The Legends Of Creator Hero

The Legends Of Creator Hero
The Juggernaut



Transformasi kranos Marionette, ukurannya tudak bisa dianggap remeh. Namun untuk kekuatannya, belum dapat dipastikan apakah bertambah kuat atau tidak dan saat ini, bersama Gahdevi, Rigel akan mencoba mencari tahu.


Mereka sama-sama berlari menerjang Marionette dan mendaki naik melalui kaki dari dua sisi yang berbeda.


"Kau yang meminta dihancurkan, kau yang meminta dilumatkan, kau yang minta diinjak, kau yang minta dihaluskan, kau yang minta digeprek..., jadilah babi baik dan biarkan tubuhmu hancur, remuk, gepeng, rata dengan kekuatanku!"


Ratusan bilah melesat keluar dari seluruh tubuh Marionette. Rigel san Gahdevi mau tidak mau harus menyingkir jika tidak ingin terkena olehnya. Namun, tetap saja bilah itu melesat dan menjadikan kota Darkness dihujani bilah pedang.


Jika begitu, tidak hanya tentara Region, tetapi para budak yang tidak berlindung di bawah apapun akan mati karena hujan pedang itu. Rigel hanya bisa mendecakan lidahnya dan mau tidak mau mengaktifkan Void untuk mengurangi dampaknya.


"Tahap satu : Kehampaan..., kembalilah menjadi kehampaan!"


Cahaya biru menyinari kota dan bersamaan dengan hilangnya cahaya, ratusan bilah pedang menghilang. Untuk mengantisipasi hal yang sama terjadi lagi, Rigel menciptakan payung raksasa yang terbuat dari logam. Ukurannya cukup besar untuk setidaknya melindungi semua orang di kota.


Meski Rigel tidak memberi instruksi apapun, dia yakin Asoka dan tentara akan langsung mengerti hanya dari melihatnya saja. Tentunya dia tidak dapat menjamin payung itu dapat melindungi semua orang, namun itu jauh lebih baik daripada tidak ada perlindungan sama sekali.


"Saya tahu anda kuat, namun ini benar-benar di luar perkiraan, tuan Pahlawan," Gahdevi berdecak kagum selagi menatap payung raksasa yang lebih mirip pohon beringin.


"Bahas itu nanti saja, orang gila itu nampaknya akan melakukan hal gila lainnya!"


Sekarang dia sudah terlanjur mengaktifkan Void miliknya, tidak ada lagi alasan untuk menarik kembali. Meski situasi terlihat buruk karena Marionette menjadi sangat besar, namun hal baik dari itu adalah tidak lagi dibutuhkan untuk melenyapkan para bonekanya yang tersebar. Dia tentu bisa menggunakan Territory untuk memusnahkan Marionette dalam hitungan detik, namun itu hanya akan menjadi pilihan terakhir.


Lagipula terlalu berisiko menggunakannya di sini, karena masih ada kemungkinan keberadaan Pilar iblis lain atau musuh misterius yang menculik Priscilla. Bukannya tidak ada kemungkinan bagi mereka untuk menyaksikan pertarungan saat ini. Untuk itulah Rigel tidak ingin mengungkapkan kartu terkuatnya.


Marionette mulai mengayunkan telapak tangam besarnya dan menyapu bersih puing-puing sekitar dengan angin kencang dari ayunan tangannya. Mungkin dia berniat untuk membersihkan sekitar agar Rigel dan Gahdevi tidak memiliki tempat untuk bersembunyi.


Rigel dan Gahdevi kembali berpencar dan menyerang dari dua sisi berbeda. Rigel mengulurkan jari telunjuknya dan melemparkan cahaya kebiruan yang menuju langsung kepala Marionette.


"Void Of Destruction!"


Kepala Marionette mengalami kerusakan yang cukup buruk, namun hal itu tidak akan pernah bisa membunuhnya, karena kepalanya dapat dengan mudah pulih. Namun setidaknya kekuatan Void dapat menyentuh jiwanya dan membuat Marionette merasa sakit.


"Ahh! keparat, sialan, brengsek, tahi anjing!!"


Serangkaian kutukan diucapkan, namun dia tidak ada waktu untuk terus melanjutkan. Gahdevi yang berada di sisi lain mengepalkan tinju kiri yang merupakan tangan dominannya dengan erat. Dia berlari dan berhenti begitu mendekati kaki Marionette dan menghancurkannya.


