The Legends Of Creator Hero

The Legends Of Creator Hero
Mimpi



Aku melihat sebuah mimpi. Mimpi saat aku dilahirkan di sebuah rumah sakit.


"Oekk! Oek!"


Suara bayi menangis.


"Selamat nyonya Fortuna! Anda melahirkan seorang bayi laki laki yang manis dan sehat!"


Ucap seorang perawat.


"Lihatlah, kau mewarisi mata kejam ayahmu namun wajah serta rambutmu mirip dengaku."


Ucap ibuku.


Dia memiliki air mata bahagia di tepi matanya. Aku yang masih bayi tersenyum kepada ibuku saat perawat menyerahkanku kepada ibuku.


Aku lahir tanpa ayah. Nampaknya, ibuku mencintai seorang pria dan dia akhirnya menikah dengan pria itu. Saat ibuku mengandungku dalam perutnya, ayahku mengalami kecelakaan dan meninggal tanpa pernah bisa melihat wajah putranya yang akan lahir.


"Ayahmu dan aku sangat menyukai bintang. Kami berniat memberimu dengan nama salah satu dari mereka. Hmm? Bagaimana kalau kunamai kau Rigel? Bagaimana menurutmu, bayi kecilku yang manis?"


Ucap ibuku, mengelus pipi Rigel kecil.


Rigel kecil tertawa senang saat ibuku menanyakan hal itu. Ibuku mendekatkan wajahnya ke wajahku yang masih bayi.


"Lihat! Kau menyukainya! Aku akan menggunakan marga ayahmu di namamu. Mulai saat ini, namamu adalah Amatsumi Rigel. Jadilah pria yang kuat dan buat ibumu ini bangga!"


Lalu, pemandangan saat ibuku memberiku nama mulai menjauh dan menghilang. Aku terbangun dari mimpiku, sesuatu keluar dari mataku dan membuat penglihatanku sedikit berkabur. Aku menangis.


"Payah, aku sudah menginjak umur 18 namun aku masih tetap cengeng, ibu."


Ucap Rigel mengejek dirinya sendiri sambil menghapus air mata dari matanya.


Setelah aku mengusap air di mataku, aku bangun dari tempat tidurku untuk menyegarkan tubuhku yang lelah.


"Ah, selamat pagi, tuan Rigel."


Sapa Nisa.


"Ah, ya selamat pagi. Bukankah sudah kukatakan untuk memanggilku, Rigel saja."


Ucap Rigel sambil mongeringkan rambutnya dengan handuk.


"Yah, mungkin aku masih belum terbiasa dengan penampilanmu sekarang. Dulu, kau lebih terlihat seperti bocah polos yang lemah sehingga aku tidak gugup. Namun, kau yabg sekarang terlihat sedikit, emm, dewasa dan lebih berwibawa dengan rambut putihmu itu."


Ucap Nisa.


"Kau tidak berfikir rambutku ini disebabkan karena penuaan, kan?"


Tanya Rigel.


"T-tentu saja tidak."


Balas Nisa dengan gagap.


Aku tahu dia berbohong, karena pada dasarnya kemampuan Nisa dalam berbohong sangatlah buruk. Bahkan seekor monyet tidak akan bisa dia kelabui.


"Dimana yang lainnya?"


Tabya Rigel.


"Misa sedang merapikan barang bawaan kami di kamar sementara Ray dan Cold sedang mempersiapkan kereta untuk kita naiki. Ah, lalu aku menemukan barang yang kau minta."


Ucap Nisa.


Nisa menyerahkan barang yang kuminta sebelumnya.


"Baiklah, kalau begitu aku akan kembali ke kamar. Ada beberapa hal yang harus kulakukan, jadi panggil saja aku saat semuanya sudah beres."


Ucap Rigel.


"Baiklah, kalau begitu aku akan membantu Misa. Sampai jumpa, Rigel."


Ucap Nisa sambil melambaikan tangannya.


"Ya."


Balas Rigel.


Aku kembali ke kamarku setelah selesai membersihkan tubuhku dan mengeringkan rambutku yang sudah lama tidak ku keramas. Barang yang kuminta sebelumnya kepada Nisa adalah seutas tali berwarna hitam yang bisa kugunakan untuk membuat sebuah kalung.


Aku mengeluarkan sebuah batu yang terlihat seperti kristal berwarna merah muda yang cantik. Ini adalah inti jiwa milik Priscilla. Ukurannya sangatlah cocok untuk di jadikan sebuah kalung yang sangat indah.


Tidak butuh waktu lama bagiku untuk menyelesaikan kalung itu dan langsung kukenakan di leherku. Aku menghadap ke cermin untuk melihat penampilanku.Meskipun akan tampak aneh untuk seorang pria menggunakan kalung berwarna merah muda, namun bukan berarti aku tidak cocok menggunakannya.


Kristal merah muda itu mengeluarkan kilatan cahaya putih, seolah berkata bahwa ini cocok untukku.


"Terima kasih atas pujianmu, Priscilla."


Ucap Rigel.


Ucap Nisa, mengetuk pintu.


