
"Hah, hah, hah..."
Pria berambut biru, Takatsumi bersandar di sebuah pohon selagi terengah-engah. Dia menatap ke arah ledakan besar di belakangnya yang getarannya sangat kuat.
Dengan ledakan sebesar itu, mustahil mereka selamat. Mereka juga tidak akan sempat menyiapkan teleportasi karena begitu terkejut. Batin Takatsumi.
Meski sedikit ragu tentang Rigel dan Ozaru benar-benar tidak akan mati dengan mudah, setelah melihat keadaan mereka yang begitu kelelahan serta kekuatan destruktif dari ledakan, maka tidak perlu di khawatirkan.
Takatsumi mengatur nafasnya, perlahan dia tumbang dan berbaring di bawah pepohonan untuk beristirahat selama beberapa waktu. Untuk beberapa alasan, dia tidak memilih teleport langsung ke Britannia. Tentunya akan sangat mencurigakan jika dia kembali seorang diri dengan teleportasi.
"Dengan begini, aku hanya perlu mencari budak dan menjadikan mereka Pahlawan di telapak tanganku."
Pahlawan yang dia kendalikan dengan tangannya sendiri. Tujuan awalnya berubah, semenjak Rigel mengungkap bahwa ada metode melahirkan Pahlawan yang gugur.
Pembangkitan nya begitu mudah, hanya perlu mengucapkan sumpah di kuli Pahlawan. Namun, kebenaran dari hal itu masih belum dapat di pastikan.
Ada kemungkinan bahwa Rigel berbohong tentang pemanggilan itu. Namun, jika benar begitu, aku hanya perlu menyusup ke negaranya dan mengorek informasi dari sana. Selain itu, mata-mata yang kukirim kesana ntah bagaimana telah lenyap. Batin Takatsumi.
Berpikir mengenai hal di luar rencana merepotkan, dia memilih membuang semua pemikirannya demi menenangkan pernafasannya.
Menatap langit mendung dan asap berkumpul karena ledakan, ingatan tentang sebelum dia datang ke sini muncul. Begitu pahit, begitu menyakitkan dalam dada. Pertanyaan tentang mengapa dia mengingat itu sekarang muncul di benaknya.
Dia meremas dadanya, sebuah pedang tak terlihat seakan menusuknya, sesaat dirinya teringat kenangan itu.
"Kergh! Ntah itu dunia ini atau bumi, mereka sama-sama busuk! Mengambil segala hal milikku dengan begitu mudahnya..." Dia bergumam.
Segala hal yang di cintai tertelan bumi, terbakar oleh api, menyisakan nya sendirian dalam kesedihan dan kesepian. Kehidupan begitu menyiksa, kehidupannya bukanlah kenikmatan, melainkan neraka.
*BAM!
Takatsumi menghantamkan tinjunya ke tanah, membuang rasa pedih di dada, menguatkan hati dalam dada.
"Segala hal yang pernah kurasa, akan kubawa ke dunia ini, membuat segala bentuk kehidupan dalam penderitaan, hingga mereka tahu hal yang pernah kurasakan dan aku akan muncul sebagai cahaya... Permintaanmu akan terpenuhi, aku akan bersinar layaknya mataharimu, perhatikanlah aku dari atas sana, Nita."
Gadis yang begitu ingin dia lindungi dan ingin dia lihat bahagia. Gadis yang tidak pernah melihat, betapa indahnya dunia yang busuk ini sampai akhir kehidupannya. Segala hal yang di inginkan Takatsumi hanyalah membuatnya tersenyum, namun dunia begitu tak berperasaan, membuatnya benar-benar membenci dunia.
"Mari, kita mulai langkah pertama..." Meninggalkan kata-kata itu, dia berjalan menuju kedalam huta. Untuk terakhir kalinya dia menatap tempat ledakan terjadi, hingga melanjutkan kembali perjalanannya.
empat jam berlalu semenjak ledakan terjadi. Sebagai antisipasi, Takatsumi berteleport di luar ibukota dan tengah dalam perjalanan menuju gerbang ibukota. Tubuhnya sengaja di buat kotor, pakaian compang camping dan terlihat begitu kelelahan.
Setibanya di gerbang ibukota, seorang prajurit tengah bertugas dan menyadari seseorang yang terlihat kacau mendekat. Dia menyipitkan matanya, menyadari bahwa itu adalah Pahlawan Pedang. Untuk beberapa alasan, dia berbalik ke belakang gerbang.
