
Memberikan Like sebelum membaca tidak akan membuat Rugi...
____________________________________________
Setelah Rigel berteleportasi ke kediaman Ainsworth dan menyisakan Ray bersama Merial di sana. Merial masih syok dengan apa yang di katakan pahlawan pedang Takatsumi. Dia sangat terkejut dengan apa yang dia saksikan. Pahlawan yang dia idolakan ternyata hanya seorang pria busuk tanpa perasaan. Sebuah buku yang memiliki sampul yang bagus namun bukan berarti memiliki isi yang bagus, Merial akhirnya memahami makna dari kata-kata itu.
"Nona Merial, mari kita beritahu yang lainnya tentang kepergian Rigel..." Ujar Ray.
Namun Merial sama sekali tidak menanggapi Ray, dia terus diam karena tampak masih syok. Melihat itu, Ray menaikkan suaranya.
"Merial...!!!"
"Ugh, a-ada apa, Ray...??"
"Mari kita kembali dan mengabari semuanya. Aku yakin tuan Walther baik-baik saja."
Ray tersenyum untuk menghibur Merial. Merial hanya bisa mengangguk dan mengikuti Ray selagi berharap keluarganya baik-baik saja.
***
Pemandangan di sekitar Rigel berubah, dia telah sampai di depan gerbang kediaman Ainsworth. Tidak ada penjaga yang menjaga gerbang, tempat ini serasa benar-benar kosong, padahal hari masih sore. Rigel tanpa membuang waktu terbang di udara untuk mencari keberadaan seseorang. Dari perternakan sampai pertanian, sama sekali tidak ada manusia atau semi manusia yang seharusnya bekerja.
Kekhawatiran menjalar di benak Rigel, ada begitu banyak hal yang harus di tangani dalam satu waktu. Dia tidak akan bisa menyelesaikan segalanya secara bersamaan, dia harus menemui Tirith setelah memastikan kondisi Walther Ainsworth.
Rigel mengendus sesuatu di udara, dia dapat mencium sesuatu terbakar tidak jauh dari sini. Tidak jauh di depannya, tempat mansion Ainsworth berada, kumpulan asap terkumpul di sana dan aroma yang tercium oleh Rigel berasal dari sana. Menggertakan giginya dengan erat, Rigel melesat secepat mungkin dan sampai tepat di depan mansion yang terbakar.
"Dasar keparaat... Creator Skill : Create Water...“
Membuat air dalam jumlah banyak dan mengarahkannya ke langit untuk membentuk hujan dan memadamkan api di mansion. Rigel tidak menggunakan skill yang dia dapat dari Hydra karenaa hanya dapat di gunakan di laut. Meskipun ada air mata poseidon, namun jumlah air yang akan muncul terlalu banyak dan menguras tenaga.
"Tch! Akan butuh waktu lama untuk memadamkannya jika begini...!!!"
Putus asa mencoba memadamkannya dengan air, Rigel mengubah metodenya dari yang membuat hujan dengan menyemburkan air ke udara, menjadi penjara air yang mengurung seluruh mansion dan memadamkan api dalam sekejap.
Tidak perlu membuang-buang waktu lagi, Rigel mengulurkan tangannya dan dengan cepat memenjarakan mansion yang terbakar dengan penjara air. Hanya butuh waktu beberapa detik hingga api terpadamkan. Rigel berlari memasuki mansion dan berteriak.
"Apakah ada orang di sini...!!! Jawablah aku, tuan Walther, siapapun, jawablah aku...!!!"
Rigel berlari dan terus mencari orang-orang. Mengangkat puing-puing bangunan yang runtuh dengan harapan menemukan seseorang di dalamnya, namun harapannya terus menerus terkhianati.
Setidaknya, meskipun hanya mayat aku harus menemukannya!
Grak...
"T-tuan Creator..."
Tidak jauh, suara seseorang meminta tolong dengan lemah terdengar. Dengan sigap Rigel pergi mencari sumber suara dan menemukan tangan seseorang tertimbun puing-puing. Rigel menghantamkan kakinya dan tanah tercipta mengangkat puing di sekitar orang yang tertimbun itu.
"Tuan Walther...!!!"
Rigel menemukannya, kepala keluarga bangsawan Ainsworth sekaligus ayah Merial, Walther Ainsworth. Pakaiannya sedikit terbakar dan tubuhnya berwarna hitam karena arang dari kayu yang terbakar. Namun, yang paling mengejutkan adalah, dia tidak memiliki luka bakar apapun. Rigel membaringkan kepala Walther di tangannya. Walther terbatuk dan mengeluarkan debu yang masuk ke mulut serta paru-paru.
"Aku kagum dengan kau yang tidak terbakar di tengah kebakaran itu...??"
"Ahaha, a-aku memang tidak sekuat putri atau istriku... Namun jika itu daya tahan tubuh, aku sama kerasnya dengan Adamantite, uhuk... Uhuk..."
"Jangan banyak bergerak dulu, biarkan aku menyembuhkanmu terlebih dahulu..."
Setelah Walther sedikit pulih dan dapat berjalan, Rigel menopang tubuh kekarnya untuk keluar dari mansion karena khawatir jika beberapa puing akan berjatuhan.
