
situasi tak terduga, saat ini Region sedang dalam peringatan tingkat satu, yang berarti ancaman tingkat tinggi. Region juga sedang dalam pertahanan tingkat tinggi yang bahkan dewa sekalipun tidak akan bisa menyusup tanpa ketahuan. Rigel benar-benar tidak memiliki waktu istirahat, saat Region menyatakan dirinya sebagai kerajaan baru, Rigel sudah selesai membuat segala macam sistem dan senjata dari abad 21.
"Kemarilah.... Void, Tahap satu : Kehampaan..."
Rigel menggunakan Void, salah satu kartu terkuat yang dia miliki. Dia menggunakannya bukan tanpa sebab. Ada sebuah gumpalan mana yang terbakar di atas langit Region, jika di biarkan, Region beserta pulaunya akan lenyap dari peta. Menatap ke langit tempat mana berkumpul, sebuah kilatan cahaya muncul dari langit dan dengan cepat menghantam Region.
Dumb!
"Haaaaaarrrrgggghhhh...!!!" Rigel mengaum.
Dia menggunakan kedua tangannya untuk menahan cahaya keemasan itu. Tanah tempat Rigel berpijak perlahan hancur dan terus mendorong Rigel ke bawah. Rune biru bersinar di lengan kanan Rigel, perlahan sinar itu semakin menyilaukan karena banyaknya tenaga yang di keluarkan.
Angin kencang bertiup, menghempaskan segala hal yang di laluinya. Suara yang keras bergemuruh dari tempat Rigel, warga yang berada di dalam penjara bawah tanah merasa ketakutan dan memberikan seluruh harapan mereka kepada pahlawan yang membawa keajaiban.
*Crack... ...
*Crack... ...
*Clackh....
lengan kiri Rigel yang sejak awal sudah dalam keadaan buruk karena pertarungan dengan Lucifer, kini hancur berkeping-keping menyisakan bola kristal di tangannya.
'Argh, sialan... ini sangat kuat sehingga butuh waktu bagiku mengembalikannya menjadi ketiadaan.' Batin Rigel.
Dengan sekuat tenaga, Rigel mati-matian menahan serangan itu sampai akhirnya dia bisa menggunakan kekuatannya. Baju yang Rigel gunakan perlahan terbakar dan hancur.
Rigel menggunakan skillnya, "Kembalilah menjadi kehampaan...!!!"
Sinar biru muda menelan cahaya keemasan yang berusaha menghancurkan Region, dalam sekejap, cahaya biru menelan seluruh energi itu dan menghilangkannya menjadi ketiadaan. Langit di atas Region terbelah menjadi lingkaran besar karena serangan yang jatuh itu. Rigel berhasil menahannya, namun bukan berarti dia bisa beristirahat.
"Tidak mungkin penyerang misterius ini hanya memiliki satu rencana..." Gumam Rigel.
Rigel yang tampak kacau perlahan keluar dari kawah kecil yang tercipta karena kekuatannya menahan serangan sebelumnya. Rigel tetap tenang, dia harus bisa berfikir logis dalam keadaan seperti ini. Dia harus mengamati satu persatu keadaan secara tenang. Pasti ada tujuan tertentu dari serangan ini.
Ada tiga kemungkinan yang mungkin menjadi penyebab semua ini. Yang pertama, kemungkinan Hazama mengkhianati Rigel, kedua, serangan ini di dalangi oleh Kekaisaran Timur, atau Britannia, atau bahkan Ruberios dan bisa saja ke tiganya. Lalu yang ke tiga, meski kecil kemungkinannya, bisa saja ini di sebabkan oleh fraksi iblis. Ada kemungkinan bahwa Hazama kembali ke kerajaan dan memberitahu pahlawan lainnya bahwa Rigel menculik Ozaru sehingga serangan ini terjadi.
