
Takumi dan Takatsumi terus melanjutkan perjalanan mereka dengan suasana canggung. Hal itu di sebabkan oleh apa yang di katakan Takumi sebelumnua dan itu menyisakan suasana tegang. Setelah cukup lama berjalan dalam keheningan, mereka mulai melihat cahaya berwarna kehijauan.
"Di sana..." Takumi menunjuk ke sesuatu di depannya.
Setibanya di sana, mereka menemukan lautan hijau dan tulang belulang. Ntah itu manusia ataupun monster. Beberapa bebatuan nampaknya juga terbawa ke sini.
"Cairan hijau itu... Asam lambung?" Takatsumi bergumam.
Jika benar berarti ini adalah saluran pencernaan Tortoise. Suatu pemandangan yang menakjubkan meskipun banyak mahkluk hidup di cerna di tempat ini. Takumi melihat-lihat daerah sekitar dengan harapan menemukan sesuatu.
"Sepertinya jalan ini salah ya... kita harus kembali dan menunggu informasi dari Marcel." Takatsumi hendak kembali ke jalan yang di lalui sebelumnya, namun Takumi entah kenapa hanya dia dan melihat sesuatu di sana.
"... Nanami... Itu tubuh Nanami! tubuhnya belum tercerna! kita harus menyelamatkannya untuk memberikan pemakaman yang layak." Takumi dengan tidak sabar hendak terjun ke lautan asam itu.
Melihat itu, Takatsumi menghentikannya dengan cara menarik tangannya. "Hentikan itu, Takumi. Cairan hijau itu bahkan dapat melelehkan sebuah besi, jika kau jatuh ke sana maka itu akhir dari riwayatmu."
Mendengar peringatan Takatsumi, Takumi menelan ludahnya dan menarik nafas dalam untuk menenangkan dirinya. Takatsumi benar, dia harus tetap berpikir rasional dan tidak terburu-buru.
Untuk berjaga jaga, Takumi menancapkan tombaknya dan berpegangan selagi perlahan menghampiri potongan tubuh Nanami yang tersisa. Meski tidak harus membawanya, namun hatinya menolak meninggalkannya. Dia tetap ingin membuat pemakaman yang layak untuknya.
Takatsumi hanya bisa melihat Takumi yang berusaha mengambil tubuh bagian atas Nanami yang terpotonh.
Aku bisa saja mendorong Takumi ke sana dan menghabisinya... Namun, aku khawatir kalau dia tidak akan mati, sama seperti Rigel. Jika aku ingin membunuhnya, maka aku harus melakukannya dengan kedua tanganku sendiri.
Takatsumi mengurungkan niatnya untuk membunuh Takumi saat ini. Tangan Takumi sudah semakin dekat dengan tubuh Nanami yang sudah dingin dan begitu ringan.
"... Dapat." Takumi berseru senang dan menarik tubuh Nanami ke atas dan menggendongnya dengan wajah sedih.
"Maaf Nanami, aku tidak dapat menolongmu pada saat itu. Setidaknya, akan ku buatkan pemakaman yang layak untukmu." Takumi tersenyum sedih dan berjalan kembali selagi membopong mayatnya.
"Apa kau akan bertarung selagi membawa mayatnya itu? kupikir itu hanya akan menghalangimu kedepannya..." Takatsumi memberikannya peringatan.
Itu benar, Takumi tidak mungkin bertarung selagi membawa mayat Nanami di tangannya. Mau tidak mau, dia harus meletakkannya di titik pertemuan.
"... Baiklah. Aku akan meletakkannya di titik pertemuan nanti dan membawanya saat perjalanan pulang. Prioritas utama kita adalah mengalahkan mahkluk besar ini." Takumi menguatkan tekadnya dan bersama Takatsumi, mereka kembali ke titik awal. Dalam perjalanannya, radio kecil di telinga Takumi berbunyi. Panggilan itu datang dari Marcel.
"... Takumi, aku dan Argo menemukan sesuatu yang kemungkinan adalah jantungnya." Marcel menyerukan penemuannya. Mendengar itu, Takumi terkejut namun kata kemungkinan itu membuatnya risih.
"Apa maksudmu dengan kemungkinan? kau tidak yakin kalau yang kau temui itu jangtungnya?"
