
Satan, itu adalah nama dari seorang pangeran yang menjaga kunci di lantai tertinggi, yaitu lantai 100. Dia adalah orang yang mengetahui semua hal yang ingin ku ketahui, terutamanya adalah tentang hari yang di janjikan, aku tidak tahu apakah dia akan mengatakan sesuatu tentang itu kepadaku atau tidak, namun aku berharap dia memberitahuku.
"Huh."
Rigel menghela nafas.
Entah butuh waktu berapa lama untuk sampai di lantai 100, namun aku yakin ini sudah lebih dari satu jam aku berteleportasi!
Meskipun jam internal di kepalaku sudah tidak berguna, namun aku telah menghitung selama perjalanan teleportasi ini untuk membuang buang waktu. Lalu, waktu yang telah kuhitung saat ini lebih banyak dari yang sebelumnya saat aku menuju lantai tempat Beelzeebub berada.
"Apakah teleportasi Azazel sudah mencapai batasnya?"
Ucap Rigel, berbicara sendiri.
Seolah untuk menjawab kecuriagaanku, teleportasi ini mulai melambat dan berhenti di lantai yang aku tidak ketahui karena aku tidak menghitung berapa banyak lantai yang sudah aku lalui.
"Apakah aku sudah mencapai lantai 100?"
Ucap Rigel, berbicara sendiri.
Yang membuatku takjub adalah apa yang ada di depanku, tempat seperti apa aku berada saat ini. Kuning, hanya ada kuning sejauh mata memandang.
"Lah, ini hanya ada padang pasir saja, sialan!"
Rigel berteriak.
"Kenapa harus berhenti di tempat seperti ini? Sialan, jika ingin berhenti, maka berhentilah di tempat yang lebih hidup."
Ucap Rigel, mengeluh.
Sepertinya aku terlantar di tempat antah berantah ini, aku bahkan tidak tahu apakah ini adalah lantai tujuanku atau bukan. Hanya ada satu hal yang dapat kulakukan, yaitu berjalan dan melewati hamparan gurun pasir ini.
Aku bisa saja menandai tempat ini dan berteleportasi ke tempat Mirai dan yang lainnya. Namun, ini adalah keegoisanku sendiri, aku tidak ingin melibatkan mereka lagi karena ini adalah sesuatu yang harus aku lakukan seorang diri.
***
POV PRISCILLA FLAMESWORD.
"Kau akhirnya sadar, Priscilla!"
Ucap Anastasia sambil menangis dan memelukku.
Bukan pemandangan yang buruk untuk dilihat saat pertama kali aku membuka mataku. Tampaknya aku telah tidak sadarkan diri selama beberapa jam sehingga membuat Anastasia khawatir.
"Jika kau baik baik saja disini, bisakah aku berasumsi bahwa Rigel berhasil mengalahkan Azazel?"
Tanya Priscilla dengan lemah.
Bahkan sebelum Anastasia menjawab pertanyaanku, hatiku sudah tenang seolah sudah mengetahui jawabannya. Karena Bagaimanapun, pria itu sangat bisa di andalkan.
"Sial, aku benar benar jadi ingin memilikimu, Rigel."
Batin Priscilla.
Aku hanya tersenyum dengan apa yang muncul di dalam kepalaku. Tidak kusangka, aku benar benar mencintai pria itu.
Lalu, yang tidak terduga adalah Anastasia menggelengkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaanku. Mataku terbuka lebar karena terkejut, sangat terkejut. Lalu, apakah Rigel di kalahkan oleh Azazel?! Aku harus segera bangkit dan menghadapinya.
Sebelum aku mencoba melakukan atau mengatakan sesuatu, Anastasia mulai berbicara.
"Sejujurnya, aku tidak mengetahui apakah Azazel telah di kalahkan oleh Rigel. Sebelah sana,"
Ucap Anastasia sambil menunjuk ke arah dinding yang memiliki lubang besar.