Namun Rigel menolak pemikirannya sendiri dan berkata, "Tidak, seharusnya ini bukan tindakan Hazama dan para pahlawan dari Ruberiis ataupun negara itu sendiri. Aku tidak yakin para pahlawan Ruberios memiliki kekuatan seperti ini. Selain itu..." Rigel berhenti berbicara sendiri dan melanjutkan kata-katanya di dalam hatinya.
'Waktunya sangat tidak tepat. Jika aku ingin menghancurkan Region yang memiliki satu pahlawan, aku pasti akan memberikan umpan kepada pahlawan itu untuk menjauh dari Region dan melenyapkannya selagi pahlawan itu termakan umpan...' Batin Rigel.
intinya, Hazama dan pahlawan Ruberios kemungkinan tidak terlibat dalam hal ini. Bukti bahwa Hazama tidak mencoba menahan Rigel adalah salah satunya. Namun bukan berarti Rigel akan menandakan Ruberios dan pahlawannya dengan tanda hijau. Meski sedikit, masih tetap ada kemungkinan mereka dalang di balik ini.
"Lalu masih ada Kekaisaran Timur dan Britannia." Gumam Rigel, selagi berjalan menuju tembok baja yang berada cukup jauh dari lokasinya.
Rigel tidak mengetahui banyak hal tentang Kekaisaran Timur, pengetahuannya tentang Negara itu sangat sedikit, sehingga sulit untuk menentukan apakah mereka merah atau hijau.
"Yang terakhir adalah Negara ampas itu, Britannia. Apakah mungkin Raja idiot itu berniat menghancurkan Negaraku? namun jika begitu, aku yakin Takumi dan Yuri akan sangat menentangnya..." Gumam Rigel, matanya mengkerut marah.
Jawabannya merujuk pada satu orang, orang yang paling Rigel benci dan paling ingin dia bunuh, Takatsumi. Besar kemungkinan bahwa Takatsumi bertindak sendirian untuk menyerang Rigel. Meski seharusnya Yuri orang paling mencurigakan karena yang menyerang Region adalah skill jarak jauh, alasan Rigel tidak mencurigainya adalah karena Rigel elah mengetahui ini sejak lama. Diantara 12 pahlawan, Yuri yang paling pengecut.
"Jika ini benar-benar ulahmu, aku tidak bisa mentolerir ini lagi, Takatsumi!" Gumam Rigel, alisnya mengkerut marah.
Rigel hampir kehilangan ketenangannya, beruntungnya, sebuah suara dan hologram system muncul di mata kirinya.
..."Telah di konfirmasi : adanya kapal perang yang mendekat dengan cepat dalam radius 500 meter dari daratan. perkiraan : mereka akan sampai tiga menit dari sekarang..."...
"Apa?!"
Rigel tidak percaya apa yang di dengarnya dari Ciel. Pemikiran bahwa Takatsumi yang berada di balik semua ini hancur seketika, namun bukan berarti kecurigaan tentang keterlibatannya telah menghilang. meski benci mengakuinya, Takatsumi bukan orang yang bodoh, dia pasti tahu bahwa Rigel entah bagaimana berhasil bertahan dari serangan sebelumnya dan mengirimkan pasukan seperti itu sama saja mengirim mereka menuju kematiannya sendiri. Itu tidaklah logis.
"Milik Negara mana kapal perang itu?" Rigel bertanya kepada Ciel.
..."Menjawab : tidak dapat mengkonfirmasi. perkiraan : jika menghitung dari arah kedatangannya, kemungkinan mereka berasal dari Kekaisaran Timur..."...
"Baiklah kalau begitu. Bagaimana dengan persiapan senjata modern nomor empat?" Tanya Rigel.
..."Menjawab : Senjata modern no.4 telah siap untuk di luncurkan..."...
"Baiklah kalau begitu."
