
"Kita sudah sampai loh...!!!"
Rigel menghampiri gadis kecil yang berlari dan menunjuk ke pintu yang menuju keluar. Cahaya matahari tampak bersinar terang sehingga tidak mungkin bagi Rigel untuk melihat apa yang ada di luar.
"Terima kasih karena telah menunjukanku jalan keluarnya, siapa namamu...??"
"Namaku Riri...!!"
Gadis kecil... — Riri kecil memperkenalkan dirinya dengan semangat kepada Rigel. Dia mengelus kepala Riri dan tersenyum, lembut. Lalu sekali lagi, Rigel bukan seorang lolicon atau semacamnya. Mungkin Rigel hanya menyukai gadis kecil yang periang seperti Riri. Sejak dulu, Rigel selalu bermimpi untuk memiliki seorang adik, tidak masalah jika itu pria atau wanita.
Saat Rigel hendak pergi untuk melihat seperti apa keadaan di luar, dia di hentikan oleh Riri yang meraih tangan kanan Rigel dengan khawatir. Wajahnya tampak sedih dan bermasalah. Rigel merendahkan tubuhnya agar sejajar dengan wajah Riri.
"Ada apa, Riri...??"
"Emm, aku belum pernah pergi keluar sana karena kata ibuku dunia luar itu berbahaya... Aku ingin ikut Tuan Pahlawan keluar sana, tapi aku takut ibu memarahiku karena pergi keluar..."
Rigel dapat berasumsi jika Riri lahir dan di besarkan di dalam terowongan bawah tanah ini. Alasannya sederhana, karena di luar terdapat ancaman dari Hydra dan juga monster monster yang di bawah kendalinya. Rigel bahkan dapat membayangkan jika hanya para pria dewasa saja yang pergi keluar untuk mencari makanan dan minuman sementara anak anak dan wanita akan menetap di terowongan ini.
Rigel berfikir dahulu sebelum mengatakan jika dia akan membawa Riri pergi keluar sana.
Kondisi tubuhku belum pulih sepenuhnya, tetapi bukan berarti aku tidak bisa bertarung. Namun, dengan keadaan seperti ini, aku mungkin tidak bisa melindungi Riri jika terkepung oleh monster. Mungkin lebih baik untukku menandai terowongan ini sebagai titik teleportasi dan berpindah jika di sergap oleh sekumpulan monster. Begitulah, yang di pikirkan Rigel.
"Apakah kau ingin ikut keluar bersamaku, Riri...??"
"Bolehkah...?! Ah, tetapi, aku takut menyusahkan Tuan Pahlawan... Lalu, dunia luar tidak aman untuk anak kecil sepertiku..." Ujar Riri dengan sedih dan merengut.
"Nah, Riri... Kau tahu siapa aku, kan...??"
"Emm..." Riri mengangguk "Seorang Pahlawan..." lanjutnya.
"Lalu, apa yang biasanya di lakukan oleh pahlawan...??"
"Menyelamatkan orang orang..."
Rigel tersenyum karena Riri menjawab pertanyaannya sesuai dengan apa yang dia harapkan.
"Jadi kau tidak perlu khawatir karena aku seorang pahlawan, aku akan menyelamatkanmu jika terjadi sesuatu... Jadi, kau tidak perlu khawatir..."
Rigel menghibur Riri yang wajahnya mulai kembali riang. Rigel menaruh Riri untuk duduk di pundaknya agar Rigel tidak kehilangannya saat keluar nanti.
"Apakah kau sudah siap...??"
"Ehm...!!"
Riri mengangguk sebagai jawaban. Rigel melangkahkan kakinya menuju keluar dan membutuhkan waktu beberapa saat untuk matanya menyesuaikan diri dengan cahaya di sekitar. Sesampainya di luar, Rigel dan Riri di sambut oleh pemandangan hutan hijau yang lebat dan tanah yang berlumut. Nampaknya terowongan itu berada di bawah tanah.
"Wahh..." 2x
Rigel dan Riri kagum secara bersamaan. Rigel tidak pernah melihat tempat seperti hutan hijau ini. Bahkan Riri yang tidak pernah mengetahui dunia luar tampak sangat senang.
