The Legends Of Creator Hero

The Legends Of Creator Hero
Diskusi Penaklukan II



"Namun, dengan kekuatan kita yang sekarang, apa mungkin mengalahkannya? Bahkan kau sendiri nyaris terbunuh dari melawan White Tiger."


Nampak jelas bahwa Asoka mewakili kekhawatiran Tirith dan rekan-rekan lain yang tidak dapat menyerukan kekhawatiran mereka. Lagipula tidak ada tempat untuk melarang mereka, dikarenakan tanggungjawab yang diemban wajib terlaksana.


Meski begitu, menilai kekuatan tempur dengan lawan juga diperlukan untuk kemenangan. Hanya orang bodoh yang akan dengan sembrono menyerang tanpa persiapan. Dan untuk memastikan apakah Rigel orang bodoh atau sebaliknya, Asoka mencoba meluruskannya.


"Untuk itulah aku mengumpulkan kalian dalam rapat untuk membangun kesatuan tempur yang akan turun tangan langsung menghadapi para Naga. Prajurit biasa tidak akan berguna, pada akhirnya mereka cuma menjadi hidangan."


Membawa prajurit amatir hanya akan membebani, namun bukan berarti tanpa keuntungan. Bila mana banyak dari mereka berhasil selamat, setidaknya mereka sudah mendapat pengalaman dari pertarungan sesungguhnya. Dengan begitu, mereka akan jauh lebih berguna saat Ragnarok.


Meski begitu, Rigel tidak berniat mengambil risiko sebesar itu, hanya untuk hasil kecil. Meski lemah, setidaknya mereka memiliki keunggulan mutlak dalam jumlah.


"Meski entah kapan dan siapa diantara kalian yang menjadi Kaisar Surgawi, namun setidaknya kalian dapat bersatu dibawah tanganku saat ini. Kalian dapat mengumpulkan orang-orang cakap, entah golongan kesatria atau petualang. Apapun itu, kumpulkan mereka dengan alasan Quest penaklukan bersama Pahlawan."


Bagi mereka yang tidak memiliki kesempatan bertemu, bertarung bersama para Pahlawan menjadi suatu kehormatan dan kesenangan terbesar. Tidak hanya bisa berdiri di sisi mereka, namun juga dapat melihat kecakapan mereka sebagai referensi gaya bertarung mereka sendiri.


Memang kebocoran informasi mungkin dapat terjadi. Namun tidak ada pilihan lain selain membiarkannya. Lagipula hanya dengan mengumpulkan petualang dan prajurit elite, Lucifer dan iblis lain tidak akan dapat menerka tujuannya dengan mudah. Lantas, mau tidak mau mereka perlu menyelidiki langsung dengan mengirimkan mata-mata berupa pilar iblis. Bila itu terjadi, Rigel akan menjamin memenggal kepalanya.


"Hal itu perkata mudah, namun bagaimana bisa sekumpulan petualang menghadapi darah murni? Yang campuran saja seringkali nyaris membunuh mereka," Rudeus menyerukan pendapatnya, berdasarkan pengamatannya.


Kekaisaran Timur terkenal dengan kekuatan tempur memumpuni, melebihi Britannia atau Ruberios. Beberapa party petualang di Kekaisaran Timur dikenal penjuru negeri. Wajar bila Rudeus tahu lebih banyak tentang kemampuan para petualang daripada Kandidat Kaisar lainnya.


Asoka sendiri dapat mengetahui sedikit banyaknya kekuatan petualang, mengingat dia pernah menjadi salah satu dari mereka. Namun pengetahuannya tidak mencapai Rudeus yang lebih berpengalaman.


"Poin bagus, Rudeus," Rigel menyebut namanya tanpa panggilan hormat, namun jelas dia mengakui kecermatannya, "Karena itu kita juga akan mengadakan pelatihan bagi mereka dan aku akan menyerahkan tanggungjawab itu kepadamu yang lebih mengenal para petualang..., bagaimana??"


Mendapat tanggungjawab semacam itu mungkin cukup membahagiakan baginya. Dikarenakan sudah cukup lama dia duduk di singgasana dengan bosan. Boleh jadi hal ini akan menjadi awal menghilangnya kebosanan yang dia miliki.


Rudeus mendengus senang, hatinya seakan tergelitik dan semangat akan tanggungjawab untuk melatih petualang dan kesatria.


"Hahaha..., ide bagus. Aku akan melatih para kadet itu menjadi sedikit lebih baik."


