
Malam tiba, Rigel mempersiapkan diri dengan membersihkan tubuhnya dari keringat seharian ini. Memilih untuk menggunakan pakaian santai berupa baju putih dengan lengan panjang dan celana hitam. Meski tampak sangat sederhana, namun sama sekali tidak mempengaruhi penampilannya yang berkualitas.
Ini akan menjadi malam yang penting baginya. Selain pembahasan mengenai Phoenix, dia berniat mengungkapkan fakta bahwa dia memanggil Pahlawan pengganti Nanami dan Argo. Kemungkinan besar akan terjadi pro dan kontra diantara Pahlawan lain karena ke tidak setujuan. Jadi, Rigel harus menyiapkan setidaknya beberapa jawaban yang cukup baik untuk membungkam mulut mereka dan membuatnya menerima fakta ini. Selain itu, mungkin ini akan menjadi pertaruhan terbesar yang dia lakukan, melebihi apa yang dia lakukan di pandora game.
"Untuk mengambil hasil terbaik dan yang kuinginkan, aku harus bersiap untuk melakukan beberapa taruhan dan kehilangan beberapa hal."
Dengan harapan bahwa dia benar-benar bergerak sesuai apa yang Rigel harapkan, maka hanya satu lagi hal yang di butuhkan.
"Aku harap Leo sudah menjadi cukup kuat sampai saat itu tiba." Rigel bergumam sendiri selagi merapihkan penampilannya sedikit lagi hingga akhirnya dia pergi dari kamarnya.
Rigel pergi menuju ruang tahta, dia melihat Ray, Merial, Misa, Fang, Ozaru dan Asoka berada di satu tempat, seperti biasa. Sepertinya mereka telah menunggu kehadiran Rigel.
Ozaru, Ray Dan Merial nampak sudah siap untuk mengikuti rapat Pahlawan mengenai penaklukan Phoenix. Mereka mengenakan pakaian santai yang mereka miliki, dan untuk Ozaru dia mengenakan pakaian gaya Cina yang Rigel berikan kepadanya. Dia terlihat sangat cocok mengenakannya.
"Yosh, sepertinya semua telah berkumpul, bagaimana kalau kita langsung saja menuju ke sana?" Rigel memberikan saran. Tidak baik membuat yang lainnya menunggu lebih lama, jadi pemberangkatan cepat harus di lakukan.
"Kalau begitu, aku mendoakan keselamatan kalian dalam perjalanan, Berhati-hatilah." Asoka tersenyum senang, berbeda dengan Misa yang tersenyum dengan lelah.
Terlihat jelas bahwa Misa masih belum benar-benar bisa melepaskan kepergian saudara kembarnya Nisa. Kehilangan seseorang yang di sayangi memang sangat berat, terutama orang yang sejak lahir sudah berada di sisinya. Pastinya akan di butuhkan waktu lama bagi Misa untuk benar-benar melepaskan kepergiannya.
"Apa kau baik-baik saja, Misa?" Rigel bertanya dengan khawatir karena Misa juga sedikit pucat.
"Ya... Aku baik-baik saja..." Senyuman dan wajah lelah dia tunjukan. Namun sangat jelas itu bukan baik-baik saja namanya.
"Lebih baik kau beristirahat saja untuk beberapa waktu, Misa. Kau tidak perlu memaksakan dirimu." Bahkan Asoka juga mengkhawatirkan kondisi Misa saat ini.
"Ah, tidak perlu, yang mulia. Aku benar-benar baik-baik saja." Misa berusaha mengelak, namun Rigel ikut campur.
"Jika kau bekerja dengan kondisi buruk seperti itu, produktifitasmu akan menurun dan kau pastinya akan membuat beberapa kesalahan. Beristirahatlah, kondisimu juga penting, Misa." Rigel berkata dengan tegas dan menanamkan kuat-kuat bahwa Misa tidak bisa menolak Kata-katanya. Karena menyadari itu, Misa dengan patuh akan beristirahat selama beberapa waktu.
"Kalau begitu, mari langsung saja kita pergi." Ozaru menganjurkan, Rigel mengangguk setuju dan menyiapkan teleport nya. Dalam sekejap mata mereka telah menghilang dari tempat dan tiba di Britannia.
"Kita sampai." Ujar Rigel selagi berjalan memimpin di depan rombongannya.
"Sungguh kemampuan yang sangat nyaman. Andai saja aku memilikinya." Ozaru bergumam dengan sedikit iri.
