The Legends Of Creator Hero

The Legends Of Creator Hero
Razan dan Razen



Ibukota Pendragon, sebuah kota dengan pemandangan indah dan keamanannya yang terjamin. Tidak ada sedikitpun tindak kriminal di kota ini yang menjadikannya tempat yang cocok untuk hidup dengan damai. Orang-orang melakukan aktivitas mereka dengan ceria dan anak-anak berlarian kesana kemari tanpa beban di pundak.


Namun di balik ini semua terdapat hal busuk yang mereka simpan baik-baik di balik bayang-bayang. Di dunia ini, setengah manusia tidak di Terima dengan baik, terutamanya negara ini, Britannia. Mereka adalah orang-orang yang paling mendiskriminasi para setengah binatang dan menjadikannya budak, bahkan yang terburuk membunuh mereka untuk menaikan level.


Bagi sebagian orang itu sudah menjadi hal biasa, namun bagi pendatang dari dunia lain seperti Rigel, sesuatu semacam itu tidak akan pernah bisa di terima olehnya. Dia ingin mengubah tempat yang seperti sampah ini, namun karena keadaan saat ini masih belum memungkinkannya melakukan itu. Sebagai gantinya, Rigel mengumunkan bahwa Region akan menerima baik-baik semua orang tanpa memandang Ras dan perbedaan.


Region akan menjadi negara pertama yang membuat manusia dan setengah manusia dapat hidup bersama dalam kedamaian di bawah perlindungan Rigel. Cita-cita untuk mewujudkannya tidak lagi jauh, hanya perlu membereskan beberapa batu kerikil yang menghalangi jalannya.


Kini, Rigel tengah berjalan-jalan di kota Pendragon selagi melihat hal yang belum dia lihat. Ada beberapa hal yang baru Rigel ketahui semenjak menapakan kaki ke dunia ini. Ada sebuah pertunjukan seni seperti Theater yang menceritakan perjuangan leluhur mereka Raja Arthur melawan musuh-musuh mereka.


Dalam Theater itu menceritakan tentang Raja Arthur yang melawan musuhnya bernama Mordred yang ternyata adalah saudara tirinya di saat-saat terakhir kematian Mordred. Raja Arthur sangat menyesalinya karena telah membunuh saudara tirinya dengan kedua tangannya sendiri. Sebuah kisah yang sungguh tragis.


Selain pertunjukan Theater, Rigel sangat terkejut saat mengetahui bahwa di kota ini terdapat distrik merah, sebuah distrik dimana kaum pria dapat bersenang-senang. Rigel tertarik untuk melihat seperti apa tempat itu, namun dia khawatir akan tergoda para wanita di sana sehingga dia akan bercocok tanam dan menebar benih dimana-mana.


Sebaiknya aku menjauh dari tempat itu jika tidak ingin kehilangan diriku. Batin Rigel selagi memandang pintu masuk ke distrik merah. Tempat itu akan menjadi yang teratas untuk Rigel hindari. Meskipun wajar jika pria remaja sepertinya memiliki hasrat yang besar akan hal itu, namun Rigel tetap tidak ingin melakukannya dengan sembarangan.


"Aku tidak menyangka jika masih ada banyak hal yang belum ku ketahui tentang tempat ini. Kira-kira, apakah Takumi juga mengetahui bahwa ada tempat seperti itu di sini..."


Ntah seperti apa reaksi Yuri saat mengetahui Takumi berusaha memasuki distrik merah, kemungkinan besar itu bukan sesuatu yang bagus untuk di pikirkan.


Rigel telah berjalan cukup lama mengikuti apa yang gadis-gadis sebelumnya katakan, sampai akhirnya dia dapat melihat sebuah kastil megah yang dapat di lihat dari kejauhan di pinggir kota. Di lihat dari lambang pedang pada benderanya, tidak salah lagi bahwa tempat itu yang menjadi tujuan Rigel.


Tidak perlu membuang waktu lagi, Rigel langsung bergegas menuju kediaman Walther berada dan mendapat sebuah jubah Salamander.


Tidak butuh waktu lama sampai dia tiba di gerbang depan yang di jaga ketat oleh prajurit. Ketimbang mansion cabang, mungkin tempat ini lebih pantas di sebut mansion utama karena pengamanannya yang ketat dan megah.


"Berhenti di sana! Sebutkan dirimu dan tujuan apa yang membawamu kemari." Prajurit yang berada di balik gerbang menghentikan Rigel dan beberapa prajurit lain mendekati Rigel dengan pedang mereka yang di sarungkan.