"Wahhahah... Dunia luar sangat hijau dan terang... Tidak seperti di dalam...!!!" Ujar Riri melihat sekeliling.
"Kau benar, Riri... Aku bahkan belum pernah melihat tempat seperti ini, bagaimana kalau kita berkeliling terlebih dahulu...??"
Riri hanya mengangguk dengan semangat karena pemandangan yang benar benar baru baginya. Riri berpegangan pada rambut di kepala Rigel dan selagi dalam perjalanan, Riri berbicara...
"Emm... Tuan Pahlawan...?? Bisakah aku mengetahui namamu...??"
"Namaku Amatsumi Rigel, panggil saja Rigel..."
"Kalau begitu aku akan memanggilmu Kak Rigel...!!!" Ujar Riri sambil memiringkan tubuhnya agar bisa melihat wajah Rigel.
"Ahahahah... Silahkan saja."
"Nah, Kak Rigel... Aku mendengar cerita dari paman Fang jika ada pahlawan yang datang dari dunia lain... Apakah Kak Rigel juga datang dari dunia lain...??"
Rigel tersenyum senang saat Riri menanyakan tentang asalnya. Sungguh di sayangkan gadis kecil nan Riang sepertinya harus terkurung di terowongan tanpa mengetahui apapun tentang dunia luar karena ancaman dari monster malapetaka. Rigel bersyukur karena dia telah membebaskan pulau Yurazania dari genggaman Hydra. Jika saja Rigel tidak pernah memilih untuk menaklukan Hydra, Riri dan anak anak lainnya mungkin tidak akan pernah merasakan betapa hangatnya langit siang.
"Itu benar, Riri... Aku berasal dari dunia yang jauh bernama Bumi..."
"Bu... Mi...??"
"Ya... Di Bumi tidak ada sihir atau monster, semua orang dapat hidup dengan damai dan tidak perlu khawatir bahaya monster..."
"Bisakah kau ceritakan lagi hal hal tentang duniamu, Kak Rigel...??" Tanya Riri dengan semangat.
Rigel secara perlahan menceritakan bagaimana kehidupan di sebuah planet yang jauh bernama Bumi. Rigel menceritakannya dengan kata kata yang mudah untuk di mengerti anak kecil seusia Riri. Melihat Riri mendengarkan ceritanya dengan semangat, Rigel merasa Nostalgia saat dia menceritakan tentang dunianya kepada Tirith. Setelah puas mendengarkan cerita tentang Bumi, Riri memandang tangan kiri Rigel yang tampak aneh. Bahkan Riri melihat tangan kirinya itu memiliki banyak retakan.
"Kak, Rigel... Kenapa tangan kirimu ini berbeda...?? Aku bahkan belum pernah melihatnya."
"Ahh, ini... Lenganku terluka sangat parah dan harus di potong... Untuk menggantikannya, aku menggunakan lengan besi yang di temukan temanku selagi mengalahkan monster..."
"D-di p-potong...!!!" Ujar Riri dengan ngeri.
"Ya... Karena itu sudah hancur jadi tidak bisa di sembuhkan lagi dan dengan terpaksa aku harus menggunakan tangan Adamantite keras ini..."
Meskipun Adamantite adalah logam yang sangat keras, bukan berarti logam ini tidak bisa di hancurkan. Bahkan saat neradu tinju dengan Hydra yang dalam wujud Humanoid, tangan kiri Adamantite Rigel mulai retak.
"A-apakah sakit...??"
Ruri bertanya dengan khawatir sambil menyentuh tangan kiri Rigel. Ruri nampaknya ingin mengetahui apakah Rigel masih merasakan sakit di tangan kirinya. Dia hanya tersenyum dan mengatakan kepada Riri jika dia tidak merasakan sakit di lengan kirinya.
Setelah berjalan cukup lama ke pedalaman hutan, Rigel dan Riri menemukan sebuah reruntuhan yang nampaknya adalah sebuah kota pada masanya. Beberapa bangunan terlihat hancur namun ada juga yang tidak.
