
Dalam perjalanannya menuju sarang Salamander Merah, Rigel dan Natalia di serang oleh monster seperti Kelelawar api dan bahkan semut api. Namun dengan adanya Rigel di sana mereka semua hanya cecunguk lemah dan tidak berguna. Rigel bahkan tidak perlu bersusah payah dan hanya menggunakan Pistol untuk mengatasinya.
Natalia menatap kagum kepada senjata yang belum pernah dia lihat di negara manapun. Senjata semacam itu tentunya hanya dapat di temukan di Region yang kini termasuk negara paling maju di dunia.
Rigel terus mencari letak sarang Salamander Merah berada selagi menghabisi setiap monster kecil yang mendekat. Dia sungguh merasa penasaran, tidak perduli seberapa banyak monster yang dia kalahkan, levelnya sama sekali tidak mengalami perubahan. Yaitu menetap pada lvl.998 yang cukup mengesalkan karena tak kunjung mencapai maksimal.
Nyatanya semakin tinggi level semakin banyak pula Exp yang harus di raih. Mungkin saat ini Rigel masih membutuhkan ratusan juta Exp atau lebih untuk mencapai batas maksimal. Ntah apa yang akan terjadi jika dia mencapai atau menembus pembatas itu, jika itu menghilang batasannya sebagai manusia, mungkin bisa saja menjadi hal baik atau buruk.
"Aku cukup terkejut karena kau pernah mengunjungi tempat semacam ini..." Ujar Rigel selagi berjalan memimpin.
Sejauh ini, yang dia lihat hanyalah lautan larva panas dan bebatuan granit yang terbentuk dari larva beku. Tempat semacam ini bukanlah tempat yang cocok di kunjungi wanita sepertinya, bahkan ini sama sekali tidak indah untuk di jadikan tempat wisata.
"Ya. Saya pernah ke tempat ini atas permintaan mendadak dari seorang bangsawan yang menginginkan Salamander kecil untuk di jadikan Familiar, tentunya karena bayarannya tidaklah kecil, saya tidak dapat menolak permintaan itu."
Familiar adalah monster yang di jinakan dengan memberikan segel monster kepada inti jiwa dan monster familiar akan berkembang menjadi kuat seiring level yang di milikinya.
Mau bagaimana lagi karena Natalia adalah seorang bangsawan pedagang. Bagi orang-orang seperti mereka uang adalah kekuatan dan pembeli adalah dewa yang mau menghamburkan uang untuk mereka.
"Begitu, ya. Kupikir kau melakukan sesuatu seperti memburu Salamander sebagai hobi."
"Memang benar terkadang saya memburu Salamander, namun bukan untuk hobi. Melainkan untuk memenuhi permintaan pasar."
Pasti sungguh merepotkan menjadi seorang pedagang yang memiliki cabang di penjuru negeri ya.
Batin Rigel.
Rigel berhenti berjalan dengan sesuatu yang dia temukan tepat di ujung jalan. Bebatuan Merah yang terbakar, telur-telur kemerahan dan seekor cicak jelek raksasa berwarna merah menempel di dinding belakang tempat sarang itu berada. Tubuhnya memiliki api terbakar yang seakan tidak akan padam.
Oii, oii, apa dia tidak merasa kepanasan atau bahkan pernah menjadi cicak panggang raksasa?
Gumam Rigel dengan pelan.
"Sepertinya tujuan kita telah tercapai, Tuan Rigel. Namun, saya tidak menduga ukurannya akan sebesar ini dari terakhir kali saya melihatnya."
Ukurannya memang sesuatu, mungkin sebesar sebuah mobil bus di bumi. Ntah kekuatan macam apa saja yang di miliki cicak itu selain api.
"Serahkan saja ini kepada saya, Tuan Rigel. Mungkin akan memakan sedikit waktu untuk menyelesaikannya."
Natalia hendak menyerang namun Rigel mengibaskan tangan kirinya dan menghentikannya. Natalia tentu memahami maksudnya tanpa perlu di jelaskan dengan lebih detail, terutama dengan senyuman di bibir Rigel yang membuat semua jelas.