"Apa yang sebenarnya terjadi di sini...?? Bisakah kau jelaskan rinciannya kepadaku...?? Lalu, dimana semua orang...??"
Walther yang masih terbaring lemah namun cukup kuat untuk berbicara, menceritakan apa yang menjadi penyebab semua ini.
"Tenang saja, Tuan Rigel. Semua orang telah mengungsi dengan aman berkat istriku. Dia memiliki insting dan firasat yang sangat tajam dan selalu tepat sasaran, istriku kembali ke mansion sehari sebelum penyerangan terjadi dan meminta semua orang mengungsi. Istriku memiliki sihir spatial, jadi bukan hal yang sulit mengungsikan semua orang diam-diam. Alasanku tetap tinggal di mansion adalah untuk mengetahui siapa orang yang menyerang rumahku, karena tidak ada penjahat yang cukup bodoh untuk merampok rumah seorang bangsawan besar."
Walther berhenti sejenak untuk mengambil nafas dan melanjutkan ceritannya.
"Lalu, tepat saat semua orang sudah mengungsi, ribuan pedang cahaya jatuh dari langit dan menghujani mansion ini sehingga membuatnya terbakar. Aku tidak tahu siapa yang melakukannya karena tidak ada seorangpun yang datang ke mansion, namun... Sosok yang bisa melakukan serangan dengan skala yang sangat luas hanyalah seorang pahlawan, bahkan jika ada sosok lain, dia harusnya mempunyai senjata yang sangat kuat untuk melakukannya."
Rigel mendengarkan cerita Walther dengan wajah pahit, dia tidak pernah menduga jika Takatsumi mengetahui bahwa Rigel memiliki hubungan dengan keluarga Ainsworth. Tidak, seharusnya dia memang tidak mengetahuinya karena dari pihak Rigel sendiri tidak pernah mengungkapkan bahwa keluarga Ainsworth membantunya. Semua ini merujuk pada satu jawaban pasti...
"Jadi begitu, ya... Kau selangkah di depanku, Takatsumi. Kau sudah mengirim orang untuk memata-matai kami entah itu dari dekat atau dari kejauhan."
Rigel pernah mengkhawatirkan tentang kehadiran mata-mata sebelumnya, namun dia memilih untuk mengabaikannya.
Tch! Aku harus benar-benar berhenti untuk mengabaikan apapun!
"Bisakah aku bertanya padamu, tuan Rigel...??" Ujar Walther.
"Ya, namun hanya sebatas pada apa yang bisa ku jawab."
Rigel mungkin sudah tahu apa yang ingin di tanyakan Walther kepadanya. Kemungkinan besar, ini menyangkut dalang di balik semua ini.
"Apakah putriku baik-baik saja...??"
Huh. Rigel tidak menduga jika Walther akan menanyakan tentang keadaan putrinya.
"Ya dia baik-baik saja, namun... Apakah kau tidak akan menanyakan siapa yang menyebabkan semua ini terjadi...??"
Walther hanya tersenyum lembut kepada Rigel yang sama sekali tidak mengerti maksudnya. Seharusnya Walther merasa kesal dan marah karena perbuatan Takatsumi, mansion tempatnya tinggal terbakar dan hal itu nyaris membunuhnya. Namun sampai saat ini Walther bahkan belum mengatakan kutukan apapun.
"Yah, aku tidak perduli selama keluarga dan orang-orangku baik-baik saja."
"Aku sama sekali tidak mengerti, seluruh harta benda milikmu habis terbakar dan kau tidak memperdulikannya??"
"Harta dan benda yang terbakar masih bisa di gantikan, tuan Rigel. Namun keluarga dan orang yang kau sayangi tidak akan bisa kau ganti dengan mudah. Bahkan bagiku, tidak ada harta yang paling ku sayangi selain keluargaku sendiri. Dan juga, sebagai seorang ayah yang menyayangi putrinya, aku lebih mengkhawatirkan keselamatannya ketimbang diriku sendiri."
Rigel tidak dapat menjawab. Mungkin kata-kata Walther sedikit meresap kedalam hatinya. Rigel telah mendapatkan kenangan tentang ibunya, dan dia sangat mengerti betapa berharganya kenangan itu baginya. Rigel dengan diam menunggu Walther untuk pulih.
Setelah Walther memulihkan tenaganya, dia berkata tidak apa untuk meninggalkannya di sini karena istrinya mungkin akan menjemputnya. Bulan sudah menggantikan matahari untuk menyinari langit, malam hari tiba.
"Pergilah, tuan Rigel. Aku tahu bahwa masih ada hal yang harus kau lakukan, bukan...??"
"... Ya... Kau benar, kalau begitu aku akan pergi."
Tanpa perlu membuang waktu lagi, Rigel berteleportasi ke tempat yang sudah dia tandai, tempat dimana gadis yang dia cintai menghabiskan malamnya dengan menatap bintang.
"Kalau begitu, aku pergi... Teleport..."
Pemandangan di sekitar Rigel berubah, dia berada di taman yang dulu biasa dia singgahi. Tepat di depannya, seorang gadis pirang dengan piyama putih sedanh berdiri membelakanginya. Gadis itu sepertinya sudah menduga bahwa Rigel akan datang dan dia telah menyadari kedatangan Rigel.
"Lama tidak bertemu, Rigel..."