
"Dia mati terbakar, bersamaan dengan rumah sakit tempatnya berada. Kakinya lumpuh dan tidak memiliki pengelihatan, mustahil untuknya dapat selamat dari itu. Sebulan setelah kematiannya, aku benar-benar hampa namun tetap menjalani hidup, sampai aku di panggil ke dunia ini."
Takatsumi mulai menangis, kesedihan lamanya kembali terukir dan menggali lebih dalam hatinya yang terluka.
Para Pahlawan menatap dengan prihatin, atas kisah menyedihkan yang di ceritakan Takatsumi. Mungkin hanya perasaaan atau kenyataan, jika para Pahlawan yang di panggil ke dunia ini selalu memiliki masa lalu yang kelam.
"Untuk adikmu, kau bahkan sampai jatuh serendah itu, hingga menjual organ tubuhmu." Petra bergumam dengan sedih.
Jika di lihat dari lain sisi, dia benar-benar orang yang menyayangi adiknya, hampir seperti siscon. Namun cintanya bukan berwujud seperti itu, melainkan sesuatu yang benar-benar kekeluargaan.
"Itu memang cerita yang menyedihkan, namun tidak ada alasan yang memperjelas, mengapa kau mencoba membunuh Rigel, lalu akhirnya kami."
Pemikiran Rigel sama dengan Marcel. Cerita itu sama sekali tidak mendukungnya untuk mencoba membunuh Pahlawan lain.
"Itu karena kau begitu terang, Rigel. Aku menjadikan kecemburuanku sebagai alasan untuk membencimu dan membunuhku. Nita memintaku untuk menjadi cahaya baginya, aku tidak ingin ada cahaya lain yang lebih terang dariku. Untuk alasan itu, aku memutuskan untuk menyingkirkan segala cahaya yang ada. Menjadikan diriku satu-satunya yang bersinar."
Alasannya benar-benar tidak di mengerti. Dia sama sekali tidak mengerti tentang cahaya yang di maksudkan oleh Takatsumi.
"Hanya karena kau melihat cahaya yang tidak ku mengerti lebih terang dari milikmu, kau mencoba membunuh kami? benar-benar konyol." Takumi sependapat.
"Kau salah penafsiran akan satu hal, Takatsumi. Hanya karena kau sosok yang bercahaya di hadapan adikmu, bukan berarti kau harus menyingkirkan yang lainnya. Aku yakin, Satu-satunya yang bercahaya di hadapan adikmu hanyalah dirimu. Melihatmu yang seperti ini, Nita pasti akan sangat sedih di atas sana." Ujar Yuri.
"Ahh~, kau benar, Nita tentunya sedang memperhatikanku, kan? apakah dia akan membenciku, setelah melihat kelakuanku? apakah dia akan menjauhiku, ketika melihatku? apakah dia tidak ingin lagi melihatku, ketika mengetahui hal kejam yang telah aku lakukan? apakah dia akan memaafkanku, karena hidup sampai saat ini?"
"Tentu saja dia akan memaafkanmu! dia tidak akan bisa membenci orang yang melakukan banyak hal untuknya. Aku yakin dia sedang bersedih saat ini, melihatmu yang sedih seperti ini. Aku yakin lebih dari apapun, dia sangat ingin melihatmu bahagia. Namun, kau telah menghancurkan kebahagiaanmu sendiri dengan hal-hal yang tidak bisa di jelaskan. Jika sejak awal kamu menceritakan kisahmu kepada kami, aku yakin kita berempat dapat saling merangkul dan berbagi beban di pundak kita." Yuri menatap Rigel dan Takumi selagi meneteskan air mata.
Jika sejak awal Takatsumi memulai hal baru dan meninggalkan belenggu tentang adiknya, mereka pasti akan menjadi sahabat sependeritaaan. Rigel memiliki masa lalu yang menyedihkan, Takumi dan Yuri nampak tidak berbeda. Di lihat dari sisi lain, mereka benar-benar mirip.
Suka duka bersama, berbagi kesedihan dalam dada, memberikan beban masing-masing di pundak, saling mengobati lubang di hati bersama-sama dan merangkul satu sama lain sebagai sahabat. Itu akan menjadi kisah yang indah, jika benar-benar terjadi.