Rigel menciptakan jubah untuk menutupi tubuh bagian atasnya. Rigel tidak bisa begitu saja memulihkan lengan kiri mekaniknya karena ada beberapa bagian yang harus di gabungkan dengan urat lengannya agar dapat bergerak sesuai keinginannya. Jika ingin lengannya di pulihkan, Rigel harus kembali ke ruang control untuk mendapat perbaikan. Karena sedang di kejar waktu, Rigel tidak akan sempat memulihkan tangannya.
Tidak butuh waktu lama bagi Rigel mencapai tembok baja yang membarikade seluruh wilayah Region. Benar seperti yang di katakan Ciel, Rigel dapat melihat kapal-kapal perang, sebanyak 14 kapal sedang bergerak dengan cepat menuju Region. Entah niat baik atau buruk, jika harus memilih, pilihan terakhir yang paling memungkinkan.
"Tch... Beri aku waktu istirahat sebentar, sialan!" Rigel mengutuk.
"Kekuasaan laut Poseidon : Tembok Laut..."
Air laut berkumpul di sekitar Rigel dan membentuk Dinding berupa Ombak tinggi yang mengarah berlawanan dari yang seharusnya. Ombak tinggi bagaikan dinding terbentuk dan memblokir jalur kapal untuk berlabuh. Rigel duduk di atas ombak dengan satu kaki di tekuk dan kaki lainnya terulur lurus.
"A-apa itu?!" Teriak salah satu awak kapal selagi menunjuk ke dinding Ombak.
"ahhh!" Suara ketakutan para awak kapal.
"Jangan takut, itu tidak akan menyerang kita!" Ujar seorang pria tua.
Dia terlihat kuat, aura yang dimilikinya dapat terlihat dengan jelas, sepertinya pria tua dengan rambut putih itulah pemimpinnya. Satu persatu pemimpin dari kapal yang berbeda keluar, ada total empat belas pemimpin kapal yang memimpin masing-masing satu.
"Tujuan apa yang sampai membawa kalian datang kemari? katakanlah jika tidak ingin mati!"
Suara Rigel bergema dengan kencang meskipun nada bicaranya tampak santai. Suaranya mencapai telinga semua orang dan itu semakin memperkuat rasa takut akan kematian di antara awak kapal. Pemimpin kapal, pria tua berambut putih menggertakan giginya dan sedikit berkeringat, namun dengan cepat bibirnya tumbuh senyuman.
"Hmm, hahaha. Kau hanya menggertak, meski tidak sesuai rencana, aku yakin kau kehabisan banyak tenaga saat menahan serangan seperti itu..." Pak tua berambut putih mengejek Rigel dengan wajah penuh kemenangan.
'Jadi begitu, pada intinya, kalian terhubung dengan serangan tingkat tinggi sebelumnya. Niat mereka sudah sangat jelas..." Batin Rigel, 'Mereka berniat menghancurkan Region lalu mengklaim tanah Region sebagai tanahnya, kemenangan tanpa perang...' Rigel memejamkan matanya sesaat dan kembali menatap mereka.
Singkatnya, mereka berniat menginvasi Region tanpa perlu repot menantang perang. Meski mereka datang dari Kekaisaran Timur, namun mereka bukanlah orang-orang dari Kekaisaran Timur ataupun Britannia, mereka hanyalah pasukan dari sebuah negara kecil. Jawabannya sangatlah sederhana.
"Kau dan kerocomu bukan dari tiga kerajaan besar itu, kan?" Tanya Rigel.
Pak tua berambut putih itu sedikit terkejut, dapat terlihat dengan jelas dari wajahnya. Dengan ini semuanya terjawab.
"Mudah saja, kalian pasti berasal dari negara kecil yang miskin. Entah siapa yang membujuk kalian, kemungkinan seorang pahlawan datang kepada kalian dan mengajukan proposal untuk melenyapkan Region. Awal mula dia akan melancarkan serangan Dahsyat itu dan membuat Region hancur sehingga kalian tidak perlu bersusah payah lagi, atau membuatku lemah karena menahan serangan itu, benar bukan?" Ujar Rigel.