Para prajurit hendak memeriksa Rigel dan sorot mata mereka terlihat sangat merendahkan. Wajar saja karena penampilan Rigel saat ini tidak lebih dari rakyat jelata yang kebetulan memiliki wajah mempesona.


"Tangan kirimu, apakah itu benar-benar terluka? biarkan aku memeriksanya."


Nampaknya mereka memiliki pengamatan yang sangat jeli, meski Rigel sudah berusaha menutupi tangan kirinya dengan jubah. Rigel belum memiliki niat untuk mengungkapkan identitasnya karena dia masih ingin mengetahui seberapa jauh para prajurit ini memeriksanya. Sebelum para prajurit melanjutkan pemeriksaan mereka lebih jauh, seorang wanita cantik dan elegan keluar dari kediamannya.


"Hentikan itu! Kalian tidak perlu memeriksanya lebih jauh lagi."


Wanita itu berjalan dan melewati para prajurit yang menundukan hormat selagi tampak bingung terhadap pergantian situasi yang tiba-tiba ini.


Wajahnya yang cantik dan terlihat tidak takut terhadap apapun, rambutnya coklat terang dan sorot matanya yang penuh kasih sayang keibuan namun memiliki kekuatan di dalamnya. Wajahnya mirip dengan seseorang yang Rigel kenali, tidak salah lagi...


"Maafkan saya atas ketidaknyamanan yang anda rasakan, izinkan saya memberikan sambutan yang lebih baik dengan memberikan perjamuan kecil dari kami untuk anda, Tuan Pahlawan, Tuan Rigel." Wanita itu membungkuk hormat dan menunjukkan senyuman yang ramah.


Dia pastinya ibunya Merial karena wajahnya yang memiliki kemiripan dengannya.


Rigel bahkan belum mengungkapkan dirinya dan dia yakin penyamarannya cukup sempurna, namun wanita itu dapat menebaknya dengan sempurna dalam sekali pandang. Rigel menyimpulkan bahwa pengamatan para prajurit sebelumnya kemungkinan berasal dari wanita ini.


"Izinkan saya memperkenalkan diri, saya adalah istri dari kepala keluarga Ainsworth sekaligus ibunda Merial Ainsworth, nama saya Natalia Ainsworth. Senang seribu senang dapat berjumpa dengan sosok hebat seperti anda, Tuan Pahlawan, Tuan Rigel."


Para prajurit yang mendengar bahwa sosok yang mereka curigai sebelumnya adalah seorang Pahlawan yang telah mengalahkan Hydra serta memiliki kontribusi besar dalam invasi iblis dan penaklukan Tortoise. Bahkan dia juga menjadi orang yang mengajukan untuk mengalahkan Phoenix.


Berita tentang para Pahlawan tengah mempersiapkan diri menghadapi Phoenix jelas sudah tersebar kepenjuru negri dan banyak dari negara-negara kecil juga ingin membantu dengan mengirimkan pasukan mereka. Tentunya hal itu di tolak mentah-mentah atas perintah Rigel. Sekumpulan ikan teri seperti mereka sama sekali tidak berguna dan hanya akan menjadi barbeque setibanya di sana. Sebagai catatan, berita tentang melahirkan pahlawan tidak di sebar luaskan dengan kekhawatiran akan ada banyak orang bodoh yang mencoba membunuh pahlawan demi menjadi pahlawan.


Para prajurit berkeringat dingin dan bergidik ngeri. Mereka dengan sigap menunduk kepada Rigel dan meminta pengampunan.


"Ma-maaf atas perilaku tidak sopan kami, Tuan Pahlawan! kami benar-benar tidak tahu bahwa anda akan mengunjungi kediaman!"


Tentunya hal wajar karena Rigel tidak memberitahu bahwa dirinya sendiri akan datang ke kediaman. Rigel hanya meminta Merial untuk menghubungi keluarganya dan meminta mereka menyiapkan jubah Salamander sebanyak yang mereka bisa. Tentunya Region berani membayar dengan harga yang pantas, tapi keluarga Ainsworth menolak dengan alasan hal ini sebagai bentuk bantuan dari mereka untuk mengalahkan Phoenix.


"Tidak apa, ini salahku. Aku datang tanpa membuat janji terlebih dahulu dan aku juga merubah penampilanku sehingga kalian tidak mengenaliku... Namun tetap saja, identitasku terbongkar dengan begitu mudahnya oleh Nyonya Natalia." Rigel tersenyum masam.


