The Legends Of Creator Hero

The Legends Of Creator Hero
Gate Of Underworld



Semua kembali menjadi terang, dari yang awalnya kegelapan abadi. Rigel yang memegang kristal pohon Roh telah kembali sadar ke kenyataan. Rigel berkeringat, nafasnya terengah-engah meskipun tidak merasa kelelahan pada fisiknya.


"Selamat datang kembali, Pahlawan Rigel..." Sylph tersenyum lembut, "Bagaimana menurutmu tentang ujiannya?"


Ketimbang bertanya tentang hasil, dia lebih ingin mengetahui pendapat Rigel tentang ujian Pohon Roh. Rigel mengusap keringat di dahinya, "Ujian itu sangat menguras mental dan batinku... Mungkin itu akan mudah untuk di lalui orang yang tidak memiliki kegelapan masa lalu... Kau, tidak bertanya dengan hasil apakah aku gagal atau tidak?"


Tentu saja itu membuatnya penasaran. Pada umumnya, orang akan bertanya tentang hasil dan kondisi Rigel, namun Sylph tidak melakukan keduanya.


"Jika kau berhasil kembali dari sana, itu berarti kau telah lulus ujian. Saat kau melaksanakan Ujian, kau tidak akan bisa kembali ke dunia nyata sebelum menyelesaikan ujiannya. Tidak perduli berapa tahun yang kau lalui di sana, di dunia nyata hanya akan berlalu selama beberapa menit."


Jadi begitu, Rigel memahami penempatan waktu semacam itu. Jika saja dia tidak mengingat saran yang di berikan Sylph, Rigel mungkin akan berulang kali menyaksikannya sampai dia lulus ujian itu.


"Kau telah mendapatkan kualifikasi untuk menaiki pohon Roh, Pahlawan Rigel, sekarang kau bisa mendakinya dengan terbang. Mari, aku tunjukan jalannya." Sylph sudah siap untuk terbang, Rigel meminta sedikit waktu untuk mengatur pernafasan nya.


"Huhh~, aku siap... Ayo kita pergi." Rigel membuat angin di telapak kakinya untuk menghempaskan nya dan membuatnya terbang.


Sylph tersenyum, "Berusahalah untuk tidak tertinggal." Dia terbang dengan cepat dan menyisakan debu.


Rigel merasa terpacu dan melesat terbang ke udara. Melihat Rigel yang sudah berada tepat di belakangnya, Sylph terkejut bahwa ada manusia yang hampir dapat menyamai kecepatan terbangnya.Meski Sylph bisa menjadi lebih cepat lagi, dia tidak berniat menambah kecepatannya dan tetap pada kecepatan yang sama.


Puncak pohon ini cukup tinggi hingga membutuhkan waktu beberapa menit untuk mencapai puncaknya. Setibanya di sana, Rigel terpesona dengan pemandangan di depan matanya. Tempat ini jauh lebih luas daripada yang Rigel bayangkan. Udara sejuk, meski ini di ketinggian sinar matahari terlhalangi oleh dedaunan yang membuat Rigel tidak terpapar sinarnya.


"Kesini, Pahlawan Rigel." Sylph menuntun jalan.


Rigel mengikuti di belakangnya dan mengamati tempat sekitarnya. Terdapat beberapa bunga yang cantik dan ada sebuah air terjun kecil di sana. Rigel penasaran dari mana dan akan kemana air itu mengalir. Tidak hanya itu, Rigel juga dapat melihat burung-burung yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Sampai Rigel melihat seorang Putri tidur di bawah pohon.


"Ini dia, gadis yang aku bicarakan... Priscilla kecilku." Sylph berkata dengan sedih selagi mengusap rambutnya. Dia segera menepi dan memberi sedikit ruang untuk Rigel.


Berjalan dengan hening, Rigel tidak dapat memikirkan apapun selain ingin melihat seperti apa wajah Priscilla.


"Ini... Dia sedikit berbeda..." Rigel bergumam tanpa sadar dan membuat Sylph bingung.


Wujud ini tidak salah lagi, Priscilla dalam mode dewasanya. Namun, seingatku dia memiliki warna rambut keemasan, bukan Merah maroon. Apa mungkin ada suatu hal yang mengubah rambutnya, sama seperti rambutku?


Meski terkejut dengan sedikit perbedaan, namun tidak salah lagi bahwa itu benar-benar Priscilla. Dia saat ini sedang tertidur pulas dengan cantik dan mempesona.


"Apakah tidak ada cara untuk membangunkannya dari tidur abadi ini?" Rigel bertanya, nadanya terdengar sedih.