"Sejujurnya, ya. Aku sendiri masih tidak yakin apakah itu benar-benar jantungnya atau bukan... Yang pasti, dia mengeluarkan denyutan... Pokoknya, kau datanglah ke sini secepatnya! Aku dan Argo belum mencoba mendekatinya karena ada sesuatu yang aneh dari jantung mahkluk ini."
Dari suaranya, Marcel tampaknya sangat khawatir dan risih dengan jantung itu. Memang, pilihan terbaik adalah diam dan menunggu Takatsumi dan Takumi sampai di tempat mereka untuk bergerak bersama-sama.
"Baiklah! aku akan ke tempatmu secepatnya!" Takumi menoleh ke Takatsumi.
Dari sorot mata Takumi, Takatsumi mengetahui nampaknya jalan yang di pilih Argo dan Marcel adalah jalan yang menuju jantung.
"Ayo kita pergi ke sana secepatnya, Takatsumi!" Takumi mulai berlari kembali dan memimpin jalan.
Selagi Takumi dan Takatsumi berlari kembali dan menuju tempat Marcel, di sisi lain, Tim segel nampaknya masih belum mencapai tujuan mereka. Mereka seakan hanya berputar-putar saja. Jalan yang dilaluinya sama sekali tidak jauh berbeda dengan sebelumnya.
"Hei, apa hanya aku saja yang merasa kalau jalan ini tidak ada habisnya?" Aland yang berjalan di barisan belakang mulai menyerukan keluhannya.
"Aku juga sependapat. Ntah kenapa kita seperti berputar-putar saja sejak tadi." Bahkan Petra juga sependapat.
"Namun aku tidak merasakan adanya ilusi atau sejenisnya. Aku yakin kalau kita masih bergerak maju." Nadia menolak pendapat Petra. Di karenakan instingnya yang tajam, dia dapat merasakan sesuatu yang umumnya tidak dapat di rasakan oleh manusia normal.
"Apakah cahaya kecil itu benar-benar menuntun kita ke segel itu berada? di lihat bagaimanapun, dia hanya sebuah kunang-kunang." Aland menatap seberkas cahaya itu dengan lesu.
Mendengar itu, Yuri juga mulai khawatir, "Mungkin, ya. Aku juga tidak mengerti kenapa Rigel mengatakan bahwa cahaya ini akan menuntun kita ke tempat segel berada."
Yuri yakin kalau Rigel tidak akan berbohong untuk hal seperti ini. Namun dia juga sedikit tidak yakin tentang seberkas cahaya yang mencurigakan ini. Bagaimana bisa seberkas cahaya menjadi pemandu? Yah, di dunia gila yang memiliki sihir bukannya mustahil hal seperti itu terjadi.
*Hum, hum..........
Menyadari ada sesuatu yang mulai berubah, Nadia mengendus-endus seperti seekor kucing lucu. Yuri dan yang lain menatap Nadia dengan bingung dan menunggu penjelasan darinya adalah yang terbaik.
".... Ini... Udara di depan sana sedikit lebih dingin. Aku yakin ada sesuatu di depan sana." Nadia menyerukan penemuannya selagi tetap mengendus.
"Mungkin kita sudah dekat dengan tujuan kita! ayo bergegas.” Yuri kembali memimpin semua orang dan berjalan tepat di belakang cahaya yang memandu mereka.
Benar seperti yang di katakan Nadia, semakin mereka bergegas masuk, udara mulai semakin dingin dan daging yang mereka pijaki mulai terasa kering dan sedikit mengeras. Bahkan lendir yang berada di sekitar mulai menghilang.
"Aku melihat cahaya di ujung sana!" Yuri menunjuk dan berlari ke sana bersama dengan pahlawan lain.
Cahaya yang dia lihat semakin terang dan terang, sampai dia mencapai cahaya itu. Butuh beberapa waktu untuk matanya menyesuaikan diri dengan keadaan sekitar.
"... Ini, jadi ini segel yang di buat pahlawan di masa lalu..." Petra bergumam takjub.
Meski ini adalah di dalam tubuh Tortoise, namun terdapat sebuah ruangan luas yang mirip sebuah kuil suci. Ruangannya sendiri berbentuk lingkaran, lantai dan langit-langitnya terbuat dari batu bundar raksasa dengan sebuah coretan yang nampaknya huruf sihir. Batu kristal biru misterius yang menempel di bebatuanlah yang memberikan cahaya di tempat ini. Sesuatu semengagumkan ini tidak akan bisa di buat oleh manusia biasa.