Maka poin mengumpulkan kesatuan tempur telah selesai. Meski begitu, ini bukan menjadi akhir dari pembahasan. Masih ada begitu banyak poin-poin yang harus dibahas dan tuntaskan.


"Karena kita memerlukan bantuan sebanyak mungkin, kita memerlukan berbagai bantuan yang dapat diandalkan. Jadi, kalian para Kandidat Kaisar Surgawi harus turun tangan dalam penaklukan ini. Tentunya, kalian diizinkan membawa para eksekutif kalian yang dapat bertarung baik."


Satu orang veteran jauh lebih baik daripada seratus pemula. Meski begitu, resiko yang diambil tetaplah sepadan. Kehilangan orang berbakat akan menjadi kerugian terbesar, namun keuntungannya sama besarnya.


Berbeda dengan membawa para pemula. Mereka hanya akan unggul dalam jumlah, namun tidak dalam segi kemampuan. Mereka mungkin akan mulai gemetar dan putus'asa saat dihadapkan oleh tekanan.


Rigel memandang orang-orang dalam rapat untuk melihat bagaimana wajah yang mereka miliki. Di pertengahan, dia menemukan salah satu kandidat mengangkat tangan untuk izin bertanya.


"Katakan apa maumu, Alexei."


"Ya. Mengenai poin sebelumnya, saya sendiri tidak keberatan. Justru hal bagus dengan membawa sedikit nyawa dalam penaklukan. Namun, saya sedikit penasaran tentang poin dimana Naga Api membantu kita. Apakah itu berarti dia akan melawan bangsanya sendiri??"


Dia tidak terlihat takut sama sekali kepada Naga besar di depannya. Mungkin dia yakin bahwa Naga itu benar-benar ada dipihaknya. Mengingat Rigel sendiri tidak terusik sama sekali dengan gerak-gerik Red.


Semuanya juga penasaran tentang bagian Red yang memberikan bantuan. Namun entah untuk alasan apa tidak seorangpun berniat menanyakannya.


"Yah, kupikir tidak jadi masalah menjelaskannya sedikit," gumamnya selagi membuang nafas kasar.


"Red dan Naga yang berhasil melarikan diri akan kembali ke tanah airnya. Tugas mereka bukan bertarung, tetapi membujuk Naga murni lainnya untuk membelot dan pergi ke sisi kita. Dengan begitu, tidak ada keperluan menghadapi mereka secara langsung."


Untuk alasan itu, Rigel memilih membuat kesatuan tempur yang terdiri dari para elite. Bukan untuk menghadapi darah murni, namun yang campuran.


"Jadi begitu. Itu merupakan ide yang sangat baik, namun..., bagaimana bila mereka menolak untuk membelot? Sekalipun mereka benar-benar berpindah pihak, apa yang akan kita lakukan terhadap mereka yang berada di seberang??"


Kendati para Naga berdarah murni menolak usulan Red untuk membantu para manusia, maka keadaan akan menjadi sulit. Bukannya dia tidak bisa membunuh mereka. Namun akan sulit menghadapi banyak dari mereka dan belum lagi, dia harus menghadapi Acnologia di akhir.


Mengenai para Naga berdarah campuran, tidak perlu lagi dipertanyakan. Jawabannya sudah lama ada dalam kepalanya, bahkan tanpa berpikir keras.


"Genosida...,"


Semua orang dalam diskusi terperangah begitu mendengar satu kata yang Rigel lontarkan. Mengingat salah satu dari ras itu sendiri ada di belakangnya, keberadaannya mengatakan hal mengerikan itu patut diacungi jempol.


Red sendiri tidak terlalu senang mendengar kata yang dilontarkan Rigel. Namun dia memilih diam karena penjelasan Rigel belum berakhir.


"Bagi mereka yang berdarah campuran, kita akan membantainya tanpa belas kasih. Lagipula mereka adalah sekumpulan monster yang bertindak radikal, berbeda dengan darah murni yang bijak. Namun, bila mereka yang murni menolak membelot..., pertarungan akan sulit."


"Kemungkinan terburuknya, mereka masuk dalam daftar hitam, ya," Ozaru menambahkan. Yang artinya, kemungkinan terburuk Naga dengan darah murni akan masuk sebagai target genosida mereka.


"Karena itulah Red. Sebisa mungkin, buat mereka berada dipihakmu," Rigel memberikan peringatan yang nyata.


