The Legends Of Creator Hero

The Legends Of Creator Hero
Babak Kedua



Kekosongan, hanya ada kekosongan tiada akhir. Dia tidak lagi dapat membedakan arah. Entah itu kiri atau kanan, depan atau belakang, atas atau bawah. Apa aku telah mati? Begitulah yang terpikirkan White Tiger.


Namun seharusnya itu tidak mungkin terjadi, karena para manusia itu belum menemui dirinya secara langsung. Dia tidak akan pernah mati di sini selama 'jati dirinya' aman-aman saja.


Tempat ini hanya memiliki hitam dan putih seluruhnya, bak langit malam yang dihiasi sinar bintang redup. Sulit membedakan yang mana atas dan bawah. Dirinya serasa melayang di hamparan langit luas. Menakjubkan, namun mengerikan disisi lain. Dia tidak tahu tempat semacam ini ada di dunia. Bila memang ada, maka hanya Territory jawabannya.


"Selamat datang di duniaku, mahkluk kotor!"


Sebuah suara menggema, seakan hanya suara itu Yang ada di dunia ini. Mencari ke tempat sekitar, namun tidak ada apapun. Hanya dirinya dan kekosongan tanpa batas yang berada di tempat ini.


"Tunjukkanlah dirimu, manusia!!"


White Tiger tahu bahwa semua yang dialami saat ini ulah manusia yang berhadapan dengannya. Manusia kedua yang dirinya akui sebagai sosok yang sangat berbahaya, sama halnya dengan pria itu. Bau tubuh mereka sama, tidak mungkin baginya salah mengingat bau tubuh, dikarenakan Indra penciumannya lebih tajam dari siapapun di dunia. Kendati dia memiliki hubungan dengan orang itu, maka tak diragukan lagi.


Tetapi, seharusnya hal semacam itulah yang mustahil. Tak perduli seberapa kuat seorang manusia, mereka tetaplah manusia. Kelemahan mutlak terletak kepada umur mereka. Tidak perduli sejauh mana mereka mencari kekuatan, mereka tidak akan pernah mencapai keabadian, tanpa campur tangan sosok tertentu.


Pria itu hidup pada seribu tahun lalu, sementara dia di masa seribu tahun setelah masa hidup pria itu. Hubungan yang berlangsung selama seribu tahun tidak akan sama, bahkan gen darah akan berubah seiring waktu. Namun, nyatanya orang ini memiliki aroma yang sama. Mungkin hanyalah sebuah kebetulan, perangai White Tiger.


"Untuk apa? Lagipula kau akan mati. Yah, tapi setidaknya aku akan melakukannya untuk mengatakan beberapa hal."


Suaranya kembali menggema, namun kali ini, wujudnya terwujud dan tengah berdiri di depannya. Meskipun Rigel berkata tidak ingin melakukannya, namun dia malah melakukan sebaliknya. Bila ingin melenyapkan White Tiger, dia tidak perlu melakukan kontak langsung dengannya. Karena dengan berada di World Of Void, White Tiger telah dipastikan jatuh ke tangannya.


Begitu melihat sosok Rigel, White Tiger mengaum keras dan menerjangnya. Pertahanan Rigel nampak terbuka, tidak ada tanda-tanda bahwa dirinya akan bertahan. Namun, secara mengejutkan White Tiger tidak dapat menyentuhnya. Dia mengayunkan cakarnya, mencoba untuk membelek perutnya, namun lagi-lagi gagal. Seakan sesuatu di depannya hanyalah bayangan menyerupai nya.


Apa yang terjadi, mengapa tak mengenainya? Mungkinkah karena tempat ini?? perangai White Tiger. Dia terus mencoba mengoyak Rigel, namun tak satupun serangannya menyentuhnya. Hingga akhirnya, dia menyadari sesuatu.


"Mungkinkah...,"


"Benar," Rigel menyela ketika White Tiger tepat menyadarinya, "bukan aku yang tak bisa disentuh, tetapi kau yang tak bisa menyentuhku."


White Tiger mengambil satu langkah mundur, tidak percaya terhadap sesuatu yang didengar. Rigel merentangkan tangan, selayaknya menunjukkan dunia yang dimilikinya sangatlah agung.


"Di dunia ini, otoritas terhadap hukum alam, hukum dunia, hukum fisika atau bahkan waktu berada di tanganku. Segalanya dapat ditiadakan, segalanya dapat dimusnahkan dan segalanya dapat dihancurkan."


Tempat dimana segala hal yang ada di dunia tidak berlaku. Bahkan mencoba mencari jawaban dengan akal sehat tidak akan berlaku. Sesuatu yang tidak akan pernah dipahami orang-orang termasuk Rigel sendiri. Dialah kehampaan, sesuatu yang tidak dapat dijelaskan melalui kata-kata.


