
Gate of Underworld telah hancur, kini saatnya untuk mengatasi sisa-sisa dari pasukan iblis. Ntah apa yang di lakukan Lucifer di neraka, yang pasti itu bukanlah sesuatu yang bagus. Tidak berguna memikirkan sesuatu tanpa petunjuk seperti itu, lebih baik untuk memikirkan rencana antisipasi terhadap serangan iblis.
Rigel dan Pahlawan lain telah kembali, membawa mayat salah satu Pahlawan. Argo. Siapa yang akan menyangka bahwa dua Pahlawan akan mati secepat ini. Bahkan Ragnarok masih belum di mulai, namun pertarungan ini sudah menjadi semakin sulit. Untuk kabar mengenai kematian Pahlawan Pisau, Rigel dan yang lainnya telah sepakat untuk merahasiakannya agar tidak menimbulkan kekacauan. Sebagai catatan, Pahlawan lain membiarkan Rigel menyimpan mayatnya sebelum di makamkan. Karena sedikitnya waktu untuk di luangkan sehingga pemakaman harus di tunda.
Hanya Pahlawan, Kandidat Kaisar, dan beberapa orang seperti Ray dan Tirith yang mengetahuinya. Saat ini, Rigel dan yang lainnya singgah di sebuah pelabuhan yang tidak jauh dari lokasi pulau hitam. Sekarang, mereka sedang berkumpul dan membahas sesuatu.
"Gate Underworld telah berhasil di hancurkan. Namun, bukan berarti selesai sampai di sini." Rigel membuat pernyataan.
Semuanya memahami dengan jelas, hanya karena gerbang di hancurkan. Bukan berarti kekacauan telah sepenuhnya beres. Masih ada cukup banyak iblis yang berkeliaran dan bersembunyi, bahkan ada juga yang bergabung dengan tentara milik Lucifer.
"Ya, bahkan masih ada Pilar iblis. Kita tidak tahu apa yang sedang mereka rencanakan sekarang." Takumi menggertakan giginya.
Rigel hanya menatapnya selagi mengamati ekspresi Pahlawan lainnya, "Untuk pilar iblis, kupikir tidak masalah untuk mengendurkan pengawasan terhadap mereka. Lucifer telah kembali dari neraka, dan tugas para pilar itu hanyalah mengumpankan kita pada mereka. Yang perlu kita khawatirkan adalah, apa yang di lakukan Lucifer di Neraka dan apa yang dia dapatkan."
Hazama mengangguk setuju, "Ya, kita juga harus menyiapkan beberapa pencegahan kalau-kalau Lucifer membuat kekacauan yang tidak kita duga."
Sejauh ini, Lucifer adalah lawan yang sangat merepotkan. Dia selalu saja menempatkan kekacauan di balik kekacauan yang bahkan Rigel dapat dengan mudah di kelabuhi olehnya. Rigel sangat ingin melemparkan banyak sekali bom nuklir ke kerajaan iblis, namun sangat di sayangkan bahwa letak kerajaan itu sendiri tidak di ketahui. Sampai saat ini, Rigel terus mencoba melacak dan mengkonfirmasi keberadaannya.
"Lalu, masih ada eksistensi seperti Karaka. Kita tidak tahu keberadaannya dan apa saja yang akan dia lakukan."
Meskipun Takumi atau Pahlawan lain selain Rigel belum bertemu dengan Karaka. Mereka jelas-jelas tidak meremehkannya sama sekali. Sosok yang dapat menembus pertahanan Region, bukanlah orang lemah.
"Untuk itu, aku memiliki saran yang bagus... Aku sendiri yang akan menghadapi Karaka, untuk sisanya..." Rigel memulai diskusi dan terus menjelaskan apa yang dia pikirkan.
Dari sini, Rigel telah memastikan bahwa nampaknya Pahlawan lain tidak menentangnya lagi. Dan untuk Takatsumi, Rigel akan mencoba mengungkapkan jati dirinya di hadapan Pahlawan lain. Baru setelah itu dia mengungkapkan bahwa dia bisa memanggil Pahlawan baru.
lebih dari setengah hari telah berlalu, pembahasan telah selesai dan Pahlawan lain akan segera menuju tempat yang di tentukan, sampai Rigel mendapatkan panggilan bahaya dari pasukan kematiannya. Asalnya dari Britannia.
"Bahaya! sepertinya seseorang berhasil menyusup ke Britannia!" Rigel memberikan peringatan pada Pahlawan lain.