Namun seindah itu hanya dapat di temui dalam mimpi. Rigel telah jatuh ke dalam neraka, Takatsumi menyatu dengan kegelapan. Tidak lagi terselamatkan.
"Ya, seandainya saja seperti itu. Aku begitu terikat oleh adikku, hingga tidak menatap kalian di sisiku. Ahh~, andai waktu terulang, aku ingin memperbaiki semuanya."
Penyesalan tidak lagi ada gunanya. Perjuangannya telah berakhir, bersamaan dengan cerita kehidupannya. Buku takdir telah menuliskan namanya di dalam kematian.
"Rigel," dia menoleh ke arah Rigel, "Dari setiap orang, kuyakin hanya dirimu yang membenciku lebih dari siapapun. Maukah kau membunuhku?"
"Tanpa perlu kau minta, aku pasti akan membunuhmu! Aku tidak akan pernah tergerak, hanya karena cerita konyolmu."
Kemarahannya sama sekali tidak berkurang sedikitpun. Tidak perduli seberapa menyedihkan ceritanya, hatinya telah membatu. Tidak akan ada belas kasihan kepadanya.
"Aku akan menyiksamu ter lebih dahulu, hingga kau menjadi gila, aku akan membunuhmu! kematian merupakan belas kasihan, aku tidak berniat memberikannya sedikitpun padamu." Ucapnya dengan dingin.
Dia telah melalui begitu banyak hal untuk sampai ke panggung ini. Jatuh ke dalam kubangan lumpur, mendaki ke tempat tinggi dari sana, menaklukkan neraka dan membunuh rekan seperjuangannya di labyrinth.
"Rigel, tolong, bisakah kau langsung memberikannya kematian?" Yuri memohon.
"Ya, dia sudah cukup menderita. Jangan tambahkan hal-hal yang membuatnya semakin menderita." Petra juga ikut memohon.
Rigel menggerakkan giginya dengan kesal, "Jangan bercanda!" meneriakan itu. Yuri dan Petra terkejut, begitu pula yang lainnya.
"Kau pikir apa yang telah kulalui untuk sampai sini?!! Di dalam sana lebih menyakitkan dari apa yang kalian bayangkan! Aku mendaki kepuncak demi kebebasan dan kekuatan untuk membalas, lantas memberikannya belas kasihan berupa kematian, benar- benar tidak di terima!"
Dinginnya tubuh teman-temannya yang dia bunuh dengan tangannya sendiri masih dapat di rasakan. Dia telah mengotori tangannya sebanyak mungkin, demi hari pembalasan.
"Namun, mau di lihat bagaimanapun, dia sudah mengakui kesalahannya dan siap menerima kematian. Tidak bisakah kau memberi kemudahan dalam kematiannya?! Hatinya telah begitu hancur, dia tidak akan bertahan lama!" Yuri berteriak kepada Rigel.
Hati yang hancur? hal bodoh apa yang di katakan wanita ini. Sejak awal aku yang tersakiti di sini, lantas kau membela bajingan itu!
"Lalu mau kau apakan dengan lubang hitam di dalam sini?!" Rigel memegang dadanya, tempat hatinya berada, "Di sini telah lama hilang, hati telah lama hancur, namun aku tetap bertahan, demi pembalasan ini! jangan halangi aku. Aku akan memulai dari jari-jari kaki lalu setiap tulang tubuhmu, membakarmu, menjadikanmu makanan monster hingga tiada lagi yang tersisa darimu!"
"Sudah, tidak apa-apa Yuri, Petra. Aku akan menerima apapun itu dengan lapang dada." Takatsumi tersenyum lemah.
Kebenciannya tidak lagi terbendung, tidak ada lagi apapun yang dapat menampung kemarahannya. Dia telah benar-benar tenggelam di dalam lautan itu.
Takumi, Marcel, Ray dan Merial tidak berniat menghentikan Rigel. Kemarahannya wajar, penyiksaan untuk Takatsumi di dunia memang pantas, sebelum akhirnya dia mendapatkan hukuman di neraka. Saat Rigel mengambil langkah, Ozaru menahannya dengan menepuk bahu.
"Aku tidak akan menghentikanmu, Rigel. Aku pernah berada di posisi yang sama denganmu, akan ku beritahu kau satu hal. Jika kau telah begitu terbutakan oleh perasaan yang menyelimutimu, kau tidak akan pernah kembali ke dirimu. Kau akan terpenjara dalam lautan itu sampai akhir hayat. Lagipula dia tidak memiliki organ tubuh lengkap, dia sudah begitu lemah hingga bisa mati kapanpun."
