
Tiga hari berlalu dengan cepat, bertepatan dengan semua, persiapan selesai dengan baik. Pada akhirnya, lokasi pertarungan akan jatuh di hutan yang menuju kota Darkness.
Selama tiga hari terakhir, dia hampir tidak beristirahat, mempersiapkan berbagai dinding besi untuk berlindung, tembakan laras panjang otomatis dan perangkap untuk mengurung kucing itu. Tentunya dia tidak yakin akankah dapat digunakan, namun tidak ada yang salah mempersiapkannya.
Penempatan posisi telah ditentukan, dimulai dari Pahlawan yang di tempatkan tergantung pada kemampuan mereka. Misalnya Yuri, yang ahli dalam serangan jarak jauh, namun akan sangat lemah bila dihadapkan dengan pertarungan jarak dekat.
Tidak hanya Yuri, tetapi Petra juga telah bersiap di posisi yang sama jauhnya dengan Yuri, tentunya dia memiliki kemampuan pertarungan jarak dekat. Namun mengingat refleks nya yang lambat, menjadikannya petarung jarak jauh seperti halnya Yuri. Sebagai catatan, mereka berdua berada di tempat yang berbeda dan di puncak dinding besi ciptaan Rigel.
Untuk itu, Rigel sengaja menempatkannya di tempat terjauh dari pertarungan, lagipula mereka dapat menembak dari jarak terjauh selama dapat melihat pergerakan lawannya. Untuk berjaga-jaga, dia menempatkan Odin dan Gahdevi di masing-masing satu dari mereka.
Untuk garda terdepan terdapat Rigel, Takumi, Ray, dan Nadia. Mereka adalah orang-orang dengan refleks tercepat diantara lainnya. Meski Takumi mungkin yang paling lambat, setidaknya insting bertahan hidupnya dapat diandalkan. Jika keadaannya mendekati keputus'asaan, Takumi akan menggunakan kutukan pemalas nya untuk mengimbangi pertarungan.
Untuk Marcel, Merial dan Aland akan menjadi bagian menengah. Selagi perhatian White Tiger terfokus pada petarung jarak depan, mereka akan memberikan serangan dan kembali mundur untuk memberikan kesempatan pada Petra dan Yuri menyerang. Rencana yang sangat sederhana, namun begitu menyusahkan dan merepotkan untuk ditangani.
Ozaru dan Natalia telah bersiap di Region dan siap menunggu tanda dari Rigel, melalui radio di telinganya. Waktu yang dimiliki Ozaru untuk turun tangan dalam pertarungan sangatlah terbatas, paling lama hanya bertahan selama 15 menit saja.
"Semuanya telah siap??"
Menatap mata orang-orang yang berpartisipasi, nampak jelas keyakinan kuat tekad untuk hidup dan tiada yang berniat mengalami kekalahan. Saat ini langit mulai menggelap dan perlahan bulan purnama penuh muncul.
Sinar birunya bersinar terang, memberikan penerangan di gelapnya hutan saat malam hari. Mana yang terpancarkan melalui sinar bulan menyelimuti hutan—dunia yang terselimuti langit malam.
Suasana menegang diantara Pahlawan dan orang-orang yang berpartisipasi dalam pertempuran. Sosok malapetaka yang mengacaukan dunia selama beberapa abad, mungkin 10 abad lamanya monster itu menteror umat manusia.
"Apakah dia benar akan datang??"
Nadia terlihat risau, dikarenakan kecepatan dan refleks cepat menjadi kunci penting dalam pertarungan kali ini. Dengan tidak adanya Hazama, serangan kuat berskala besar dapat melenyapkan mereka. Rigel tentu dapat mengatasinya, namun jika dia beralih menjadi Vanguard, maka kekuatan tempur utama berkurang drastis. Karena itu, mengalahkannya secepat mungkin sangat diperlukan.
"Dia datang!"