Rigel sudah melakukan yang terbaik untuk menyembunyikan penampilan dan bahkan energi sihirnya sehingga orang biasa tidak akan menyadari bahwa Rigel memiliki energi sihir berlimpah dalam dirinya.


"Ini hanya intuisi dan insting saya yang saya yakini tidak kalah tajam dari seekor Naga. Saya menyadarinya dari cara berjalan, postur tubuh dan beberapa mahkluk yang bersemayam di bayangan anda." Natalia membetulkan kembali posturnya dan menatap Rigel dengan tatapan yang sama.


Rigel memang ingat Walther pernah berkata bahwa istrinya selalu memiliki intuisi serta insting tajam yang hampir tidak pernah meleset. Mungkin intuisinya telah berdering keras sesaat Rigel mencapai gerbang kediamannya.


Sangat mengejutkan bahwa dia dapat menebak sampai sejauh itu tanpa perlu bagi Rigel memberitahukan apapun padanya. Rigel tertawa kecil selagi melepaskan rambut palsunya dan memperlihatkan rambut putihnya yang mencolok.


Tidak ada hal buruk yang akan terjadi dengan hanya menerima ajakannya. Semuanya akan jauh lebih baik berbicara sambil duduk dan menyantap beberapa camilan. Rigel memandang sekitar mansion.


Meski tempat ini tak seluas mansion sebelumnya, namun ini cukup luas untuk menampung sekitar 150 orang lebih dalam satu tempat. Para prajurit bersiaga di sekitar dan melakukan patroli terjadwal. Sedikit mengejutkan bahwa penjagaan di sini jauh lebih ketat ketimbang mansion yang pernah Rigel tinggali sebelumnya. Mungkin karena serangan pada mansion utama yang membuat keluarga Ainsworth dalam penjagaan penuh dan siap untuk mengantisipasi serangan.


"Omong-omong bagaimana kabar tentang mansion utama kalian yang hancur?"


Rigel belum pernah mendengar kabar apapun tentang Mansion itu selain info bahwa mereka tengah memperbaikinya dan para demi-humam yang sebelumnya tinggal di sana telah kembali untuk membantu membereskan sisa-sisa dari kekacauan.


"Ya. Mengenai masalah mansion yang hancur, kami sudah memulai perbaikannya sejak lama dan saat ini sudah 50% dari kerusakan yang ada telah di perbaiki. Kemungkinan, hanya butuh satu atau dua bulan sampai itu benar-benar telah selesai di perbaiki."


"Begitu, syukurlah bahwa semuanya terlihat berjalan lancar." Rigel menghela nafas lega.


"Umm, jika berkenan, bisakah anda menceritakan bagaimana di sana? kudengar negara Region mendapatkan kerusakan yang cukup parah selama invasi iblis, dan juga, tentang putriku..."


Natalia tampaknya mengkhawatirkan putrinya yang kini dengan aktif membantu Rigel dan Asoka mengurus Region. Kekhawatirannya wajar jika mengingat Merial putri satu-satunya yang dia miliki dan hampir tidak mendengar kabar mereka semenjak penaklukan Tortoise.


"Untuk putrimu dia baik-baik saja, palingan dia tengah membangunkan Asoka yang terlelap tertidur, jadi tidak ada yang perlu di khawatirkan."


Mendengar itu, Natalia menghela nafas lega dan tersenyum senang karena mengetahui bahwa putrinya baik-baik saja. Rigel memikirkan mungkin Natalia akan jauh lebih terkejut jika Rigel menjelaskan bahwa putrinya kini telah menjadi seorang Pahlawan sama seperti Rigel.


"Lalu, bagaimana dengan Region? Jika anda yang seorang Pahlawan sampai kewalahan menghadapi salah satu dari iblis itu, maka kerusakan yang di emban Region pastinya tidak sedikit." Natalia mengalihkan topik kembali ke Region.


"Ya, kerusakannya memang tidak sedikit dan bahkan sampai saat ini belum sepenuhnya terselesaikan. Korban jiwa juga tidak sedikit, namun rakyatku dapat dengan tegar menghadapinya dan memulihkan Region secara sukarela. Kemungkinan sampai penaklukan Phoenix berakhir, negaraku sudah kembali pulih seperti sediakala."


Sampai saat ini konstruksi di Region berjalan dengan mulus dan tanpa sedikitpun kendala. Awalnya Rigel sendiri berniat turun tangan untuk membereskannya secara langsung dan akan lebih cepat jika dia yang melakukannya. Namun rakyat Region menolaknya dan mengatakan bahwa mereka bisa melakukannya sendri dan tidak ingin Rigel merepotkan dirinya lebih jauh lagi.