Rigel hanya diam tanpa membalas ucapan Ozaru. Meski dalam keadaan marah, kepalanya tetap berpikir secara rasional. Dia paham betul, maksud dari apa yang di katakan Ozaru kepadanya dan menggerakan giginya dengan kuat.
"Meski sudah tahu jawabannya, aku ingin minta maaf atas segala hal perbuatanku, Rigel. Lalu, jika kita bertemu di dunia yang jauh lebih baik, kuharap kita bisa menjadi teman." Takatsumi tersenyum lembut, siap sepenuhnya menerima kematian.
Orang yang membunuh, telah siap untuk di bunuh. Itu hal yang wajar.
"Tentu saja... Tidak mungkin. Bahkan jika itu kau satu-satunya manusia yang tersisa, aku tidak akan pernah berniat menjadi temanmu!"
Meninggalkan kata-kata itu, Rigel menginjak kepala Takatsumi dengan sangat kuat, cukup kuat untuk menghancurkan seluruh kepalanya. Yuri, Petra dan Nadia tidak kuasa menatap pemandangan itu. Bagi mereka, ini pertama kalinya melihat langsung seseorang di bunuh tepat di depan mata.
Melihat Rigel dapat membunuh begitu mudah, Marcel tahu bahwa ini bukan pertama kali bagi Rigel membunuh orang.
"Ya. Aku akan mengurusnya." Ray dengan patuh menurut.
Dengan kemarahan yang masih menyelimuti dirinya Rigel menjauh dan berteleport ke suatu tempat. Yuri hendak meraihnya, namun Ozaru menghentikannya.
"Biarkan saja dia. Lagipula tidak ada apapun yang bisa kita lakukan untuknya."
Rigel ber teleportasi ke tempatnya, seseorang yang membuatnya menantang Phoenix. Darah dan air mata yang di cari telah di dapatkan, pembangkitan telah tiba.
Setibanya di sana, dia harus terbang ke langit tinggi, menuju puncak pohon Roh. Dia mulai teringat kembali tentang gadis itu, Priscilla.
Awal perjumpaan dengannya, menaklukkan labyrinth bersama dan menantang pangeran neraka. Hari-hari yang panjang namun terasa begitu singkat. Dia tidak pernah menduga akan ada hari dimana bisa bertemu lagi dengannya.
Memikirkan itu sudah cukup menariknya keluar dari lautan amarahnya. Namun, bukan berarti dia benar-benar tidak lagi marah.
Setibanya di puncak, dia melihat Sylph, tengah duduk dan menatap sedih Priscilla. Tanpa keraguan, dia menghampirinya, dengan buah tangan yang telah di janjikan.
"Pahlawan Rigel, selamat atas kemenangan kalian melawan Phoenix. Selain itu, aku benar-benar tidak menduga bahwa kamu telah meramalkan ada penghianat di antara Pahlawan."
Sylph tidak tahu menahu asal usul pertengkaran Rigel dengan Takatsumi. Jadi dapat di maklumi.
"Lewatkan itu untuk lain waktu. Yang lebih penting, aku telah membawa benda yang di butuhkan untuk memasukan kembali jiwanya."
Dia memberikan darah dan air mata Phoenix kepada Sylph. Mungkin karena kebahagiaan bahwa orang terkasihnya akan kembali membuka mata, Sylph mulai meneteskan air mata.
"Ya... Aku akan segera melakukannya. Terima kasih, Pahlawan Rigel, mau melakukan ini hanya untuknya."
Dia benar-benar memiliki hutang budi besar kepada Rigel. Seribu ucapan terima kasih tidak akan bisa membalas perbuatannya.
Sylph mulai mengambil serbuk-serbuk cahaya yang sepertinya merupakan ***** Roh. Lagipula dia seorang ratu peri, perkara menyangkut peri dan Roh urusan mudah baginya.
Rigel menatap lembut gadis menyusahkan yang membuatnya melalui semua ini.
"Maaf membuatmu menunggu lama, Priscilla."
Sylph meletakan inti jiwa di dahi Priscilla. Dia meneteskan air mata dan darah Phoenix serta menaburkan serbuk Roh ke seluruh tubuh Priscilla.
