The Legends Of Creator Hero

The Legends Of Creator Hero
Lahirnya Ikatan persahabatan



"Bagaimana persiapannya?"


Tanya Rigel.


"Semuanya sudah beres. Ada sekitar 97 orang yang dapat menggunakan senjata yang berasal dari duniamu, Rigel."


Jawab Cold.


Sudah satu bulan semenjak Rigel mempersiapkan pasukannya untuk menghadapi Hydra. Rigel membeli beberapa budak manusia dan demi human setelah menyelesaikan Quest pembasmian Black Viper dan pasukan goblin.


Yuri tidak menginginkan imbalan dari Quest itu karena dia mendapatkan setiap uang dan hal yang di inginkannya dari istana. Meskipun Rigel bisa meminta uang dari raja Altucray, namun Rigel tidak sudi untuk meminta bantuan dari bajingan itu. Rigel benar benar ingin menyiksa Raja sialan itu, namun mau bagaimanapun, dia tetap calon mertua Rigel di masa depan.


"Hm, bagus. Dengan begini, kita bisa membasmi monster yang mengelilingi Hydra menggunakan senjata dari duniaku. Mereka tidak memerlukan sihir untuk menggunakannya."


Ucap Rigel.


Rigel menciptakan sekitar 100 senjata berlaras panjang untuk di gunakan oleh para budak saat bertarung nanti. Karena pertarungannya akan di laksanakan di laut, Walther menyiapkan sekitar 5 kapal dagang yang besar untuk Rigel gunakan. Kemungkinan besar, hanya Rigel yang dapat bertarung dengan kekuatan penuh saat melawan Hydra.


Cold dan yang lainnya tidak dapat terbang seperti Rigel, mereka sangat di rugikan dalam pertarungan ini. Untuk hal inilah Rigel membutuhkan lima kapal.


"Namun, seharusnya satu kapal dagang sudah cukup untuk menampung semua orang. Lalu kenapa kita membawa lima?"


Tanya Cold.


Jelas saja dia bingung dan tidak dapat menemukan arti di balik tindakan Rigel.


"Tentu saja kita akan menggunakan perahu sebagai senjata."


Rigel tersenyum mengejek sementara Cold terkejut dan membuat ekspresi ngeri. Cold pasti berfikir jika Rigel akan menggunakan kapal kapal laut itu untuk menghantam Hydra.


"Kau akan tahu setelah melihatnya nanti."


Ucap Rigel.


Selagi Rigel dan Cold terus berbicara, seseorang memasuki ruangan tempat Rigel dan Cold berada.


"Rigel, aku sudah mempersiapkan apa yang kau minta. Saat ini, Misa dan Nisa sedang memberikan arahan kepada orang orang sesuai dengan penjelasanmu."


Rigel menoleh ke sumber suara dan menemukan Ray yang berada di sana. Rigel tersenyum dan menyisir rambut putihnya lalu berkata:


"Bagus. Kita akan berangkat saat tengah malam agar tidak memancing banyak keributan."


"Baiklah, kalau begitu aku akan mempersiapkan bahan makanan dan peluru? Untuk senjata yang akan kita gunakan nanti."


Ucap Cold.


"Aku akan memberitahukannya kepada semua pasukan."


Ucap Ray.


Rigel mengangguk senang karena kecakapan teman temannya. Mereka bahkan tahu apa yang harus di lakukan tanpa perlu bagi Rigel untuk memerintah mereka.


Karena sudah tidak ada lagi hal yang harus dia lakukan, Rigel memilih untuk pergi dari mansion dan berjalan jalan.


Rigel berjalan kaki melewati hutan hutan yang di penuhi dengan pepohonan dan rumput hijau. Rigel menjadikan kedua tangannya sebagai sandaran kepalanya dan mulai merenung.


'Baiklah, sekarang yang jadi masalah apakah aku bisa mengalahkan monster ini seorang diri? Dari peringatan yang di berikan Azartooth, aku tidak boleh menggunakan kekuatan Void ini secara sembarangan. Aku harus menggunakan kekuatan ini di kondisi yang mempertaruhkan nyawaku.'


Karena menyebutnya dengan "Kekuatan kunci" sangatlah tidak enak di dengar dan tidak keren, Rigel memutuskan untuk menyebutnya dengan "Void".


'Lagipula, aku ingin menjadikan Void sebagai kartu truf terkuatku. Semenjak inti jiwa yang kumiliki lenyap, aku tidak lagi memiliki banyak trik di lengan baju. Aku juga tidak tahu apakah aku masih bisa menggunakan seri kutukan.'


Meskipun Rune dari seri kutukan telah termurnikan karena energi jiwa yang Rigel serap saat melawan Azazel, namun tidak ada kemungkinan jika Rigel tidak dapat menggunakan kutukan kemarahan lagi.


"Mungkin Hand Of Midas akan menjadi kekuatan yang berguna di pertarungan nanti. Yah, untuk sekarang aku akan mencari sesuatu yang berguna di kota lalu mengucapkan selamat tinggal kepadanya."


Rigel memutuskan untuk terbang ke ibukota pendragon dengan terbang untuk menghemat waktu. Meskipun menggunakan teleportasi lebih nyaman dan menghemat waktu, Rigel tetap memilih untuk terbang karena dia menyukai pemandangan yang di lihat dari atas.


Sesampainya di ibukota, Rigel harus menggunakan tudung untuk menutupi rambut dan wajahnya. Berita tentang Creator Hero masih hidup sudah menyebar luas dengan cepat, bahkan ke negara negara lainnya. Di tengah perjalanannya, Rigel dapat mendengar orang dewasa sedang membicarakan tentang dirinya.


"Kau tahu, jika si Creator lemah itu masih hidup?"


"Ya, aku sudah mendengar kabarnya. Bukankah akan buruk jika dia mengamuk karena kekuatannya lepas? Kenapa yang mulia hanya membiarkannya pergi?"


"Namun, ada rumor yang mengatakan bahwa Creator lemah itu sudah menua karena usia. Bahkan rambutnya menjadi putih semua karena uban."


"Apa?! Bukankah dia hanya hilang selama setahun?!"


"Jadi begitu, karena dia sudah tua bahkan lebih tua dari yang mulia sendiri. Dia di bebaskan berkeliaran, ya."


"Itu masuk akal."


'Masuk akal, kepalamu botak! Akan ku buat para orang dewasa ini menangis!'


Urat muncul di dahi Rigel karena geram dengan obrolan orang orang itu. Rigel hampir benar benar menghampiri mereka dan menghajar mereka. Namun, dia di hentikan oleh seseorang yang berada di depannya.


"Kau... Apakah kau Rigel?"


Rigel menoleh untuk melihat siapa yang berbicara dan dia terkejut melihat orang di depannya.


"Takumi? Kebetulan sekali kita bertemu di sini."


Rigel tersenyum sesaat mengenali bahwa orang yang berada di depannya adalah Takumi. Nampaknya Takumi juga menyembunyikan wajah dan tombaknya agar tidak di ketahui banyak orang.


"Rigel, sebelumnya aku sempat mengatakannya. M-maafkan aku, pada saat kejadian itu aku tidak dapat melakukan apapun terhadapmu, se-sehing—"


Sebelum Takumi menyelesaikan kata katanya, Rigel menyelanya dengan menepuk bahu Takumi yang bergetar.


"Lakukanlah itu dengan mentraktirku minum, bukankah kau ingin mentraktirku saat pertarungan melawan naga selesai, sahabatku Takumi?"


Rigel tersenyum kepada Takumi yang menatapnya dengan terkejut. Takumi mengosongkan ekspresinya dan tersenyum lebar seperti dirinya yang dulu.


"Tentu saja, sahabatku! Mari kita minum sampai perut kita meledak!"


"Yah, di dunia ini tidak ada larangan untuk minuman keras. Aku ingin mencicipinya sesekali."


Ucap Rigel.


Takumi sebelumnya benar benar suram dan membuat Rigel khawatir jika dia bukan orang yang sama seperti yang dia kenal. Namun, dia sudah kembali menjadi dirinya sendiri. Lalu, senyuman yang di keluarkannya tidak lagi palsu, Rigel tahu bahwa Takumi memikul masa lalu yang berat sepertinya.


Rigel dan Takumi pergi ke kedai makan dan memesan beberapa anggur. Rigel dan Takumi saling bertukar cerita sehingga tanpa di sadari hari mulai gelap.


"Uuuekk!"


"Kau terlalu banyak minum, bodoh."


Rigel saat ini sedang menemani Takumi yang muntah karena terlalu banyak minum.


"Ugh! Kepalaku sakit... Kenapa hanya aku yang seperti ini? Kenapa kau baik baik saja, dasar keparat."


Ucap Takumi dengan lemah.


"Entahlah, mungkin karena daya tahanku terhadap alkohol sangat tinggi."


Rigel mengelus punggung Takumi agar dia merasa lebih baik. Lalu, Takumi mulai bangkit dan bersandar di dinding dan menatap Rigel dengan wajahnya yang aneh karena mabuk.


"Rigel, apakah kau benar benar tidak akan tinggal dan menghadapi Hydra?"


Takumi bertanya dengan sedikit kesedihan di suaranya.


"Ya. Aku akan berangkat malam ini agar tidak membuat keributan. Tenang saja, aku yang sekarang ini lebih kuat dari yang dulu."


"Aku tahu itu sejak awal kau muncul. Rigel, izinkan aku untuk ikut bersamamu dalam penklukan ini."


Takumi memasang ekspresi serius dan menatap Rigel dengan penuh tekad. Rigel tidak langsung memberikan jawaban, Rigel merenungkan hal ini.


'Dengan kehadiran Takumi saat melawan Hydra sangatlah membantu. Namun...'


"Aku senang atas bantuanmu tapi, apakah kau bisa bertarung di laut? Tidak ada apapun yang dapat di jadikan sebagai pijakan. Lalu, aku tidak ingin sesuatu terjadi padamu."


"Lalu bagaimana denganmu! Aku juga tidak bisa membiarkan hal buruk menimpamu. Kumohon izinkan aku ikut, Rigel. Aku tidak ingin mendapatkan penyesalan karena tidak mengkutimu, aku tidak bisa membiarkan hal yang sama terjadi lagi."


Rigel mendesah pelan karena betapa keras kepala dan kuatnya tekad yang di tunjukan Takumi. Meskipun ada beberapa hal yang harus di pertimbangkan namun Rigel sudah membuat keputusan.


"Kau memang keras kepala. Baiklah, aku mengizinkanmu ikut. Namun, hanya kau saja, jangan beritahukan hal ini kepada pahlawan itu."


"Baiklah kalau begitu. Namun sebelumnya, bisakah kau membuatkanku ramuan pemulih?"


"Huh, mau bagaimana lagi. Kita akan bertemu di gerbang depan, masih ada hal lain yang harus ku lakukan."


Rigel membuatkan Takumi sebuah ramuan untuk pemulihan dan berpisah dengan Takumi untuk melakukan hal terakhir yang harus dia lakukan.