Sylph menghela nafas sedih, "Membangunkannya tidaklah masalah, namun dia hanya akan menjadi sebongkah daging hidup karena tidak memiliki jiwa. Lebih baik dia tertidur seperti ini saja... Andaikan saja aku memiliki jiwanya, meski hanya sebagian kecil juga tidak masalah..." Sylph bergumam.


Rigel juga dapat merasakan kesedihan Sylph. Rigel berjongkok dan menggenggam tangan Priscilla dengan lembut. Rigel dapat merasakan kehangatan tubuhnya, menandakan bahwa dia masih hidup. Tidak seperti saat terakhir kali Rigel menyentuhnya.


Jiwa, ya... Jiwa, jiwa.. Benar!


Rigel melompat dan menatap Sylph dengan penuh harapan, "Benar! Sylph, apakah tidak masalah jika itu hanya sedikit saja jiwa Priscilla, kau bisa membuatnya bangun dan hidup seperti biasa?!"


Pertama kalinya Sylph melihat Rigel sangat bersemangat dan penuh harapan seperti ini. Dia berpikir bahwa Rigel adalah tipe orang yang akan menyimpan emosinya dalam-dalam dan tidak menunjukkannya seperti ini.


"Uh, A-h Iya, aku bisa melakukannya.. Na-namun, mungkin dia akan kehilangan beberapa ingatannya saja..." Sylph yang selalu tenang dan elegan sampai di buat gugup oleh Rigel.


Mendengar jawaban Sylph, Rigel terburu-buru mengambil sesuatu dari inventory nya. Dia dengan sigap langsung memberikan bongkahan batu kristal itu ke tangan Sylph. Dia memandang batu itu dengan bingung, dan setelah meneliti nya, batu itu adalah sebuah kristal yang di fermentasi dari jiwa. Belum lagi, dari warna jiwanya, dia sangat mengenalnya.


"I-ini... Dari mana kau mendapatkannya, Pahlawan Rigel?!" Sylph terkejut.


"Aku berharap kau tidak berniat mencari tahu asal-usulnya. Aku memiliki beberapa privasi yang harus di jaga." Rigel memberi peringatan kepada Sylph, "Yang lebih penting, sekarang kita harus segera membangkitkan Priscilla."


"Ya... Namun, ada sedikit masalah. Meski kita dapat mengembalikannya, jiwanya sangatlah kecil dan aku khawatir dia akan rusak atau semacamnya. Aku membutuhkan beberapa material untuk menyatukan jiwanya kembali dengan sempurna." Sylph terlihat bermasalah dan meminta maaf pada Rigel karena telah menghancurkan harapannya.


"Material seperti apa yang kau butuhkan? akan kulakukan sebisaku untuk mendapatkannya!" Rigel tidak berputus-asa, dia justru siap melakukan apa saja untuk membangkitkan Priscilla.


"I-itu tidak mudah, material yang di perlukan sangatlah sulit untuk di dapatkan, bahkan aku sendiri tidak yakin."


"Katakan saja apa itu. Aku pasti akan mendapatkannya." Rigel tetap bersikeras, meski Sylph sudah memberinya peringatan.


Menatap mata Rigel yang penuh tekad dan keyakinan, Sylph hanya bisa menghela nafas dan mengakui kekalahannya.


"Untuk mengembalikannya secara sempurna, aku membutuhkan air mata dan darah Phoenix, serta bubuk Roh. Untuk bubuk Roh, aku bisa mendapatkannya namun Air dan Darah Phoenix akan menjadi material yang sulit untuk di dapatkan, bahkan untukmu."


Rigel menjadi hening. Phoenix, dia juga termasuk monster malapetaka seperti Tortoise dan Hydra. Sejauh ini, Rigel sudah menghadapi dua dari mereka dan itu benar-benar pertarungan yang sulit. Rigel sendiri tidak tahu seberapa kuat Phoenix, namun yang jelas dia pasti bukan lawan yang mudah.


"Itu memang sulit... Apa kau tahu seperti apa jenis serangan dan kemampuan Phoenix?"


"Dari monster malapetaka yang telah kau hadapi, Phoenix adalah yang memiliki daya serang paling kuat dari yang lainnya. Dia menggunakan elemen api dan serangannya berbasis ledakan dan detonasi. Selain itu, saat dia sudah sekarat, tubuhnya akan terbagi menjadi dua dan kau harus mengalahkannya bersamaan jika tidak ingin dia meledak."


Rigel mengangguk-angguk selagi menarik rambutnya untuk membuat strategi di saat yang bersamaan.


"Kau tidak benar-benar berfikir untuk menghadapinya kan Pahlawan Rigel?" Sylph bertanya dengan kekhawatiran di dirinya. Dia tahu Rigel kuat, namun Phoenix juga tidak kalah kuat.