"Juggernaut Punch!!"


Kaki bagian kiri Marionette hancur dan membuat tubuh besarnya kehilangan keseimbangan. Rigel menggunakan kesempatan itu untuj melompat langsung ke pinggang Marionette dan melemparkan lebih banyak kekuatan Void untuk mengikis jiwa Marionette secara perlahan.


"Sakit! itu sakit bajingan, kampret, tahi! Hentikan itu!!!"


"Tenang saja! Kau tidak akan merasakan sakit lagi jika kau mau menurutiku dan mati!"


Marionette kembali menciptakan ratusan pedang dari tubuhnya untuk mengusir Rigel dari tempatnya. Rigel melompat menjauh, bersamaan dengan itu kaki Marionette kembali tumbuh dan dari tangannya terbentuk gumpalan Mana padat yang dapat meledak kapanpun.


Gahdevi dan Rigel segera menyingkir sejauh mungkin untuk menjauh dari lintasan ledakan Mana, namun terlambat karena jangkauannya begitu luas sehingga Rigel tidak memiliki pilihan selain melenyapkannya.


"Kembalilah menjadi kehampaan..."


Ledakan Mana menghilang dalam perjalanannya, bahkan Gahdevi benar-benar terkagum dengan hal yang hampir mustahil, namun dilakukan dengan mudah oleh Rigel. Marionette menjadi semakin marah dan menghentak-hentakan kakinya ke tanah.


"Apa-apaan itu!! Apa yang kau perbuat, apa yang kau lakukan, apa yang kau coba, apa yang kauinginkan! keparat, sialan, tahu, babi, anjing!!"


Mengabaikan protes gila Marionette, Rigel melemparkan Void of Destruction yang kekuatannya dapat mengikis jiwa Marionette dan memberikan rasa sakir yang teramat sakit kepadanya. Namun itu saja tidak akan cukup untuk melenyapkan Marionette. Rigel benar-benar ingin langsung melenyapkannya dengan Territory Void yang dapat menghapus keberadaan seseorang, namun dia tidak dapat mengungkap kartu truf terkuat begitu saja.


Dominasi mungkin dapat dilakukan, namun itu memakan waktu. Selain itu, Marionette tidak akan tinggal diam selagi aku melakukannya..., batin Rigel.


Marionette hanya membutuhkan waktu sekitar 5 detik untuk memulihkan kakinya. Sementara dominasi Void membutuhkan waktu tiga kali lebih banyak dari itu. Terkecuali, jika ukuran Marionette diperkecil, dia mungkin dapat melakukannya dengan waktu 8 detik.


Yah, tidak ada salahnya mencoba..., batinnya.


Marionette menciptakan bola ledakan Mana lainnya, namun Rigel menghapusnya lagi dengan mudah. Gahdevi melangkah maju dan mengulurkan tinju supernya menuju tangan kanan Marionette untuk mencegahnya membuat ledakan Mana.


"Hand Of Midas...," Rigel menciptakan tangan Mana yang bergerak seakan tangannya sendiri dan menggabungkannya dengan Skill lain, "Purgatory : tangan penyucian!"


Tangan yang awalnya keemasan berubah menjadi tangan kebiruan yang terbakar oleh nyala api. Ini kali pertama baginya menggabungkan dua Skill dan melahirkan teknik serangan baru. Memang terlihat menyusahkan, namun ini benar-benar hebat.


Dengan tangan Mana besarnya, Rigel memberikan tinju kuat kepada kaki kanan Marionette, lalu mencengkramnya dengan erat sampai hancur. Tidak cukup sampai situ, Rigel membakar kaki Marionette untuk mencegahnya tumbuh kembali selagi Marionette kehilangan keseimbangan.


Rigel melompat dan melemparkan pukulan kuat untuk membuat tubuh besar Marionette benar-benar jatuh kali ini. Gahdevi juga membantu dengan terjun bebas dari udara seperti sebuah meteor.


Angin berhembus kencang akibat jatuhnya raksasa Marionette. Hembusan angin menghempaskan segala hal yang dilaluinya, seperti puing dari bangunan yang hancur sampai kandang budak. Beruntungnya tentara Region dan orang-orang dari Darkness berhasil mengungsi tepat waktu ke bawah payung raksasa buatan Rigel.


