendarat menciptakan kawah yang cukup besar, awan debu menghalangi pemandangan sekitar. Rigel memuntahkan darah dari mulutnya, beruntunglah tidak ada tulangnya yang patah jadi dia masih sangat sanggup melawan Diablo. Seperti yang di Duga bahwa pertarungan ini tidak akan mudah seperti ekspetasi.
Rigel merangkak bangun dari tanah dan saat dia hampir berdiri, instingnya memperingati ada bahaya mendekat. Rigel menatap ke langit dan benar saja, ratusan bola Amaterasu datang dan menghujaninya.
Menciptakan dinding tidak akan berguna, menghindari seluruh serangannya adalah pilihan yang terbaik, namun kemungkinan besar akan ada lebih banyak serangan yang datang. Rigel telah membuat pilihannya sendiri.
'Aku akan menggunakannya selama 0,2 detik agar tidak menguras tenagaku.' Batin Rigel.
Rigel mengulurkan tangannya dan mulai sedikit bersinar biru. Waktu seakan berjalan sangat lambat, sampai Rigel menggumamkan :
"Void tahap 1 : kembalilah menjadi kehampaan..."
Kilatan biru yang membutakan mata bersinar dalam waktu sepersekian detik. Rigel menggunakan kekuatan Void tahap satu kehampaan dalam waktu 0,2 detik sehingga tidak akan menguras tenaganya. Seluruh serangan yang dilancarkan Diablo menghilang dalam sekejap. Diablo bingung, tidak mengerti apa yang terjadi dan kemana semua serangannya menghilang. Dia memperhatikan awan debu tempat Rigel jatuh dan saat dia memperhatikan, sebuah laser cahaya datang ke arahnya. Diablo menangkisnya dengan melambaikan tangannya seolah itu bukan apa-apa. Namun—
"Kau melihat kemana Tololl!!" Ujar Rigel, mencibir.
Diablo terbelalak kaget saat mendengar suara Rigel dari belakangnya. Rigel mengulurkan tangan kiri buatannya ke arah Diablo. Kristal yang ada di telapak tangannya mulai bersinar terang dan mengeluarkan laser cahaya super panas.
'Jadi lengan kirinya bukanlah lengan buatan biasa?!' Batin Diablo.
Cahaya keemasan menyinari lengan kiri Rigel dan dalam sekejap, perut Diablo memiliki lubang besar karena serangan dari tangan kiri modifikasi Rigel. Diablo menggertakan giginya, di satu sisi dia merasa kesal namun di sisi lain dia merasakan rasa senang karena menemukan lawan yang hebat.
Diablo berputar dan mengulurkan kaki kirinya untuk menendang Rigel namun berhasil di hindarinya. Satu serangannya saja dapat melubangi perutnya, ini adalah peringatan penting untuk Diablo. Jika Rigel menggunakan kekuatan penuhnya, Diablo pasti telah dengan mudah di lenyapkan Rigel jika dia menggunakannya dalam sekala yang luas. Tubuh Diablo pasti akan langsung hancur tak bersisa.
'Namun kenapa dia tidak melakukannya? Mungkinkah dia memiliki suatu batasan yang membuatnya tidak dapat menggunakannya dalam skala besar?' Batin Diablo.
"Kau pasti bertanta-tanya kenapa aku tidak langsung melenyapkanmu, kan?" Ujar Rigel.
"..."
"..."
"Nungguin ya, Hahahaha. Jika ingin tahu, cari tahu saja sendiri dan gunakanlah otak kecilmu itu." Ujar Rigel, tertawa terbahak-bahak.
Diablo mulai terprovokasi oleh Rigel dan melesat menyerang Rigel selagi luka di perutnya beregenerasi. Rigel telah mengembalikan pedangnya ke infertornya dan saat ini dia sedang kejar-kejaran dengan Diablo.
Selagi dia terbang kesana dan kesini menghindari Diablo, Rigel terus menerus menembakan pistolnya ke arah Diablo.
"Kejarlah aku jika kau bisa..." Ejek Rigel.
"Hm, sayangnya bukan aku yang akan menangkapmu, tetapi peliharaan ku yang akan melakukannya." Ujar Diablo.
"Awas, Monyet putih...!!!" Teriak Ozaru dari kejauhan.
Tanpa sadar, sebuah mulut dengan taring tajam yang mengerikan sudah tepat berada di belakang Rigel dan hendak mengunyah nya dalam sekali gigit. Rigel menyadari bahwa yang ada di belakangnya adalah Naga peliharaan Diablo.
'Apa yang dilakukan monyet itu?!' Batin Rigel.