Pak tua berambut putih terbelalak kaget, dia tidak menyangka jika rencananya akan terungkap sampai sejauh itu. Rigel terus mengungkapkan segala rencana mereka.
"Kalian berlayar menuju Region, namun kalian sedikit memutar arah agar terlihat seperti kalian berasal dari Kekaisaran Timur. Sayangnya aku tidak bodoh, dari yang aku dengar, Kekaisaran Timur adalah negara paling maju, meskipun sebentar lagi akan di gantikan oleh Region. Selain itu, para awak kapal itu tampak tidak terlatih, perlengkapannya buruk serta kapal perang kalian sangatlah kuno. Hal itu cukup untuk membuktikan bahwa kalian bukan dari Kekaisaran Timur. Tidak ada gunanya kalian hidup, matilah..."
Rigel menjentikan jarinya dan dari dinding ombak, Megalodon hitam melompat masuk dan menghancurkan setiap kapal yang ada, Rigel melompat terbang dan dinding ombak runtuh menghanyutkan seluruh awak kapal yang ada. Rigel telah memberikan instruksi kepada Megalodon untuk mengambil satu dari mereka dan membunuh sisanya.
Rigel berdiri di tepi laut sampai Megalodon datang dan memuntahkan pria tua berambut putih itu.
*Uhuk....
*Uhukkk...
*Arghhh...
Dia terbatuk-batuk berlutut selagi memuntahkan air laut yang dia telan.
*Arhhgghhh.....
*Tolong aku pemimpin....
*Uuuahhh...
Jeritan awak kapal terdengar dari laut, pria tua itu menggigit giginya sampai berdarah karena kesal. Rigel berdiri di depannya, tanpa perlu membalikan badannya.
"Katakan padaku, siapa pahlawan yang menyuruhmu itu?" Tanya Rigel.
"Krgh," Pria tua itu mengerang "Mana mungkin aku memberitahumu setelah kau membunuh pasukan ku!!" Bentak pria tua itu.
"Kalau begitu baiklah." Rigel berjalan pergi dari pria tua itu, sementara pria tua itu menggertakan giginya dan mencoba memprovokasi Rigel.
"Apakah hanya itu alasanmu menyelamatkanku, pahlawan lemah?! Apa kau tidak berusaha mengorek informasi dariku, Hah?!" Teriak pria tua itu.
"bukan aku yang akan akan membuatmu bicara," Rigel berhenti berjalan dan kembali melanjutkan perjalanannya dan berkata, "Tetapi mereka yang akan membuatmu bicara."
Pria tua itu merasa sedikit merinding, dia menatap pasir di bawahnya dan menemukan wajah dari tengkorak manusia muncul tepat si depan wajahnya dan meraih lehernya.
!!!
Pria tua itu dengan cepat membebaskan diri dan berdiri, namun tangan tengkorak lainnya sudah menangkap kakinya dan menariknya ke dalam.
"N-n-Necromancer?!" Pria tua itu tahu kekuatan apa yang sedang menariknya, "Bagaimana bisa pahlawan memiliki kekuatan seperti ini?! Apa kau benar-benar pahlawan suci?!" kutuk pria tua itu.
"Pahlawan?" Rigel berhenti berjalan dan menengok sedikit ke arahnya dengan senyuman yang mengerikan "Hehe, buang saja gelar Tololl seperti pahlawan itu, aku yang sekarang adalah, Administrator!"
Melihat senyuman iblis Rigel, pria tua itu tidak dapat berkata apa-apa, dia diam membatu dan membiarkan dirinya perlahan masuk bersama pasukan kematian. Akhirnya dia menyadari kesalahan bodohnya, menantang Rigel dan Region sama dengan menantang para Dewa. Dia akan membawa penyesalannya karena mengusik Region, sampai ke kematiannya.