The Legends Of Creator Hero

The Legends Of Creator Hero
Ozaru Vs White Tiger



Satu lawan satu, mungkin lebih tepatnya sepuluh?? seratus?? entahlah. Mereka awalnya satu wujud, namun terpecah menjadi sangat banyak dari mereka.


"Sepertinya kau benar-benar serius membunuhku, ya."


Jika tidak, maka dia tidak akan mengerahkan banyak bagian dirinya hanya untuk bermain-main. White Tiger sama sekali tidak menyembunyikan keberadaan ataupun niat membunuhnya. Dia nampak tidak khawatir bila Rigel atau yang lain merasakannya dan menghampirinya.


"Jangan khawatir, mereka tidak akan mencapai tempat ini. Dikarenakan kabut ini Territory ku, wilayah kekuasaanku dimana tidak ada satupun yang bisa lolos darinya..."


"Yah, nampaknya memang begitu, "Ozaru tersenyum dan memutar tongkatnya, "Namun dirimu perlu mengetahui satu hal, bahwa salah mencoba membunuhku lebih dulu."


Lagipula dia meyakini bahwa diantara Pahlawan, tidak ada orang selain Rigel yang sebanding dengannya. Entah bagaimana dengan pilar iblis, namun Ozaru mengakui bahwa Lucifer benar-benar berada di atas langit. Bahkan jika dia bertarung serius melawan Lucifer, kesempatan menang tetap kecil.


"Apa maksudmu??"


White Tiger menyipitkan mata, nampak jelas ketidak senangannya. Apa dia meremehkan dan menganggap dirinya yang terkuat atau memang kenyataannya. Entahlah yang mana, yang jelas dia memang menjabarkan fakta.


Jika memang harus mengurangi kekuatan tempur, seharusnya dia memulai dari yang terlemah, misalnya Petra.


Ozaru merasa senang, bila dirinya berhasil membuat White Tiger tidak senang dan nampak marah. Lagipula, sudah cukup lama baginya tidak bertarung sungguh-sungguh menggunakan kepribadian ini, hingga senyuman lebar terbentuk di bibir.


"Lantas biar saja aku menunjukkan maksudku dari pertarungan langsung!!"


Dengan senang hati Ozaru menerjang menuju White Tiger. Dia tidak lagi perduli dengan sekitar, dikarenakan tidak ada orang yang bisa dianggap sekutunya disekitar sini. Jadi, tidak ada kebutuhan baginya untuk menahan diri.


"Jika itu maumu, maka itu yang kau dapat!!"


Pasukan yang dimiliki White Tiger melesat menyerbu Ozaru dengan kecepatan gila. Namun penyerbuan tidak akan berlaku baginya, dikarenakan dia memanjangkan tongkatnya dan menghempaskan semua yang mendekatinya. Namun tetap saja hal itu tidak membuat mereka menghilang dalam satu hempasan tongkatnya yang diperbesar.


"Heh!! Bagaimana kalau begini!!"


Ozaru mengibas-ngibaskan rambutnya hingga banyak dari helaian rambutnya berterbangan, lalu berubah menjadi ratusan kera yang bertarung dengan gilanya. Meski begitu, kekuatan tempur dari satu kera tidak dapat diremehkan. Satu ekor kera itu dapat menghancurkan satu bongkahan batu besar seorang diri, bagaimana bila banyak dari mereka?? Bukannya mustahil untuk membelah gunung sekalipun.


Ozaru membiarkan para kera hasil perwujudan rambutnya mengatasi White Tiger palsu, sementara dia akan menghajar langsung tubuh aslinya.


"Memang seharusnya pasukan melawan pasukan, ya!!"


"Lantas, biarkanlah pemimpin melawan pemimpin!!"


Meninggalkan kata-katanya, White Tiger melompat dan bermanuver di udara, mengayunkan cakar tajamnya dengan liar menuju Ozaru. White Tiger mungkin berfikir bahwa Ozaru tidak memiliki keunggulan apapun bila itu pertarungan udara, sehingga dia tidak memiliki keraguan untuk menyerangnya.


Namun nyatanya dia salah akan pemahaman itu. Tidak perduli dimana pun itu, entah laut, darat atau bahkan udara, hal itu tidak akan berpengaruh kepadanya. Dia memiliki keunggulan mutlak dimana pun lokasi pertarungannya.


"Dan juga kau salah akan satu hal...,"


Ozaru yang awalnya bertindak secara defensif, kini memotong jarak dengan cepat dan telah berada di belakangnya. Dia menatap White Tiger dengan tatapan pemburu yang menemukan mangsanya dan mengakhiri hidup mangsanya.


"Aku bukanlah pemimpin, aku adalah Raja, sosok yang memerintah dan menentukan kehidupan serta kematian rasku!!"