"Apakah ruangan ini terbentuk dari sihir?" Nadia bergumam.
Hanya hal itulah yang masuk akal. Yuri melihat-lihat sekitar dan menemukan empat patung tanpa kepala yang berlutut dengan satu kakinya. Di tengah mereka, sepertinya ada sesuatu. Bahkan cahaya yang di berikan Rigel menuju ke sana. Yuri dan pahlawan lainnya mengikuti cahaya itu dan mengamati empat buah patung yang ada.
"Sepertinya empat patung ini adalah pahlawan generasi sebelumnya yang menyegel Tortoise." Petra bergumam.
Mendengar perkataan Aland, semuanya terkejut dan sedikit prihatin. Para Pahlawan ini mungkin sama seperti mereka, orang yang di panggil dari dunia lain dan harus bertarung demi dunia yang bahkan mereka tidak kenali. Mereka bahkan sampai mengorbankan diri sendiri demi dunia orang lain.
Nadia mengamati tangan mereka satu persatu dan menyadari satu hal, "Sepertinya Aland benar, mereka memegang senjata. Di lihat dari cara mereka memegang, nampaknya senjata mereka adalah Pedang, Tombak, Cakar dan Pisau. Mereka menggunakan senjatanya sendiri untuk mengakhiri hidup mereka dan menciptakan segel yang membutuhkan pengorbanan nyawa." Nadia berkata dengan prihatin.
Ntah seperti apa perjuangan mereka di masa lalu. Yang jelas, mereka lebih banyak menderita dan tidak memiliki waktu untuk bersantai seperti pahlawan di generasi ini.
"Delapan pahlawan mengorbankan nyawa dan tubuhnya untuk membuat batu ramalan, dan empat lainnya mengorbankan nyawa untuk menyegel mahkluk biadap ini. Dari pada kita, kupikir mereka Pahlawan sesungguhnya." Aland berkata dengan sedih dan hormat.
"Mereka melakukan ini dengan harapan bahwa pahlawan setelah mereka dapat mengalahkan Tortoise. Kita tidak boleh membiarkan nyawa mereka sia-sia..." Petra berkata.
Semua orang mengangguk setuju dan menguatkan tekadnya, "Jadi, sekarang bagaimana cara kita menghancurkannya?" Aland bertanya.
Meski dia bertanya seperti itu, tidak ada yang mengetahui caranya. Tidak ada pilihan lain untuk mencoba berbagai cara atau mencari beberapa petunjuk. Selagi semua orang bingung, Yuri madang cahaya keemasan itu menuju ke arah tertentu dan Yuri menyadari bahwa cahaya itu menemukan sesuatu.
"Di sana sepertinya ada sesuatu!" Yuri menunjuk dan berlari ke tempat yang dia tunjuk.
Mau tidak mau pahlawan lain hanya mengikuti Yuri ke tempat itu dan benar saja, terdapat sebuah batu prasasti yang menuliskan sesuatu.
"Huruf Latin, aku tidak dapat membacanya." Yuri bergumam kecewa.
"Dari bahasanya, nampaknya itu dari Indonesia..." Petra bergumam.
Yuri dari Jepang, sementara Petra dan Aland berasal dari Inggris. Mereka mungkin tahu huruf Latin dan bisa membacanya namun mereka tidak akan mengetahui isinya. Yuri teringat kalau Rigel berasal dari Indonesia namun dari situasi ini akan sulit meminta bantuannya.
"Seingatku kau berasal dari Indonesia kan, Nadia? apa kau bisa membacanya?" Aland bertanya. Mendengar itu, Yuri terkejut kalau Nadia berasal dari negara yang sama dengan Rigel.
"Tentu saja. Mari kulihat." Nadia memegang prasasti itu dan mulai membacanya.
"Kami gagal menjalankan tugas. segel yang harusnya berlansung selamanya hanya akan bertahan selama 1000 tahun dan mustahil untuk kami bertahan sampai waktunya. Kami hanya bisa berharap pada generasi selanjutnya untuk menyelesaikan apa yang tidak bisa kami selesaikan... tindikan patang ati patung lan watu dewa bakal murup."
"Jadi, apa artinya? dan kata-kata terakhir itu sepertinya bukan bahasa resmi." Ujar Yuri.