"Bagaimana bisa?!"
Priscilla terkejut.
Bagaimana bisa pilar yang menghubungkan lantai ini dengan lantai selanjutnya memiliku lubang sebesar ini!
Apakah ini ulah Rigel atau Azazel? Jika itu Rigel, aku mungkin mengetahui alasannya untuk membawa Azazel dan bertarung di luar lantai. Tidak, aku harus lebih mementingkan nyawa seluruh pasukan dari pada nyawa satu orang.
"Bagaimana, dengan pasukan lainnya?"
Tanya Priscilla sambil merengus kesakitan karena memaksakan tubuhnya untuk berdiri.
"Buruk, dua petinggi yang bersama kita sebelumnya telah berubah menjadi inti jiwa. Lalu, petinggi yang kita tinggalkan sedang sekarat, namun berkat bantuan peri yang kau utus dia berhasil di selamatkan. Saat ini, Mirai sedang membantu membersihkan monster yang tersisa."
Jawab Anastasia.
"Begitu, ya."
Ucap Priscilla.
Sangat disayangkan karena kita kehilangan dua petinggi kita. Pertarungan ini mungkin akan menjadi kerugian terbesar yang pernah kami alami, aku berharap tidak kehilangan lebih dari ini. Jadi, kembalilah dengan selamat Rigel.
"Meskipun tubuhku masih terasa sakit, namun aku masih kuat untuk bertarung. Ayo kita bantu pasukan lain dan pergi ke tempat Rigel bertarung."
Ucap Priscilla.
"Baik!"
Balas Anastasia dengan tegas.
Aku berjalan menuju ke luar, tempat para pasukan lainnya berada. Saat aku tiba di tempat pertarungan, rupanya pertarungan sudah berakhir dengan kemenangan serikat Region. Ada puluhan orang yang terluka, beberapa di antaranya mati dan berubah menjadi inti jiwa.
Tch!
Aku mendecakkan lidahku. Tenang, aku harus menyimpan dalam dalam amarahku. Aku mulai berjalan ke tempat dimana para prajurit bisa melihatku yang masih dalam wujud wanita dewasa.
"Ketua! Kau baik baik saja rupanya!"
Ucap salah satu prajurit dengan semangat.
Lalu, satu persatu sorakan dari para prajurit mulai terdengar dan menjadi semakin ramai.
"Ketua!"
"Ketua, kau sangat hot dan seksi dengan wujud itu!"
"Dasar brengsek! Meskipun kau di izinkan menggodanya, namun pelecehan seksual dilarang!"
Mirai mulai menggonggong dan memukul kepala prajurit itu.
Aku dapat merasakan senyuman muncul di bibirku karena pemandangan yang aku lihat. Syukurlah jika mereka masih dapat bercamda seperti ini.
"Baiklah, karena kalian masih bisa bersikap brengsek seperti biasanya, aku ingin beberapa orang yang masih dapat bertarung untuk ikut denganku."
Ucap Priscilla.
Para prajurit yang bingung mulai memandang satu sama lain karena kebingungan dengan pernyataanku. Namun, mereka yang tampaknya masih kuat untuk bertarung mulai bangkit satu persatu.
"Ketua, Izinkan aku untuk ikut juga."
Ucap salah satu prajurit.
"Kau, kalau tidak salah Rigel memanggilmu Braund kan? Baiklah kekuatanmu akan di butuhkan."
Ucap Priscilla.
"Namaku yang sebenarnya adalah Leywin, nyonya."
Ucap Braund dengan putus asa.
Para prajurit lainnya tertawa karena hal itu. Aku mengabaikannya dan berjalan keluar untuk menuju ke tempat Rigel yang kemungkinan besar masih bertarung dengan Azazel.
Dibelakang, Anastasia, Mirai, Leywin dan para prajurit yang lain mengikutiku menuju ke luar. Setibanya kami di depan gerbang, penduduk sekitar yang menunggu kepulangan kami mulai bertepuk tangan dengan sangat gembira, bahkan ada beberapa yang menangis.
