
Malam hari tiba, Tortoise telah berhenti bergerak dan memulai tidurnya dan menyembuhkan dirinya. Untuk mengatasi itu, Rigel sudah menyiapkan sesuatu yang setidaknya dapat menangkal sinar bulan menyentuh Tortoise. Namun karena tubuhnya terlalu besar, jadi mustahil menutupi seluruhnya.
Sebelum memulai pertemuan, para pahlawan selain Ozaru mengikuti upacara doa kepada Nanami, pahlawan cambuk yang telah gugur dalam perang. Semua orang berwajah sedih, hanya Rigel yang memasang poker face dan seakan tidak perduli dengan kematiannya. Dia hadir hanya untuk menghargai Nanami.
Tidak hanya para pahlawan, tetapi kandidat Kaisar Surgawi, dimulai dari Alexei, Rudeus, Asoka dan Altucray yang Rigel bawa kembali hadir di sana. Hal ini sengaja di rahasiakan agar tidak menimbulkan kericuhan di antara para prajurit. Lalu untuk mereka yang terkena Parasit, Ozaru tengah menyembuhkan mereka. Baginya acara pemakaman seperti ini tidak ada gunanya.
Tiba waktunya rapat, semua orang telah berkumpul di satu tempat, termasuk Ozaru.
"Hal pertama yang akan kita bahas adalah tentang apa yang aku dan Hazama temukan saat menyusuri punggung Tortoise." Rigel memulai diskusi dari batu ramalan yang di temukannya di punggung Tortoise.
"Kami menemukan sesuatu yang mengejutkan di sana... Batu ramalan..." Hazama langsung memberitahukan apa yang mereka temukan.
Semua orang di ruang rapat terkejut mendengarnya, terutamanya Alexei yang sampai berkeringat seakan takut. Ntah apa yang dia ketahui, Rigel akan membuatnya bicara di tempat ini.
"Itu tak terduga... Batu ramalan ada di punggungnya, apakah Batu itu juga yang menjadi sumber kekuatan yang meningkatkan pertahanan Tortoise?" Takatsumi memegang dagunya seakan berfikir keras.
"Tapi, bukankah kau bilang kekuatan pertahanannya itu berasal dari bulan, benar kan, Rigel?" Yuri bertanya pada Rigel.
"Begitulah yang di katakan informan ku, namun aku juga tidak dapat menyangkal bahwa Batu ramalan itu memberinya kekuatan... Selain itu, pengetahuanku tentangnya sangat sedikit, mungkin pendeta tertinggi mengetahui sesuatu tentang Batu itu." Rigel menatap tajam Alexei yang bungkam seribu bahasa semenjak membahas Batu ramalan.
Tatapan semua orang beralih kepadanya, dia menyadarinya, namun bersikeras untuk berpura-pura tidak menyadarinya sampai akhirnya dia mulai bicara.
"Maafkan aku, tuan Pahlawan, pemahamanku tentang batu ramalan sama seperti kandidat lain. Aku hanya mengetahui bahwa Batu ramalan akan menjadi petunjuk kapan Ragnarok akan di mulai dan berbagai hal yang perlu di lakukan akan tertulis di sana..." Alexei berusaha mengelak dan menghindari kecurigaan Rigel.
"Aku tidak percaya denganmu, kau adalah tipe orang yang pasti memiliki rahasia penting karena kau seorang pendeta... Sekarang bukan waktu untuk menyembunyikan rahasia, Alexei. Jika ingin bicara, sekaranglah saatnya." Rigel dengan kesal mengancam Alexei dengan mengeluarkan intimidasi ke arahnya.
Alexei langsung menyerah di hadapan tekanan luar biasa Rigel, "Baiklah, tuan Pahlawan. Aku akan jujur kalau aku mengetahui sesuatu yang tidak di ketahui orang lain tentang Batu itu."
Rigel tersenyum senang dan menahan kembali intimidasi nya dan bergumam "Baguslah jika kau mengerti."