Takatsumi berpikir prajurit itu mengabari prajurit lain untuk membuka gerbang serta memberi kabar kepada raja. Tidak lama, gerbang perlahan terbuka, pemandangan kota secara perlahan terlihat dan orang-orang menunggu kepulangan Pahlawan dengan harapan.
Mari kita lihat, apa reaksi mereka ketika mengetahui sebelas Pahlawan terbunuh secara bersamaan...
Selagi dia memikirkan hal itu, dari balik gerbang, terdapat orang-orang yang tidak asing berdiri berbaris, layaknya membarikade. Dia menurunkan pandangannya dan menemukan sosok berdiri dari balik pintu.
Hal pertama yang dia lihat adalah rambut putih, serta wajah tidak asing. Dia yang awalnya memiliki senyuman kini tidak ada lagi jejaknya. Mata terbelalak terkejut, jantung memompa darah lebih cepat, hawa dingin menusuk punggung dan kebingungan membanjiri kepala.
"Ba, bagaimana, bisa...?" Tanya Takatsumi, dengan suara pelan dan begitu syok.
Begitu pintu terbuka, memperlihatkan seluruh Pahlawan selain Hazama berdiri di sana. Tatapan penuh kemarahan, niat membunuh yang besar, semua tertuju kepada si penghianat busuk yang tidak bergeming.
Hazama tengah di rawat dan belum keluar dari masa kritisnya. Sebelas Pahlawan kembali dengan selamat tanpa kehilangan satupun dari mereka.
"TAKATSUMI!" Marcel berteriak, melesat langsung dan hendak memotong kepala.
Dengan sigap dia menarik Pedang dan memblokir serangan Marcel. Kepalanya masih tidak dapat mencerna pergantian peristiwa yang aneh ini.
Bagaimana bisa mereka selamat?!! Aku yakin betul tidak ada kesempatan untuk mereka menggunakan teleportasi, kecuali... Batin Takatsumi.
Pandangannya beralih pada Rigel, yang memiliki senyuman beringas. Jika itu dia, maka bukannya mustahil membawa semua orang pergi dari neraka itu. Takatsumi menyadari kebodohannya, selama ini, dia sudah menari di telapak tangannya!
"Kau pasti bertanya-tanya tentang bagaimana kami selamat, kan? tentunya aku bukan orang bodoh, yang mengungkapkan segala informasi penting begitu saja. Di mulai dari pembahasan target dan pembangkitan Pahlawan, semua ku persiapkan untuk bajingan penghianat tercinta ku, yaitu KAU, TAKATSUMI!" Senyuman Rigel muncul, kayaknya iblis.
Kembali ke 4 jam yang lalu.
"Kergh! bajingan itu! TAKATSUMI!" Marcel berteriak dengan penuh kemarahan.
Sesaat Takatsumi pergi dengan teleportasi, Marcel mengucapkan serangkaian kutukan kepadanya. Riel hanya tersenyum tipis dan bergumam, "Skakmat."
Serangkaian rencana dan panggung yang telah dia siapkan benar-benar berjalan tanpa kendala. Bajingan itu benar-benar menari-nari di telapak tangannya, mengungkapkan taring dan kebusukan pada semuanya. Sekarang bukan waktunya berpesta akan keberhasilan, melainkan melakukan rencana kembali hidup-hidup.
Para Pahlawan tidak berada jauh di dekatnya, yang menjadi alasan Rigel membawa Phoenix dan menghabisinya di satu tempat. Ada sekitar 10 detik sebelum itu meledak, yang perlu dia lakukan hanyalah membuat tali Mana yang menghubungkannya dengan Pahlawan lain.
Tanpa membuang waktu, dia langsung menyiapkannya. Benang kebiruan muncul dan menempel pada Pahlawan lain dan terhubung kepada Rigel. Tidak ada waktu untuk menjelaskan, dia langsung memberi tanda kepada seseorang. Dan itu untuk—
"Lakukanlah, Sylph!"
Seseorang yang berada di balik layar, Sylph yang kini berada di kuil Excalibur. Dia telah menyaksikan pertarungan Pahlawan dari awal seperti arahan yang di berikan. Rigel berkata, untuk menyiapkan teleportasi paksa dan menteleportasikan Pahlawan terkecuali Pahlawan penghianat.
Tentu dia tidak tahu maksud dari Pahlawan penghianat, namun kini dia mengetahuinya, setelah melihatnya secara langsung.
Sangat mengejutkan, Pahlawan Rigel dapat menebak akan ada peristiwa semacam itu, atau mungkin, dia membuat Pahlawan Pedang menari di tangannya? Batin Sylph.