"Akan kulakukan yang terbaik. Lagipula aku tidak akan tinggal diam bilamana rasku dibantai, bahkan jika itu kau," Red mengirimkan tatapan tajam yang membuat semua merinding. Hal itu lebih seperti peringatan ketimbang ancaman.


Situasi terburuknya, Red dan Naga lainnya akan menjadi musuh. Mau tidak mau genosida penuh terhadap ras Naga akan terjadi dan membuat Naga benar-benar punah dari dunia.


Rigel sendiri tidak perduli dengan kontrak bantuan pasukan Naga. Tujuannya membawa Red hanya untuk membuatnya menjaga Region selagi dia tidak ada. Mungkin lebih seperti antisipasi bilamana kejadian seperti invasi iblis tidak terulang.


Kendati dia membunuh mereka semua, maka tidak terbantahkan bahwa dia akan memiliki pasukan kematian yang berisikan Naga. Tidak perlu diragukan, kekuatan manusia dapat mengimbangi dua ras yang akan ikut dalam perang. Yah, mau genosida atau tidak, yang manapun tidak masalah. Pada akhirnya dia sendiri yang akan mendapatkan keuntungan.


"Untuk saat ini mari kita sudahi saja. Mengingat hari semakin larut, sebaiknya lanjutkan rapat saat waktunya hampir tiba atau intelijen ku memberikan informasi terbaru. Apakah ada yang ingin bertanya??"


Rigel menatap semua orang yang tidak menunjukkan gerakan untuk bertanya. Dia menunggu beberapa waktu sampai akhirnya mengkonfirmasi bahwa benar-benar tidak ada yang ingin menanyakan apapun. Disaat-saat terakhir, seseorang akhirnya bertanya.


"Pahlawan Rigel, saya meminta izin bertanya," sikapnya tetap dipenuhi rasa hormat dan formalitas bangsawannya. Seperti yang diharapkan dari bangsawan ternama.


"Silahkan."


Natalia mengangguk dan memberikan hormatnya dengan menundukkan kepalanya.


"Mengenai kesatuan tempur yang akan dibentuk, haruskah saya mengabari negara kecil dan memilih mereka yang berguna? Dan juga, haruskah saya menyiapkan senjata berkualitas bagi mereka kesatuan tempur??"


"Benar juga. Semakin banyak orang yang ada maka semakin baik..."


Mengenai senjata berkualitas perlu dipertimbangkan. Mungkin memang bagus memberikan senjata berkualitas sebagai imbalan bagi mereka yang berpartisipasi. Lagipula dia tidak mau repot-repot memberikan bayaran besar kepada mereka.


"Baiklah, kuizinkan. Bila senjata yang terbuat dari tulang belulang White Tiger selesai, berikan kepada mereka sebagai imbalan."


"Dimengerti."


Dengan begitu tidak ada orang yang berniat untuk bertanya sehingga diskusi diakhiri. Rigel lekas menuju ruang kendali untuk melakukan beberapa pengaturan khusus.


"Leo," dia menyerukan namanya dan membuatnya terkejut, "Kerja bagus. Sebaiknya kau beristirahat dan bersiap untuk hari esok."


"Ayah..., kalau begitu baiklah. Aku akan beristirahat, selamat malam," dengan patuh dia menuruti perintah Rigel. Lantaran dia sendiri telah begitu kelelahan dan mengantuk.


"Ya..."


Begitu Leo pergi menggunakan Lift Teleport, Rigel duduk dan bersantai di kursi yang dia siapkan sejak awal membangun ruangan ini.


"Sekarang, mari kita lihat apa yang harus dipersiapkan...," dengan santai bersandar pada tangannya, dia memikirkan hal yang harus dia buat demi mempersiapkan hari pertempuran.


[***]


Disebuah tempat yang jauh, jauh dari peradaban umat manusia. Benua—pulau besar yang dikenal sebagai pulau hitam, namun tidak dapat ditemukan dimanapun. Lagipula tidak ada seorangpun manusia yang dapat mencapainya.


Pulau yang berletak di ujung dunia yang berada ditengah lautan. Pohon disana bewarna hitam, begitu pula tanahnya. Bukan karena gersang dam tercemar, melainkan karena kandungan sihir jahat yang tersemayam di dalamnya. Tanah itu justru subur, namun segala hal yang hijau akan menghitam.


Hanya ada satu kerajaan di pulau itu. Ukurannya sendiri mencapai seluruh pulau dan lebih besar dari yang lainnya.


BOOM!!