"Ada delapan batu ramalan di dunia ini, masing-masing batu ramalan memiliki fungsi yang sama, meramal apapun yang akan berkaitan tentang perang Ragnarok mendatang. Namun, ada satu fakta yang hanya di ketahui segelintir orang, termasuk aku."
Rigel bertanya "Dan apakah itu?"
Semua orang memfokuskan pendengaran dan penglihatan mereka pada Alexei agar tidak melewatkan apapun yang dia katakan.
"Fakta tentang Batu ramalan terbuat dari tubuh pahlawan di masa lalu."
Waktu seakan berhenti berjalan. Apa yang di katakan Alexei benar-benar sesuatu yang dapat membungkam Rigel.
"Dalam cerita, Batu ramalan seharusnya sebuah batu ajaib yang di ciptakan para dewa. Namun kenyataannya lebih kelam, Batu itu justru terbuat dari tubuh dan nyawa Pahlawan di masalalu atas perintah seseorang. Aku sendiri tidak tahu siapa orang yang di maksud itu, namun dari pesan terakhir yang di tinggalkan pahlawan... Makam akan bersinar, delapan bintang bergabung menjadi satu, potongan Puzzle akan lengkap dan gerbang akan terbuka." Alexei berhenti bercerita.
Tidak ada yang paham maksud dari pesannya itu. Rigel memeras otaknya sebisa mungkin untuk memahami pesan itu. Tidak perduli seberapa keras dia berfikir, dia tidak dapat memahami arti dari pesan itu sendiri karena kurangnya informasi.
Menyerah mencari jawaban, Altucray bertanya kepada Alexei. "Dari mana kau mengetahui hal itu, Alexei?"
Alexei enggan menjawab, "Aku tidak dapat memberitahu sumber informasi ini. Bahkan meski aku ingin, aku tidak dapat memberitahukannya."
"Kenapa? seperti yang dia katakan, ini bukan waktunya bermain rahasia, Alexei!" Rudeus mulai tidak sabaran karena Alexei yang tidak memberitahukannya.
"Perhatikanlah kata-kata nya, dia tidak dapat memberitahu meski ingin melakukannya... Yang berarti, ada suatu kondisi yang membuatnya tidak dapat bicara tentang hal itu. Gunakanlah otakmu sedikit, bodoh..." Rigel menghina Rudeus yang bahkan tidak memahami arti dari ucapan Alexei.
"Dari apa yang kau ceritakan, ada seseorang yang menyuruh para Pahlawan di masa lalu untuk melakukan itu, apakah orang itu adalah Dewa?" Lanjut Rigel.
"Aku sendiri tidak mengetahuinya, Pahlawan Rigel. Tidak ada informasi lebih lanjut tentang orang yang menyuruh mereka, namun ada satu pesan yang mungkin merujuk pada orang itu. Pesannya adalah... Dalang sebenarnya dari bencana besar."
"Dalang sebenarnya dan bencana besar yaa..." Rigel menggaruk rambutnya dan menarik rambut bagian belakangnya dan diam setelahnya.
"Umm... Rigel?... Ada sedikit hal yang membuatku penasaran, kenapa kau selalu menarik rambutmu jika sedang bengong?" Takumi bertanya dengan penasaran.
Memang benar, Rigel selalu menarik rambut bagian belakangnya dengan tangan kiri saat dia diam dan berfikir. Tidak hanya Takumi, nampaknya semua orang juga penasaran dengan hal itu.
"Ini hanya kebiasaanku jika aku mulai berfikir... Untuk beberapa orang, saat mereka sedang memutar otak dengan keras, mereka akan melakukan kebiasaan yang dapat membuatnya berkonsentrasi penuh pada apa yang difikirkannya dan meningkatkan kinerja otak. Contohnya seperti, menyentuh dagu dan menarik rambut sepertiku."
Semua orang mengangguk seakan mendapatkan pengetahuan baru. Penjelasan Rigel sangat mudah di mengerti, namun itu tidak akan mudah di pahami oleh Monyet yang hanya menggali emas di hidungnya.
