
Rigel tiba di Region yang tidak biasanya ramai. Terlihat jelas semua sedang sibuk melakukan pekerjaan mereka, terutama dengan kabar yang Rigel minta keluarga Ainsworth menyebarkannya.
Hal pertama yang di lakukannya adalah pergi ke ruang kontrol, mengakses Ciel dan memantau lautan untuk melihat berapa banyak pedagang yang telah mendengar berita tentang Rigel mencari budak. Dia menggunakan teleskop jarak jauh dan menyadari bahwa belum ada satupun yang berlayar menuju Region. Namun jelas terlihat bahwa di pelabuhan terdapat beberapa kapal yang mengangkut budak.
"Seperti yang di duga dari pedagang ulung dari Ainsworth, mereka bekerja dengan cepat dan beberapa pedagang budak ternama yang mendengar berita langsung bergegas menuju Region."
Jika tidak ada kendala apapun, mereka pastinya akan sampai dalam waktu paling cepat tiga hari jika berlayar pada kecepatan konstan. Yah, setidaknya dia tahu bahwa Natalia melakukan pekerjaannya dengan baik dan tidak masalah menyerahkannya kepada dia dan Asoka selagi Rigel berada di Darkness.
"Untuk sekarang, sebaiknya aku meminta setidaknya 100 prajurit untuk bersiaga, tanpa perlu memberitahukan sedikitpun informasi."
Memutuskan hal yang perlu di lakukan, Rigel pergi mencari Asoka. Begitu tiba di ruang tahta, seperti biasa, dia menemukan pria yang lesu akibat tumpukan kertas di sisinya.
"Seperti biasanya kau terlihat menyedihkan."
Mendengar suara yang akrab di telinga, dia mendangak untuk melihat Rigel yang masih menggunakan jubah dan topeng di wajahnya. Dengan ukiran senyuman lebar di bibir topengnya yang terlihat jahat dan garis melengkung berwarna merah di sisinya yang membuatnya terlihat keren dan menyeramkan.
Asoka benar-benar iri, terhadap Rigel yang dapat melakukan apapun yang dia mau dan bertarung dengan banyak monster. Entah sudah berapa lama semenjak terakhir kali dia meregangkan tubuh dengan bertarung melawan monster. Pekerjaannya di istana masih begitu banyak, dia perlu mengurus kertas-kertas yang semakin lama di kerjakan justru semakin menumpuk, bukannya semakin berkurang.
Dia tidak pernah menduga menjadi raja akan semelelahkan ini. Sesekali, setidaknya dia ingin keluar untuk menghirup beberapa udara segar.
"Kau seperti biasa dapat kemanapun dengan bebas, ya... Tidak sepertiku yang harus menyelesaikan tumpukan kertas yang entah kapan akan lenyap."
Nadanya begitu lelah, bosan dan lemah. Pemikirannya dan iri hatinya terlihat jelas, dari cara dia menatap Rigel dan dia dapat mengetahuinya dengan sangat jelas.
Rigel juga berpikir, mungkin Asoka terlalu bekerja keras sampai begitu lesu dan payah. Awalnya Rigel berpikir bahwa tidak masalah membiarkannya karena kemungkinan besar dia akan pulih dengan sendirinya. Namun sepertinya perkiraan meleset dan malah membuat Asoka jatuh semakin dalam. Mau tidak mau dia memang harus bertindak, mengatasi kelelahan Asoka.
Memang begitu merepotkan, namun dia tahu bahwa setidaknya manusia butuh waktu untuk penyegaran dirinya ketimbang duduk mengurus pekerjaan setiap waktu.
"Kau terlihat semakin kacau, Asoka."
Tentunya kekhawatiran Rigel nyata, meski dia hanya menunjukannya sesedikit mungkin. Asoka hanya mendesah lelah, dengan kelopak hitam yang semakin parah di bawah mata.
"Aku baik-baik saja, Rigel. Tidak perlu khawatir."
"Ndasmu yang tidak perlu khawatir. Bagian mana yang baik-baik saja dari tampilan buruk yang terlihat seperti monyet yang ngidam pisang selama berbulan-bulan."
Meskipun perumpamaan Rigel lebih terdengar seperti provokasi ketimbang keprihatinan, Asoka sama sekali tidak terganggu. Justru dia telah mengenal Rigel dengan baik, meski dia menghilang selama setahun sebelumnya dan dinyatakan mati, baginya Rigel masih sama, belum berubah sedikitpun selain penampilan.