"Serahkan cicak panggang ini padaku. Mahkluk ini bukanlah tandingan ku sama sekali."
Rigel mematahkan jari-jari tangan kanannya dan melakukan sedikit peregangan selagi mendekati cicak—Salamander.
Melihatnya mendekati sarang miliknya, Salamander melompat dari dinding seakan-akan mencoba melindungi telur-telur miliknya. Dia menatap Rigel dengan mengamati, sampai akhirnya menganggapnya sebagai musuh.
"Ahh~, kebetulan sekali aku belum pernah memakan telur bakar, Kira-kira seperti apa rasanya ya."
Rigel memejamkan matanya selagi meregangkan lehernya. Dengan senyumannya yang bahkan seekor kera akan terprovokasi olehnya, Rigel mengacungkan jari tengahnya terhadap Salamander. Meski tahu bahwa cicak itu tidak akan mengerti.
"Majulah, cicak jelek. Jika tidak, aku akan menjadikan telur-telurmu kudapan."
Seakan terpancing, Salamander menyerang menggunakan lidahnya yang bahkan memiliki api. Tentunya serangan itu bukanlah apa-apa dan begitu mudah di hindari Rigel dengan melompat tinggi.
Hmm, aku sedikit penasaran tentang apa yang akan terjadi jika ku padamkan seluruh api di tubuhnya.
Batin Rigel.
Karena rasa keingintahuan yang begitu besar Rigel mengulurkan tangan kanannya dan mengeluarkan air yang cukup untuk mengisi sebuah kolam renang dan mengarahkannya kepada Salamander.
"Jumlah air yang sangat banyak bahkan tanpa rapalan mantra... Seperti yang di duga dari seorang Pahlawan."
Natalia hanya menonton dari jarak yang aman selagi terkesima dengan Rigel yang begitu santai. Salamander Merah bukanlah monster lemah, jika ini sebuah Quest petualang, maka akan menjadi Quest rank A atau bahkan S.
Uap air berkumpul, saat air yang di lepaskan Rigel membasahi tubuh Salamander. Rigel kembali menapaki kaki di tanah dan dengan tidak sabar ingin melihat apa yang terjadi dengan cicak itu.
Uap air mulai menghilang, sosok Salamander kembali terlihat. Api yang membara membakar punggungnya kini mengecil, namun tidak benar-benar padam. Nampaknya itu bukan api biasa yang akan padam dengan begitu mudah.
Sama seperti api yang terbuat dari bahan bakar bensin, tidak akan dapat padam dengan mudah menggunakan air.
Merasa kesal karena di siram menggunakan air, kini Salamander memuntahkan api cair dari mulutnya dan langsung menuju Rigel.
Alis Rigel sedikit terangkat karena terkejut. Dia berfikir, mungkinkah api cair itu air liurnya?
Jika benar begitu maka dia sangat yakin tidak ada apapun yang dapat dijadikan kudapan selain telur-telurnya. Sebagai rasa keingintahuan nya, Rigel tidak menghindar melainkan membentuk dinding besi yang lama tak di gunakan.
Api cair dan dinding besi saling berbenturan, namun tak terduga dinding besi itu meleleh dengan begitu mudahnya. Salamander biasa tidak akan mungkin melakukannya, sepertinya benar bahwa Salamander Merah jauh lebih kuat dari jenisnya.
"Tuan Rigel! Perlukah saya membantu?"
Rigel menggelengkan kepala ringan sebagai jawaban.
Nampaknya Natalia mulai menunjukkan jejak kekhawatiran yang sama sekali tidak di perlukan. Rigel menghela nafas pelan selagi mengambil jarak dari dinding besi yang meleleh.
Yah, tidak baik bermain-main di masa satu detikpun tak boleh terlewatkan.
Batin Rigel.
Meski masih ingin bermain-main dengan Salamander ini, Rigel mengurungkan niatnya untuk melakukannya. Dia tidak memiliki banyak waktu untuk di sia-sia kan dan akan mengakhiri ini sekarang.
Rigel dengan santai melompat mendekat ke Salamander dan berjalan dengan santai.