Dia menekankan nadanya pada kata 'Raja' dengan suara selembut sutra dan sedingin salju. Bagi kera, Raja adalah sosok dewa yang memimpin kehidupan dan kepunahan rasnya, sehingga gelar Raja itu sendiri hanya pantas diterima oleh yang pantas saja. Satu hal yang paling tidak disukai Ozaru adalah adanya orang idiot yang menjelekkan gelar Raja. Untuk pemimpin, mereka adalah orang yang dipilih raja untuk memimpin satu suku, bukan satu ras. Karena hal itulah, Raja dan pemimpin memiliki artian berbeda bagi ras kera.


Lantaran geram dipanggil pemimpin, Ozaru menghantamkan tongkatnya dengan kuat di punggung White Tiger hingga dia terhempas dengan sangat kuat menuju daratan. Tidak cukup sampai di sana, Ozaru melemparkan tongkatnya dengan kuat dan merubah wujudnya menjadi seukuran gunung.


"Membesar lah Nyoibo!!"


Doom!!


Langit beserta isinya ikut bergetar, terhadap kemunculan tongkat super besar yang bahkan menembus langit Territory milik Hydra. Ozaru melompat dan bersandar pada tongkat besarnya, menatap pasukan kera masih bertarung dengan White Tiger palsu. Ozaru mengalihkan perhatiannya ke sekitar untuk mengamati pergerakan kabut yang tidak memiliki perubahan berarti. Bahkan, tidak ada satupun tanda-tanda bahwa tempat ini akan hancur, yang berarti...,


"Bajingan itu masih hidup, ya??"


Jika dia sudah mati, seharusnya tempat ini akan runtuh atau bahkan para White Tiger palsu itu akan menghilang. Namun kenyataannya, tidak ada sedikitpun tanda dari mereka akan hilang ataupun runtuh.


Bahkan, meskipun dirinya tidak mengalami langsung dan hanya bisa menyaksikan melalui ingatannya saat melawan Tortoise. Kesimpulan akhir yang didapat, Ozaru harus mengakui bahwa White Tiger lebih sulit dibunuh ketimbang Tortoise.


"Pada akhirnya ini tidak akan berakhir dengan mudah, ya."


Niatnya menghabisi White Tiger tanpa menerima banyak kerusakan dipihaknya akan sangat sulit, mengingat dia mencurigai bahwa Rigel memiliki tujuan yang lebih besar lagi, menaklukkan malapetaka terakhir, sang Naga. Dia memang belum mengatakan apapun tentang hal itu, namun dapat diyakini bahwa itu adalah hal selanjutnya yang akan mereka lakukan.


Lagipula dia telah mendengar mengenai perjanjian Rigel dengan Naga yang kini tinggal di Region. Isi perjanjian itu adalah Rigel harus mengalahkan Naga malapetaka dan sebagai gantinya, dia mendapat bantuan dari ras Naga.


"Kuh, benar-benar menyebalkan dan cukup menyakitkan, ya!!"


Ozaru terbelalak, terkejut karena sosok yang seharusnya tertimpa tongkat raksasanya kini berada tepat di belakangnya. Bagaimana bisa? itulah yang terpikirkan dalam kepalanya. Begitu dia memperkecil tongkat dan melihat apa yang ada di ujungnya, terdapat mayat White Tiger yang remuk dan rata. Perlahan, tubuhnya lenyap dan bersatu menjadi kabut.


Ozaru menatap White Tiger dengan kesal, merasa dirinya benar-benar dipermainkan oleh monster keparat itu. Lantas bagaimana cara membunuh bajingan ini?? pikirnya selagi mengamati White Tiger.


Diam saja tidak akan menghasilkan apapun, dikarenakan itu pilihan terbaik adalah menyerangnya secara blak-blakan. Kendati dia memang tidak menghasilkan apapun dalam menyerang, setidaknya dia harus memberi waktu yang cukup sampai Rigel tiba.


"Hmm, nampaknya kera itu bukan hanya sekedar rambut, dikarenakan mereka juga bisa mengeluarkan darah."


White Tiger nampak tertarik terhadap pasukan kera yang dia keluarkan. Tentunya dia akan tertarik bila melihat darah di pasukan yang tercipta dari rambut. Namun, dia tidak mengetahui rahasia dibalik darah yang dimiliki pasukannya.


Nyatanya itu hanyalah ilusi belaka yang diciptakan olehnya untuk membingungkan lawan. Syarat untuk membuatnya adalah menggunakan setidaknya satu tetes darah milik Ozaru tergantung pada jumlah kera yang dia panggil. Dia memanggil sekitar 50, jadi dia perlu mengeluarkan lima puluh tetes darah.