"Eghh! Apakah Rigel berhasil mengalahkannya??" ucap Asoka selagi menutup wajahnya dengan lengan karena angin kencang yang berhembus.


Selagi memikirkan apakah Rigel telah berhasil atau belum, dia melihat tiga orang tengah berlari ke arahnya. Asoka mengenali salah satunya, dia adalah Leo. Sementara dua lainnya adalah wajah yang baru dia lihat.


"Garfiel!!" Theresia berlari menghampiri Garfiel dan memeluknya. Dia benar-benar senang bahwa keluarga satu-satunya yang dimiliki selamat dari pertempuran yang berbahaya.


"Syukurlah kau baik-baik saja, kak!"


"Begitu juga kau, Garfiel," balas Theresia dengan lembut.


"Kak Asoka!"


Leo dan wajah baru di sisinya menghampiri Asoka. Sebelum memulai pembicaraan orang itu berlutut dan memperkenalkan diri.


"Jika dilihat dari penampilan anda yang berbeda, maka saya dapat menyimpulkan anda adalah raja kerajaan Region... Salam kenal, Yang Mulia. Nama saya adalah Odin Blacksword. Saya sekarang adalah bawahan yang sudah memberikan kesetiaannya kepada Pahlawan Rigel."


Asoka sedikit terkejut mendengar Rigel mendapat bawahan baru di tempat yang seharusnya tidak mudah untuk mencari orang yang dapat dipercaya. Yah, untuk saat ini lebih baik mengesampingkannya dan fokus pada apa yang ada di depan mereka.


"Salam kenal juga, aku Asoka Van Yurazania, mantan pangeran kerajaan Yurazania dan kini menjadi raja pertama kerajaan Region di bawah pemerintahanku. Mari kita lewatkan itu saat ini," Asoka menoleh kesumber angin dan pertempuran utama berada.


"Keadaan terkini masih tidak dapat dipastikan, apakah Rigel telah mengalahkan raksasa itu atau belum. Apakah kalian memiliki informasi apapun tentang pertarungan?"


Odin menggelengkan kepalanya, karena dia tidak berada di arena. Dia diperintahkan Rigel untuk mengawasi Moris dan bertepatan dengan itu, kekacauan yang dibuat Marionette pecah.


Leo tentunya khawatir terhadap Rigel. Lagipula ini adalah pertempuran pertama yang dia miliki, wajar baginya merasa tidak sabaran dan begitu khawatir. Namun, justru dalam pertempuran seperti ini, kemampuan berpikir kritis dan tetap bertindak rasional dibutuhkan. Mereka harus dengan baik mempertimbangkan mana yang harus diutamakan dan yang mana harus dikesampingkan.


"Rigel bukanlah orang yang lemah, aku sangat yakin dia tidak akan mati dipertarungan ini. Namun, aku memiliki keyakinan kuat bahwa Rigel menahan diri akan sesuatu misalnya seperti...," Asoka mulai mempertimbangkan kemungkinan.


Rigel selalu melakukan berbagai hal di belakangnya tanpa dia ketahui. Mempertimbangkan kepribadianya, pastinya ada hal yang membuat Rigel berwaspada dan tidak mengeluarkan banyak dari kekuatannya.


Jika begitu Rigel berada dalam kesulitan, kayaknya..., batin Asoka.


"Aku telah memutuskan..., pertama, kita bawa pergi semua orang dari tempat ini, karena akan berbahaya jika terdapat serangan liar mengarah ke tempat ini. Pergi keluar bukan pilihan, karena bukan berarti kita bebas dari ancaman... Karena itu, Leo. Aku ingin kau menuntun mereka kembali ke Region menggunakan Lift teleport. Selain Rigel, kaulah satu-satunya orang yang dapat mengakses Ciel. Lalu, aku dan Odin akan pergi ke tempat Rigel sebagai bala bantuan."


Odin sedikit terkejut akan keputusan Asoka yang benar-benar tepat. Meskipun usia Asoka masih muda, dia telah dapat membimbing orang-orang ke jalan yang benar dan tepat. Selain itu, meski dia dan Asoka tidak kembali hidup-hidup, setidaknya mereka telah menyelamatkan banyak orang. Odin mungkin akhirnya mengerti, mengapa Rigel memilih orang ini menjadi raja ketimbang dirinya sendiri.


