The Legends Of Creator Hero

The Legends Of Creator Hero
Penjara bawah tanah, Tartaros



15 menit berlalu semenjak kepergian Lucifer, Rigel sudah bisa bergerak lagi meski tubuh bagian kirinya terasa panas karena efek dari serangan sebelumnya.


Hazama saat ini sedang memulihkan keadaan Ozaru yang pingsan. Awalnya Rigel berniat memberikan ramuan pemulihan kepadanya, namun tidak terduga bahwa Perisai Hazama memiliki kemampuan penyembuh yang lebih baik daripada ramuan pemulih.


*Uhuk....


*Uhuk....


Ozaru terbatuk, nampaknya ramuan pemulihan yang di berikan Hazama bekerja dengan cepat. Hazama juga memberikannya kepada Rigel dan secara perlahan, rasa panas yang menusuk Rigel perlahan berkurang.


"Ugh... Terima kasih, jika kau tidak ada, aku tidak yakin dapat menahan serangannya." Ujar Rigel.


Tentu saja Rigel berbohong, dia bisa saja melenyapkan serangan Lucifer dengan Void. Namun Rigel tidak ingin Lucifer mengetahui kartu truf tersembunyi miliknya, sehingga dia tidak menggunakannya.


"Bukan masalah, memangnya apa yang sedang kau lakukan di Ruberios? Bukankah tempat ini cukup jauh dari wilayahmu?" Tanya Hazama.


"Aku memiliki beberapa hal yang harus kulakukan di tempat ini." Balas Rigel.


Hazama mengamati gerak-gerik Rigel yang mencurigakan. Memangnya apa yang harus dia lakukan di wilayah terpinggir Ruberios? Karena tidak dapat memikirkan jawabannya, Hazama memilih untuk menebaknya.


"Apakah tujuanmu itu Ozaru? Jika bukan, aku tidak dapat mengetahuinya, karena hanya itu tujuan yang paling logis. Saat pertama kali aku bertemu denganmu, aku langsung tahu bahwa kau seseorang yang tidak akan melakukan hal yang tidak perlu, kan? katakan saja tujuanmu. Tidak perlu khawatir, aku tidak akan memberitahukannya pada siapapun tentang keberadaanmu di sini. " Ujar Hazama.


Tidak ada jaminan bahwa dia akan merahasiakannya, namun tidak ada salahnya mencobanya.


"Tebakanmu benar, aku berniat mengajak Ozaru pergi ke wilayah ku, karena dari yang kudengar, dia dibuang oleh Kekaisaran Ruberios." Jawab Rigel.


Hazama telah mengkonfirmasi niat Rigel dan dapat membayangkan apa yang terjadi sebenarnya sampai terjadi pertarungan seperti ini.


"Jadi saat kau menemui Ozaru, tanpa sengaja kau bertemu iblis bernama Diablo itu sehingga pertarungan terjadi, kan?" Tanya Hazama.


Rigel tidak menyangka bahwa Hazama dapat memahaminya dengan cepat, bahkan Rigel belum membahas apapun mengenai kejadian itu.


"Kau cepat memahami. Jadi, apa yang ingin kau lakukan setelah mengetahui tujuan dan niatku?" Tanya Rigel.


Jika Hazama berniat membuka mulutnya, maka Rigel akan membungkam mulutnya dengan kekuatannya sendiri. Rigel sudah bersiap mengeluarkan kekuatannya kapanpun, namun jawaban tak terduga muncul dari Hazama.


"Kalau begitu baiklah, aku akan membantumu membujuk Ozaru. Tapi dengan satu syarat..." Ujar Hazama.


Rigel diam dan menunggu apa yang akan di katakan Hazama. Rigel berharap itu bukanlah sesuatu yang mustahil di lakukan.


"Wilayahmu itu tempat khusus dimana setengah manusia dan manusia dapat hidup bersama, kan? Kalau begitu, bisakah kau menolongku dengan itu?" Tanya Hazama.


Dengan begitu Rigel mendengarkan proposal yang di ajukan Hazama kepadanya. Rigel sedikit terkejut dengannya, dia tidak menduga bahwa Hazama juga membenci tindakan diskriminasi demi-human. Rigel tidak menduga bahwa ada desa Demi-human di hutan ini, jaraknya cukup jauh dari lokasi pertempuran.


"Baiklah, aku akan melakukannya asalkan kau mau menutup mulut karena aku membawa Ozaru bersamaku." Ujar Rigel.


"Kalau begitu kita sepakat, mohon jaga mereka baik-baik. Aku akan mengunjungi wilayahmu suatu saat nanti." Ujar Hazama.


Hazama tersenyum dan mengulurkan tangan kanannya. Rigel melihat itu seperti biasa dan meraih jabatan tangan Hazama. Dengan begini, setidaknya Rigel telah menjalin hubungan baik dengan Pahlawan perisai.


"Yah, kalau begitu bisakah kau kumpulkan mereka? aku akan membawa Monyet itu terlebih dahulu dan memberitahukan rekan-rekanku untuk menyiapkan tempat untuk mereka. Lalu jika bisa, aku ingin kau menghitung ada berapa kepala keluarga dan jumlah keseluruhan termasuk anak-anak." Ujar Rigel kepada Hazama.


"Baiklah akan aku persiapkan segalanya, aku akan membawamu terlebih dahulu ke sana agar kau dapat menandakan nya sebagai titik teleportasi." Balas Hazama dengan lembut.