"Yah, lagipula aku pasti akan menghadapinya cepat atau lambat."


Rigel telah memikirkan kemungkinan semacam itu, satu-persatu tapi pasti, para Pahlawan akan di hadapkan dengan monster malapetaka sebelum Ragnarok tiba. Tidak ada bedanya menghadapi Phoenix sekarang atau suatu hari nanti. Rigel telah memikirkan dengan matang. Sudah di tentukan, target selanjutnya adalah Phoenix.


"Sepertinya aku harus menyiapkan berbagai perlengkapan yang tahan api, ya."


Sylph meraba udara dan pemandangan sebuah tempat muncul, "Daerah terlantar, pegunungan Api,Vulcan."


Gambar yang di tunjukan Sylph menggambarkan tiga buah gunung berapi yang terus mengeluarkan lahar panas. Tanah gersang dan kering, tidak di tinggali oleh kehidupan apapun. Sangat cocok untuk menjadi tempat tinggal si burung Api.


"Mungkin kulit Salamander dapat menahan beberapa serangan api Phoenix. Tetapi, jika itu ledakannya, aku tidak yakin itu dapat menahannya." Sylph memberikan peringatan.


"Ya, untuk itu tidak perlu khawatir. Aku sudah memiliki sebuah rencana yang sangat bagus dan hanya aku yang bisa melakukannya." Rigel tersenyum jahat dan tidak sabar menghadapi Phoenix.


Sylph menatap dengan jelas Rigel yang tersenyum seperti itu. Awalnya dia berfikir bahwa Rigel akan terbebani, namun tidak di duga dia menantikannya. Sylph sedikit tertawa melihatnya.


"Apa yang membuatmu—"


Rigel terhenti saat memperhatikan wajah Sylph yang berubah marah dan ngeri. Rigel berfikir apakah dia mengatakan sesuatu yang membuatnya marah atau semacamnya.


"Ada apa?" Rigel mencoba mengkonfirmasi nya.


"Ti-tidak mungkin... B-bagaimana aku bisa tidak menyadarinya..."


Nampaknya dia bukan kesal karena Rigel namun karena hal lain. Rigel memasang telinganya Baik-baik, tidak biasanya Sylph yang selalu tenang menjadi takut dan marah seperti ini.


"Apa yang sebenarnya terjadi?!"


"Ini kelalaian ku... Aku terlalu sibuk dengan Tortoise dan Priscilla sampai aku tidak menyadarinya... Gerbang dunia bawah.... Telah terbuka." Sylph mengatakan hal yang membuatnya ngeri.


Rigel tidak tahu apa yang di maksud dengan gerbang dunia bawah, namun yang pasti itu bukanlah sesuatu yang bagus.


"Ada apa dengan gerbang dunia bawah? apa yang akan terjadi?" Rigel bertanya kepada Sylph.


"Gerbang dunia bawah adalah satu-satunya gerbang yang terhubung langsung dengan Neraka. Butuh proses panjang untuk membukanya dan sebelum itu terbuka, seharusnya aku telah menyadarinya... Namun karena kejadian Tortoise aku sampai tidak memperhatikannya... ini kesalahanku... Gerbang telah terbuka," Sylph menatap langsung mata Rigel, "Kekacauan besar akan terjadi saat gerbang terbuka, Ntah itu untuk manusia atau untuk Peri."


"Terhubung ke Neraka? mungkinkah para penghuni neraka akan keluar melalui gerbang itu??" Rigel bertanya dengan tergesa-gesa dan Sylph mengangguk sebagai jawaban.


Nampaknya Rigel harus menunda penaklukannya terhadap Phoenix karena kekacauan ini. Hanya satu orang yang dapat melakukan hal semacam ini, pemimpin para iblis, Lucifer.


Di tempat lain, di sebuah tempat terpencil yang jarang di kunjungi manusia. Tempat tandus dengan tanah berwarna hitam, tidak ada satu mahkluk hidup yang dapat tinggal di sini dan hanya ada tanah hitam sepanjang mata memandang. Di sana terdapat pintu misterius yang berdiri kokoh meski tidak ada bangunan apapun di sekitar.


Sebelas Pilar iblis melingkari pintu itu dan mengulurkan tangan mereka. Saat ini pilar iblis sedang berusaha melepaskan segel yang di buat para Peri ratusan tahun yang lalu untuk mencegah terhubung nya dunia bawah.


*Bzzrrrrrrrrr..........


Suara aliran listrik terdengar dan tidak lama setelahnya, segel yang terpasang lepas bagaikan sebuah kaca. Para pilar iblis menjauh dari pintu dan pemimpin mereka, Lucifer mengambil langkah ke depan gerbang itu.