"Ya, kita kembali ke topik... Aku berspekulasi kalau yang di maksud Dalang kemungkinan adalah orang yang menarik benang kekacauan dan untuk bencana besar aku yakin itu Ragnarok." Rigel mengemukakan apa yang ada di pikirannya.
"Orang yang menarik benang dan menyebabkan perang Ragnarok terjadi, ya. Memang itu cukup bisa di Terima..." Hazama setuju dengan pendapat Rigel.
"Jika itu masalahnya, maka muncul sebuah pertanyaan baru..." Takatsumi mengemukakan pendapatnya juga.
Rigel menyipitkan matanya dengan kesal. Meski benci mengakuinya, Takatsumi adalah salah satu orang yang berfikiran tajam.
"Siapa musuh kita yang sebenarnya, ya..." Takumi melengkapi ucapan Takatsumi.
Musuh yang mengerikan adalah musuh yang tidak di ketahui. Musuh ini adalah orang yang mampu mengadu domba kedua fraksi dewa untuk memulai dominasi mana yang lebih kuat antara Dewa cahaya dan Dewa kegelapan. Bukannya tidak mungkin juga, jika para Dewa Netral yang mengajukan perang menggunakan Malaikat, Iblis, dan manusia sebagai pion adalah ulah musuh itu.
Mungkinkah Azartooth memberiku kekuatannya untuk menghadapi musuh misterius ini? atau mungkin ada sosok yang jauh lebih tinggi dan kuat di bandingkan para Dewa itu sendiri?
"Huh~... Menyusahkan saja." Rigel memijat dahinya seperti orang sakit kepala.
"Kau benar... Tidak ada gunanya memikirkan hal itu lebih lanjut, untuk sekarang kita harus fokus menghadapi rintangan yang ada tepat di depan kita." Nadia mencoba mengembalikan pembicaraan ke topik utama.
"Jadi, kita kembali ke Tortoise... Bagaiamana cara mengalahkan Mahkluk sialan itu?" Marcel mulai bertanya kepada Rigel.
"Ya, untuk mengalahkannya, kita perlu melakukan tiga hal yaitu memenggal kepalanya, menghancurkan jantungnya dan merusak segel yang di buat pahlawan generasi sebelumnya." Rigel menjawab.
"Apa hanya itu saja? halah~ itu tidak sesulit seperti yang aku kira." Argo meremehkan hal itu, dia belum mengetahui keseluruhannya.
"Ya, kita harus menghancurkan ketiga hal itu secara bersamaan dan tidak boleh telat, bahkan untuk sedetik... Sangat mudah, Ya~" Rigel memandang Argo dengan mengejeknya. Argo menggertakan giginya karena ejekan itu.
"Aku mengerti alasanmu tidak menghabisinya hari ini. Kita butuh rencana yang matang untuk itu." Nadia mengemukakan pendapat.
"Yang menjadi masalah adalah bagaimana cara kita menyesuaikan timingnya, ya..." Petra bergumam.
"Apa yang perlu di khawatirkan? dia kan memiliki radio, kita bisa menggunakannya untuk menyesuaikan timing kita." Lagi-lagi Argo berkata dengan remeh, tidak seperti Takatsumi, Marcel dan pahlawan lain yang menganggap ini serius.
"Meski kita memiliki alat yang di buat Rigel, tetap saja tidak semudah itu. Jantung mungkin dapat di hancurkan dengan mudah, sama pula dengan merusak segel." Takumi membalas ucapan Argo.
"Bagian merepotkan adalah memenggal kepalanya. Bahkan kita memerlukan banyak sekali usaha untuk melakukannya. Hampir mustahil melakukannya secara bersamaan." Takatsumi menyebutkan masalah utamanya. Seperti yang dia katakan, memotong kepalanya adalah pekerjaan berat sehingga sulit melakukannya.
"Untuk lokasi Segel dan Jantung Tortoise, apa kau juga memilikinya?" Yuri bertanya.