Rigel masih tidak benar-benar yakin apakah Hazama dapat di percaya, namun Rigel akan mengikutinya untuk saat ini. Jika dia berniat menipu Rigel, jawabannya mudah saja. Rigel akan membunuhnya. Dengan begitu, Rigel pergi bersama Hazama menuju tempat yang di maksud Hazama dan dengan cepat Rigel menjadikan tempat itu sebagai titik teleportasi dan kembali ke Region. Alasan Rigel tidak menyuruh Hazama sendiri yang menghantar mereka sangatlah mudah, Rigel tidak akan membiarkan pahlawan manapun menambahkan Region sebagai titik teleportasi untuk mencegah kehadiran penyusup.


Dia di sambut dengan Merial, Ray dan Fang yang berdiri di sisi lain pintu.


"Selamat datang kembali, Tuan Rigel." Ujar Fang.


"Selamat datang kembali..." Merial dan Ray mengikuti.


"Ya. Aku kembali. Sebelum itu, aku ingin kalian merawat baik-baik Monyet ini. Meskipun begitu, dia adalah pahlawan tongkat, jangan biarkan dia keluar kastil." Ujar Rigel.


Rigel menaruh Ozaru di pundak Fang dan dengan sigap, Fang membawanya dengan hati-hati. Mereka tidak lagi terkejut karenanya, mereka sudah mengetahui bahwa Rigel berniat membawa pahlawan Tongkat yang di asingkan ke Region.


"Bagaimana dengan para budak yang aku kirimkan sebelumnya?" Tanya Rigel.


"Ya. Saat ini kami sudah menyiapkan beberapa tempat tinggal sementara. Sisanya hanya bergantung pada seberapa keras mereka membangun rumahnya sendiri." Balas Merial.


Budak yang di maksud Rigel adalah orang-orang yang di tangkap oleh para pedagang budak saat perjalanan Rigel menuju Ruberios.


"Begitu, baguslah. Lalu, aku ingin kau memberitahu ini kepada Asoka bahwa akan ada lebih banyak orang yang kubawa. Jadi tolong minta dia untuk mempersiapkan hal itu." Ujar Rigel.


"Baiklah, Tuan Rigel. Lalu, apa yang akan kau lakukan selanjutnya?" Tanya Merial.


"Aku akan—" Rigel berhenti sebelum menyelesaikan kata-katanya.


"Apa kau juga merasakannya, Rigel?!" Tanya Ray.


"Ya. Kumpulan mana yang padat dalam jumlah besar dan asalnya..." Ujar Rigel.


Rigel mencari asal muasal dari kumpulan mana padat ini. Dia tidak dapat merasakan jejak mana dari orang yang menggunakannya, kemungkinan besar ini sihir jarak jauh tingkat tinggi. Rigel mendecakkan lidahnya dan berlari menuju tengah kota.


Rigel yang tengah berlari secepat kilat mulai mengaktifkan panggilan system jarak jauh sekaligus alat yang dapat mengendalikan maha karyanya dari tempat yang sangat jauh. Mata kiri Rigel yang seharusnya sudah hancur total perlahan mulai terbuka dan di sana, terdapat mata berwarna hitam dan merah yang terus berputar. Mata itu bukanlah mata normal, itu adalah mata yang Rigel buat dari teknologi dan berguna untuk menghubungkan antara dirinya dengan Ciel.


"System Call : Ciel, berikan peringatan bahaya tingkat satu dan buka seluruh pintu menuju Tartaros...!!!" Perintah Rigel selagi berlari secepat yang dia bisa.


..."perintah di Terima. ****System di aktifkan****....


......pertanyaan : apakah anda ingin mengaktifkan pertahanan tingkat satu...??"...


"Ya, aktifkan pertahanan tingkat satu dan persiapkan senjata modern pemusnah nomor 4...!!!" Perintah Rigel kepada Ciel


..."Izin di Terima. Mengaktifkan pertahanan tingkat satu."...


Dinding baja setinggi pohon kelapa muncul dari tanah dan membarikade seluruh wilayah Region tanpa terkecuali. Dari tembok, muncul senjata tembak otomatis yang akan menembak musuh yang mendekat setelah tiga peringatan beruntun.


Pilar pilar muncul dari dalam tanah di seluruh Region. Pilar itu adalah jalan masuk menuju tempat perlindungan bawah tanah, penjara bawah tanah, Tartaros.


Sirine yang bersuara sangat keras sampai mencangkup seluruh wilayah Region mulai berbunyi. Semua orang tahu apa yang harus mereka lakukan di saat seperti ini, yaitu mengungsikan diri mereka. Para penduduk dengan patuh dan teratur berlari menuju pilar yang terhubung menunuju Tartaros. Merial dan yang lainnya akan tetap berada di istana untuk memantau hal yang terjadi di luar. Istana telah di lapisi baja serta keamanan super yang tidak akan di tembus dengan mudah tanpa ketahuan.


Ray dan yang lain sengaja tidak mengikuti Rigel, karena mereka tahu bahwa mereka tidak akan sanggup dan hanya akan menghalangi Rigel.


Rigel dengan sangat cepat telah berada di tengah ibu kota, dia berhenti di tengah-tengah dan menatap ke langit, tempat kumpulan mana padat berkumpul. Lengan kiri buatan milik Rigel sedang dalam keadaan parah, dia tidak yakin itu akan bertahan lama. Rigel tidak memiliki banyak pilihan lagi, dia sudah cukup kehilangan banyak tenaga saat bertarung dengan Diablo dan Lucifer. Rigel mengumpulkan kekuatannya dan mengangkat kedua tangannya ke langit. Rune berwarna biru bersinar di lengan kanan Rigel.


"Tch... datanglah... Void tahap satu : Kehampaan...!!!"