"Butuh waktu lebih lama dari yang kukira untuk melepaskan segel ini... Hahaha, namun syukurlah jika tepat pada waktunya." Lucifer berjalan dan menaruh kedua telapak tangannya.


Dia mengalirkan kekuatannya di pintu itu dan mengaktifkannya. Pintu mulai bersinar dan perlahan terbuka. Lucifer mengambil beberapa langkah mundur, senyumannya masih terbentuk di bibirnya.


"Syukurlah bahwa pahlawan keparat itu dan gadis Peri tidak menyadari hal ini." Dante tersenyum mengejek.


"Tuan Lucifer memang sangat luar biasa... Anda sudah mempersiapkan ini sejak seribu tahun yang lalu, bukan?" Zenos memuji Lucifer dengan hormat.


"Kau benar, Zenos... Aku sengaja datang dan mengacaukan segel yang sedang di buat Pahlawan seribu tahun yang lalu, untuk hari ini. Saat Pahlawan generasi ini dan Sylph sibuk mengurus Tortoise, kita akan memanfaatkannya untuk melepas segel gerbang dunia bawah... Hahaha, tidak kusangka mereka benar-benar tidak menyadarinya..." Lucifer tertawa, merendahkan Pahlawan dan Sylph yang seharusnya memantau segel.


Gerbang terbuka lebar dan di balik gerbang itu terdapat kegelapan abadi. Udara panas dari neraka mencapai luar dang angin berhembus kencang dari dalam gerbang. Sebuah mata merah terlihat dari dalam gerbang dan satu persatu mata lainnya mengikuti. Senyuman Lucifer semakin melebar saat melihat sosok-sosok yang sedang mengambil langkah menuju dunia luar.


"Selamat datang di dunia atas, saudara-saudaraku sekalian... Aku menyambut kedatangan kalian di sini..." Lucifer membentangkan tangannya dan memberikan sambutan kepada tiga iblis pertama yang keluar.


Iblis dengan badan besar yang memimpin keluar gerbang mengendus-endus udara segar dunia atas.


"Sudah lama sekali aku tidak menghirup udara segar seperti ini..." Dia memandang sosok yang ada di depannya yang membuatnya terkejut, "Kau, Lord Lucifer, ya? Hahaha, tidak kusangka jika kau menjadi orang pertama yang aku lihat di sini..." Iblis besar itu terlihat senang.


"Ya... Maafkan aku karena membutuhkan waktu yang lama untuk membebaskan gerbang dunia bawah, kawanku..." Lucifer juga tersenyum senang dan mengejek dirinya sendiri yang perlu waktu lama untuk membuka gerbang.


"Hahahahaha... Tidak apa, kawan lamaku... Lagipula di neraka tidak akan terasa meskipun waktu sudah berjalan selama ribuan tahun... Senang bisa melihatmu lagi, kawanku." Iblis itu menepuk bahu Lucifer dengan santai.


Zenos terlihat kesal karena Iblis itu dengan lancang nya menyentuh Lucifer, namun Dante menghentikannya untuk tidak bertindak gegabah.


Lucifer tertawa, "Hahaha, kau masih besar seperti terakhir kali kita berjumpa... Atau mungkin kau bertambah besar lagi?"


"Hahahaha, yaa begitulah... Sekarang,"


Iblis yang tinggi dan besarnya dua kali lipat dari Lucifer mulai melepaskan jubah yang menutupi tubuhnya. Otot-otot nya sangat kekar dan terbentuk, kulitnya memiliki bulu tipis seperti seekos Singa, dan dia memiliki empat buah tangan yang sangat kuat. Dia melakukan peregangan dengan ke-empat tangannya, "Sudah cukup lama aku tidak melakukan pertarungan apapun sehingga ototku menjadi lemas."


Lucifer terkekeh, "Hmm, kau masih sama sekali tidak berubah ya, Karaka..."


Karaka memperlihatkan taring-taringnya, tersenyum menyeramkan. Dua buah mata kecil yang berada di bawah mata utamanya muncul dan dia mengeluarkan niat membunuh yang sangat kuat, "Kekacauan akan dimulai!"


Karaka merentangkan ke-empat tangannya dan berteriak, "Sekarang, mari kita menebarkan benih-benih kekacauan di dunia ini, saudara-saudaraku sekalian! Lakukanlah apapun yang kalian inginkan! Hahahahah!"


Ratusan Arch demon dan binatang iblis seperti Cerberus berlari keluar dari gerbang dunia bawah dan berpencar ke segala penjuru dunia. umat manusia dan para Peri akan merasakan kekacauan penghuni Neraka yang terlepas ke dunia. Pesta pora penghuni Neraka akan dimulai!