"Sayangnya aku tidak memilikinya. Namun aku memperkirakan bahwa letak jantungnya berada di bagian tengah tubuhnya. Untuk segel itu, aku memiliki sosok yang akan menuntun kalian ke segel."
"Sosok? siapa dia?" Aland bertanya bingung.
"Kau akan tahu nanti..." Rigel menjawabnya dengan acuh.
"Lalu, masalah utama, siapa yang akan memotong kepala, menghancurkan segel, dan menghancurkan Jantung?" Hazama terjun ke pokok permasalahan.
"Aku berfikir akan lebih baik untuk mengirim orang yang memiliki serangan skala besar yang dapat memberikan kerusakan besar. Dan tentu saja, pertahanan terkuat kita harus membantu memotong kepala Tortoise." Marcel menyerukan pendapatnya.
"Aku sendiri tidak masalah dengan itu karena memang begitulah kegunaan senjataku. Lalu, siapa sisanya? meski aku adalah pahlawan Perisai, aku memiliki batas berapa banyak orang yang bisa aku lindungi." Hazama juga sependapat dengan Marcel dan mengungkapkan kekurangannya.
"Aku Raja kera yang perkasa akan memotong kepala Kura-kura itu." Ozaru yang sejak tadi diam mulai berbicara. Semua orang menatap Monyet yang mengatakan dirinya sendiri hebat dengan tatapan aneh. Rigel sendiri tidak masalah, justru dia memang berniat membuat Ozaru bertarung dan mengungkap kartu yang dimilikinya.
"Yah, kalau begitu, Aku, Ozaru dan Hazama yang akan mengurus kepala. Untuk Segel, aku akan menyerahkannya pada Nadia, Yuri, Petra dan Aland dan sisanya mengurus jantung. Bagaimana?" Tanya Rigel untuk memastikan apakah pahlawan lain bersedia atau tidak dengan usulannya.
"Aku tidak masalah dengan itu." Yuri setuju.
"Aku juga setuju." Nadia juga setuju dan di ikuti Petra dan Aland.
"Meski aku benci karena kau seakan menjadi pemimpin di sini, namun aku menyetujui rencanamu itu." Ujar Marcel dengan nada yang sedikit marah.
"Dengan begini, kita akhirnya bersatu ya? Mari kita balaskan kematian Nanami!" Takumi mengatakan itu dengan lantang dan wajahnya di penuhi tekad.
Sebelum mengakhiri rapat, Rigel meminta sesuatu kepada Kandidat Kaisar Surgawi.
"Sebelum kita mengakhiri diskusi ini, aku ingin kalian menjauhkan prajurit dari Tortoise. Jika mereka terkena Parasit lagi, itu akan menyusahkan... Lalu, Asoka..." Rigel hendak mengatakan sesuatu, namun sebelum dia menyelesaikannya, Asoka memotong ucapannya.
"Tenang saja, Rigel... Aku tahu apa yang harus kulakukan." Asoka mengatakan itu dengan senyuman di bibirnya. Rigel membalasnya dengan senyuman juga.
"Baiklah, kita akhiri ini dan beristirahat untuk pertempuran terakhir kita." Rigel berdiri dari kursinya dan berjalan menuju tenda luar, begitu juga dengan pahlawan lain.
Rigel pergi menjauh dari perkemahan dan sampai di hamparan rumput yang cukup luas. Rigel memegang radio kecil di telinganya dan menghubungi seseorang.
"Ray, apa kau sudah mengurus mayat yang aku minta?" Orang yang di hubungi Rigel adalah Ray, kesatria setia Rigel.
"Ya... Aku sudah membawanya, namun aku tidak menemukan potongan yang lainnya. Kemungkinan besar, sisanya berada di dalam tubuh Mahkluk itu." Ray berkata dengan sedikit kecewa.
"Tidak perlu khawatir, aku akan mencarinya saat berada di sana. Aku yakin itu belum di cerna jadi masih ada kesempatan untuk menemukannya... