
"Hmm, sepertinya ini akan berhasil."
Saat ini, Rigel tengah mempelajari mengenai kuil Batu Ramalan yang dapat berteleportasi. Butuh waktu satu jam untuknya memikirkan jawaban selagi mengistirahatkan tubuhnya yang lelah akibat pertarungan dengan Phoenix.
Rigel berencana untuk memindahkan kuil Batu Ramalan ke Region dengan rasa keingin tahuan tentang apa yang akan terjadi jika dua Batu ramalan saling berdekatan. Menurutnya, tidak ada hal selain batu itu yang lebih misteri ketimbang God Hand dan sesuatu yang di katakan Katakan mengenai God Requiem.
Dia telah menemukan cara yang berkemungkinan dapat memicu Teleportasi Batu Ramalan. Mustahil baginya memindahkan ruang ini dengan kekuatannya sendiri. Untuk itu dia perlu memicu teleportasi Batu Ramalan aktif dan dia hanya perlu mengarahkannya ke kordinat yang telah dia tentukan.
Tentu tidak mudah melakukannya. Akan di butuhkan usaha yang besar untuk melakukannya. Untuk memicu nya, Rigel mengalirkan kekuatannya ke lingkaran sihir yang mirip dengan lingkaran teleportasi hingga itu benar-benar bersinar sepenuhnya. Tidak hanya itu, Rigel mencoba meruntuhkan gunung ini dan Gua ini sehingga kemungkinan berhasil semakin tinggi.
"Aku telah selesai mengalirkan sihir ku, sekarang, mari kirimkan Nuklir dan menghancurkan gunung ini."
Lagipula tempat ini sudah terpuruk, mustahil untuk tanaman hidup. Yang dapat hidup di tempat ekstrim seperti ini hanyalah monster dengan afinitas api. Tidak ada keraguan tentang kekacauan yang terjadi karena tidak ada apapun selain monster di tempat ini.
Rigel mengakses Ciel, menggunakan mata kirinya dia mengiring Nuklir untuk sampai di kordinat yang telah di berikan kepada Ciel. Butuh 5 menit untuk Nuklir sampai di gunung Vulcan.
"Baiklah, ini guncangannya." Meninggalkan kata-kata itu, gunung mulai bergetar dan langit-langitnya mulai retak dan mengeluarkan lava panas.
Kuil Batu Ramalan bersinar semakin terang dan membuat Rigel melompat senang, rencananya berhasil dalam satu percobaan. Bagian utamanya baru akan di mulai, Rigel berusaha mengendalikan teleportasinya ke dekat Region, sebuah tempat yang telah dia siapkan di dalam sarang Red.
Dengan mengirimkan energi sihir dan perintah untuk mendarat di kordinasi yang di tentukan, patung di sekitar Batu ramalan bersama lingkaran sihirnya dengan Rigel di dalam menghilang tepat ketika lautan lava jatuh.
Rigel. memejamkan matanya, ketika membukanya dia tiba di sebuah tempat dengan ruang berbatu dan satu jalan masuk dan keluar. Tentu tidak salah lagi, tempat ini tempat yang telah dia persiapkan dan nampaknya pemindahan berhasil dengan sempurna. Dia memperhatikan Batu Ramalan dan tidak menemukan apapun yang mencurigakan hanya dengan berdekatan satu sama lain. Meski kecewa, menyerah bukanlah pilihan. Rigel akan meminta Misa dan tim peneliti untuk meneliti Batu Ramalan.
Dia memutuskan untuk keluar dari Gua sekaligus meminta Red tidak membiarkan orang tanpa seizin nya masuk ke sana. Demi keamanan, Rigel juga menciptakan sebuah pintu besar yang mencegah orang melihat apa yang ada di dalamnya.
Begitu dia keluar, entah mengapa dia di sambut oleh Red yang menunjukan kewaspadaan penuhnya dan siap menyerang kapanpun.
Apa akhirnya dia menunjukkan taringnya dan menipuku?
Pemikiran seperti itu muncul dan Rigel telah siap bertarung kalau-kalau Red menyerang, namun tidak terduga Red menghela nafas lega ketika melihat Rigel keluar dari sana.
"Huh, jika kau keluar dari sana, itu berarti energi sihir misterius dan mengerikan itu sesuatu yang kau bicarakan saat lalu bahwa kau sedang mencarinya atau semacamnya?"