"Tinggalkanlah pekerjaan itu selama beberapa waktu untuk menyegarkan dirimu." Rigel melangkah mendekat, meraih salah satu kertas yang bertumpuk dan membacanya.
Kertas itu berisi tentang permohonan untuk membentuk aliansi dan saling tolong menolong dari negara kecil. Kertas itu juga menyebutkan alasan bahwa mereka berniat memberikan penambangan batu sihir dengan syarat Region mau membagi setengah dari persediaan senjata yang di miliki Region.
Melihatnya saja sudah membuat kesal, Rigel menciptakan sebuah pulpen dan menuliskan, "Uruslah urusanmu sendiri, anjing, atau aku akan meledakan negara menyedihkanmu." lalu melemparkannya ke kertas lain yang sudah di kerjakan dan siap di kirimkan. Meski tulisannya sedikit tidak rapih, karena Rigel tidak banyak belajar menulis tulisan dunia ini. Namun setidaknya dia mengetahui sedikit tentangnya, karena huruf dunia ini tidak berbeda jauh dengan alfabet.
Asoka tidak tahu apa yang Rigel tulis, dia juga tidak begitu perduli karena tahu bahwa Rigel tidak akan melakukan hal yang aneh. Bahkan jika dari tulisannya membuat negara lain tersinggung, tidak akan ada orang yang cukup bodoh menyerang negara adidaya dengan persenjataan terkuat di dunia.
"Sayangnya aku tidak bisa meninggalkan ini karena menyangkut masa depan Region." Asoka hanya bisa mendesah lelah. Dia begitu perduli dengan masa depan Region dan benar-benar ingin menjadikannya berjaya sampai beberapa generasi setelahnya.
Rigel berpikir 'mau bagaimana lagi,' dan mendapat ide yang cukup bagus untuk pengganti Asoka selagi dia refreshing untuk menyegarkan diri.
"Istirahat juga penting, jika kau memaksakan dirimu lebih jauh, produktifitasmu akan menurun dan mempengaruhi pekerjaanmu. Tunggu sebentar."
Meninggalkan kata-kata itu, dia menggunakan Teleportasi untuk pergi ke suatu tempat dan menculik— membawa seseorang. Rigel tiba di sebuah taman yang mulai di tumbuhi rerumputan kecil. Tanpa membuang waktu, dia berjalan dan menuju kamar seseorang untuk mengetahui ada atau tidaknya dia di sana. Begitu tiba di sana dia menendang pintu dengan keras dan tidak sopan.
"Oii, bangunlah kau tuan putri pemalas. Mari kita berkencan dan ikut..." Rigel terhenti begitu melihat punggung mulus Tirith yang sedang menggunakan pakaiannya seorang diri. Pakaian yang di kenakan baru menutupi sebagian besar dadanya dan pakaian itu sendiri masih longgar.
Biasanya dia akan di bantu para pelayan, namun entah untuk alasan apa dia memilih memakainya sendiri. Tirith menoleh dengan terkejut, merona merah dan terlihat ingin menangis hingga akhirnya berteriak, "Kyaa!" dan menggunakan lengannya untuk menutupi dadanya lalu berjongkok.
Rigel bahkan tidak terkejut dan malu-malu seperti orang dungu, justru dia tersenyum dan sangat ingin menggoda Tirith. Dia menghampiri Tirith dan berjongkok di belakangnya, meniup leher Tirith.
"Kenapa kau malu-mau? Padahal aku sudah menjarah setiap bagian tubuhmu dan merasakan semuanya. Apa yang membuatmu malu, fuh~..." Rigel meniup leher Tirith dan membuatnya merinding.
Rigel terus menggodanya dan melihat tingkah laku imut dan menyegarkan itu membuatnya ingin menyentuh Tirith.
"I-ini refleks a-alami tahu!" Tirith membentak selagi menoleh ke Rigel yang bersandar di bahu kanannya.
Rigel semakin ingin menyentuhnya, namun mengurungkan niat karena ada sangat banyak masalah di pundak. Pertama mengenai Pasar Gelap Darkness. Dia harus melakukan sesuatu tentang artifak kuno Ensiklopedia dan Pilar iblis serta para budak yang terjebak di sana. Jika mendesak, kemungkinan besar dirinya akan membutuhkan Pahlawan lain untuk mengungsikan semua orang yang ada di sana.