Salamander menganggap sikapnya itu sebagai keteledoran dan menyerangnya menggunakan ekornya yang penuh api membara.
Rigel hanya menatap dengan bosan ekor itu, dia berbalik berlawanan arah dan mengangkat tangan kirinya untuk menggenggam ekor Salamander. Rigel mencengkram nya begitu kuat dan mengalirkan seluruh kekuatannya lalu membantingnya dengan sangat keras.
Langit-langit sedikit bergetar karenanya dan darah dari Salamander membanjiri tanah sekitar Rigel.
Menggunakan satu tangannya saja untuk membanting monster sebesar itu... Sejauh mana kekuatan yang di milikinya?
Batin Natalia.
Dengan satu kali banting, Salamander itu mati dan menodai tempat sekitar dengan darahnya.
"Cicak geprek, ya... mungkin tidak buruk, namun sayangnya aku tidak makan cicak." Rigel bergumam dengan pelan dan tersenyum tipis.
Monster ini terasa begitu lemah, atau dirinya saja yang begitu kuat. Yang manapun tidak masalah baginya karena kekuatan adalah keadilan.
Natalia berjalan mendekat. Dia mengamati Salamander Merah dan mengkonfirmasi bahwa itu benar-benar mati dengan satu serangan tanpa energi sihir.
Dia berharap dapat melihat lebih jauh mengenai kekuatan Rigel dan begitu iri kepada orang-orang yang telah menyaksikannya bertarung.
Rigel mengabaikan mayat Salamander dan berjalan ke tempat yang coba di lindungi Salamander. Terdapat empat buah telur merah yang seukuran ban mobil. Dia mengamati baik-baik telur itu dan menemukan adanya tanda-tanda kehidupan di dalamnya.
Natalia mengikuti Rigel dan melihat apa yang sedang dia lihat. Empat buah telur Salamander Merah.
"Apakah anda berniat membawanya juga, Tuan Rigel? Telur Salamander Merah juga memiliki banyak khasiat terutamanya pada bagian pengobatan. Konon dengan memakan telurnya dapat menghilangkan luka bakar dan memperkuat ketahanan terhadap api."
"Apa kau tahu, apa yang akan menjadi makanan Salamander Merah? terutamanya yang baru lahir."
Natalia sedikit terkejut dengan pertanyaan yang sama sekali tidak memiliki hubungan dengan yang dia pikirkan.
"Dari yang saya dengar, Salamander Merah umumnya memakan energi panas yang berada di sekitar, sehingga induknya tidak perlu repot-repot membesarkan mereka. Ada apa memangnya, Tuan Rigel?"
Natalia begitu penasaran dengan niat Rigel. Membawa telur-telur itu sudah menjadi hal biasa, bahkan diantara para pedagang, jadi Natalia masih belum menerka niat yang di miliki Rigel.
"Tidak. Aku hanya berfikir mungkin tidak perlu membawa telur-telur ini, lagipula aku tidak begitu membutuhkannya."
"E-eh?"
Tentunya Natalia terkejut. Itu sudah menjadi reaksi yang wajar, mengingat dia merupakan seorang pedagang.
"Jika di perhatikan lagi, sejauh ini hanya ada satu Salamander Merah di tempat ini. Kupikir tidak perlu membawa telur-telur ini demi menjaga ekosistem di tempat ini dan aku tidak ingin mencantumkan nama sebagai pahlawan yang membuat Salamander Merah punah."
Sejauh yang Rigel pahami saat ini, Salamander Merah bukanlah Monster yang begitu mudah di temui.
Bahkan keluarga Ainsworth tidak memiliki satupun jubah yang berasal dari kulitnya, yang menunjukan bahwa Salamander Merah termasuk kedalam Rare Tier.
Natalia tentunya terkejut dan tidak pernah menduga ada cara seperti itu. Bukanlah sebuah kerugian meninggalkan telur Salamander di sini.
Suatu saat mereka akan terlahir dan besar di tempat ini lalu akan melahirkan telur-telur lain dan membuat tempat ini menjadi sarang besar Salamander Merah. Tentunya akan terlihat seperti sebuah peternakan Salamander Merah, namun jauh lebih baik daripada mengambil telur-telur itu dan membuat Salamander Merah semakin langka hingga akhirnya punah.
