
Setelah semalaman berjalan menuju kerajaan Ruberios, para bandit sampai di sana tepat saat matahari menampakkan sinarnya. Sepertinya mereka memiliki jalan tersembunyi untuk memasuki Ruberios sehingga mereka tidak perlu membayar pajak masuk dan mempersingkat waktu perjalanan. Dengan ini penyusupan ke Ruberios berhasil tanpa kendala dan sekarang, Rigel nampaknya sudah berada di gunung tempat Pahlawan Tongkat mengasingkan diri.
"Jadi seperti ini kerajaan Ruberios. Jelas sekali perbedaan antara tumbuhan dan monsternya dengan Britannia ataupun Region..." Gumam Rigel.
Dari belakang, para bandit yang Rigel gunakan mendekatinya dengan ragu sampai seorang bandit menggantikan bosnya untuk berbicata.
"A-anu, t-tuan pahlawan, B-bisakah kami bebas sekarang??" Tanya bandit itu.
"Ahh~, aku hampir lupa tentang itu. Aku akan membebaskan kalian, namun sebelum itu bisakah kalian melakukan sesuatu dan aku jamin kalian dapat bebas." Ujar Rigel.
"Baiklah!! Apapun itu akan kami lakukan...!!!"
Para bandit tampak bersemangat dan senang saat mengetahui bahwa Rigel akan melepaskan mereka begitu saja, sampai suara seorang budak anak kecil memprotesnya.
"Tunggu!! kenapa pahlawan sepertimu melepaskan penjahat seperti mereka?! Mereka hanyalah orang-orang biadap yang bahkan membunuh Ibuku!!!"
Bocah laki-laki itu tampak sangat tidak senang dan di penuhi amarah. Jelas saja karena dia memiliki pertemuan yang buruk dengan para bandit ini, namun yang jelas Rigel sangat tidak perduli dengan apa yang terjadi pada anak itu.
"Bukan urusanku, sekarang ambillah ini..."
Rigel mengeluarkan sekitar delapan benda yang sesuai dengan jumlah para bandit. Dia berbalik dan menyerahkan masing-masing satu kepada para bandit dan tersenyum.
"Tempelkan lah benda itu di kepala kalian dan tarik pelatuk itu dan kalian akan bebas...Lakukanlah bersama-sama." Ujar Rigel, sambil tersenyum lembut ke arah para bandit yang bingung dengan benda yang ada di tangan mereka.
Mereka bahkan tidak meragukan apapun yang dikatakan Rigel dan dengan bodohnya menempelkan ujung benda itu di kepalanya sampai—
"Aku tidak membutuhkan kalian lagi, jadi..."
Dorr!!!
Suara kencang dari pistol yang di tembakan oleh para bandit. "... silahkan mati." Lanjut Rigel.
Benda yang Rigel berikan adalah sebuah Pistol, lengkap dengan peluru di dalamnya. Dengan ini mereka bebas, terbebas dari dunia ini maksudnya. Rigel yang sekarang tidak akan pernah sebaik hati seperti dulu lagi, dia yang sekarang tidak akan pernah ragu lagi untuk mengotori tangannya.
Para budak yang berada dalam kandang besi menatap dengan tidak percaya, terutamanya bocah laki-laki yang menentang Rigel sebelumnya. Di depan matanya, para bandit membunuh diri mereka sendiri dengan benda yang tidak di ketahui. Mereka berfikir jika benda itu adalah Artifak kuno, namun sayangnya benda itu tidak akan pernah ada di dunia jika bukan karena Rigel.
Rigel menendang pistol yang sebelumnya berada di tangan para bandit ke kandang budak dan mengatakan :
"Aku akan menteleportasikan kalian ke negaraku, bawalah benda itu bersama kalian agar rekanku mengetahui bahwa kalian adalah kirimanku." Ujar Rigel.
Para budak Demi-human yang Rigel tidak ketahui namanya mengambil pistol itu dengan sedikit takut dan tanpa buang waktu, Rigel langsung menteleportasikan mereka dalam sekejap mata.
"Sekarang, mari kita cari Pahlawan itu." Gumam Rigel.
Dengan begitu, Rigel berjalan menuju ke dalam hutan sendirian. 30 menit berlalu semenjak dia memasuki hutan. Sampai saat ini, dia tidak menemukan apapun selain pepohonan hijau di sepanjang perjalanan.
"Kyaaa...!!!"
Teriakkan seorang gadis yang bergema di sepanjang hutan terdengar. Rigel dengan cepat bergegas ke tempat suara itu berasal dan dalam sekejap mata, Rigel sudah mencapai tempat itu. Di sana, ada seorang gadis desa yang sedang di serang seekor Griffon yang ukurannya lebih besar dari biasanya. Gadis desa itu tampaknya sedang memetik buah di dalam hutan dan dengan keberuntungan yang buruk dia di serang Griffon.