Ledakan besar bergema diseisi pulau, menciptakan asap yang disertai api keunguan. Asalnya sendiri berasal dari belakang kastil yang lebih besar dari Britannia atau negara lainnya.


"Huh~, sepertinya memang sulit mengendalikan kekuatan penuh tangan ini."


Dia menatap tangan kiri yang ukurannya lebih besar dari tangan kanan. Tangannya sendiri tampak hangus, dipenuh garis-garis api yang menyatakan terbakar api abadi.


"Saya benar-benar terpukau akan kekuatan hebat anda, tuan Lucifer."


Pria itu mengungkapkan perasaannya dengan jujur selagi berlutut hormat. Matanya sendiri sangat berkilau dan berkaca-kaca akan kekaguman.


"Ya..., tidak sia-sia diriku mengorbankan iblis lemah dan si tolol Karaka itu. Nyatanya hasil yang kudapat memuaskan, meski sulit menggunakannya secara tepat. Bagaimana? Apa kau ingin menjadi Samsat tinjuku, Zenos??"


Lucifer berbalik dengan senyuman lembut yang mengerikan. Tinju kirinya mengepal dan menandakan bahwa dia siap melakukannya kapanpun.


Zenon disisi lain tetap berlutut hormat dan sedikit mendengus senang.


"Bagi saya, segala yang dimiliki hanya untuk diserahkan untuk anda. Bila itu keinginan anda, maka dengan senang hati saya ikuti. Bahkan jika harus menentang dewa itu sendiri, saya akan senantiasa menemani."


Zenos menunjukkan kesetiaannya yang tidak ada duanya. Mungkin hanya dia sosok di benua ini yang mau melakukan apapun dan menyerahkan segala yang dipunya hanya kepadanya. Sebagai pilar iblis terkuat dia selalu mematuhi dan senantiasa menemani tuannya. Bahkan dalam keadaan ketika tuannya tertidur, dengan sabar dia menunggu tepat di depan kamarnya.


Agar bila tuannya terbangun, terdapat orang disisinya yang menjelaskan situasi dan mengucapkan selamat datang kembali. Untuk alasan itu, Lucifer sangat mengakui kesetiaan Zenos padanya. Bahkan jika dia berakhir disini, Zenos tidak akan ragu menemaninya pergi ke kematian.


"Seperti biasa, kau selalu seperti itu. Karena hal itulah yang membuatmu lebih berharga dari antek-antek yang hanya sedikit berguna. Akan disayangkan menjadikanmu samsat tinju."


"Saya merasa tidak pantas menerima pujian anda yang begitu tinggi, tuan," dengan sangat merendah dia mengelakkan pujian Lucifer. Meski sesungguhnya dia merasakan senang dari lubuk hati terdalam.


"Sesukamu saja. Sekarang, ceritakan hal yang terjadi selama aku sibuk berlatih," Lucifer mengganti topik pembicaraan selagi perlahan memulihkan tubuhnya dari kelelahan.


"Sesuai keinginan anda..., belum lama ini salah satu pilar dikalahkan oleh para Pahlawan disebuah tempat kumuh bernama Darkness. Pilar yang mati itu adalah si setengah-setengah, Marionette."


Zenos memiliki sedikit kemarahan dan penyesalan dari kata-katanya. Kemarahan karena terdapat orang bodoh yang melawan perintah tuannya untuk duduk tenang dan tidak melakukan tindak apapun selama dia berlatih. Untuk penyesalan yang dia miliki adalah karena tidak membunuh para Pahlawan ketika mereka masih sangat lemah.


"Orang gila itu, ya. Sejak awal dia memang sulit diatur. Hidup dengan dasar untuk membalas dendam pada pria keparat yang telah lama mati, aku sengaja merekrutnya karena tertarik dengan hal apa saja yang telah keparat itu lakukan kepadanya. Namun biarlah, masih banyak calon-calon yang dapat menggantikan si gila dan dua orang tolol yang mati lainnya."


Sejauh ini terdapat tiga pilar yang telah dikalahkan oleh para Pahlawan. Behemoth, Dante dan Marionette. Meski mereka hanya sekumpulan orang yang sedikit berguna, setidaknya kekuatan mereka cukup memumpuni untuk menghadapi Seraphim dan Pahlawan.


"Baiklah, kalau begitu segera saya siapkan para iblis yang entah berguna atau tidak bagi anda..," tanpa perlu diperintahkan Zenos telah tahu apa yang harus dia lakukan dan hal itulah yang membuat Lucifer menganggapnya berharga. Berkatnya, Lucifer mengangguk puas.