Mendapati peringatan Rigel, semua memasang kuda-kuda ofensif dan menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan diri.
"Jadi seperti itu kabutnya, ya."
Bahkan terangnya sinar bulan tidak dapat menembus ketebalan kabut. Kendati mereka harus bertarung di dalamnya, formasi terpencar tidak dapat terelakkan.
"Transformasi!"
Bulu halus putih tercampur garis hitam mulai tumbuh. Taring dan cakar tajamnya memanjang, matanya berubah kekuningan, memperlihatkan mata tajam hewan buas. Sosoknya tampak menawan dan memberikan tekanan tertentu, pada bagian kemiripannya dengan White Tiger. Dia sengaja memakai transformasi sedari awal, kendati dia perlu melarikan diri dan bertarung dengan kekuatan penuh sejak awal.
Tidak perlu ada keraguan tentangnya. Monster yang hidup selama ratusan tahun tanpa pernah satupun orang berhasil membuatnya sekarat, bahkan Pahlawan generasi pertama sekalipun. Mengingat bahwa Pahlawan dengan kekuatan diluar akal sehat tak mampu mengatasinya dengan mudah, barang kali Leo dapat terbunuh tanpa melakukan apapun. Jika begitu, maka sama halnya dengan mati konyol.
Kendati dia ingin menjadi berguna bagi Rigel yang menyelamatkannya dan kakaknya, dia tidak boleh mati di tempat seperti ini. Jika memang harus mati, maka biarkanlah dia mati dalam perang Ragnarok.
Sepertinya aku harus menurunkannya sekarang, ya..., perangai Rigel.
Sejak awal mantra telah terucap, kekuatan telah terkumpul di tangan kanan dan siap dilemparkan kapanpun. Karena itulah, tangannya sedikit bersinar kebiruan selagi mengepal seakan menahan kekuatannya.
Selama dia menahan kekuatannya di tangan, maka tangannya tidak akan bebas untuk mengeluarkan sihir. Dirinya hanya bisa memberikan pukulan biasa yang hanya ditenagai fisiknya saja.
Dia hendak mengaktifkannya namun insting tak mengenakan berdering keras. Samar namun begitu pahit dan membuat keringat dingin bercucuran. Kini tidak ada lagi wajah santainya yang biasa, hanya ada kengerian yang sangat ngeri dapat terlihat.
"GARFIEL!!"
Kendatipun dia mungkin terlambat melakukannya, Rigel berusaha sekuat mungkin mencapai tempat Garfiel untuk melindunginya. Pohon di depan mereka terpotong dengan rapih, angin berhembus dengan kencang bak tornado yang melaju dalam kecepatan cahaya.
Menyadari teriakan keras Rigel, Garfiel tersentak, namun terlambat. Mulut besar dengan taring tajam nan mengerikan tepat berada di depannya. Tubuhnya tak dapat bergerak, gemetar ketakutan akan mahkluk yang ditakuti umat manusia, sekaligus dapat dikatakan monster yang seperti kakek moyang para ras Hakurou atau bahkan ayah mereka. Hendak mengoyak tubuhnya, namun Rigel dan Takumi melesat diantara mereka, menahan mulutnya yang terbuka lebar.
Takumi menggunakan tombaknya sebagai penyangga mulut White Tiger sehingga tak dapat tertutup. Di lain sisi, Rigel menggunakan Hand of Midas untuk menahan taring White Tiger tidak mencapainya.
"Pergilah ke tempat Odin!!"
Garfiel tersadar kembali, tubuhnya yang kaku tak bergeming perlahan kembali bergerak. Dirinya memaksakan tubuhnya yang masih memiliki tanda gemetar yang terasa sangat jelas. Seandainya dirinya tidak memaksakan untuk bergerak, kematian tidak terelakan. Bahkan dirinya mungkin akan menghambat pergerakan Pahlawan lain.