Cruch!!
Seketika sebuah tongkat aneh menembus kepala Griffon. Tongkak itu datang dari kejauhan dengan panjang yang cukup gila. Rigel bahkan belum sempat menarik pelatuknya, namun tubuh Griffon sudah terkapar lemah dan mati.
"Kembalilah, Nyoibo." Suara seorang pria terdengar tidak jauh dari Pepohonan.
Rigel menatap dalam diam ke arah suara itu berasal dan menemukan pemilik dari tongkak itu. Dia adalah seorang Pria yang sedikit lebih tua dari Rigel. Pria itu memiliki rambut hitam yang menyatu dengan bewok serta kumisnya, telapak tangan dan kaki yang mirip dengan milik kera dan sebuah ekor panjang dari kera.
'Jackpot, jadi dialah orang yang sedang kucari. Awalnya kupikir dia akan seperti kera yang mencari kitab suci, namun hanya wajahnya saja yang di penuhi bulu.' Batin Rigel.
Nampaknya Rigel tidak perlu bersusah payah mencari keberadaan pahlawan tongkat karena dia muncul dengan sendirinya.
Apa yang dilakukan Monyet tak berbulu seperti kalian di hutan ku??" Ujar Pahlawan tongkat.
Rigel hanya menatap dalam diam, sementara gadis yang hampir menjadi sarapan Griffon merapihkan keranjang buahnya dan menghampiri Pahlawan Tongkat.
"A-aku kesini hanya ingin mengantarkan buah-buahan ini untukmu, Pahlawan Tongkat." Ujar gadis desa.
Melihat berbagai jenis buah-buahan yang bahkan belum pernah Rigel lihat, Pahlawan Kera melompat dari pohonnya dan mendekati gadis itu dengan hati-hati selagi mengendus aroma buah-buahan itu.
"Hmm, ini buah yang sehat. Hahahahaha, bagus!! akan aku terima persembahanmu, Monyet betina..." Ujar Pahlawan Kera, dengan senang mengambil keranjang buahnya dan melahap nya di tempat. Gadis yang memberikan buah-buahan itu tersenyum dengan senang.
Dia benar-benar terlihat seperti seekor Kera yang memakan makanannya dengan lahap. Rigel khawatir jika Kera ini akan menjadi Kera yang merepotkan namun dengan cepat dia menghilangkan pikirannya dan melompat masuk ke tempat mereka berada. Menyadari seseorang mendekat, Kera itu dengan cepat meqaspadai Rigel namun tetap duduk dan melahap makanannya.
"Siapa di sana??" Ujar Kera itu.
"Aku hanyalah orang yang kebetulan sedang berada di sini, aku adalah Pahlawan Creator,Amatsumi Rigel...lalu kau sendiri??" Tanya Rigel.
"P-pahlawan Creator?!" Tanya gadis itu dengan semangat.
Namun Rigel mengabaikan gadis desa itu, karena orang yang membuatnya datang jauh-jauh ke sini ada tepat di depannya. Kera itu bangkit dari tanah, dia memegang tongkatnya dan mengayunkan nya ke punggungnya sementara tangan kanannya terulur ke depan.
"Raja kera dari Dunia Kera, Tuan Ozaru yang maha perkasa!!"
Dia memperkenalkan dirinya dengan gaya yang aneh namun tampak mengagumkan untuk gadis desa itu. Nampaknya dia adalah satu-satunya pahlawan yang di panggil dari planet lain selain bumi, dan kemungkinannya dia berasal dari Planet yang hanya berisi Kera di dalamnya.
Setelah Kera itu—Ozaru memperkenalkan diri, Rigel mengambil langkah lagi untuk mendekatinya namun sebuah serangan tak terduga datang dari Ozaru.
Dia mengayunkan tongkatnya ke arah Rigel namun dapat di hindari Rigel dengan mudah.
"kau Monyet paling berbahaya yang kutemui semenjak aku datang ke tempat yang aneh ini. Apa maumu??" Ujar Ozaru, menatap Rigel dengan tatapan tajam.
Ozaru nampaknya bergerak karena insting hewannya yang tajam. Rigel juga menatap balik Ozaru dengan dingin, dia berbeda dari Takumi dan yang lainnya. Rigel dapat merasakan ada sesuatu yang lain dari Ozaru yang membuatnya merinding. Dia sepertinya sudah benar-benar terampil menggunakan tongkat, bahkan dalam satu ayunan nya tadi dapat meretakkan tanah di sekitarnya.
Karena Rigel tidak menjawab pertanyaannya, Ozaru melompat dan berputar lalu mengincar kepala Rigel dengan tongkatnya. Rigel mengangkat senjata laras panjangnya dan menjadikannya sebagai perisai untuk melindungi dirinya. Satu hal yang telah di pastikan Rigel dan Ozaru secara bersamaan...
'Dia kuat.' Batin Rigel dan Ozaru.