Mendengar itu, Takumi, Yuri dan Takatsumi tampak khawatir. Wajar saja karena di sanalah tempat mereka.
"Kita harus pergi ke sana sekarang juga!" Takumi terburu-buru.
"Tidak. Kita harus tetap pada rencana, aku sendiri saja sudah cukup untuk mengatasinya." Tanpa membuang waktu, Rigel berteleport menuju Britannia.
Sesampainya di sana, Rigel di sambut dengan pemandangan pasukan kematiannya yang berkurang dari jumlah seharusnya. Necromancer bukan kekuatan tanpa kelemahan. Pada dasarnya kemampuan Rigel adalah mengikat jiwa orang mati ke dalam domain of death. Untuk mengatasinya, seseorang hanya perlu membebaskan jiwa pasukan kematian dari domainnya. Meskipun begitu, tidak banyak orang yang mengetahui dan dapat melakukannya.
"Tidak kusangka jika ada orang yang mengetahuinya... Beruntung aku tidak menggunakan monster kuat seperti Hydra."
Di lihat dari kerusakan yang ada, nampaknya sosok ini menuju langsung ke kerajaan. Rigel mulai khawatir dengan keadaan di sana, semoga saja tidak ada hal buruk menimpa Tirith dan budaknya, Altucray. Mereka masih berguna untuk di gunakan, jadi tidak boleh mati sekarang.
Rigel terbang menuju kerajaan dengan cepat. Kekacauannya sangat parah, tidak hanya tembok di hancurkan, tetapi rumah yang berada di sepanjang jalan juga ikut di hancurkannya.
"Oi, Oii... Bukankah tempat ini memiliki perlindungan Excalibur? kenapa penyusup sepertinya bisa memasuki negara ini?"
Jika pedang itu telah hilang atau di ambil seseorang, itu tidak akan mencurigakan jika perlindungan sihir yang di tenagai oleh Excalibur tidak aktif lagi. Rigel dengan cepat sampai di Kerajaan, dia berlari memandang sekitar. Mayat prajurit bergeletakan di mana-mana, cipratan darah menghiasi tembok. Amarah perlahan mencapai kepala Rigel.
"Bagaimana dengan keadaannya..." Rigel dengan panik berlari mengitari setiap ruangan istana. Setelah hampir memeriksa seluruh ruang, Rigel sampai di taman kerajaan.
Di sana ada banyak prajurit yang berkumpul, nampak sangat jelas mereka berusaha melindungi seseorang. Rigel dapat melihat adanya sisa-sisa pertarungan dan beberapa jejak sihir di sini. Rigel berjalan melewati mayat-mayat itu, menuju ke sebuah tempat. Dia menemukan seseorang yang dia cari. Gadis berambut pirang, Tirith. Pakaiannya di pakukan di dinding, dan tubuhnya berlumuran darah. Di atas kepala Tirith, terdapat sebuah tulisan yang di buat dari darah. Pesan itu berisi :
Jangan membuatku menunggu lama, Rigel~
Satu pesan itu dapat di mengerti dengan jelas, siapa yang mengirimnya. Seseorang yang sangat menantikan pertarungan dengannya. Pejuang dari Neraka, Karaka!
Niat haus darah dan membunuh merembes keluar dari Rigel. Namun dengan cepat dia berusaha menahannya kembali. Rigel mendekati Tirith yang tidak bergerak dan menyentuh urat nadi di lehernya.
"Denyutannya lemah, namun dia masih hidup. Aku harus cepat menyembuhkannya, dia sudah cukup banyak kehilangan darah. Jika aku membiarkannya lebih lama, dia akan mati."
Rigel mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menyembuhkan Tirith. Perlahan, kondisinya membaik dan luka yang dia miliki perlahan tertutup. Setelah memberikan pertolongan pertama, Rigel langsung melepaskan Tirith dan menaruhnya di pangkuannya. Tidak jauh dari lokasi Tirith berada, dia melihat Altucray tergeletak di tanah.
"Dia masih bernafas, tampaknya baik-baik saja. Tidak perlu bagiku menyembuhkannya." Rigel dengan acuh melewati Altucray dan menginjak tubuhnya dengan santai.