Sesuai arahan Rigel, dia akan menggunakan Teleportasi paksa yang sudah dia siapkan sejak awal pertarungan. Dia membaca mantra tanpa suara sampai mengaktifkan Teleportasi.
"Forced Teleportation!"
Sebelum Phoenix mengeluarkan ledakannya, para Pahlawan menghilang dari tempat tanpa tertinggal satupun. Mereka sangat bingung dengan pergantian ini. Tiba-tiba telah berada di tempat yang belum pernah mereka kunjungi, Kuil Excalibur.
"Ini... dimana?" Marcel bergumam.
Rigel duduk di tanah dan menghela nafas lega, "Jelasnya kita telah aman dan berada di Britannia tanpa perlu mencicipi ledakan itu."
Mendengar itu, membuat semua terkejut dan ingat ingatan segar mereka. Kebencian tumbuh, semua terbakar ke dalam amarah atas penghianat busuk itu.
"Aku tidak menngira dia akan melakukan itu..." Petra bergumam sedih.
"Memangnya apa yang dia dapat dari melakukan itu?! apa tujuannya?!!" Bahkan Nadia tidak lagi memiliki jejak ketenangan.
"Jangan-jangan, saat di jurang itu, dia melakukan itu padamu juga, Rigel?" Yuri bertanya dengan sedih.
Takumi telah mengetahui kebenarannya, tanpa perlu menceritakannya pada Yuri. Bahkan Rigel tidak memiliki keinginan memberitahunya, namun sekarang waktu yang tepat untuk itu.
"Ya. Untuk alasan itu, hubunganku dengan bajingan itu benar-benar buruk."
"Aku akan membuat beberapa perhitungan dengannya!" Marcel sangat marah.
Dia tahu bagaimana rasanya, karena dirinya sama dengan Marcel. Kemarahan yang begitu kuat, sampai-sampai Rigel membangkitkan kutukan amarah. Marcel hendak pergi, namun Rigel menaruh tangannya di bahu Marcel untuk menghentikannya.
"Hentikanlah, dia tidak akan kembali lebih cepat. Aku yakin setidaknya dia beristirahat di suatu tempat sebelum kembali ke sini. Selain itu, Hazama masih memerlukan pertolongan."
Marcel menoleh ke tempat Hazama. Dia mengatupkan gigi dengan kuat, mengerti bahwa Hazama menjadi prioritas.
"Lalu, Ozaru. Apakah kau membutuhkannya juga?"
Ozaru memiliki luka di punggung, namun tidak separah Hazama.
"Aku tidak apa-apa. Lagipula ini akan sembuh dengan cepat." Ujarnya dengan acuh.
Dengan begitu, mereka memutuskan pergi ke kerajaan untuk menemui Altucray selagi memberi pertolongan kepada Hazama. Mereka juga beristirahat selama beberapa jam dan meminta prajurit memberi kabar ketika Takatsumi sampai di gerbang.
Sejauh ini, dia dapat membaca pergerakan Takatsumi dan yakin bahwa dia tidak akan langsung begitu saja teleport ke kerajaan karena akan terlihat mencurigakan.
Panggung yang dia siapkan, skenario yang dia siapkan benar-benar tidak terduga akan berjalan semulus ini. Dia sengaja menyebarkan info palsu mengenai pembangkitan Pahlawan dan membuat Takatsumi mengambil umpan dan menuntunnya ke penghianatan ini.
**
"Sekarang kebusukanmu telah terungkap, Takatsumi! Pembalasan untukmu telah tiba!" Rigel berteriak dan menerjang Takatsumi dengan kekuatan penuh.
Dia mengulurkan tinju kanan dan mengenai tepat dada Takatsumi, yang membuatnya terhempas jauh ke belakang. Dia sedikit memuntahkan darah, namun tidak akan ada istirahat untuknya.
Sebuah Palu besi melesat ke arahnya, dia melompat ke kiri untuk menghindari tetapi bilah tombak dengan cepat menggores pinggangnya.
Ray melangkah maju dan menerjang dari depan, Takatsumi berhasil menahan, namun Nadia sudah di belakangnya dan menggores pinggangnya yang lain. Sesuai arahan Rigel, jangan membunuhnya. Tetapi siksa dia secara perlahan!
"Kuh! Thunder Sword!"
Dirinya tidak akan selamat jika tidak melawan, meski tahu itu sia-sia. Namun dia tidak akan mati begitu mudah!
Pedangnya di aliri petir dan menyambar Ray dan Nadia. Dia hendak menebas kepala Ray, namun beberapa anak panah melesat ke arahnya. dia mengurungkan niat memenggal Ray dan mengayunkan Pedang untuk menahan anak panah Yuri.