Lalu permasalahan Priscilla yang menghilang entah kemana. Meskipun berita mengenai 'Amatsumi Rigel mencari budak dan menunggu di Region' akan tersebar luas, namun tidak berarti berita itu sampai ke telinga Priscilla karena ada kekhawatiran bahwa ada hal lain yang terjadi kepadanya. Belum lagi ada keperluan untuk Asoka beristirahat selama beberapa waktu karena keadaannya begitu menyedihkan.
Lalu ada Hazama yang masih belum sadarkan diri. Namun sepertinya hanya butuh waktu untuknya sadar dan saat ini, kemungkinan Marcel telah membawanya ke Ruberios untuk mendapatkan perawatan lain.
Bahkan bagi Rigel, tidak ada waktu untuk beristirahat seperti melakukan hubungan intim dengan Tirith karena waktu sangat penting pada saat seperti ini. Rigel bangkit dan mengikatkan tali pakaian Tirith yang masih sedikit cemberut karenanya.
Dia tiba-tiba tersenyum, selagi memandang kaca, "Melihat ini, kita terlihat seperti pasangan suami istri yang baru menikah saja."
Rigel menyadari bahwa Tirith terlihat sangat senang selagi mengatakannya dan baginya, kesegaran baru yang sedikit mengurangi berat punggungnya.
Tentunya dia tahu itu hanyalah guyonan yang menyenangkan belaka. Meski begitu, Tirith tetap berharap bahwa di masa depan dia akan benar-benar menjadi istri sah Rigel.
"Ya... Kapanpun kau butuh, aku akan melakukannya untukmu."
Rigel hanya sedikit mendengus selagi mengikat tali pakaian Tirith dan begitu selesai, dia mengatakan, "Kalau begitu, langsung saja kau pergi ikut aku."
Tanpa mengatakan apapun lagi Rigel menggendong Tirith di pelukannya dan pergi keluar kamar. Tirith terkejut dan sedikit menjerit, dia benar-benar tidak habis pikir bahwa Rigel selalu bertindak tidak senonoh seperti ini. Bahkan saat awal perjumpaan mereka, Rigel melakukan sesuatu yang tidak akan di lakukan Pahlawan, yaitu buang angin.
Begitu di luar kamar Tirith, Rigel meminta salah satu pelayan bahwa dia akan membawa Tirith bersamanya ke Region. Jika saja dia tidak mengatakan apapun, kemungkinan besar akan menimbulkan kepanikan dan keributan yang tidak di butuhkan. Pelayan itu hendak pergi, namun Rigel menghentikannya.
"Ahh, benar juga. Apa Pahlawan lain ada di sini?"
"Ya, saat ini Pahlawan Panah nona Yuri dan Pahlawan tombak tuan Takumi sedang berada di istana. Namun mohon maaf, saya tidak tahu sedang berada di mana mereka saat ini." Dia membungkuk hormat untuk meminta maaf.
"Yasudah, silahkan pergi. Aku akan mencarinya sendiri."
Meninggalkan itu, pelayan itu kembali menunduk dan Rigel pergi, tujuan pertamanya adalah kamar Takumi. Meski tidak tahu apakah kamar Takumi sudah berpindah semenjak terakhir kali dia di sini atau belum, namun tidak ada salahnya mencari.
"Umm, Rigel. Aku bisa berjalan dengan kakiku, bisakah kau menurunkanku?"
Nampaknya di gendong seperti itu membuatnya bermasalah dan malu terhadap pelayan yang memperhatikannya. Rigel sendiri tidak terlalu bermasalah dengan itu, namun sepertinya memang jauh lebih baik baginya menurunkannya.
Mereka berjalan dan tidak butuh waktu lama tiba di kamar Takumi. Tirith hendak mengetuknya, namun Rigel menendangnya seperti yang di lakukannya kepada pintu kamar Tirith.
"Ri-Rigel! Kau terlalu tidak sopan!"
"Apa pedulinya. Menunggu dia membuka membuang waktu..." Rigel dan Tirith terkesima dengan pemandangan di depan mereka.
Di sana, terdapat Takumi yang mendorong Yuri di kasur dan hendak melakukan sesuatu dengan bibir hampir bersentuhan, namun mereka terhenti dan melihat seseorang yang menendang pintu kamar dengan kasar. Rigel tidak menduga akan jadi begini, dan dia mengambil pintu di satu sisi dan Tirith di sisi lainnya lalu menutupnya perlahan.
