The Legends Of Creator Hero

The Legends Of Creator Hero
Sumpah seorang kesatria



"Aku akan membawa pedang ini..."


Setelah mengatakan itu, Rigel melompat kembali ke tempat Ray berada.


"Jika itu kau, aku yakin semua orang tidak akan merasa keberatan... Lagipula kau yang telah mengalahkan mahkluk ini jadi kau berhak mengambil hal bagus darinya... Lalu, izinkan aku mengatakan satu hal..." Ucap Ray dan mulai berlutut di depan Rigel dengan anggun. Ray menundukan kepalanya.


Rigel terkejut saat melihat Ray berlutut di depannya. Rigel tahu jika perlakuan seperti ini biasanya akan di lakukan seseorang kepada orang yang dengan kasta tinggi seperti bangsawan, Raja dan pahlawan sepertinya. Sejak awal bertemu, Rigel sudah memberitahu Ray dan yang lain untuk tidak melakukan formalitas semacam itu kepadanya karena merepotkan.


"T-tunggu, Ray... Bukankah sudah kubilang sejak awal jika kau tidak perlu melakukan formalitas merepotkan seperti ini...??"


"Aku tahu, namun izinkan aku melakukannya untuk kali ini..."


Rigel tertegun dan diam menunggu Ray menyampaikan apa yang ingin dia sampaikan.


"Pahlawan Creator, Tuan Amatsumi Rigel... Izinkan aku berterima kasih kepadamu karena mau menghadapi Hydra hanya untuk membebaskan pulau Yurazania dan memberikan tempat tinggal kepada Demi-human dan manusia yang menjadi budak bukan atas kehendak mereka... Aku sangat bersyukur kerena mengikutimu, meskipun dengan label terlemah yang di berikan orang orang kepadamu... Mulai saat ini, akan kupersembahkan seluruh jiwa dan raga ini untuk bertarung bersamamu, Pahlawan Creator... Apapun yang terjadi nanti, aku akan selalu di pihakmu tuan Pahlawan, Amatsumi Rigel..."


Ray memejamkan matanya dan tersenyum, dia masih berlutut kepada Rigel yang masih tertegun dan menatapnya dengan heran. Mungkin terlambat bagi Rigel untuk menyadarinya, mendapatkan perlakuan seperti ini nampaknya memiliki kebanggaan tertentu di dalam hatinya. Rigel tersenyum dan menggaruk kepalanya.


"Kau tahukan jika aku tidak pandai berurusan dengan ini..."


Rigel menghela nafas seolah kelelahan, sementara Ray tetap berlutut dan hanya tersenyum. Meskipun tidak tahu apakah ini benar atau tidak, namun setidaknya Rigel mengetahui apa yang harus dia lakukan di saat seperti ini.


"Angkatlah kepalamu prajurit..."


Ray mengangkat kepalanya sesuai dengan apa yang di katakan Rigel.


"Aku sangat tersanjung dengan kesetiaan yang kau tunjukan... Prajuritku, Ray... Maukah engkau menyuarakan sumpah setiamu kepadaku, sekarang dan detik ini juga...??"


Ray sedikit terkejut karena Rigel mengetahui formalitas kesatria seperti ini. Ray tersenyum dan dengan cepat kembali ke wajah seriusnya.


"Ya... Sumpahku hanya untukmu... Kesetiaanku hanya untukmu... Jiwa dan raga ini kupersembahkan padamu... Aku ada untuk menjadi pedangmu dan pedangku ada untuk melindungimu... Semuanya akan kuserahkan kepadamu..."


Rigel mengulurkan tangan kanannya ke arah Ray dan Ray menerima uluran tangan Rigel.


"Aku menerimamu sebagai kesatriaku, bangkitlah... Sumpahmu menjadi milikku... Kesetiaanmu menjadi milikku... Jiwa dan ragamu menjadi milikku dan pedangmu akan kugunakan untuk melindungiku... Terimalah uluran tanganku dan berdirilah sebagai kesatriaku, temanku, dan juga sahabatku..."


Ray tersenyum dan menerima uluran tangan Rigel dengan sepenuh hati. Mereka sama sama tersenyum dan bersalaman setelahnya.