Hal yang membuat Red berwaspada adalah energi sihir super besar yang berasal dari Batu Ramalan. Itu tidak mengejutkan, bila mengetahui sesuatu dengan jumlah energi yang lebih besar darinya tiba-tiba muncul tanpa peringatan.
"Ya, itu adalah Batu Ramalan. Sebisa mungkin, aku ingin kau tidak membiarkan siapapun selain orang yang mendapat izin ku pergi. Aku akan menggunakan kata sandi ini untuk kau mengetahui orang yang di perintah olehku atau bukan. Kanta sandinya 'Makanan Favoritku' mengerti kan?"
"Tentu, aku tidaklah bodoh. Namun itu membuatku risih terhadap Batu dengan Energi gila yang seakan mau meledak kapanpun. Namun, ada beberapa bagian dari energinya keluar, aku mungkin akan menghabiskan waktu untuk menyerapnya."
Red terus menatap penasaran tempat Batu Ramalan berada, dia mengurungkan niatnya untuk memeriksa lebih lanjut dan beristirahat di jalan masuk.
Tanpa perlu waktu lama, Rigel memilih menuruni gunung, ketimbang teleportasi. Suasana hati belum kunjung membaik, kemarahan akan lebih mudah muncul daripada biasanya. Kepalanya akan sulit untuk berpikir dingin, sangat perlu baginya menyejukan diri.
Dalam perjalanan, tidak terduga dia akan bertemu Riri dan anak-anak lain. Dengan daging yang cukup besar mereka bawa, tujuannya jelas bukan piknik belaka.
"Apa yang kalian lakukan di sini, Riri?"
"Kak Rigel! Sejak kapan kamu kembali? dan mengapa kamu terlihat berantakan?"
"Ini hasil pertarungan dengan burung itu, yah mari lewatkan. Apa kalian ke sini ingin berjumpa dengan Naga yang tidur di sana?"
Tentunya tidak ada hal apapun yang menarik rasa keingin tahuan mereka, selain keberadaan Red dan daging yang mereka bawa. Pemikiran bahwa Red tidak akan mendapat pengunjung menghilang, berkat Riri dan yang lain.
"... Ya. Kak Rigel berkata bahwa dia adalah teman, jadi, umm, kami mencoba untuk berteman dan memberikannya sedikit makanan."
Riri berkata dengan sedikit takut, hampir seperti seorang anak yang akan di marahi ibunya. Rigel tidak mencoba memarahinya, namun akan buruk jika dia terus berlama-lama dengan anak-anak ini, dengan suasana hati yang buruk.
"Kalau begitu baguslah, kuyakin Red menantikan seseorang seperti kalian berkunjung dan menceritakan kisah kalian kepadanya. Dia pasti akan senang."
Mendengar kata-kata itu, ekspresi mereka mulai cerah, menaikan rasa percaya diri untuk melangkah maju.
"Perlu kutemani? aku yakin kalian takut di makan olehnya."
Tidak mengejutkan jika mereka meminta Rigel menemani. Untuk menghadapi sosok kuat seperti Naga, keberadaan Rigel yang telah melakukan keajaiban tentu akan membuat mereka nyaman. Namun, jawabannya lebih tidak terduga.
"Tidak perlu! kami tahu bahwa kak Rigel sedang lelah dan bisa marah kapanpun, jadi kakak bisa kembali dan beristirahat!"
"Ya! lagipula kak Rigel telah berjuang keras untuk kami bisa hidup bahagia! Kami tidak akan takut di hadapan Naga yang merupakan teman!"
Mereka lebih bernyali dari yang di duga, meski dia dapat melihat bahwa anak-anak itu sedikit gemetaran, namun tidak baik baginya menodai keberanian mereka.
"Kalau begitu, baiklah. Aku akan pergi untuk beristirahat."
Tanpa ragu, dia meninggalkan anak-anak itu. Setelah sosoknya tidak lagi terlihat oleh anak-anak itu, Rigel berputar arah dan menyaksikan dari kejauhan. Memang melegakan bahwa dia tidak perlu terlihat dengan mereka di suasana ini, namun rasa penasaran selalu membuatnya tunduk.
Riri dan teman-temannya sampai di depan gua, keberadaan mengerikan dapat di rasa, berkat insting demi-human mereka yang memerintahkan untuk pergi. Udara hangat dari nafasnya keluar dari gua, sampai sepasang mata kuning menatap mereka dari dalam gua.
Red mulai bicara, pemimpin yang di maksud adalah Rigel, sosok yang sangat di hormati di negri ini. Mendengar suara berat dan serak membuat mereka sedikit ketakutan, namun menyadari setelahnya bahwa Naga itu tidak mencoba menyerang.
"Tu-Tu-Tuan N-Naga, kami d-datang untuk bermain. I-Ini tidak seberapa, namun, maukah kamu menerimanya?" Riri dan anak-anak menyodorkan daging yang mereka bawa.
Dari jumlahnya, tentu tidak akan memuaskan rasa lapar, namun Red tetap terkejut, pengunjung pertama dimilikinya adalah anak-anak. Red berjalan keluar, memperlihatkan tubuh besar dan wujud yang membuat mahluk hidup gentar karenanya.
"Apa kalian tidak takut padaku? Aku ini seekor Naga yang bisa menghancurkan seisi kota dengan mudah, lo?"
Red mencoba menggoda, seberapa besar nyali yang di miliki para bocah di depannya. Meski mereka gemetar, tidak ada tanda-tanda akan melarikan diri. Seorang bocah laki-laki dengan takut melangkah di depan semuanya.
"Ka-kami tidak takut padamu! Kak Rigel pasti akan melindungi kami jika kamu menjadi jahat! Selain itu, dia mengatakan bahwa kamu adalah teman, jadi kamu tidak akan melakukan hal itu!"
Nyalinya cukup boleh, tidak melarikan diri di hadapannya sudah patut untuk di puji. Kepercayaan kepada Rigel begitu kuat, memang hal bagus, namun ketergantungan padanya akan menjadi pisau yang menancap di punggung.
"Kuhahaha! Kalian memang pemberani, kuakui itu. Seperti katamu, aku tidak akan menyerang kalian karena keadaan tertentu. Tidak hanya itu, aku tidak memiliki niat untuk menyerang mahkluk berakal, seperti kalian. Jadi, kalian ke sini karena penasaran denganku?"
"Ya, karena kak Rigel berkata kau teman, kami ingin mengajakmu bermain."
Mendengar kata-kata itu, Red dengan senang membuka mulutnya, membiarkan mereka memasukan daging ke mulutnya dan mulai mendengarkan cerita mereka.
Melihat itu, Rigel sedikit tersenyum, mengobati sedikit suasana hatinya yang begitu buruk. Meski begitu, rasa pahit di lidahnya tidak kunjung menghilang, bahkan hatinya serasa kosong. Terutama pada bagian Priscilla tidak mengingat segala kenangan yang mereka buat di Labyrinth neraka.
Rigel berkata dalam hati, 'dengan begini, pak tua itu tidak akan kesepian lagi' dan meninggalkan mereka untuk kembali ke Region.
Di lihat dari istana yang tampak sepi tanpa orang yang menyambut, sepertinya kabar tentang kekalahan Phoenix belum tersebar. Jika begitu, Ray, Merial dan Ozaru belum kembali ke Region.
Ada kemungkinan mereka tengah berdebat untuk memberikan pemakaman yang layak kepada Takatsumi, namun untuk pembangkitan, tubuhnya masih di perlukan untuk pembangkitan Pahlawan. Lagipula Merial dan Ray berada di sana, bahkan Ozaru juga, mungkin tidak perlu ada yang di khawatirkan.
Dia tidak melihat Asoka di manapun, dia tidak berniat mencarinya dan memilih untuk menjernihkan kepala dengan membasuh tubuhnya. Melepaskan pakaiannya yang compang-camping, dia berdiri di air terjun yang dingin dan menyejukan. Rigel membiarkan dinginnya air membasahi nya dan hawa dingin serasa mencabik kulitnya.
Dinginnya air menjernihkan hati dan kepala, darah yang menempel di tubuh telah termurnikan, tubuhnya yang lelah serasa telah di segarkan kembali.
Mengingat kembali kejadian sebelumnya, membuat kemarahannya kembali lagi. Air di sekitar bergejolak kuat namun kembali tenang seiring dengan Rigel yang menahan emosinya. Kebencian dan dendamnya telah terbalas, namun sesuatu mulai terasa hampa dan segala hal di dunia seakan membuatnya marah.
Ahh, jadi ini yang di maksud Ozaru, semakin dalam aku jatuh ke lautan itu, semakin hampa dan sulit lepas darinya.