Rigel pergi ke kamar Tirith dan membaringkan nya di tempat tidur. Memperhatikan bahwa pakaian Tirith kotor dan di penuhi dengan noda darah, Rigel tanpa ragu melepaskan pakaian yang di gunakan Tirith. Untuk kondisi seperti ini, dia tidak akan berpikir tentang hal semacam itu. Rigel melanjutkan pemulihan terhadap Tirith sampai dia sadar dan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Uhuk! Uhuk!"
Tirith mulai terbatuk, nampaknya dia telah mulai keluar dari keadaan kritisnya. Setidaknya untuk saat ini, Tirith sudah bisa meminum ramuan penyembuhan dan pengembalian stamina. Ramuannya perlahan bekerja dan Tirith membuka matanya secara bertahap.
"U... Uhh... D-dimana a-aku..." Suaranya masih tampak lemah.
"Kau berada di kamarmu, tenang saja. Semuanya baik-baik saja."
"Ya... Meski kau seharusnya istirahat, ceritakanlah padaku apa yang terjadi sebelumnya terlebih dahulu."
Tirith mulai mengingat-ngingat kejadian sebelum dia tidak sadarkan diri dan menceritakannya secara perlahan. Jelasnya, saat Rigel pergi menuju gerbang dunia bawah dan meninggalkan pasukannya, tidak lama setelah itu seorang iblis bertangan empat muncul dari udara. Dia tampaknya menghancurkan pasukan kematian Rigel dengan menyerap jiwa dan menghancurkan dindingnya lalu menuju istana.
"Para prajurit berusaha menghentikannya, namun dia terlalu kuat. Ayahku dan beberapa prajurit berusaha melindungiku namun bahkan ayahku tidak sanggup memberikannya luka sedikitpun."
Tirith mengambil nafas sejenak,
"Aku ingat dia berkata tidak akan membunuhku dan tujuannya adalah memancing kemarahanmu lebih dalam, Rigel. Dia juga berkata bahwa benci menunggu, jadi dia akan terus bermain-main dengan orang-orang yang kau dekat dengannya."
"... Begitu, aku mengerti situasinya. Beristirahatlah untuk saat ini."
Meski Rigel menyuruhnya beristirahat, Tirith mengabaikannya dan berusaha untuk duduk di kasurnya. Selimut yang menutupi tubuhnya turun, sehingga Rigel dapat dengan jelas melihat Tirith tanpa busana. Rigel hanya diam dan bersandar pada tangannya selagi tersenyum jahil.
Tirith menatap Rigel dengan bingung, sampai akhirnya dia menyadari bahwa tubuh bagian atasnya tidak mengenakan apapun. Jelasnya, dia telanjang bulat.
"Kyaa!" Tirith dengan cepat mengurung diri dalam selimutnya, "Kenapa aku telanjang bulat?! apakah kau yang melepas pakaianku, Rigel?!"
Meskipun tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas, Rigek tahu bahwa Tirith sangat tersipu malu.
"Pakaianmu di penuh darah dan sobekan, sekalian saja aku lepaskan semuanya." Rigel tersenyum jahat, "Tidak perlu khawatir, aku sama sekali tidak melakukan hal aneh yang kau pikirkan, meskipun aku sedikit tergoda."
Tirith mengeluarkan setengah wajahnya sedikit dari selimut dan menatap Rigel dengan wajah merona, "Benarkah? A-aku tidak ingin k-kau melakukan hal itu s-saat aku tidak sadar..."
"Jadi aku boleh melakukannya di saat kau sadar?" Rigel menggoda Tirith dengan menghampiri wajah Tirith hingga sangat dekat.
Wajah Tirith semakin merona, ".... Y-yah, ji-jika kau menginginkannya..." Suaranya pelan, Rigel bisa saja tidak mendengarnya jika tidak memfokuskan pendengarannya.
Keheningan terjadi saat Tirith menyatakan bahwa dia mengizinkan Rigel melakukan hal itu dengannya. Tirith yang masih menutup setengah wajahnya menatap Rigel dalam diam, wajahnya masih merah merona.
Rigel mendengus tertawa dan mendekatkan bibirnya ke telinga Tirith, "Dasar tuan Putri mesum. Bisa-bisanya kau menggoda Pahlawan untuk melakukan hal itu saat kondisi di luar sedang buruk." Rigel meniup pelan telinga Tirith.
"B-bukan itu maksudku! a-aku tidak berniat me-mengajakmu melakukan itu juga..."