Dia merasa kesal akan ketidak bergunaanya dalam pertempuran ini. Bahkan dirinya tak dapat melihat sedikitpun pergerakannya, bahkan menyadarinya pun tidak. Hanya sebuah perasaan ketidak bergunaan membekas dalam di hatinya. Kendati dia muak dengan betapa lemah dirinya, dia tetap mematuhi Rigel dan pergi menuju tempat Odin.
"Calamity Claw!!"
Nadia menerjang, menyilangkan kedua cakar dan hendak menebas leher, namun dalam satu kedipan mata, White Tiger tidak ada dihadapannya, menyisakan hembusan angin kecil di tempat. Serangannya menjadi sia-sia dan menabrak pohon terdekat yang berada dalam jangkauan.
Tidak ada hal selain ketakutan dan kengerian, kekaguman dan kebencian. Kecepatannya diluar kemampuan mereka, hampir persis Teleportasi namun bukan Teleportasi. Waktu untuk kemunculan Teleportasi tidak dapat berlangsung dalam waktu cepat, akan ada beberapa jeda paling lama 2 detik sebelum tubuh kembali terwujud.
Masih dalam keterkejutannya, Nadia tidak dapat bereaksi tepat waktu ketika White Tiger berada dibelakangnya dan mengulurkan cakar tajamnya. Kengerian tampak jelas di wajahnya. Dia tak memiliki pijakan untuk menghindar dari cakar tajam itu. Ahh~, apakah aku akan mati di sini, begitulah yang terpikirkan dalam kepalanya.
Nadia setengah ikhlas jika memang harus menerima kematiannya di sini, meskipun sebagian dirinya menolak kematian.
"Blade Dance!!"
"..., Ray..., terima kasih, karena menyelamatkanku."
Nadia mendesah lega, namun kembali dengan cepat karena tidak dapat lengah menghadapi monster yang menyebabkan kekacauan selama lebih dari 400 tahun.
Lagi-lagi kecepatannya tidak masuk akal. White Tiger kini telah berada tepat di tempatnya datang sebelumya. Mendapati kesempatan itu, dia memanfaatkannya untuk mendatangkan awan mendung dan hujan mulai turun untuk memenuhi panggilan kekuatan dewa air, Poseidon.
Hujan buatan turun membasahi hutan dan orang-orang. Medan tempur akan menjadi licin, penciuman tidak dapat diandalkan namun setiap jejak kaki dapat terdengar, tidak perduli secepat apapun itu. Selama masih memiliki tubuh fisik yang nyata.
Kini tangannya terbebas, dia dapat bergerak sebebas mungkin. Mendapati bahwa kini bulan purnama sepenuhnya terhalangi awan hujan yamg dia panggil, Rigel memberikan tanda berupa 'Sekarag waktunya,' kepada Natalia.
Selagi mengamati bentuk tubuh White Tiger dan pergerakan uniknya, dia mendapati sesuatu yang cukup memilukan. Kabut yang seharusnya bersama White Tiger nampak berhenti, seakan terdapat dinding penghalang yang menghentikannya.
Entah apa yang terjadi, namun dirinya merasaka terdapat sesuatu di dalam kabut tebal itu, meski samar akibat hujan, sesuatu itu nampak mengeluarkan suara konstan dalam nada yang sama. Tidak melambat sedikitpun.
Pandangannya menggeliat ke sana-sini, menatap satu-persatu dari mereka hingga akhirnya berhenti begitu melihat Rigel.
Hmpf..., Hmpf... White Tiger mengendus bau disekitar, selagi mengamati lawan di depannya. Meski dia monster malapetaka, tak seperti Hydra dan Phoenix, White Tiger sama sekali tidak meremehkan lawan di hadapannya. Tak perduli apakah itu lemah atau kuat, seimbang atau tidak, meremehkan lawan adalah sebuah dosa tak termaafkan. Bila-bila dia terbunuh akibat meremehkan musuh, White Tiger tidak akan memaafkan dirinya sendiri dan akan menebus dosa dengan membunuh dirinya sendiri.