"Haargh!"
Rigel melompat dengan cepat dan memukul tepat wajah Takatsumi, dia tidak berhenti dan terus memukulinya sampai dia melompat untuk menjaga jarak.
Kesadaran Takatsumi seakan melayang, dia berusaha sekuat mungkin untuk tidak kehilangan kesadarannya.
Pingsan di sini sama artinya dengan kematian!
Dia menggelengkan kepala dan mendapatkan kembali kesadaran. Namun Marcel telah berada tepat di atas kepalanya, dia hendak menahan dengan pedang, tetapi sesuat menahan tangannya dan itu adalah Cambuk Merial.
Takatsumi hendak melompat ke belakang, namun beberapa bilah kipas menusuk kakinya dan dia kehilangan keseimbangan. Dia menggunakan tangan kirinya untuk menahan serangan Marcel, sampai akhirnya itu putus oleh Sabit Marcel.
"Argh!"
Dia menjerit kesakitan. Darah hangat berwarna merah terus keluar dari tangan kirinya dan di susul oleh kaki kirinya yang berlubang, hingga akhirnya Aland melemparkan palu dan menghancurkan kaki kanan Takatsumi.
Dia tidak lagi dapat berdiri, saat dia menatap ke depan, Rigel berlari dan menendang wajahnya hingga dia terbaring di tanah.
"Hari pembalasan telah tiba! akan kubuat kolam besar yang terisi dengan darahmu, bajingan!" Rigel menginjak wajah Takatsumi dengan penuh kemarahan.
Dia tidak akan di biarkan mati begitu mudah. Pertama dia akan mencabut kuku kaki Takatsumi lalu memulihkannya dan terus mengulangi sampai 100 kali dan akhirnya memotong jari kakinya.
"Akan kuhancurkan tulangmu dan menyembuhkanmu setelahnya dan mengulanginya lagi! kubuat kau makan kotoran babi, akan kubuat kau ternodain oleh Orc betina, akan ku bakar anggota tubuhmu satu persatu, akan kuhancurkan seluruh organ tubuhmu dan menyembuhkannya, akan kubuat kau gila karena rasa sakit, akan kubuat kau terbiasa dengan rasa sakit, akan kubuat kau menderita dan akhirnya akan kubunuh kau!"
Rigel kembali menginjak wajah Takatsumi, sementara Marcel melemparkan ramuan pemulihan. Kemarahan besar keluar dari Rigel, kemarahan yang cukup membuat monster begitu ketakutan.
Wajah Takatsumi perlahan ter pulihkan, hidungnya yang patah perlahan ter pulihkan, namun Rigel kembali menginjaknya dengan kuat dan mematahkannya lagi.
"Puh!" Takatsumi membuang darah yang tersisa di tenggorokannya dan mengeluarkan senyuman, dengan tatapan mata begitu sedih.
"Aku telah kalah... Tidak ada... Alasan lagi untuk hidup... Bunuhlah, aku..." Ujarnya dengan lemah.
"Bahkan tanpa perlu kau memohon, aku sudah pasti akan membunuhmu setelah menyiksamu!" Rigel dengan cepat menjawab. Kemarahan dalam dirinya sama sekali tidak berkurang.
Kemarahannya, kebenciannya telah mengakar begitu dalam. Sesuatu yang tidak akan dapat dengan begitu mudahnya di hilangkan. Rigel hendak menginjaknya lagi, namun Yuri menghentikannya.
"Takatsumi... Apa yang membawamu sampai sejauh ini? atas dasar apa kau mencoba membunuh Rigel dan kami? kupikir kita adalah teman seperjuangan..." Nadanya terdengar sedih.
Alasan Takatsumi menghianati rekan Pahlawannya, tentu hanya dia yang mengetahui. Alasan konyol tentang dia ingin menjadi satu-satunya yang menyelamatkan dunia dan hanya karena seorang gadis tentu tidak akan di terima. Pastinya, ada hal lain yang mendorongnya sejauh ini.
Tidak ada gunanya, untuk dia menyembunyikannya.
"Aku... melakukan ini untuknya... Satu-satunya orang yang kumiliki... Adikku, Nita." Ujarnya dengan sedih.
Membunuh rekannya hanya untuk adiknya, tentu menjadi tanda tanya besar, mengenai hal apa yang di inginkan adiknya. Semua akan segera terjawab.
Selanjutnya akan menjadi cerita kehidupan Takatsumi. Alasan dan hal yang membuatnya menjadi seperti ini.