Tubuh Priscilla mulai bersinar, layak sinar matahari. Perlahan tubuhnya sedikit melayang, selagi Sylph mengucapkan mantra.
"Mentari memberikan sinar kehidupan, jiwa memberi warna kehidupan, dunia menghidupi kehidupan dan kehidupan menghiasi dunia. Wahai langit, berikan berkatmu demi menyempurnakan jiwa yang hancur ini, kabulkan lah keingianku, Soul Rebirth!"
Tubuh Priscilla semakin bersinar hingga menutupi seluruh tubuhnya. Cahaya begitu menyilaukan, membuat Rigel harus menutup matanya. Tubuh Priscilla perlahan mulai terbaring kembali di kasur, dia masih tertidur.
Dengan tergesa-gesa, Rigel melangkah dan berdiri di sampingnya, menyentuh lembut pipi Priscilla untuk membangunkannya.
Apakah ini gagal? tidak. Itu tidak boleh gagal. Batinnya.
Inti jiwa di dahinya telah terserap ke dalam tubuh, yang artinya pembangkitan tidak gagal. Perlahan, alis Priscilla berkedud, membuat Rigel terkejut. Perlahan kelopak mata Priscilla berkedud dan erangan kecil terdengar darinya.
Ahh~, suara teman lama yang kupikir tidak akan pernah kudengar kembali. Pembangkitannya berhasil, perjuanganku tidaklah sia-sia!
Rigel dan Sylph saling memandang dengan senang. Orang yang mereka nantikan kini telah tersadar, putri tidur akan terbangun dari tidur panjangnya.
Matanya perlahan terbuka, butuh beberapa waktu baginya untuk menyesuaikan cahaya pada mata. Hal pertama yang dia lihat adalah dua wajah, seorang pria dan gadis super cantik.
"Selamat datang kembali, Priscilla." Rigel menyambutnya dengan suka cita, namun tiada air mata yang keluar.
"Kamu sungguh merepotkan. Sangat sulit mencari item untuk menyempurnakan kembali jiwamu." Sylph kembali meneteskan air mata.
Priscilla hanya menatap dalam diam selagi mengamati sekitarnya. Dia ingat betul tempat ini, tempatnya bermain semenjak kecil dan tempatnya tumbuh. Dia mengingat gadis cantik yang menangis itu.
Dia adalah orang yang merawatnya dan memberikan cintanya, meski tidak memiliki hubungan darah dengannya. Sosok yang dengan sabar membesarkannya, melatihnya dan membuatnya menjadi gadis hebat.
Isi kepalanya memang masih kabur, namun dia dapat mengingat hal-hal sadar seperti siapa dia, namanya dan asalnya serta hal yang membuatnya tertidur dalam waktu yang sangat lama dan hampir sama dengan sebuah kematian.
Dia kembali menatap pria berambut putih yang memiliki mata aneh. Pria itu tampak sangat bersuka cita atas kesadarannya, kebahagiaan penuh terukir jelas dari raut wajahnya. Pria itu membelai pipinya, kulitnya yang hangat dapat di rasakan. Kehangatan yang membuat nostalgia, wajah yang terasa tidak lagi asing baginya serta hatinya yang meronta dengan kencang setiap Detik memandangnya. Namun tetap saja, pria ini, tidak memiliki tempat dalam kepala.
Rigel membelai pipi Priscilla. Dia tidak mencoba memeluknya, mengingat tubuhnya mungkin kehilangan banyak stamina. Kekhawatiran dia akan menyakiti Priscilla saat memeluknya membanjiri kepalanya. Untuk itu, dia tidak boleh melakukan hal frontal seperti itu, untuk saat ini.
Priscilla mulai menatapnya, matanya sudah sepenuhnya terbuka dan menyesuaikan diri dengan cahaya. Rigel ingin dia memanggil namanya, sebuah suara yang membawa nostalgia kedalamnya. Namun, Priscilla mengatakan sesuatu di luar harapan...
"Kau... Siapa?"
Panah tak terlihat menembus dadanya, dua kata yang begitu menyakitkan untuk di dengar. Wajah Rigel membatu, kepalanya masih belum dapat memproses dengan betul apa yang baru saja di dengar olehnya.
... Eh?
...________End Of Season 2!________...