Rigel hanya sedikit tertawa dan meraih dagu Tirith lalu membuatnya menatap langsung matanya, "Yah, bukan berarti aku tidak menyukainya... Jika keadaan membaik, aku akan menerima tawaranmu." Rigel mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Tirith.
Kehangatan bibirnya dapat di rasakan oleh Rigel. Tirith terdiam, dia nampak terkejut kepada Rigel yang tiba-tiba menciumnya tanpa peringatan. Tirith menyentuh bibirnya dan menatap Rigel.
"Aku akan bermain denganmu nanti, sekarang masih ada banyak sekali hal yang harus kuurus. Akan ku kirimkan beberapa prajurit dari Region ke sini." Rigel tanpa membuang waktu berbalik dan berjalan pergi.
Tirith hanya bisa menyaksikan punggung Rigel yang semakin menjauh darinya. Meski dia masih terkejut dengan ciuman Rigel, ada sesuatu yang dapat di rasakan seseorang saat bersentuhan. Dari ciuman Rigel barusan, Tirith dapat merasakan bahwa kesedihan dan amarahnya bercampur menjadi satu. Sebuah perasaan yang sama sekali tidak dapat di mengerti oleh Tirith.
Setelah pergi dari kamar Tirith, Rigel menghubungi Asoka dan meminta dia mengirimkan Misa, tim medis, dan beberapa prajurit ke Britannia.
Rigel juga telah menarik kembali pasukannya karena kini para Pahlawan sudah tersebar ke segala tempat yang di serang pasukan iblis yang tersisa. Rigel memberikan pasukannya tugas lain.
Rigel kembali menuju luar kerajaan Britannia dan membangkitkan sepuluh ribu pasukan kematian yang berupa seribu monster udara dan sisanya berada di laut dan darat.
"Cari dan temukanlah Karaka! Habisi setiap iblis yang kalian lihat dan berikan tanda padaku jika menemukan iblis dengan lengan empat itu. Bergerak!"
Dalam satu perintah saja, pasukan kematian langsung menghilang dari pandangan Rigel dan berpencar ke penjuru dunia untuk mencari Karaka. Rigel melakukan ini bukan karena marah saat dia menyerang Britannia. Yang Rigel khawatirkan adalah Karaka menyerang orang-orang dari Region seperti Ray dan Fang yang tidak berada di Region.
Dia tidak bisa menunda pertarungannya selama seminggu, karena Karaka tidak akan tinggal diam seperti yang di perkirakan olehnya.
"Awalnya kupikir dia mau menunggu selama seminggu tanpa membuat banyak kekacauan, namun ternyata salah, ya. Awalnya aku pikir bisa membunuh dua burung dengan satu batu. Nampaknya gagal, ya..."
Rencana awal Rigel mengulur waktu selama seminggu adalah menyiapkan sesuatu untuk memancing Phoenix keluar dari sarangnya dan membuatnya berhadapan dengan Karaka. Jika Karaka yang di kalahkan, itu akan menjadi hal bagus, jika ternyata Phoenix yang di kalahkan. Rigel akan menghentikan waktu sesaat untuk mengambil darah dan air mata Phoenix.
Hal itu akan membuat pekerjaan Rigel semakun Ringan karena dia tidak perlu menghadapi Phoenix secara langsung. Bahkan di kemungkinan terburuk, Rigel akan menghadapi Karaka dan Phoen6di saat bersamaan. Namun kini pemikiran itu akan menjadi hal yang sia-sia. Karena dia tidak akan menggunakan cara ini.
Rigel akan menyelesaikan invasi iblis dan membunuh Karaka. Urudan Phoenix akan di kesampingkan terlebih dahulu.
"Sepertinya kau harus menunggu sedikit lagi, Priscilla. Aku berjanji, bahwa aku pasti akan membangunkanmu. Sampai saat itu tiba, tidurlah dengan nyenyak."
Rigel mengepalkan tinju kanannya dengan erat dan menanamkan baik-baik di benaknya, untuk membangunkan Priscilla kembali.
Angin berhembus kencang, dan langit tampak terlihat mendung, seakan ingin turun hujan. Udara yang di hirup Rigel terasa sedikit lebih dingin dari biasanya. Rigel mulai mengumpulkan Mana alam dalam jumlah banyak sebagai bentuk persiapan menghadapi Karaka.
"Sekarang, jika kau ingin bermain-main denganku, akan kulayanikua sebaik mungkin, Karaka." Senyuman bengis tumbuh di bibir Rigel yang haus darah.