Rigel sendiri tidak masalah untuk melakukannya, namun karena rakyatnya begitu antusias untuk mengurus perbaikan mereka sendiri, Rigel tidak ada pilihan selain menyerahkannya pada mereka.


"Sepertinya orang-orang dari Region sangat menghormati anda sebagai sosok yang telah membebaskan mereka dari rantai perbudakan dan cengkraman Hydra."


Ya, hal itu memanglah tidak terbantahkan bahwa Rigel telah menyelamatkan masa depan dan kehidupan mereka. Rigel membebaskan mereka dan menariknya keluar dari tanah kegelapan tanpa masa depan dan membawa mereka ke tanah oasis yang di rindukan.


Rigel sendiri bersyukur bahwa dia memilih untuk mengalahkan Hydra ketimbang langsung menaklukkan Britannia. Berkat itu, Rigel memiliki rakyat dan reka-rekan yang bisa di bilang dapat dia percayai sampai batas tertentu.


Tanpa sadar Rigel telah mencapai pintu Mansion dan memasukinya setelah Natalia. Dalamnya megah dan berkelas seperti Mansion bangsawan pada umumnya. Berbeda dengan Region yang di penuhi nuansa kerajaan binatang dan teknologi canggih abad 21. Mansion milik keluarga Ainsworth memiliki nuansa abad pertengahan, dengan pedang dan jenis senjata lainnya menjadi pajangan dinding.


Saat Rigel melangkah ke dalam, dia menemukan seorang kepala pelayan telah menanti Natalia dan dirinya. Kepala pelayan itu terlihat seperti pria berusia 50, dia tersenyum dan membungkuk hormat kepada Rigel.


"Silahkan ikuti saya, Nyonya Natalia, Tuan Pahlawan. Tuan Walther dan Tuan Muda Razen dan Tuan Muda Razan telah berada di ruang tamu." Dengan sopan dia menuntun jalan menuju Walther dan dua nama yang baru di dengar olehnya.


"Razan dan Razen adalah putra kembar saya yang saat ini berusia 10 tahun. Saat saya berkata bahwa mungkin Pahlawan Creator akan datang, mereka mulai bersemangat dan tidak sabar untuk melihat langsung seperti apa sosok anda, Tuan Rigel." Ujar Natalia.


Rigel ingat bahwa Walther pernah menyinggung memiliki dua putra kembar yang merupakan adik Merial. Dia tidak pernah melihatnya jadi Rigel sedikit tertarik untuk melihat mereka. Barang kali mereka adalah anak-anak berbakat yang akan bersinar di masa depan seperti Leo.


Ainsworth terkenal dengan keunikan bahwa setiap keturunan mereka dapat menggunakan segala jenis senjata sehingga mendapatkan julukan Weapon Master dan menjadi bangsawan dengan pejuang terkuat di Britannia. Rigel sendiri tidak tahu seperti apa bangsawan lainnya, namun dia yakin bahwa Ainsworth mungkin yang terkuat sekaligua terkaya.


"Kita sudah sampai..." Ujar Natalia.


Kepala Pelayan tua itu membuka pintunya dan memperlihatkan tiga orang telah menunggu kedatangan Rigel. Dia melihat wajah yang sudah tidak asing lagi baginya dan dua wajah lain yang baru dia lihat. Sepertinya kedua bocah itu adalah Razan dan Razen.


Walther berdiri dari kursinya dan dengan wajah cerah dia membungkuk dan menyapa Rigel.


"Selamat datang, Tuan Rigel. Senang rasanya mendapatkan kunjungan dan melihat anda sehat seperti biasanya!"


"Ya, lama tidak berjumpa, Walther." Rigel tersenyum senang dan memandang kedua bocah yang menatap Rigel.


Salah satu dari bocah itu tampak tidak puas terhadap penampilan Rigel sementara yang satunya lagi tampak berseri-seri.


"Aku Razan, dan ini adikku yang penakut, Razen. Kukira Pahlawan akan terlihat lebih mantap lagi, namun tidak terduga bahwa kau hanyalah anak laki-laki seumuran kakak Merial yang tidak memiliki tangan kiri untuk membersihkan pantatmu."


Alis Rigel berkedud. Sudah cukup lama tidak ada orang yang mengatakan hal semacam itu kepadanya. Nampaknya bocah kampret ini memiliki nyali... Ini akan menarik!