"Selamat datang di duniaku, World Of Void! Dimana yang ada menjadi ketiadaan! Kembali kepada titik awal, kehampaan. Sekarang, mari kita berdiskusi sebelum kau menuju ketiadaan."


Lebih tepatnya Territory of Void. Kekuatan yang kedua kalinya baru dia gunakan semenjak pertarungan melawan Tortoise. Nyatanya, terdapat perbedaan besar dengan yang dahulu dan saat ini.


Territory Of Void saat lalu cukup kuat dan setidaknya kelelahan yang diterima tidak sampai terlalu mempengaruhinya. Namun kali ini berbeda, saat menggunakannya, suhu tubuh Rigel naik hingga dia berfikir dirinya mengalami demam secara mendadak.


Seharusnya dirinya tidak akan mudah terserang penyakit, mengingat dia selalu menjaga imunitas tubuh tetap baik. Ada kemungkinan besar bahwa kurangnya tidur yang dia miliki, karena sangat jarang dia tertidur saat malam. Hal itu disebabkan karena dia telah terbiasa melakukannya saat di Labyrinth neraka, selama mendapatkan cairan dan asupan gizi yang cukup.


Sepertinya aku memang harus menghilangkan kebiasaan itu, tapi..., bodo amatlah, perangainya.


"Void? Tidak pernah terlintas di telingaku kekuatan semacam itu, kayaknya."


Itu karena kemungkinan besar hanya Rigel yang mendapatkannya. Kekuatan itu diberikan oleh seseorang yang menyebut dirinya dewa, Azartooth. Kebenaran tentang identitasnya memang tidak diketahui. Entah dia benar-benar dewa atau sesuatu yang lain, yah mari lewatkan dia untuk sekarang.


Dia mengakui bahwa Void adalah kekuatan yang sangat hebat dan berkatnya, Rigel berhasil lolos dari masa-masa sulit. Pada awalnya dia tidak berniat untuk terlalu bergantung pada kekuatan itu, karena firasat buruk yang mengatakan bahwa Rigel akan menyesalinya diakhiri. Namun tetap saja pada akhirnya dia ketergantungan selayaknya orang yang mengonsumsi narkotika. Tidak dapat lepas darinya.


"Tidak penting apakah kau pernah atau tidak menjumpai kekuatanku. Sekarang, sebelum kau menemui kematian, sebaiknya kau bicara tentang pria bernama Aludra dan sesuatu yang kau ketahui mengenai kebenaran dari Ragnarok."


Sejauh yang dia amati, para monster malapetaka mengetahui sesuatu yang ingin dia ketahui. Memang sangat disayangkan bahwa tidak ada informasi menarik dari mengalahkan Hydra, namun setidaknya dia mendapat beberapa hal menarik dari Antares. Yang mengakui dirinya sebagai putra Azartooth.


"Aku tidak tahu apapu—Gargh!!"


Perkataannya belum selesai, namun sesuatu yang tidak terduga terjadi.Tubuhnya remuk, seakan diperas oleh sesuatu sehingga mengeluarkan jus darah dari tubuhnya. Rasa sakit, sesuatu yang sudah sangat lama tidak dia rasakan. Bukan karena tidak ada orang yang dapat melukainya, namun tidak ada yang mengetahui kebenaran dari jati dirinya. Sangat tidak mungkin dia dapat merasakan sakit, terkecuali terdapat sesuatu yang mengoyak jiwa dan meremas jiwa miliknya.


"Kutanyakan sekali lagi, katakan semua yang kau ketahui!"


Menatap tatapan dingin yang nian mengerikan, White Tiger sedikit tersentak dan menatap balik dengan amarah yang menggelegar. Belum pernah dia mendapat penghinaan seperti ini. Baginya ini adalah kali pertama setelah seribu tahun dia jatuh serendah ini. Setidaknya, dia menginginkan kematian terhadap tubuh palsunya.


"Bunuh saja aku— Guargh!!!"


Tubuhnya kembali diperas selayaknya jeruk. Darah kembali keluar dari tubuhnya dan perlahan Rigel memelintir tubuh White Tiger. Karena tidak perduli seberapa jauh dia menyiksa White Tiger, tanpa izin darinya, dia tidak akan mati di dalam World Of Void.


"Tentunya akan kubunuh kau, setelah mendengar apa yang ingin kudengar!"


Tidak perduli seberapa lama dia menolak menjawab dan membiarkan Rigel memainkan permainan siksaan ini, Rigel tidak akan berhenti, sebelum dia mendapat sebuah hal penting.