Dari semua Pahlawan yang ada, hanya Ozaru saja yang tidak memiliki kemampuan untuk ber teleportasi dan dia juga tidak memiliki penyimpanan dimensi seperti Inventory. Mungkin itu sedikit dari kekurangannya, karena senjata tongkat nya sendiri sangat kuat. Dapat memanjang dan berubah ke ukuran apapun sesuka hati adalah kemampuan yang sangat hebat. Bahkan jika bisa, Rigel menginginkan satu untuk dirinya.
"Aku akan memberikanmu alat Lift Teleport nanti. Namun ada batasan tempat yang bisa kau kunjungi."
Lift teleport hanya dapat menteleportasikan seseorang ke tempat yang sudah di tandai dengan batu lingkaran sihir yang Rigel buat, atau melalui kordinat lokasi tujuan. Yah, pada pilihan kedua, umumnya hanya Rigel dan Leo yang berkemungkinan teleportasi hanya dengan kordinat, karena hanya mereka yang dapat mengakses Ciel.
"Yah, mungkin aku tidak butuh alat anehmu itu. Masih lebih baik bagiku mengendarai Kinton ketimbang benda aneh itu." Ozaru menolak kebaikan Rigel. Ray dan Merial hanya diam dan mendengarkan percakapan mereka selagi berjalan tepat di belakang mereka.
Mereka berjalan menuju ruang tahta, tempat biasanya Raja berada. Namun setibanya di sana, mereka tidak melihat Raja itu di tempatnya, dan hanya seorang tuan putri dengan rambut keemasan.
"Sudah kuduga bahwa rombonganmu yang akan pertama sampai. Ikuti aku, ruangan pertemuan berada di ruangan lain." Tirith bangkit dari kursinya dan menuntun rombongan Rigel ke suatu tempat lain.
Rombongan pertama, yang berarti Pahlawan lain selain Takumi dan yang lain belum sampai ke sini. Sepertinya persiapan mereka sedikit lebih lama ketimbang Rigel dan yang lain. Setidaknya baguslah jika Rigel menjadi rombongan pertama yang datang, karena dialah yang mengadakan pertemuan ini.
Setibanya di ruangan pertemuan, Rigel melihat bahwa Takumi, Yuri dan Takatsumi telah duduk di kursinya selagi bercakap kecil. Ruangannya tidak terlalu besar atau kecil, terdapat meja berbentuk oval dan terdapat cukup banyak kursi. Di sana juga terdapat papan tulis hitam yang berguna untuk menyusun rancangan strategi. Namun dengan teknologi super canggih Rigel, papan itu hanyalah kayu tak berguna.
"Kau datang cepat, Rigel. Silahkan duduk kalian semua." Yuri memberikan sambutan hangat, Rigel dan Ozaru duduk di kursi. Untuk Ray dan Merial, mereka memilih berdiri di belakang Rigel dan Ozaru. Mereka bisa saja duduk di kursi, namun ini adalah permintaan Rigel untuk tidak mengambil kursi terlebih dahulu.
"Hmm, hanya untuk pertemuan ini, kau sampai membawa dua anak buah? Payah." Takatsumi mencibir mencoba untuk mengejek Rigel.
"Lantas apa pedulimu?" Rigel berkata tanpa mencoba menutupi kebenciannya.
"Tidak, aku hanya berfikir kalau hanya orang lemah yang membawa banyak bodyguard." Takatsumi menyilangkan tangannya dan tertawa geli.
Rigel tidak berusaha menyangkal, "Ya, jika aku lemah kau adalah pecundang nya. Aku begitu lemah sampai-sampai Tortoise ku terbangkan ke langit dan lenyap tanpa sisa." Rigel tertawa.
Takatsumi sedikit terpancing saat Rigel mengungkit kejadian Tortoise. Saat terakhir pertempuran, Rigel menerbangkan Tortoise yang sebesar gunung dan melenyapkannya tanpa sisa di udara. Jika yang seperti itu adalah definisi orang lemah menurut Takatsumi, maka dia yang tidak dapat melakukan itu adalah pecundang di antara pecundang.
"Su-sudah, sudah, jangan berkelahi. Aku tidak tahu semenjak kapan hubungan kalian menjadi seburuk ini?" Yuri berusaha melerai Rigel dan Takatsumi selagi bingung kenapa hubungan mereka begitu buruk.
"Yah, mungkin ada beberapa hal yang terjadi selama dua setengah tahun belakangan." Takumi berkata dengan senyuman mengejek. Di sini terlihat jelas bahwa Takumi sedang bermain bodoh.