"Bahasa akhirnya di lanjut dengan bahasa daerah, Jawa. Singkatnya, para pahlawan di masa lalu berniat menyegel Tortoise selamanya namun gagal dan hanya bisa menyegel nya selama 1000 tahun dengan harapan generasi selanjutnya dapat mengalahkannya... Untuk cara melepaskan segel nya yang di tulis dalam bahasa Jawa, pesan itu mengatakan kalau kita harus menusuk empat hati patung dan batu dewa akan bersinar." Nadia menjelaskan.
"Batu dewa?" Petra bergumam.
"Mereka yakin kalau para pahlawan yang akan ke sini, jadi mungkin batu dewa yang di maksud adalah kristal yang ada pada senjata kita, kan?" Aland mengambil kesimpulan yang masuk akal.
"Sepertinya begitu... Untuk sekarang, mari kita laporkan pada yang lainnya." Nadia memberi saran.
Yuri mengangguk dalam diam dan mulai mengakses radio di telinganya, "Rigel, kami sudah menemukan lokasi segelnya dan telah mengetahui cara melepasnya."
Rigel yang menyaksikan pertarungan Ozaru menjawabnya, "Kerja bagus, tunggulah aba-aba seperti dalam rencana." Rigel langsung mengganti panggilan ke tim jantung, "Takumi, bagaimana dengan tim jantung? apakah kalian telah menemukannya?"
Takumi dan Takatsumi berlari ke tempat Marcel dan Argo. Selagi berlari, Takumi membalas panggilan Rigel, "Kami sempat terbagi dua sebelumnya, dan saat ini aku sedang pergi menuju tempat Marcel... Mereka telah menemukan lokasi Jantung Tortoise berada!"
"Baguslah, jangan lupa kabari aku." Rigel mematikan panggilannya.
"Nampaknya tim Segel telah berhasil menemukannya... kita harus bergegas cepat." Takumi memberitahukan itu pada Takatsumi.
Tidak lama setelah mereka berlari, mereka mendengar suara detak yang mungkin adalah detak jantung dari Tortoise.
*BaDumb.... BaDumb.... BaDumb....
Tidak jauh di sana, terdapat dua orang yang sedang bersembunyi selagi melihat sesuatu di depan sana.
"Marcel, Argo!" Takumi memanggil, namun Marcel dan Argo menyuruhnya untuk tetap tenang.
"Ada apa?" Takatsumi berbicara dengan berbisik.
"Lihatlah itu." Marcel menunjuk sesuatu di depan sana. Takumi dan Takatsumi mengikuti arah yang di tunjuk nya dan melongo sedikit.
Mereka terkejut dengan apa yang di lihatnya, "Tempurung, Kura-kura?!" Takumi berkata selagi terkejut.
"Tidak... itu nampaknya adalah jantung milik Tortoise." Argo menegaskan.
Jantung Tortoise berbeda dari kebanyakan mahkluk hidup. Jantungnya berbentuk tempurung besar nan keras menunjukan tanda-tanda bahwa itu berdetak seperti jantung pada umumnya. Yang menjadi masalah bukanlah itu, melainkan tiga sosok yang menjaganya.
"Jantungnya memiliki penjaga ya..." Bisik Takatsumi.
"Ya... Belum lagi mereka terlihat cukup kuat. Sepertinya mereka tidak akan membiarkan kita lewat dengan mudah." Marcel berbisik.
Tiga ekor Kura-kura yang seukuran sebuah mobil menjaga Jantung Tortoise yang menggantung tepat di atas mereka. Takumi dan yang lain mengerutkan alis mereka dengan kesal. Tidak akan ada orang yang menduga kalau Jantungnya memiliki penjaga.
"Untuk sekarang, aku akan melaporkan ini dulu pada Rigel... Kalian pikirkanlah cara untuk mengatasi para penjaganya." Takumi berkata.
Tiga pahlawan lainnya saling mengangguk dan mulai berunding selagi Takumi melapor pada Rigel.
Di sisi lain, Rigel sudah menerima laporan dari Takumi dan Yuri. Sepertinya persiapan yang di butuhkan telah siap. Meskipun ada sedikit masalah di bagian jantung rupanya, namun Rigel yakin mereka akan mengatasinya entah bagaimana caranya.
"Semuanya sudah siap ya... Jadi, kita akan langsung saja memulai rencana?" Hazama yang duduk di samping Rigel bertanya.
Rigel tersenyum dan mengepalkan tinjunya, "Ya... Sekarang, legenda baru akan terbentuk!"