"Seperti yang di duga dari Tuan Rigel. Saya bahkan tak pernah sekalipun memikirkan sesuatu semacam itu. Bagi pedagang seperti saya, memanfaatkan segala hal yang bisa di manfaatkan dan merubahnya menjadi uang." Natalia tersenyum.
"Haha, benar-benar seorang pedagang tulen." Rigel tersenyum tipis selagi berbalik menatap mayat Salamander di belakangnya.
"Saya akan menganggap itu sebagai pujian."
"Dengan ukuran sebesar ini, berapa banyak jubah yang dapat di buat?"
Tidak mungkin itu akan kurang, Rigel yakin bahwa setidaknya itu cukup untuk membuat dua belas jubah.
"Benar juga. Menurut perkiraan saya, setidaknya ini cukup untuk membuat 27~30 jubah."
Jumlahnya sedikit lebih banyak dari perkiraannya. Namun bukan hal yang buruk, untuk memiliki lebih banyak dari pada yang di butuhkan.
Sekarang, yang menjadi masalah adalah bagaimana cara membawa mayatnya. Menggunakan Teleportasi bukanlah pilihan mengingat Rigel belum menandakan kediaman Ainsworth sebagai titik teleportasi.
Seakan-akan membaca pikiran Rigel, Natalia mengusulkan sesuatu.
"Mengenai tubuh Salamander Merah ini, dapat di pindahkan melalui gerbang Spatial dengan cara menyeret tubuh Salamander ini untuk melalui gerbang."
Tentunya Natalia tidak akan sanggup menyeretnya, bukan hanya karena dia seorang wanita. Selain tubuhnya yang besar dan berat, suhu tubuhnya juga sangatlah tinggi dan jika kulitnya menyentuhnya, mungkin akan langsung terbakar.
Tangan kiri Rigel terbuat dari besi nomor 1 di dunia ini, tidak perduli seberapa panas itu, tangan kirinya tidak akan meleleh. Bahkan untuknya sendiri tidak akan merasakan panas apapun dari menyentuhnya.
"Kalau begitu tidak ada masalah. Aku yang akan membawanya, kau siapkanlah sihir Spatial milikmu."
Dengan perintah tersebut, Natalia mulai merapalkan mantra tanpa suara, sementara Rigel meraih ekor Salamander dengan santai dan menunggu gerbang terbentuk.
Tidak butuh waktu lama bagi Natalia mempersiapkan sihir Spatial miliknya. Setelah gerbang tersedia Rigel berjalan lebih dulu selagi menarik Salamander Merah dengan begitu mudahnya.
Tentunya Natalia tidak bisa untuk tidak terkejut, mengingat tubuh sebesar dan seberat itu dapat di bawa dengan begitu mudahnya.
Apakah hal yang mungkin bagi seorang manusia memiliki kekuatan sebesar dan mengerikan seperti iru?
Batin Natalia.
Tentunya bertanya langsung kepadanya sama dengan mencari kematian. Ada kemungkinan bahwa perkataannya menyinggung Rigel. Dia hanya bisa memendamnya dan membiarkannya berlalu bagai angin.
Di kediaman Ainsworth, para penjaga dan orang-orang yang melihat tidak dapat berkata apa-apa dan hanya membiarkan mulut mereka terbuka lebar.
Mereka di harapkan oleh mayat Salamander Merah raksasa yang keluar dari gerbang Spatial. Bukan mayatnya yang membuat mereka tertarik, tetapi orang yang membawa mayat itu. Hanya satu orang yang membawanya dengan menyeretnya. Bahkan dia tidak mengeluarkan tanda-tanda kesulitan ataupun kelelahan.
Sosok yang membawanya adalah Rigel. Pahlawan Creator yang membawa keajaiban besar bagi dunia ini. Nalar dan logika nampaknya tidak akan berguna di hadapan Pahlawan. Tidak ada kata-kata selain 'Gila!' yang cocok untuk menggambarkannya. Para prajurit dan orang-orang yang melihat mulai berbisik.