"Aroma ini..., apa itu kau, Aludra??"
Sebuah nama yang kini tak lagi asing dalam telinganya. Sebuah nama yang entah digambarkan sebagai penjahat atau Pahlawan, eksistensi ketidak pastian dan kemisteriusan, Aludra.
Entah siapa dan apa pria ini, namanya sangatlah populer dikalangan penjahat dan sumber kekacauan dunia. Bahkan, secara misterius, segala hal tentangnya terlupakan, seakan dunia sendiri yang mencoba melupakan keberadaannya. Catatan tentangnya terhapuskan, puzzle mengenai masa lalu memiliki lubang dimana-mana. Dikarenakan lubang pda puzzle, beberapa hal tak dapat dipecahkan olehnya. Kendati dia dapat melakukan hal hebat seperti melihat masa lalu, maka tak ada keraguan bahwa dia akan melihat masa lalu Aludra ini.
"Tidak..., kau bukan Aludra, kayaknya. Wajahmu tak sama, hanya baumu saja, kayaknya."
Memiliki bau yang sama memang misteri dan tak dimengerti, namun kini bukan waktu tempat untuk membahasnya.
"Seharusnya memang sudah jelas, lantas mengapa kau menganggap orang yang sama??"
"Diriku tak pandai mengingat wajah seseorang, terutama manusia rendah seperti kalian,"
Dia salah akan satu hal. Semua monster malapetaka sama saja. Mereka memandang tinggi diri mereka, menganggap ras lain lebih rendah dari mereka. Meski begitu adanya, White Tiger tidak berkata bahwa manusia itu lemah, hanya rendah saja.
"Namun, untuk manusia Aludra itu, aku tidak dapat melupakan wajah dan baunya, kayaknya. Dirinya begitu menakjubkan, sampai-sampai ingin ku berlutut dihadapannya dan membiarkannya duduk di punggungku."
Sampai membuat monster dengan harga diri tinggi seperti malapetaka seperti itu, Aludra ini tidak dapat diremehkan. Sepertinya dia memang sangatlah kuat, mengingat dia dapat setara dengan Pahlawan generasi pertama.
Sedikit kesyukuran dia rasakan karena si Aludra itu hidup seribu tahun yang lalu. Kendati dia masih bernafas di dunia, tidak perlu diragukan lagi, mungkin dia akan menjadi penghalang terbesar baginya. Mengingat segala kejadian yang dia dengar tentang Aludra, kebanyakan darinya berhubungan tentang kejahatan. Menciptakan perbudakan, rekonstruksi tubuh pendahulu Garfiel hingga akhirnya hubungan dengan White Tiger.
Entah ada berapa banyak lagi kekacauan hasil peninggalannya, namun untuk saat ini, biarkanlah masa lalu tetap pada tempatnya.
"Heh, nyatanya kau hanya kucing besar yang bahkan takut dengan seorang manusia yang tidak jelas siapa dan dari mana asal-usulnya," ejek Takumi.
Mendapati provokasi dari Takumi, hawa dingin mulai menusuk kulit. Hawa itu berasal dari White Tiger, namun bukan berarti dia mengeluarkan Es atau semacamnya. Aura dan tatapannya sangat dingin, seakan dapat menembus dada kapan aaja
"Jangan lancang, manusia. Kalian tidak pantas menjelekan, merusak, menodai, mengotori, tentangnya. Diantara manusia rendah dan sampah, dia menjadi satu-satunya manusia yang kuakui, kayaknya. Meski manusia, dia membakar dunia dengan kekacauan, menyebabkan kematian masal umat manusia, mengguncang dunia dengan kemarahan dan kedengkian tiada batas, kayaknya."
Aneh untuknya mengatakan ini, namun malapetaka White Tiger nampak sangat mengagumi si Aludra ini. Hampir seperti fanatik Aludra atau seekor kucing yang menceritakan kehebatan tuannya.