"Lantas apa perduli mu?? Lawanmu ada tepat didepan matamu, bukan di sana!!"


Tanpa khawatir terhadap apapun, dia melesat dan berputar mengayunkan tongkatnya dengan keras. White Tiger melompat ke kiri dan berputar, mengirimkan cakar udara secara beruntun. Ozaru memanjangkan tongkatnya hingga cukup panjang mencapai White Tiger dan mengayunkannya bersamaan dengan menghancurkan cakar udara.


Mengikutinya, Ozaru melompat tinggi dan membesar mengecilkan tongkatnya untuk mencapai White Tiger.


Roaarrrrwwwrrr...


"Calamity Slash!!"


White Tiger melesat maju dan mengirimkan cakarnya menuju Ozaru, sementara dia menggenggam tongkatnya dan mengubah ukurannya hingga cukup besar untuk menjadi perisai tubuhnya.


Menatap Ozaru yang sangat ahli bermain tongkat super aneh yang tidak pernah hancur dan berubah bentuk sesukanya membuat White Tiger sedikit kesal. Meskipun tongkatnya hanyalah senjata tumpul yang tidak akan bisa memberi banyak kerusakan, namun dengan perubahan bentuknya itu membuatnya menjadi mengerikan. Tidak hanya dalam serangan saja, tetapi itu sangat berguna dalam bertahan.


"Tongkatmu menyebalkan, kayaknya. Lebih baik kuhancurkan saja!!"


White Tiger merentangkan kedua tangannya, membuat cakar-cakaranya berkilau dan melesat dalam kecepatan cahaya di udara. Dilain sisi, Ozaru memperkecil tongkatnya hingga dapat menggenggamnya, namun dia tidak mengubah ukurannya. Ozaru mengayunkan tongkatnya selayaknya mengayunkan katana, dari atas kepalanya.


"Bahkan dewa sekalipun tidak akan mampu melakukannya!!"


Bang!!


Benturan saling terjadi, menyebabkan angin bergejolak kencang karenanya. Tiada satupun berniat kalah, Ozaru memasukkan lebih banyak kekuatan pada genggaman tangan, begitupula White Tiger yang mengumpulkan kekuatannya pada cakar-cakarnya. Lantaran tidak ada yang berniat mengalah, mereka berdua sama-sama menghempaskan diri ke arah berlawanan.


"Haaahh..., Kilat...,"


White Tiger berhenti terhempas, tubuhnya mengambang dan mulai dialiri listrik statis yang seakan menunjukkan dia ingin bergerak dalam kecepatan gilanya. Ozaru tidak cukup bodoh untuk tidak menyadarinya dan hanya diam memperhatikan.


Dia sama sekali tidak memiliki niat untuk kalah dari siapapun atau apapun. Kemenangan adalah kebenaran, siapapun pemenang akan menjadi kebenaran. Bahkan jika dia harus melarikan diri di tengah pertarungan, selama dia tetap hidup dan membunuhnya diakhiri, maka dialah pemenangnya.


"Kinton...,"


Sebuah awan yang sedikit kekuningan turun dari langit dan menopang tubuh Ozaru agar tetap di udara. Ozaru membiarkan tongkatnya yang menembus langit menancap di tanah dengan tegak. Dia berniat menggunakan sesuatu yang belum pernah dia gunakan semenjak datang ke dunia ini.


Ozaru melambaikan tangannya, membentuk lingkaran sempurna di udara dengan kedua tangannya dan menyatukan tangannya seakan memegang sebuah bola. Tubuhnya mulai disinari cahaya keemasan yang mencapai bola matanya. Energi alam dengan jumlah yang sangat besar berkumpul padanya, membuat langit kabut tampak kuning selayaknya sinar matahari.


Kendati serangannya juga gagal membunuh White Tiger, setidaknya dengan cahaya yang terpancarkan dari tubuhnya, dapat memberi tanda bahwa terdapat sesuatu di sana, sehingga Rigel dan yang lain akan berkumpul di sana.


"Mari akhiri ini...!!"


Dengan kecepatan yang benar-benar gila, dia melesat cepat disertai dengan kilatan petir menuju Ozaru. Tidak perlu baginya terburu-buru, dihadapannya waktu seakan berjalan lambat. Begitu membuka matanya, dia dapat melihat dengan jelas sosok White Tiger yang berniat memenggal kepalanya langsung.


"Seitei..., Taisei!!"


Begitu membuka matanya dan mengulurkan tangannya selayaknya menembakan laser, energi keemasan yang berkumpul disekelilingnya meledak dengan dahsyat, cukup kuat untuk membuat lingkaran besar di langit Territory White Tiger. Langit masih memiliki jejak listrik dan energi dalam bentuk partikel cahaya berjatuhan layaknya hujan.