Sepertinya kota ini sudah beberapa tahun tidak di tinggali oleh manusia atau semi manusia. Rigel dan Riri terus melihat ke daerah sekitar untuk menemukan sesuatu sampai Rigel dan Riri melihat sebuah reruntuhan kerajaan besar yang sangat indah.
"Apakah ini tempat tinggal Cold sewaktu kecil dulu..."
Kastil itu sangat megah dan indah, beberapa pilar tinggi di bangun di sekitarnya. Kerusakan kastil itu juga nampaknya tidak terlalu buruk jika di lihat dari kejauhan. Namun Rigel tidak mengetahui seberapa parah kerusakan sebenarnya.
Srek srek.
Sebuah suara mencurigakan terdengar tidak jauh dari tempat Rigel berada. Rigel berbalik dan berkata—
"Siapa di sana...?!"
Seseorang mulai keluar dari sana, dia adalah seorang pria yang tampaknya sudah berumur kepala tiga. Wajahnya seperti orang lembut, namun jika di lihat dari otot otot di tubuhnya, jelas dia bukanlah orang biasa. Rigel berasumsi jika dia adalah seorang pengawal atau petualang.
"T-tuan Pahlawan...??"
Rigel terkejut karena pria itu mengenalnya. Seharusnya ini menjadi kali pertama baginya bertemu pria ini. Melihat itu, entah kenapa Riri mulai melambaikan tangannya ke arah pria itu.
"Ahhh...!!! Itu adalah paman Fang... Paman, sini-sini...!!!"
Seorang pria yang nampaknya bernama Fang dengan khawatir menghampiri Rigel. Dia berlutut di depan Rigel dengan sangat takut dan khawatir.
"T-tuan pahlawan...!!! Maafkan anak ini karena bersikap tidak sopan kepadamu...!!! Sebagai gantinya, hukum saja aku... Riri, turunlah dari sana..."
Fang menaikan suaranya kepada Riri yang menatapnya dengan bingung namun Riri menurutinya dan meminta tolong kepada Rigel untuk menurunkannya.
"A, emm... Tuan Fang, kan... Kau tidak perlu sampai segitunya, lagipula aku yang menawarkan Riri untuk naik di pundakku... Lalu, janganlah melakukan formalitas seperti ini kepadaku karena sedikit mengganggu untukku. Bersikaplah biasa..."
Rigel menepuk bahu Fang yang berlutut di depannya. Perlahan, Fang mulai berdiri dan menggendong Riri di punggungnya yang kekar.
"Kalau begitu, baiklah... Terima kasih atas kemurahan hatimu, Tuan Pahlawan..."
"Paman Fang... Akhirnya aku bisa pergi ke luar dengan aman... Aku ingi tahu, apakah anak anak yang lainnya bisa pergi keluar sepertiku..."
Riri mengatakan hal itu dengan suara kesedihan. Fang juga menatap Riri dengan sedih, dia tidak dapat memberikan jawaban yang pasti. Meskipun Hydra berhasil di kalahkan, bukan berarti monster monster yang berada di bawah kendalinya juga akan musnah. Menggantikan Fang, Rigel menjawab pertanyaan Riri.
"Riri, kau bisa keluar dengan aman karena bersamaku... Perjalanan kita aman karena monster dapat merasakan aura sihir seseorang, aku mengeluarkan aura sihirku untuk menakuti monster monster lemah sehingga tidak ada yang berani mendekati... Namun, jika kau pergi keluar seorang diri, mungkin saja kau akan bertemu dengan monster... Jadi, sampai saat monster di tempat ini berhasil di kendalikan, kalian tidak di perbolehkan keluar seorang diri, mengerti...??"
"Aku mengerti..."
"Kalau begitu, Tuan Fang, bisakah kau memberitahuku berapa lama aku tertidur dan jelaskan padaku situasi saat ini."
"Sesuai keinginanmu, Tuan Pahlawan."
***
Note Author.
jangan lupa mampir ke novel kedua Thor ya
WOSP : The Journey Of Gray.
Covernya seperti di gambar berikut...