Dia mengakui bahwa dirinya telah jatuh ke dalam lautan kemarahan dan haus akan balas dendam. Namun balas dendam tidak sepenuhnya baik, rasa pahit di lidahnya adalah bukti nyata.
Merasa sudah terlalu lama membasuh diri, dia keluar dari pemandian terbuka dan menciptakan pakaian berupa kaos hitam dengan jubah merah dan celana hitam. Ada beberapa hal yang mungkin tidak dapat di tangani oleh Ozaru dan yang lain, dia memutuskan pergi ke Britannia.
Setibanya di sana, dia berjumpa dengan seorang prajurit yang mengantarnya ke tempat Pahlawan lain berada. Mereka tiba di sebuah kamar yang sedikit ramai oleh tabib dan beberapa pendeta. Rigel menjumpai Ozaru, Marcel, Yuri, Takumi dan Alexei yang tidak terduga berada di sana.
Berbaring di kasur, terdapat Hazama yang masih belum sadarkan diri dengan tubuh separuh terbakar, terutama pada bagian kedua tangannya. Kondisinya sungguh memprihatinkan.
"Rigel, apa kau sudah baik-baik saja?"
Yuri menyadari keberadaan Rigel dan menjadi yang pertama berbicara.
"Ya. Kesampingkan itu, bagaimana dengannya?"
"Api itu jauh lebih buruk dari yang kelihatannya. Dari apa yang di katakan Alexei, api itu nampaknya memiliki kutukan suci yang di kenal dengan kutukan Cahaya." Takumi menjelaskan.
"Kutukan Cahaya?"
Dia tidak pernah mendengar hal semacam itu. Pengetahuan yang di miliki nya hanyalah kutukan berasal dari kekuatan gelap. Ini kali pertama dia mendengar kutukan Cahaya.
"Yaa. Kutukan ini sudah ada di zaman para dewa menapakan kaki di dunia. Mereka menggunakan kutukan Cahaya untuk memurnikan manusia penuh dosa. Semakin banyak dosa yang di miliki nya, semakin kuat pula kutukan itu. Kutukan yang di miliki Pahlawan Hazama sangat kuat, bahkan aku tidak sanggup mengatasinya. Aku tidak tahu hal buruk apa yang di lakukan Pahlawan Hazama, namun sepertinya dia memiliki sebuah dosa tak termaafkan."
Dari setiap hal, semua Pahlawan memiliki satu kesamaan, tentang masa lalu mereka yang kelam. Takatsumi jatuh kedalam keputusasa'an demi membuat adiknya bahagia dan Rigel memiliki pengalaman buruk di panti asuhan neraka.
Di lihat dari kisahnya, Takatsumi nampaknya memiliki hati setajam pedang, yang mungkin membuat senjata ilahi tertarik padanya. Entah bagaimana dengan yang lain, namun pastinya semua memiliki masa lalunya masing-masing yang membentuk mereka yang sekarang.
"Bisakah kau melakukan sesuatu tentang itu, Rigel? kau dapat mengatasi api itu tanpa masalah sebelumnya, kupikir kau dapat mengatasi kutukan Hazama, dengan tangan kanan itu." Marcel menatap tangan kanan Rigel, yang memiliki kekuatan dahsyat.
Meski tidak menyukai bagaimana cara Marcel menatap, Rigel tidak keberatan melakukannya. Sejak awal dia memang berniat melakukannya.
Dia mengamati tubuh Hazama, tidak menemukan apapun selain kulit yang terbakar sampai dia merasakan titik hangat yang berbeda di tubuhnya. Titik itu berada di dada Hazama, yang nampaknya menjadi sumber dari kutukan Cahaya.
Void tahap pertama : Kehampaan.
Dia mengaktifkan Rune di tangan kanan, dengan hati-hati mengulurkan nya ke dada Hazama, khawatir bahwa dia juga akan menghapus kekuatan sihir di tubuh Hazama. Rigel mengalirkan sedikit kekuatan Void hingga cukup menutupi titik hangat itu dan menghapusnya dengan mudah.
Hazama tidak lagi terlihat kesakitan, Alexei bergumam terkejut bahwa Rigel benar-benar berhasil menghapusnya tanpa masalah. Dengan begini masalah selesai, sudah waktunya dia menemui Ray yang mengurus tubuh Takatsumi.