"Lantas mengapa? Kendati kami terus memperolok nya karena tak perduli siapa dan apa orang itu, apa kau berencana mengirim kami menuju tempat selanjutnya??"
"Diriku tidak akan memberikan keringanan berupa kematian. Kehidupan itu sendiri sebuah penyiksaan tanpa rasa sakit. Terkadang seseorang akan menangis, terkadang bahagia, terkadang marah, terkadang melankolis, terkadang hampa, kayaknya. Karena itu, diriku hanya perlu menambahkan rasa sakit sebagai pelengkap, akan penyiksaan bernama kehidupan, kayaknya."
Tidak dapat dipahami. Rigel tak dapat memahami apa yang sedang di ocehkan monster itu. Berusaha memahaminya akan tampak sama sebagaimana seseorang berusaha memahami sel darah manusia. Di satu sisi, dia terlihat seperti monster suci yang menghargai arti kehidupan, namun di sisi lain dia terlihat seperti monster durjana yang menginjak-injak kehidupan.
"Perkataan mu sangat tak dapat dipahami. Yang dapat dimengerti adalah kau berniat melukai segala kehidupan di dunia dan menganggap sebagai pelengkap penyiksaan," ujar Rigel.
"Kehidupan hanyalah tentang putih atau hitam, baik atau buruk, berusaha atau menyerah, dan tiada di antara keduanya. Ganjaran dari semua itu ialah surga atau neraka. Surga memberi kenyamanan, neraka memberi keputus'asaan. Bagiku, dunia ini sangatlah kotor dan sangat berdosa, begitupun penghuninya. Hidup dalam kenyamanan adalah dosa besar, karena itu kehidupan perlu keputus'asaan sebagai penebus dosa, kayaknya! Sebagai monster agung, diriku akan memberikan jalan taubat berupa dihapuskan dari dunia, berupa rasa sakit, berupa kesedihan, berupa kemarahan, berupa kebencian, berupa kejahatan dan berupa ketiadaan!!"
Roaarrrrwwwrrr....
White Tiger mengirimkan Auman kuat yang memekakkan telinga. Sosoknya dengan cepat hilang, melaju dengan kecepatan penuh menuju Rigel.
Sebuah cakar yang cukup kuat untuk membelah Adamantite dalam sekali tebas terulur ke arahnya. Dalam jeda waktu yang hanya terjadi selama beberapa micro second, sosoknya mulai berkedip dan saling menghantam dengan kecepatan penuh.
Pertukaran mereka berdua sudah berada di luar kemampuan manusia, seharusnya. Mereka terus menyerang satu sama lain dengan kecepatan kilat, menghempaskan pepohonan dalam pelariannya.
Ray, Nadia dan Takumi hanya menatap pertukaran Rigel dengan White Tiger. Mereka tidak dapat masuk secara sembarangan jika tidak ingin kehilangan masa hidupnya. Mereka juga tidak tahu kapan harus memasuki pertarungan, bahkan untuk sekedar mengikuti pergerakannya dibutuhkan fokus yang teramat fokus.
Dalam perjalanan, Rigel mengirimkan tetesan air hujan menuju White Tiger. Air itu melesat dengan kecepatan setara dengan peluru senapan, cukup kuat untuk melubangi sebuah pohon.
Tetesan air melesat, namun lenyap dipertengahan karena hal samar yang dilakukan White Tiger. Rigel terus melesat cepat tanpa memunggungi White Tiger, namun hal itu menjadi kesalahan besar. Monster yang seharusnya berada di depannya secara mengejutkan telah berada di belakangnya, membuka lebar mulutnya untuk menampilkan taringnya.
Di saat bersamaan, tongkat super panjang menampar wajah White Tiger dari udara, cukup kuat untuk membuatnya terhempas mundur. Tongkat mulai memendek, hingga akhirnya menunjukkan seorang pria tampan menggunakannya, Ozaru.