
Di kediaman Ainsworth, Rigel dan Cold telah berada di ruangan tamu. Walther, Misa, Nisa dam Ray belum sampai di sini karena mereka mungkin masih berada di Britannia.
"Dengan ini apakah kau yakin pertunangan tuan putri akan di batalkan?"
Tanya Cold.
"Tentu saja. Lagipula aku yakin Tirith akan menolak pertunangannya di lanjutkan. Aku malah lebih penasaran dengan hadiah yang kuberikan kepada babi tua itu."
Ucap Rigel.
"Lalu, kenapa kau tidak mencoba membawa tuan putri untuk ikut bersamamu sekarang, Rigel? Bukankah saat ini adalah kesempatan yang bagus?"
Ucap Cold.
"Aku tidak ingin membawanya ke dalam bahaya. Saat ini kita masih berada di dalam wilayah Britannia untuk mengumpulkan pasukan dan para demi human. Jika aku nekat membawa Tirith sekarang juga, hal itu akan di anggao sebagai penculikan dan malah menghalangi jalan kita. Yanbg lebih penting, bagaimana dengan tugasmu?"
Tanya Rigel.
"Ahaha. Aku telah mencalonkan diriku di batu ramalan dan namaku sudah terukir sebagai kandidat kaisar. Namun, apakah kau benar benar akan menghadapi Hydra dan membebaskam tanah kelahiranku? Monster malapetaka bukanlah lawan yang dapat di kalahkan dengan mudah, Rigel. Bahkan para pilar iblis tidak pernah mencoba menghadapinya."
Ucap Cold dengan khawatir.
"Aku tahu itu, Cold. Selain itu, pertarungan di lautan akan sulit karena tidak ada pijakan disana."
Ucap Rigel.
Bagi Rigel sendiri tidak terlalu sulit bertarung di lautan karena dia bisa terbang dengan kekuatannya.
'Namun, kenapa para iblis itu tidak mencoba mengalahkannya? Aku sangat yakin jika mereka melawan mahkluk malapetaka, mereka masih memiliki kemungkinan menang yang tinggi.'
Batin Rigel.
"Kupikir, alasan para iblis itu tidak menyentuh monster malapetaka karena tujuan mereka mungkin sama."
Ucap Rigel.
"Tujuan?"
Cold, bingung.
"Ya. Kau seharusnya tahu bahwa sebelum perang besar terjadi, para iblis berusaha untuk mengurangi kekuatan tempur manusia secara perlahan. Lalu, karena mahkluk malapetaka selalu menyebabkan bencana kepada manusia ataupun iblis dan membuat ke hancuran dimana mana."
Ucap Rigel.
Cold hanya diam mendengarkan asumsi yang sudah di pikirkan oleh Rigel dalam waktu singkat.
"Kemungkinan mereka tahu, bahwa cepat atau lambat sebelum perang di mulai. Para pahlawan pasti akan berusaha mengalahkan mahkluk mahkluk itu dan para iblis membiarkannya dengan harapan setidaknya salah satu pahlawan mati di tangan monster itu."
Ucap Rigel.
Cold menelan ludahnya karena takjub. Rigel yang saat ini sangat berbeda dari yang dulu. Rigel yang saat ini bahkan dapat membuat teori yang sangat masuk akal tentang mengapa pilar iblis tidak menyentuh monster malapetaka.
'Kau yang sekarang benar benar mengerikan, Rigel. Bahkan pemandangan Griffon yang kau hempaskan dan meledak menjadi hujan darah terus berputar di dalam kepalaku.'
Batin Cold.
"Yah, teori itu sangat masuk akal, Rigel. Namun kita masih memiliki hal mendesak lainnya."
Ucap Cold.
Ucap Rigel, menyenderkan kepalanya.
"Ya. Untuk rumah, makanan dan tempat tinggal dapat kita atasi berkat tuan Walther. Jumlah demi human yang sudah ku beli sejauh ini tidak cukup banyak. Selain itu, aku tidak ingin membebani tuan Walther dengan membeli para setengah manusia dengan uangnya."
Ucap Cold.