!!!


Di tengah obrolan mereka, sebuah tekanan besar muncul dan membuat gempar seisi kerajaan iblis. Pemikiran bahwa Pahlawan telah mengetahui lokasi mereka dan memilih menyerang muncul. Namun Lucifer tahu dengan jelas siapa pemilik tekanan ini.


Pilar iblis termasuk Zenon dan pasukan elite ras iblis terbang keluar dan melingkari penyusup yang berjumlah satu orang saja. Mereka dengan waspada mengamati sosok itu untuk memastikan identitasnya.


Senjata yang mereka miliki terulur menuju langsung ke leher penyusup itu. Lantaran dia harus takut dan panik, namun penyusup itu hanya melayang di udara dengan tenang seakan tidak menemukan ancaman apapun dihadapannya.


"Bajingan, beraninya kau menyusup ke tanah iblis. Nyawamu tidak akan pernah terselamatkan!!" ujar Zenon tanpa perlu menyembunyikan ketidak senangannya.


"Lakukan saja bila bisa," ujar penyusup itu dengan tertawa mengejek.


Mereka mulai terprovokasi dan hendak menyerangnya, namun aura kuat yang mendekati mereka tidak dapat diabaikan. Tidak perlu mengkonfirmasi siapa dia, karena mereka sudah sangat mengenalnya.


"Lucifer, kawan lama yang tidak pernah kulihat lagi selama ratusan tahun lebih," ujarnya dengan senang. Namun berbanding terbalik dengan Lucifer yang mengerutkan alis dalam-dalam.


"Bagaimana bisa kau ada disini dan apa tujuanmu, keparat. Apa kau berniat memulai sebelum waktunya tiba??"


Dalam waktu yang sangat lama, untuk pertama kalinya Lucifer mengeluarkan semua kebencian dan kemarahannya. Pilar iblis sendiri merinding dan ikut murka terhadap tuannya yang murka. Namun tidak ada yang mencoba memulai sebelum tuannya memberikan isyarat atau memulai lebih dulu.


"Aku datang hanya untuk menyapamu, kawanku. Nampaknya kau sehat-sehat saja semenjak jatuh kedalam kubangan lumpur," ejek sang penyusup.


"Jangan mencoba memancing amarahku, bajingan hina."


Penyusup itu hanya mengangkat bahu, tahu bahwa ada tempat yang tidak seharusnya dia sentuh sekarang. Lagipula dia hanya ingin bersenang-senang sedikit. Sebaiknya dia menyimpan bagian terbaik di akhir.


"Dingin sekali~..., yah, mari kesampingkan hal remeh seperti itu. Aku datang untuk memberitahukan padamu, bahwa saat ini aku sedang memainkan sebuah permainan sebelum pengakhiran."


"Kupikir kau mungkin akan tertarik untuk ikut dan membuatnya menjadi semakin menarik. Bagaimana? Mau ikut??"


"Lebih baik aku menjilat debu ketimbang mengikuti kemauanmu, bangsatt!!"


Bukannya kekecewaan, justru penyusup itu tersenyum seakan sudah menduganya.


"Jawaban yang sudah kuduga akan kau ucapkan. Sebenarnya aku sendiri tidak perduli kau ikut atau tidak. Lagipula para manusia itu cukup menarik minatku. Ahh, ya..., sebagai hadiah perpisahan kecil, akan kuberitahu letak permainan dimainkan..., Tanah Naga yang terlupakan. Itu saja, selamat tinggal kawanku."


Dalam sekejap tubuhnya menjadi samar-samar dan menghilang, seakan tidak pernah ada di hadapannya. Lucifer merasa marah dan penasaran bagaimana dia bisa berada di sini. Nampaknya ada banyak hal yang terjadi tanpa sepengetahuannya ataupun Pahlawan.


"Apa yang selanjutnya akan kita lakukan tuan? Penyusup itu nampaknya bukan orang biasa, haruskah kita memburunya??" tanya Diablo yang memberi hormat selagi melayang.


"Tidak dibutuhkan. Mencarinya hanya akan membuat orang-orang sedikit berguna seperti kalian mati konyol. Lagipula aku berjanji akan diam selama beberapa waktu dan dibutuhkan waktu lebih banyak untuk mengendalikan kekuatanku. Kita hanya akan diam dan mengamati. Tergantung bagaimana keadaannya, mari datangi tempat itu."