"Meskipun aku juga ingin menikmati sanjungan mereka, namun ada hal yang lebih penting untuk di tangani, ayo semuanya!"
Ucap Priscilla.
"Baik!"
Ucap Anastasia dan yang lainnya secara serempak.
Kami berlari secepat yang kami bisa dan mengabaikan para penduduk yang berada di sekitar kami. Dari kejauhan, aku dapat melihat sebuah kawah yang sangat besar terbentuk jauh di dalam hutan.
"Serangan seperti apa yang dapat membuat danau seperti itu."
Gumam Braund yang terkagum.
"Bahkan aku tidak akan pernah bisa melakukan hal seperti itu."
Balas Mirai.
Aku memaklumi kekaguman mereka. Memangnya kekuatan super gila seperti apa yang dapat membuat kawah sebesar itu? Aku yakin kawah itu akan menjadi sebuah danau jika di isi dengan air hujan.
Entah kawah itu dibuat oleh Rigel atau mungkin Azazel, jika salah satu dari mereka masih bisa bertahan hidup setelah serangan itu, aku akan menyimpulkan bahwa mereka berdua sama sama monster.
Butuh beberapa menit untuk kami sampai di tempat kawah yang kemungkinan tempat mereka bertarung. Anehnya, aku tidak dapat merasakan sedikitpun mana yang berbenturan.
Apakah pertarungannya sudah berakhir? Kalau begitu, kenapa aku tidak dapat merasakan mana milik Rigel?
"Gila, ini lebih besar jika di lihat dari dekat."
Gumam Seorang prajurit.
Prajurit itu benar, ukurannya lebih besar dari yang terlihat di kejauhan. Kawah ini nernentuk bundar namun yang unik darinya adalah kedalamannya yang mendatar sepertu meteor yang terseret sambil menggali tanah.
"Ada seseorang disana!"
Teriak Anastasia.
Aku langsung bersiaga dan melesat ke tempat yang di tunjuk Anastasia.
"Kau... "
Aku tidak dapat berkata kata dengan apa yang aku lihat. Disana, seorang pria dengan rambut panjang sedang terbaring lemah, tubuhnya mulai berkedip seolah mulai menghilanh dan berubah menjadi inti jiwa.
Orang itu adalah salah satu dari pangeran Neraka, Azazel.
Lalu, jika Azazel berhasil di kalahkan, diaman Rigel?!
"Jangan khawatir. Jika kau mencari pria itu, dia sudah menaiki lantai dan menuju ketempat satan berada."
Sebuah suara berasal dari Azazel.
"Kau.. Aku salut kau masih bisa bertahan dari serangan gila ini."
Ucap Priscilla.
Azazel hanya tersenyum lemah sebelum kematiannya.
"Kau benar. Akan kuberitahu satu hal, jika kau ingin menyusul Rigel, silahkan naiki lah lantai ini dengan cepat. Mulai dari sini hingga lantai 75 sudah tidak memiliki tuan sehingga biaya inti jiwa telah di hilangkan."
Ucap Azazel sebelum menghilang.
"T-tunggu, apa maksudmu para pangeran lainnya telah di kalahkan?!"
Ucap Priscilla.
Azazel sudah menghilang duluan dan menjadi inti jiwa yang berwarna hijau. Jika memang benar biaya inti jiwa telah dihilangkan, hanya ada satu cara untuk memastikannya.
"Ketua, apa yang terjadi dengan orang yang berada di sana sebelumnya?"
Tanya Braund.
"Tenang saja, dia adalah Azazel. Sekarang dia sudah mati lalu,
Kumpulkan semua orang, kita akan langsung menuju lantai atas dengan portal."
Ucap Priscilla.
Tunggu kami, Rigel. Kami akan segera datang untuk menolongmu.