Asoka melangkah maju memimpin jalan selagi membuka kancing bajunya dan membiarkan bajunya bergelantung di sekitar pinggangnya.


"Sepertinya aku harus serius dari awal, jika tidak ingin kehilangan nyawa," dia mendengus geli dan menggumamkan, "Transform!"


"Huh?!" x3.


Odin, Leo dan Garfiel begitu terkejut ketika melihar Asoka perlahan berubah. Kulitnya ditumbuhi bulu tipis kecoklatan, rambutnya memanjang, mata dan taringnya melambangkan hewan buas.


Leo tidak pernah mendengar bahwa raja Region memilik Tranformasi binatang. Sementara Garfiel dan Theresia benar-benar terkejut bahwa ada orang lain selain ras Hakurou yang dapat bertransformasi sepertu itu.


"Jadi begitu..., saya pernah mendengar tentang darah spesial milik Clan Yurazania. Jadi seperti ini perwujudan Singa Emas, Asland. Ini pertama kali aku melihat Beastman," Odin tersenyum dan terkagum terhadap pemandangan langka di depannya.


"Yah, kita bicarakan itu nanti, sekarang mari kita lakukan tugas masing-masing. Tolong ya, Leo."


Tanpa perlu membuang waktu, Asoka dan Odin melesat bagaikan udara, menuju panggung utama berada.


Kembali ke pertarungan, Rigel berhasil menjatuhkan tubuh besar Marionette dan kini dia tengah mengumpulkan banyak tenaga di lengan kanannya. Rigel melemparkan Asura Punch yang terbakar oleh nyala api Purgatory dan membakar bagian bawah tubuh Marionette.


Tubuh kranosnya kini sisa setengah bagian. Dia juga tidak dapat beregenerasi selama api Purgatory terus membakar bagian tubuh yang beregenerasi.


"Bajingan, sialan, keparat, brengsek, otak udang! Kau pikir aku akan mati hanya dengan ini? Kau pikir aku akan binasa dengan ini?? Kau salah, Aludra bodoh! Aku tidak akan bisa mati dengan cara rendahan seperti ini!!"


Memang benar, bahwa tidak perduli berapa kalipun Rigel menghancurkan tubuh Marionette, dia tidak akan bisa mati. Bahkan api Purgatory tidak memiliki banyak dampak terhadap jiwa Marionette. Namun, tentunya Rigel tidak akan sebodoh itu untuk melakukan tindakan tanpa alasan.


"Justru kau yang salah, Marionette. Tujuanku adalah ini..., Dominasi!"


Rune di tangan kanannya bersinar terang dan mengalirkan garis biru ke seluruh tubuh Marionette secara perlahan.


"Ahhh! Apa ini?! Ada apa ini?! mengapa terasa sakit, mengapa terasa terbakar, mengapa terasa terluka, mengapa, mengapa, mengapa!!"


Tentunya Void dapat menghasilkan kerusakan tidak hanya pada tubuh, tetapi pada jiwa juga. Marionette menggeliat kesakitan, namun Rigel tidak perduli dan tetap melanjutkan dominasinya.


"Aludra!!"


Marionette kembali berteriak dan melemparkan ratusan pedang dari tubuhnya, yang membuat dominasi Rigel gagal.


"Tch! Padahal hampir saja...," Rigel merasa kesal karena gagal melakukannya, namun selagi dia mengutuk tangan Marionette hendak meraihnya.


Rigel mengulurkan tangan kirinya dan menggunakan Material Burst untuk menghempaskan dirinya menjauh dari genggaman Marionette.


"Sepertinya melawan orang ini tidak mudah ya, tuan Pahlawan," Ujar Gahdevi selagi meregangkan tubuhnya di samping Rigel.


Rigel tidak mengerti mengapa Gahdevi melakukan peregangan di saat seperti ini. Namun itu tidak penting sekarang ini.


"Ya..., sepertinya aku memang tidak bisa bertarung setengah hati," ujar Rigel.