"Maaf mengganggu, aku akan datang malam nanti. Ahh, dan juga kuberikan ini sebagai hadiah." Rigel melemparkan benda bulat seperti balon yang biasa di gunakan sebagai pengaman dan di kenal sebagai alat kontrasepsi.
"Tu-tunggu! Kau salah paham!"
Takumi menghentikan Rigel dan Tirith selagi mati-matian mencoba meluruskan hal yang di lihat dan menganggapnya hanya salah paham.
"Begitulah, jadi jangan salah paham dan memberikanku ******!"
"Ya ya, aku mengerti, jadi berhentilah membicarakannya karena Yuri ingin menangis!"
Mengesampingkan kejadian yang di lihat Rigel sebelumnya, dia mulai menjelaskan kepada Takumi dan Yuri tentang keberadaan Pilar Iblis di Darkness dan meminta mereka bersiap kapanpun saat Rigel membutuhkannya.
Alasan Rigel memilih mereka berdua karena dia telah lama mengenal mereka sehingga lebih bisa mempercayai mereka. Terutama Takumi yang bisa dia panggil sahabat baiknya.
"Gunakanlah ini untuk pergi ke Darkness. Aku telah meminta budak di sana menyiapkan Lift Teleport jadi tidak perlu risau. Ingat, jangan lakukan apapun untuk sementara, kau hanya perlu menambahkan tempat itu ke daftar Teleportasi lalu kembali. Kalau begitu, aku pergi dulu, ada banyak hal yang perlu di tangani."
"Ya. Jika ada hal lain di pundakmu, berikan saja sebagian kepadaku." Takuni tersenyum dan mengulurkan tinjunya. Rigel juga tersenyum, mengulurkan balik tinjunya ke tinju Takumi.
"Ya, akan kulakukan itu jika di butuhkan."
Meninggalkan kata-kata itu, Rigel meraih tangan Tirith dan berteleport ke Region. Bersama Tirith, dia tiba di ruang tahta dan mendapati Asoka yang duduk dan mengerjakan tumpukan kertas itu.
Dia terkejut begitu melihat Rigel membawa Tirith bersamanya dan tidak memahami tujuan jelas Rigel melakukannya.
"Apa kau baik-baik saja, Yang Mulia Asoka? Dirimu terlihat berantakan dengan setumpuk kertas di sana." Bahkan Tirith tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.
"Ya, aku tidak apa-apa, putri Tirith. Aju hanya sedikit kelelahan saja akan tumpukan ini." Dia memaksakan senyuman.
"Karena itulah, Tirith, aku ingin kau menggantikan Asoka untuk sementara mengurus tumpukan sampah itu? Aku ingin setidaknya Asoka beristirahat dan mengembalikan produktifitasnya kembali."
Tirith seorang putri dan keluarga kerajaan, tentunya dia tahu banyak tentang politik dan segala hal untuk mengurus negara. Selain itu, Rigel tahu bahwa mungkin Tirith merasa bosan karena tidak memiliki banyak kegiatan di Britannia dan Rigel ingin menunjukkan hal yang tidak pernah sempat dia tunjukan kepadanya.
"Tidak bisa, aku tidak bisa merepotkan putri Tirith melakukan pekerjaanku!" Asoka berusaha menolak, namun Tirith sendiri tidak merasa bermasalah.
"Tidak apa, Yang Mulia Asoka. Aku sendiri tidak keberatan. Namun dari pada itu, kenapa bukan kau sendiri yang melakukannya Rigel?"
"Jika aku melakukannya, kemungkinan besar negara kecil akan membentuk aliansi untuk melawan Region dan pada akhirnya aku melenyapkan negara mereka dari peta. Aku sendiri tidak masalah, namun itu terlalu merepotkan dan membuang sumber daya."
Tentunya itu bisa terjadi. Pikir Tirith.
"Kalau begitu, Asoka. Bagaimana kita melakukan peregangan dengan menghajar monster? Aku akan membawamu."
Meninggalkan kata-kata itu, mau tidak mau Asoka ikut bersama Rigel berburu monster. Hari masih panjang, monster kuat akan aktif pada malam hari dan ini saat yang bagus melakukannya.