Di sana hanya tersisa satu sosok yang berdiri menaiki angin, dialah Ozaru. Satu serangan pamungkasnya berhasil melenyapkan White Tiger hingga tidak menyisakan debu.


"Nampaknya sudah seles—..."


"Matilah!!"


Boom!!


Ozaru terhempas ke darat dengan sangat kuat, sampai-sampai kawah besar tercipta akibat kejatuhannya. Ozaru jatuh dengan wajah menghadap tanah, jadi punggungnya yang memiliki cakaran dari bahu hingga pinggang terekspos tanpa perlindungan.


Sekuat mungkin dirinya menjaga untuk tetap sadar. Tidak ada kekuatan untuk mencoba bangun, bahkan mempertahankan kesadaran sulitnya bukan main.


"B-ba-bagaimana—..., bi-bisa??"


Lantas suaranya terdengar lemah dan basah, dikarenakan tenggorokannya dipenuhi darah sehingga sedikit sulit untuk bicara. beruntung bahwa wajahnya tidak menghadap langit, karena itu akan menyumbat pernafasannya.


"Apanya yang bagaimana tolol, kayaknya. Kau sibangsat yang membuatku merasakan sakit dua kali, tidak sepadan dengan nyawa yang kau miliki. Setidaknya aku akan memberikan penyiksaan tanpa pernah membunuhmu, sebagai ganti rasa sakit yang kuterima, kayaknya."


Bukan itu yang ingin kutanyakan!! begitulah yang ingin dikatakan Ozaru. Namun apa daya, dirinya terluka parah sehingga sulit bahkan hanya untuk berbicara.


Yang ingin dia tanyakan adalah mengapa White Tiger masih hidup?? Sudah sangat jelas bahwa seharusnya dia telah benar-benar membunuhnya kali ini, namun dengan misterinya dugaan yang dimiliki meleset. Bila begitu, selama ini dia pasti melawan bayangan atau wujud palsunya saja, sementara wujud aslinya tetap bersembunyi.


Lantas sebagai usaha terakhir, Ozaru menatap darimana arah datangnya White Tiger hingga akhirnya menemukan pohon besar yang dia lihat saat pertama kali. Meski samar, dia mendengar alunan detakan misteri dari sana dan sedikit saja berpikir dia akan menemukan jawabannya tapi...,


"Tidak baik mencoba mengamatinya, kayaknya. Sebelum kau kembali merepotkan, sebaiknya kuhapus dirimu dari dunia dan orang-orang yang mengenalmu, sebagai arti dari penderitaan sesungguhnya atas kehidupan!!"


White Tiger merentangkan tangannya dan mengaum, hendak melakukan sesuatu kepada Ozaru yang terbujur kaku, namun terhenti dipertengahan. Dia mulai mengendus-endus, sangat cocok dengan wujud macam putihnya.


"Pahlawan..., tidak, bukan..., nampaknya tikus kecil yang pengecut mulai memberanikan diri, ya."


Sesaat dia mengatakan itu, sebuah portal cahaya terbentuk dan secara refleks White Tiger mengirimkan gelombang suara yang akhirnya ditelan oleh portal cahaya itu.


Portal lain terbentuk di belakangnya dan melemparkan serangan milik White Tiger sebelumnya menuju arahnya.


"Usaha yang sia-sia!!"


Lantas dia tidak perlu bersusah payah menghindari serangannya sendiri, dia hanya perlu melambaikan tangannya untuk mengatasinya. Namun, begitu kembali ke titik awal, dia menyadari bahwa Ozaru telah menghilang dari tempatnya.


"Begitu, sihir Spatial, ya..., dasar tikus pengecut keparat yang bajingan!!"


Dia benar-benar marah karena mangsa buruannya dicuri oleh buruan lainnya. Benar-benar penghinaan yang tidak bisa diterima maupun dimaafkan. Bila mendapatkannya, dia berjanji pada dirinya sendiri untuk menggantung organ tubuh mereka di pohon selagi hangat. Lagipula, tidak ada satupun mangsa bisa lolos dari predatornya.


"Sebagai mangsa, kalian akan mati di tangan sang predator!!"


"Lantas perkataanmu juga berlaku untuk dirimu sendiri!!"


Suara lain terdengar dari belakangnya, suara yang dia belum lama akrab dan telah dia benci. Dikarenakan rasa sakit atas penderitaan di pertarungan paruh pertama sebelumnya. Begitu White Tiger menoleh, dia melihat tiga orang namun hanya terfokus pada satu orang berambut outih, yang dimana dia adalah Rigel.


"Yo, pengecut. Mari kita mulai babak ketiganya!!"