Tidak lama kemudian, Tirith yang sebelumnya keluar kini datang bersama Altucray dan rombongan Pahlawan lainnya. Sepertinya mereka datang di saat yang bersamaan. Dengan begini seluruh Pahlawan yang ada telah berkumpul dan pembahasan akan dimulai. Mereka mengambil kursi masing-masing dan bersiap mendengarkan apa yang ingin di sampaikan Rigel. Mereka juga mengamati dua orang yang berada di belakang Rigel dengan bingung. Seharusnya ini adalah rapat yang hanya di hadiri Pahlawan dan Altucray sebagai peserta tambahan.
"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan dengan kami?" Marcel memulai dan bertanya kepada Rigel yang mengamati semua orang satu persatu.
Rigel hening sesaat dan akhirnya mulai bicara, "Yah, ada dua hal yang ingin ku bahas dengan kalian. Pertama adalah mengenai target kita selanjutnya dan sesuatu yang berhubungan dengan kedua orang di belakangku. Kalian pastinya sudah penasaran dengan apa yang mereka lakukan di sini, namun kita akan membahasnya satu persatu."
Semua menatap Merial dan Ray yang berdiri di belakang Rigel. Rasa penasaran tentang sesuatu yang di maksud Rigel mulai menghantui mereka. Namun, mereka harus tetap sabar menunggu sampai pembahasan mengenainya di mulai.
"Aku mengerti. Lalu, tentang target selanjutnya yang kamu maksud, itu mengenai hal apa?" Nadia bertanya kepada Rigel.
Rigel mengangguk, "Ya... ini tentang lawan yang harus kita hadapi. Sejauh ini, bencana yang kita alami selalu hal yang rumit di tangani dan belum lagi, selalu kita yang di paksa untuk bertahan."
Ozaru melanjutkan, "Ya, belum lagi kekacauan yang terjadi sebelumnya karena ulah pemimpin iblis itu."
Mengejutkan, bahwa Ozaru yang biasanya hanya diam dengan bodoh kini ikut dalam diskusi serius ini. Tentu mereka tahu bahwa saat mereka datang ke tempat Rigel yang hilang kendali, Ozaru menjadi orang yang menghentikan Rigel dan sedikit perubahan sifat terjadi padanya.
"Tunggu, bisakah kita melenceng dari topik? aku penasaran tentang adakah perubahan atau semacamnya terhadap Ozaru? Kebodohan di wajahnya tidak lagi terpancar kan seperti dahulu." Ujar Hazama selagi mengamati Ozaru.
Biasanya, saat diskusi semacam ini, Ozaru hanya akan diam tanpa menyimak dan sibuk menggali emas di hidungnya. Namun kini dia justru ikut andil dalam rapat, jelas itu mengejutkan semuanya.
"Yah, untuk itu, biar Ozaru sendiri yang menjelaskannya." Rigel menyerahkan penjelasannya kepada Ozaru, dia juga telah berpesan pada Ozaru untuk memutar balikan fakta tentang kebenarannya.
"Kalau begitu, aku akan menjelaskannya semudah mungkin. Singkatnya, aku ini memiliki dua kepribadian, satu yang bodoh nan idiot dan satu lagi seperti aku yang sekarang."
Ozaru memiliki dua kepribadian yang saling berkebalikan. Satu untuk yang bodoh dan satu untuk pintar serta bijaksana. Hal itulah yang sedang di tekankan oleh Ozaru kepada Pahlawan lain.
"Kepribadian ini berpengaruh pada ekor yang kumiliki. Saat aku masih memiliki ekor, maka kepribadianku yang bodoh akan mengambil kendali sepenuhnya dan melakukan hal-hal seperti yang sudah kalian lihat. Lalu, saat ini ekor milikku telah hilang karena dipotong, yang berarti kepribadianku yang terpendam ini mengambil kendali sampai saat ini."
Semua mencerna perkataan Ozaru dan memahami apa yang coba dia sampaikan. Singkatnya, Kepribadian Ozaru bergantung pada ekornya yang akan menjadi pemicu untuk kepribadiaain mengambil alih. Ekor Ozaru telah di potong saat dia mengamuk menjadi Kera raksasa, dan karena itu Ozaru yang bijaksana muncul. Semua orang memahami sampai situ.
"Jika ekormu yang menjadi pemicu, kenapa kau tidak memotongnya dan membiarkan dirimu yang sekarang mengambil alih?" Hazama menanyakan pertanyaan yang menurut Rigel sangat bodoh.