"Aku akan segera datang, kau pergilah duluan."


Ucap Rigel.


Aku mengenakan baju usang namun sangat pas dengan tubuhku dan sebuah jubah dengan tudung kepala yang menutupi seluruh tubuhku dan juga menutupi warna rambutku yang mencolok. Sebelum aku keluar dari ruangan, aku menggunakan skill Creator milikku untuk menciptakan sebuah topeng.


Topeng yang kuciptakan berwarna putih dengan dua buah ukiran mata berwarna hitam dan sebuah senyuman lebar berwarna hitam gelap. Aku memberikan lubang di antara mulut dan hidungku agar dapat bernafas dan suaraku dapat terdengar dari kejauhan. Aku juga membuat sebuah lubang di bagian mata kanan topengku agar aku dapat melihat.


Aku keluar dari penginapan dan dluar, aku sudah melihat teman temanku menunggu dengan sebuah pedati. Jubahku terhembus kebelakang karena tiupan angin. Aku mengenakan topengku sambil berjalan menuju ke arah mereka.


"Ayo, kita pergi."


Ucap Rigel.


Rigel menaiki pedati yang di kendarai oleh Cold. Di dalam pedati tidak ada banyak barang barang selain perlengkapan berpetualang dan beberapa makanan.


"Rigel, aku masih penasaran dengan lengan kiri palsumu itu. Apakah itu kau dapatkan saat mendaki jurang?"


Tanya Ray.


"Ah, ya. Dalam perjalanan, aku bertemu dengan monster yang menggunakan semacam zirah dan mendapatkan lengan ini sebagai drop item. Aku menggunakan pengetahuan dari duniaku sebelumnya sehingga aku dapat menggerakannya sesuka hatiku."


Ucap Rigel.


"Jadi begitu, baguslah karena kau memiliki lengan pengganti."


Ucap Ray, tersenyum.


Aku juga membalas Ray dengan tersenyum balik kepadanya.


"Oh iya, apakah kalian tahu apa saja yang sudah terjadi pada Tirith selama aku pergi? Kalian tidak memberitahukannya padaku kemarin. "


Ucap Rigel.


" itu..."


Ucap Misa.


Entah kenapa semua orang tampak sangat enggan untuk menjawab. Apakah ada sesuatu terjadi kepadanya?


"Itu, putri Tirith tidak lama lagi akan bertunangan dengan pahlawan pedang."


Ucap Cold dengan sedikit menyesal dan sedih.


Ray, Misa dan Nisa memiliki wajah yang pahit saat Cold mengungkapkannya. Mereka tahu bahwa aku sangat mencintai Tirith dan khawatir bahwa aku akan merasa sakit hati atau frustasi karenanya.


"Jadi begitu. Katakanlah lebih awal, tenang saja aku tidak akan frustasi atau apapun."


Ucap Rigel, tersenyum.


Namun, aku masih tidak percaya bahwa Tirith dapat benar benar mencintai Takatsumi. Entah ini karena dia memaksakan dirinya atau memang benar benar karena mencintainya aku tidak masalah jika dia memang mencintai Takatsumi. Tetapi kalau itu sebaliknya, aku pasti akan melakukan sesuatu.


Untuk sekarang lebih baik bagiku tidak memikirkannya karena pertunangan dengan pernikahan adalah cerita lain. Aku juga sangat yakin jika Tirith tidak akan pernah mau memberikan tubuhnya sebelum pernikahan.


"Yah, kita abaikan soal Tirith untuk saat ini. Jadi, kemana tempat tujuan kita sekarang?"


Tanya Rigel.


"Kediaman seorang bangsawan baik hati, kediaman bangsawan Ainsworth."


Ucap Cold.


"Kupikir para bangsawan di Britannia hanyalah sekumpulan sampah. Namun ada beberapa yang berbeda ya."


Ucap Rigel.


"Ya, kepala keluarga Ainsworth sangat menolak kebijakan perbudakan setengah manusia. Dia adalah salah satu bangsawan paling berpengaruh di dalam negri ini. Kediamannya berada di pinggiran negara Britannia dengan wilayahnya yang sering di sebut negara kecil di dalam sebuah negara."


Ucap Ray.


"Dari mana kau dapat mengenal orang sehebat itu, Cold?"


Tanya Rigel.


"Yah, ada beberapa hal selain itu, dia adalah sahabat karib ayahku saat dulu."


Ucap Cold.


Jadi begitu. Jika dipikir pikir lagi, aku sama sekali tidak mengetahui apapun tentang masa lalu dan asal muasal Cold. Dari wajah dan penampilannya, dia tidak seperti seorang rakyat jelata. Dia lebih mirip sebagai seorang bangsawan karena wajahnya yang bersih dan cukup tampan. Bahkan caranya saat meminum teh sangatlah anggun dan bermartabat.


Yah, mungkin cepat atau lambat dia akan memberitahu kepadaku tentang dirinya. Perjalanan kami lancar tanpa kendala dan hanya butuh setengah hari bagi kami tiba di kediaman Ainsworth.