***
Kita kembali saat Ozaru berhasil memisahkan Naga dengan tuannya. Ozaru telah menggiring Naga jauh dari lokasi pertempuran Rigel dengan Diablo. Mahkluk besar ini terlihat kuat, dia tidak boleh meremehkannya sama sekali.
Roaaarrrr!
Naga mengaum dengan kencang sampai Ozaru harus menutup telinganya. Hutan telah gundul karena serangan sebelumnya, jadi tidak ada penghalang apapun di daratan ini.
"Kau telah membunuh pengikut setiaku dan menghancurkan pepohonan tempatku tinggal. Aku tidak akan memaafkanmu, badan besar...!!" Ujar Ozaru.
Ozaru mencabut tongkatnya dari tanah dan dengan sangat cepat berlari menuju langsung ke arah Naga dan mengayunkan tongkatnya dengan sangat keras.
"Memanjang lah, Nyoibo..."
Tongkatnya memanjang dan menghantam wajah Naga itu dengan sangat keras. Tidak berhenti sampai di situ, Ozaru langsung melompat tinggi ke udara. Naga itu mengejarnya selagi menyimpan api super panas di dalam mulutnya dan menembakannya ke Ozaru.
Ozaru mengibaskan tongkatnya untuk menghindari serangan api yang di keluarkan Naga. Meskipun dia berhasil menghindarinya dengan jarak yang tipis, namun panas dari api itu terasa membakarnya walau tidak mengenainya. Tanpa di sadari, bola api lainnya sudah mendekat beserta Naga yang telah membuka mulutnya lebar lebar.
Ozaru menghentakkan kakinya di udara dan dia terjun bebas menuju Naga itu selagi menghindari serangan bola api.
"Mahkluk besar sialan! meskipun tidak mengenaiku, seranganmu sangatlah panas..!!!" Keluh Ozaru.
Selagi Ozaru mengeluh, dia tidak menyadari bahwa mulut sang Naga telah berada tepat di depannya dan menelannya. Namun, Ozaru tidak terkoyak koyak ataupun di telan Naga itu, karena dia tidak bisa. sesuatu seolah mengganjal mulutnya dan memberontak untuk membukanya lebar lebar.
Mulut Naga yang tertutup rapat perlahan terbuka dan menampilkan sosok manusia kera yang sedang berbaring santai selagi mencari harta di dalam hidungnya. Tongkatnya menjadi penyanggah agar dia tidak terkoyak-koyak. Karena Tongkat yang di miliki Ozaru adalah senjata ilahi, dia tidak akan patah oleh apapun di dunia ini.
"Ini membosankan, mahkluk besar... Oh??"
Ozaru melihat tenggorokan Naga mulai bersinar, nampaknya dia berniat menyemburkan api. Mengambil tongkatnya dengan cepat dan melompat ke punggung Naga, Ozaru berputar dan mengayunkan tongkatnya sampai di atas kepalanya lalu menusukannya ke punggung Naga.
"Memanjang dan membesarlah, Nyoibo...!!!"
Ozaru langsung melompat menjauh dari tubuh Naga dan berpegangan pada tongkatnya.
Tongkat Ozaru mulai berkedip dan membesar sekaligus memanjang ke langit. Ukuran tongkatnya menjadi 2x lebih besar dari Naga itu dan terus memanjang jauh ke langit. Naga yang tidak kuat menahan bobot tongkat yang terus bertambah, perlahan mulai jatuh ke tanah.
"Dengan ini kau akan segera terkubur di tanah, mahkluk besar." Ujar Ozaru.
Saat Ozaru berfikir bahwa Naga itu akan gepeng dan mati, sesuatu mulai bersinar dari tubuh Naga dan dalam sekejap dia menghilang.
"Huh?! Kemana mahkluk besar itu pergi??" Ujar Ozaru selagi melihat sekelilingnya dan mengembalikan ukuran tongkatnya seperti semula.
Tidak menemukan Naga itu di manapun, Ozaru mendapat pencerahan dan dengan berlari menuju ke tempat Rigel berada. Benar saja, Naga itu ber teleportasi ke tempat pertarungan Rigel berada.
"Awas, Monyet putih...!!!"
Semuanya sudah terlambat, Rigel telah masuk ke dalam mulut Naga dan dengan cepat Naga itu mengeluarkan nafas api di dalam mulutnya.
"Hahaha, dengan begini, dia pasti sudah hangus terbakar di dalam sana. Selanjutnya giliranmu, Monyet..." Ujar Diablo, mengalihkan pandangannya ke Ozaru.
Ozaru mengambil kuda-kuda bertempur dan berkata : "Majulah kalian..."