Untuk membangun sebuah negara, yang diperlukan adalah warga negara yang akan tinggal di sana. Selain itu, Rigel juga membutuhkan sebuah pasukan saat menghadapi Hydra. Untuk Hydra sendiri, Rigel yang akan menghadapinya namun untuk monster monster yang berada di bawah kendali Hydra akan menyusahkan.
Cold dan yang lainnya tidak akan sanggup untuk menghadapi banyak dari pasukan Monster milik Hydra. Karena itulah Rigel membutuhkan sebuah pasukan untuk menghadapi mereka.
"Yah, untuk sekarang bagaimana jika kita mengambil quest dari Guild. Aku ingin mencoba senjata dan kekuatanku, bagaimana?"
Ucap Rigel.
Rigek tersenyum kepada Cold yang duduk di sebrang tempat Rigel duduk. Cold diam dan tersenyum untuk membalas senyuman Rigel.
"Menyelam sambil minum air, ya? Kalau begitu aku ikut denganmu. Namun, apakah kita tidak menunggu Ray dan yang lainnya datang?"
Tabya Cold.
"Tidak perlu, kita berdua saja sudah cukup. Ayo kita ambil Quest dengan bayaran mahal."
Ucap Rigel.
Cold dan Rigel bangun dsri tempat mereka duduk dan berjalan menuju guild yang berada di kota. Rigel menyarankan untuk berjalan kaki daripada menaiki pedati yang di tarik oleh naga tanah.
Rigel masih ingin merasakan segarnya kehidupan dan hembusan angin yang menyelimutinya. Hujan sudah lama berhenti, saat ini matahari memancarkan sinarnya. Aroma tanah tercium karena hujan, Rigel ingin merasakan hal ini sedikit lebih lama lagi.
"Nah, Rigel. Aku masih sangat penasaran dengan senjata buatanmu itu. Apakah itu benar benar tidak menggunakan sihir semacam sihir detonasi apapun? Senjatamu itu membuat suara yang sangat keras dan bahkan dapat melubangi dinding."
Ucap Cold.
"Pistol ini benar benar bukan sihir. Di duniaku sebelumnya tidak ada yang namanya sihir. Senjata ini lahir murni karena kepandaian manusia dan secara perlahan membangun teknologi selama hampir kurang lebih dua juta tahun lamanya. Seiring berkembangnya teknologi, akhirnya mereka berhasil menciptakan senjata seperti ini, senjata yang menyebabkan peperangan."
Ucap Rigel.
Rigel sangat menyukai sejarah, entah itu tentang raja raja ataupun penjajahan. Negara tempat kelahiran Rigel yaitu Indonesia pernah di jajah oleh bangsa belanda selama tiga ratus tahun lebih. Rigel sangat tidak menyukai peperangan namun cepat atau lambat dia akan menghadapinya, Ragnarok.
"Aku benar benar tertarik untuk melihat bagaimana dunia tempatmu tinggal, Rigel."
Ucap Cold.
Rigel tersenyum kepada Cold yang wajahnya tampak berbinar karena senang.
"Selain tidak adanya sihir, di duniaku juga tidak ada monster ataupun iblis. Manusia tidak lagi hidup dalam kesusahan. Berkat terus berkembangnya teknologi canggih yang mempermudah segala pekerjaan manusia. Saat kita berhasil merebut tanah kelahiranmu, aku akan menunjukan banyak benda menarik seperti lampu yang akan menerangi malam."
Ucap Rigel.
"Aku benar benar tidak sabar untuk menunggu hari itu tiba."
Ucap Cold.
Dalam perjalanan, Rigel terus menceritakan beberapa hal tentang dunianya seperti keran yang mengalirkan air, mobil dan berbagai hal lainnya.
Apa yang sudah di bangun manusia selama dua juta tahun lamanya, dapat di bangun oleh Rigel dalam waktu singkat. Semua itu berkat kemampuan pahlawan Rigel, Creator Skill. Pada awalnya pahlawan pencipta adalah seorang pahlawan terlemah yang bahkan hanya di butuhkan untuk memasok persediaan senjata dan potion.
Namun kemampuan ini akan menjadi sangat mengerikan tergantung kepada siapa yang menerima dan dapat memanfaatkan dengan baik kemampuan ini. Perlahan tapi pasti, sejarah akan berubah dan dunia akan berguncang karenanya.