Hazama mungkin berfikir, seandainya Ozaru yang pintar ini muncul dari awal, itu akan sangat membantu mereka dalam pertempuran yang telah terjadi selama ini.
"Lantas aku akan bertanya balik padamu, kenapa kau tidak mencoba memotong burung kejantananmu untuk mengetahui akankah ada kepribadian lain dari dirimu?" Ozaru menjawab pertanyaan dengan pertanyaan lainnya.
Tentu itu pertanyaan yang benar-benar konyol. Bahkan Ozaru bodoh sekalipun, tidak akan pernah dengan bodohnya memotong ekornya sendiri yang bagi manusia kera cukup penting untuk menarik betina. Mudahnya, mereka sama seperti manusia laki-laki yang begitu perduli dengan panjang burung kejantanan yang mereka miliki.
"Maaf... Aku yang salah karena bertanya." Hazama tampak menyesali atas apa yang dia tanyakan sebelumnya.
"Pertanyaan," Takatsumi berseru, "Jika memotong ekormu membuat kepribadian cerdasmu muncul, lalu bagaimana kepribadian bodohmu dapat mengambil alih kembali?"
Hehe, kena juga kau. Rigel tertawa dan menutupi senyuman di bibirnya.
"Mudah saja, ekorku akan tumbuh kembali dengan cepat saat aku kehabisan energi ku sekarang. Saat energi ku habis, aku akan kembali tertidur selama beberapa hari sebelum kembali menjadi kepribadian bodoh."
Tentunya itu hanyalah sebuah kebohongan belaka yang telah Rigel minta kepada Ozaru. Rigel hanya mengatakan kepada Ozaru untuk membuat seakan-akan dia kembali ke dirinya yang bodoh saat kehabisan tenaga. Namun dia melakukannya jauh lebih dari yang di harapkan.
"Begitu, aku mengerti. Silahkan kembali ke topik." Takatsumi dengan acuh menyuruh Rigel melanjutkan topik pembicaraan.
Rigel mengabaikan Takatsumi, "Kembali ke topik. Tortoise dan invasi iblis, segala kejadian besar selalu menyerang kita lebih dahulu tanpa persiapan yang matang. Untuk itu, kita tidak hanya bisa diam dan menunggu bencana selanjutnya datang mendekati kita..."
Selama ini, para Pahlawan hanya berusaha melawan balik dan bertahan saja. Mereka tahu itu dengan betul, dan terus menerus bertahan bukanlah sesuatu yang baik dan hanya menunggu waktu sampai umat manusia benar-benar melemah sebelum perang Ragnarok mendekat.
Kekuatan Pahlawan memang penting, namun jumlah prajurit manusia yang ada saat perang juga sama pentingnya. Terutamanya mengenai individu-individu berbakat yang dapat membalikan situasi perang. Selain jumlah bakat individu masing-masing sangatlah penting. Misalnya seorang veteran perang melawan dua puluh prajurit pemula, maka sangat veteran yang akan keluar sebagai pemenang. Namun jika ada total seratus prajurit pemula, maka veteran itu tidak akan memiliki kesempatan menang. Karena itu jumlah dan bakat setiap individu dapat menjadi penentu peperangan.
Manusia memiliki keunggulan mutlak dalam jumlah, namun iblis dan malaikat memiliki keunggulan dalam kekuatan tempur per individu. Jadi, hal yang coba Rigel sampaikan pada Pahlawan lain adalah untuk mengurangi sebanyak mungkin bencana yang dapat mengurangi kekuatan manusia dalam jumlah besar.
"Kita harus melawan, kita harus bergerak sebelum mereka bergerak. Kita sendiri yang harus menghampiri bencana itu sebelum mereka yang datang untuk kita. Kita harus melenyapkan seluruh penghalang sebelum Ragnarok mendekati kita..."
"Jadi, target selanjutnya yang kau maksud..." Petra hendak mengatakannya, namun Rigel memotongnya dengan cepat.
"Benar," berhenti sejenak dan Rigel tersenyum, "Target kita selanjutnya adalah monster malapetaka. Si burung Api, Phoenix!"
Sebuah kejutan yang tidak lagi mengejutkan karena semua Pahlawan sudah mengetahuinya dari kata-kata Rigel sebelumnya. Seperti Rigel yang datang dan membunuh Hydra, kali ini Pahlawan sendiri yang akan datang dan membunuh Phoenix.