"Lu-luar biasa... Aku menduga bahwa Pahlawan memang kuat, namun ini jauh di luar perkiraanku."
"Beliaukah, Pahlawan Creator? kudengar beberapa bangsawan yang berkunjung mengatakan bahwa Pahlawan Creator mampu menerbangkan Tortoise ke langit. Nampaknya itu bukan kabar angin belaka."
"Tidak hanya kuat, tetapi dia sangat menawan. Ahh~, aku berharap bisa menikahinya."
"Kau bahkan tidak akan mendapatkannya di dalam mimpi."
Bahkan para gadis pelayan mulai merona hanya dengan menatap Rigel dari kejauhan. Jika saja dirinya saat ini adalah dirinya yang dulu, mungkin saja dia akan membangun istana yang berisi para gadis cantik pribadi miliknya!
Seakan menyadari keributan di luar, Walther beserta anak kembarnya keluar dan menemukan mayat Salamander Merah raksasa. Di sana berdiri Rigel yang menarik ekornya, tidak lama kemudian Natalia juga keluar dari gerbang Spatial.
"Yaampun, aku bahkan belum pernah melihat Salamander Merah sebesar ini. Sungguh luar biasa anda mengalahkan dan membawanya seorang diri, Tuan Rigel!"
Bahkan anak kembarnya sangat terkagum melihat mayat monster besar di depan mereka. Terutama bocah bernama Razen yang sangat berseri-seri karena sesuatu.
"Ya, dengan begini permasalahan jubah Salamander terselesaikan. Sekarang hanya tinggal—..."
Ciel memberikan pemberitahuan bahwa terdapat sebuah panggilan masuk. Rigel mengambil radio kecilnya dan mengangkat panggilan. Dia menemukan bahwa Marcel menjadi orang yang menghubungi dirinya.
"Halo, Rigel? ini aku. Mengenai permasalahan untuk menjaga suhu tubuh, ntah bagaimana kami telah menemukannya dan kuyakin ini sangat berguna8 Bagaimana di sana?"
"Kerja bagus. Di sini aku telah menemukan bahan yang tepat untuk jubahnya, hanya masalah waktu sampai itu benar-benar selesai. Akan ku hubungi lagi ketika semua potongan puzzle lengkap."
"Aku mengerti." Meninggalkan kata-kata itu, Marcel mematikan panggilannya. Rigel meletakan kembali radionya ke infentory.
Senyuman yang tidak cocok untuk seorang Pahlawan tumbuh di bibirnya. Rigel dengan cepat kembali ke wajahnya yang datar dengan sisa senyuman tipis di bibirnya.
"Persiapannya jauh lebih cepat dari yang aku harapkan. Jika begini hanya masalah waktu sampai Takumi mencapai lokasinya. Walther, berapa hari yang di butuhkan untuk membuat jubah Salamander Merah ini?"
"Menurut perkiraanku, setidaknya akan membutuhkan waktu 11 hari untuk mengubah seluruh kulitnya menjadi jubah."
"Lakukanlah itu dalam 7 hari, dan aku ingin semuanya sudah selesai saat utusan yang kukirimkan datang. Tentunya, aku akan membayarkan harga yang pantas untuk itu."
Walther menggelengkan kepalanya mendengar itu.
"Tidak, tidak. Anda tidak perlu membayar untuk itu. Kami akan membuat seluruh permintaannya dalam 7 hari. Anggap saja ini sebagai bentuk bantuan kami terhadap penaklukan Phoenix." Dia tersenyum dengan lembut.
Tidak baik untuk menolak orang yang berusaha berbuat baik. Hanya orang idiot yang merasa canggung dengan kebaikan orang lain.
Rigel mengangguk dalam diam dan berbalik untuk pamit selagi menunggu kabar dari Walther.
Segala persiapanku telah selesai. Ntah itu Phoenix, atau Takatsumi. Aku akan membereskan kalian secepatnya! Hari pembalasan akan tiba.... Tunggulah aku, Priscilla.
Batin Rigel.
Setelah waktu yang cukup panjang, pertarungan ketiga Pahlawan menghadapi malapetaka dunia telah mendekat!