Penyiksaan terus berlanjut, entah berapa lama waktu berlalu, dia tidak mengetahuinya. Dikarenakan Void Territory melenyapkan konsep waktu dunia. Kendati dia menghitung hari di Territory Void dengan kepalanya, bahkan jika itu lewat satu tahun, ada kemungkinan hanya berlalu satu jam di luar Territory.


Setelah lelah dengan rasa sakit dan beban mental yang diterimanya, White Tiger merelakan harga diri dengan patuh menuruti Rigel.


"Aku..., akan bicara...," ujarnya terengah-engah.


"Tentang Ragnarok, tidak ada apapun yang dapat kukatakan, dikarenakan diriku tidak perduli terhadap perang konyol itu. Namun, aku tertarik mengacaukan peperangan itu di masa depan."


Tentunya terdapat kemungkinan dia berbohong, pasalnya, Rigel tidak mengetahui apa yang ada di dalam kepala kucing itu. Meski dia dapat menyiksanya lagi, namun pilihan bijak untuk diam dan mendengarkan terlebih dahulu.


"Untuk pria itu..., Aludra. Dia adalah sosok yang membenci dunia ini lebih dari siapapun, sosok yang teramat sangat akrab dengan keputus'asaan, lebih dari apapun. Diriku tidak tahu rinciannya, namun dari yang kuingat dia adalah orang biasa yang terpanggil bersama Pahlawan seribu tahun yang lalu."


Sepertinya dia memang tidak berbohong—atau mungkin mencampurkan kebenaran dan kebohongan. Tetapi rasanya tidak, terdapat bagian yang persis halnya dari yang diceritakan Sylph. Tentang Aludra yang tidak sengaja ikut terpanggil. Namun, tetap mengejutkan bahwa nampaknya White Tiger tahu dan ingat lebih banyak ketimbang Sylph. Hal itu patut dicurigai.


"Entah mengapa, nampaknya dia dibuang oleh manusia, yang sejatinya egois. Entah bagaimana, dia berubah dan melakukan segala tindakan yang mengacaukan manusia hingga bahkan dunia. Karena hal itu, diriku menghormatinya, sebagai manusia yang memiliki tujuan sama denganku, kayaknya. Pada suatu ketika, dia datang dan meminta kerja sama dariku untuk memberi penderitaan dan rasa sakit kepada kehidupan. Dia meminta darahku dengan paksa dan hampir membunuhku. Dia menggunakannya kepada manusia, sehingga lahir manusia yang memiliki darahku."


Itulah asal-usul ras Hakurou terlahir. Sejauh ini, tidak ada kebohongan dalam kata-katanya, mungkin dapat dipercaya, mungkin juga tidak. Bisa dibilang, ras Hakurou adalah putra tidak langsung White Tiger


"Lantas keuntungan macam apa yang kau dapatkan??"


"Dengan memakan manusia yang memiliki darahku pada malam bulan purnama, kekuatanku akan meningkat. Entah bagaimana, ucapannya bukan kebohongan belaka."


"Lalu, apakah dia masih hidup atau mati oleh Pahlawan??"


White Tiger terdiam, tetap menatap Rigel dengan kebencian. Dia nampak tidak tahu apa yang harus dikatakan. Bukan karena dia tidak ingin melakukannya, melainkan karena hal lain.


Diriku tidak dapat mengingatnya, kayaknya. Terdapat bagian penting yang tertarik keluar, pada saat terakhir kehidupannya... Aku telah menceritakan semua, kini cepat dan bunuhlah aku!"


Tidak berbeda jauh dengan Sylph rupanya, batin Rigel. Yah, setidaknya dia mendapat beberapa gambaran kecil tentang Aludra. Tidak ada lagi alasan baginya menahan untuk membunuhnya.


"Sesuai permintaanmu."


Rigel mengepalkan jarinya dan menjadikan tubuh White Tiger hancur, menjadi bola daging. Dunia mulai kembali kesemula. Bongkahan daging White Tiger berada di depannya, namun tampak sesuatu yang aneh.


Kabut yang pergi bersamanya tetap ada dan tidak ada jejak akan menghilang. Perlahan, bongkahan daging di depannya berubah menjadi asap dan bergabung bersama kabut.


Ya ampun, belum pernah diriku merasa hina, marah, benci, kesal, murka, kepada seorang manusia!"


Sebuah—puluhan suara berbicara dari dalam kabut. Suara serak yang sama dengan White Tiger. Sorot mata kekuningan menatap dari balik kabut yang melangkah keluar.


"Ayolah, apa kau tengah bercanda...,"


Tidak hanya satu, tetapi ada lebih banyak White Tiger kali ini. Setidaknya, terdapat 10 dari mereka. Menghadapi satu saja cukup sulit, namun bukan itu masalahnya. Tidak ada yang pernah bilang kepadanya, bila White Tiger hidup berkelompok!


"Sekarang, ronde kedua dimulai, manusia!!"