***


Setelah Rigel selesai berurusan dengan pedang Kusanagi dan menerima sumpah Ray, Rigel memutuskan untuk meninggalkan tempat bau ini karena sudah tidak ada lagi hal yang mengharuskannya tetap di sini. Merial dan Ray nampaknya tidak mempermasalahkan untuk Rigel memiliki pedang itu. Untuk Ray, dia sudah mengetahui apa yang terjadi antara Rigel dan Takatsumi sebelumnya, sedangkan Merial sama sekali tidak mengetahui apapun. Dia hanya berpikir jika Rigel pasti punya alasannya sendiri untuk tidak membiarkan Takatsumi menyalin pedang Kusanagi.


"Sekarang... Apa yang harus kulakukan, ya..."


Selagi berjalan keluar seorang diri, Rigel tidak tahu apa yang akan dia lakukan selanjutnya. Pedang Kusanagi telah dia dapatkan dan nampaknya dia tidak menerima kutukan apapun. Lalu, untuk Kristal di kepala Hydra, Rigel tidak terlalu tertarik kepadanya karena kemungkinan besar kristal itu hanya menyimpan energi sihir daripada sebuah skill.


"Yah, meskipun begitu mungkin suatu saat kristal itu akan berguna... Lebih baik kuamankan sekarang juga, tidak baik untuk membuang sumber daya berharga seperti itu..."


Rigel berfikir mungkin akan lebih baik jika Misa yang merupakan seorang penyihir menggunakan batu kristal Hydra. Merial juga bisa menjadi seorang penyihir namun kemungkinan dia akan lebih berguna menjadi petarung seperti Cold dan yang lainnya. Lalu, ada juga Fang dan beberapa petarung dari pulau Yurazania. Rigel masih tidak mengetahui seperti apa kekuatan mereka jadi mungkin Rigel akan meminta mereka menunjukannya. Rigel mulai teringat akan sesuatu...


"Oh iya, aku hampir melupakan hal yang membuatku penasaran dan sebisa mungkin, harusku selidiki secepatnya..."


Hal yang di maksud oleh Rigel adalah batu ramalan. Sebuah batu yang konon katanya akan memberitahu kapan peperangan akan dimulai dan segala hal yang menyangkut dunia ini. Selama ini, Rigel tidak pernah mendengar pembahasan lebih lanjut tentang batu ramalan. Yang membuat Rigel tertarik adalah bagaimana cara batu itu mengetahui jika Rigel yang telah mengalahkan Hydra??


Meskipun dunia ini segalanya dijalankan dengan sihir yang berada di luar logika, batu ramalan yang dapat mengetahui hal itu masihlah mencurigakan dan wajib untuk di selidiki lebih jauh.


"Dari yang aku ingat, ada delapan batu ramalan yang ditinggalkan para dewa... Satu di antaranya ada di Britannia dan mungkin juga di negara besar yang memanggil pahlawan juga memiliki batu ramalan..."


Lalu ada juga kerajaan dunia bawah, tempat para iblis bernaung. Kemungkinan juga ada satu di tempat mereka dan bukannya mustahil jika di tempat para malaikat ada batu ramalan.


"Jika aku berasumsi bahwa di Yurazania juga terdapat satu, masih ada tersisa dua batu lagi... Namun letaknya aku masih tidak mengetahuinya..."


Rigel hanya bisa berharap jika di Yurazania terdapat batu ramalan yang sama seperti di Britannia. Rigel belum pernah melihatnya sekalipun dan nampaknya kebenaran batu ramalan itu sendiri masih abu-abu. Lalu, jika memang di Yurazania, kerajaan iblis dan malaikat memiliki satu, maka keberadaan dua batu ramalan lainnya mungkin misteri.


Kemungkinan besar, setelah Rigel selesai membangun kembali kerajaan Yurazania dan membentuk sebuah negara, batu ramalan akan menjadi prioritas utama yang harus segera di selidiki.


"Mungkin saja ada rahasia atau sesuatu yang tersembunyi di batu ramalan... Sial, ini sangat mendebarkan sekaligus menyenangkan..."


Rigel bergumam dan tersenyum sendirian di tengah perjalanannya menuju ke luar. Ada lebih banyak hal yang harus di kerjakan saat ini, tidak ada waktu untuk beristirahat.


"Seminggu dari sekarang, aku akan mempersiapkan berbagai hal kecil, lalu aku akan menemui para pahlawan dunia ini dan mengetahui orang seperti apa mereka ini..."


Rigel berharap jika mereka bukanlah sekumpulan sampah seperti Takatsumi. Hal yang menjadi prioritas utama Rigel saat ini adalah... Menarik para pahlawan untuk berada di sisinya.