Terdengar seperti lawakan, namun Gahdevi tahu bahwa Rigel tidak sedang melawak. Bukti bahwa tidak ada keringat ataupun debu yang menempel pada tubuh Rigel, menjadikan hal itu tidak dapat ditertawakan. Bahkan Gahdevi sendiri memiliki beberapa luka kecil di tubuhnya yang tebal.


"Kalau begitu nampaknya tidak ada pilihan lain, namun sebelum itu..., ini memang bukan waktunya tapi, tuan Pahlawan, maukah kau mempekerjakanku sebagai prajuritmu setelah ini berakhir?"


Memang terlalu mendadak, namun Gahdevi nampak tidak bercanda. Rigel sendiri mengakui kekuatannya, terutama pemulihan dirinya. Lengannya yang hampir putus sebelumnya telah benar-benar pulih, brgitu juga luka gores di tubuhnya. Jika harus membandingkan, Gahdevi setara atau mungkin jauh lebih kuat ketimbang Odin. Namun, jawaban terbaik yang bisa Rigel berikan saat ini adalah...,


"Itu tergantung, seberapa bergunanya dirimu bagiku. Jika kau hanya berniat untuk bermalas-malasan, maka tidak ada alasan bagiku menerimanya. Tergantung apa niat dan tujuanmu juga, itu akan mempengaruhi keputusanku untuk mempekerjakanmu atau tidak..., Yah, jika harus jujur, aku mengakui kau berkemampuan."


Mungkin Gahdevi tidak puas dengan jawaban Rigel, namun dia benar-benar tidak memperdulikannya. Namun, reaksi Gahdevi justru di luar bayangan.


"Hahaha!! Itu sudah cukup, tuan Pahlawan. Kalau begitu, akan kutunjukan seberapa bergunanya aku," Gahdevi melepaskan pakaiannya dan memperlihatkan rantai menyilang yang mengikat tubuhnya.


Rigel terkejut terhadap fakta bahwa Gahdevi bertarung dengan tubuh terkekang seperti itu. Selain itu, rantai itu nampaknya bukanlah rantai biasa. Kekuatan yang tersimpan di dalamnya begitu besar, hampir seperti pedang Odin dan Kusanagi.


"Rantai itu...," Rigel sengaja bergumam, meski dia tidak tahu rantai apa itu. Namun dia yakin Gahdevi akan mengatakannya jika dia bergumam seakan dirinya tahu.


"Benar, tuan Pahlawan. Rantai ini adalah Gleipnir atau biasa dikenal dengan pengekang kemustahilan."


Gahdevi mengabaikan Rigel dan melangkah maju dengan percaya diri. Tubuh besar Marionette perlahan pulih. Dia sengaja menghancurkan tubuhnya yang terbakar dan merekonstruksi ulang. Gahdevi berhadapan langsung dengan tubuh raksasa Marionette, namun tidak ada jejak ketakutan di wajah tersenyum Gahdevi.


Dia dengan santai melepaskan pengikat bundar yang berada di dadanya dan membuat rantai di tubuhnya berjatuhan.


Ahh~ aku ingat sesuatu tentang nama Gleipnir. Kalau tidak salah itu adalah rantai buatan kurcaci yang tidak akan pernah terputus dan mendekati kemustahilan..., batin Rigel.


Bertepatan dengan lepasnya rantai yang mengekang tubuhnya, gahdevi berlari menerjang langsung Marionette dengan wajah yang begitu senang.


"Sepertinya raksasa memang harus dilawan dengan raksasa, YAA!!" Gahdevi melompat dan meneriakan, "JUGGERNAUT!!!"


Cahaya keemasan menyinari kota Darkness. Angin bergemuruh, tanah berguncang dan sosok raksasa lainnya muncul untuk bergelut dengan Marionette.


"Hehe..., Hehehe..., patut kekuatan fisik dan pemulihannya benar-benar terlalu cepat, namun aku tidak terkejut lagi bila mengetahui bahwa dia adalah raksasa," gumam Rigel dengan kagum.


Rantai Gleipnir, rantai kemustahilan itu nampaknya berguna untuk menahan kekuatan gila dari raksasa miliknya. Bukan ketakutan atau kekesalan yang dia rasakan, tetapi perasaan kagum dan ingin bertarung saja yang tumbuh di dalam hati Rigel.


Sekarang, pertarungan akhir dengan Marionette telah mendekati akhir..., batin Rigel.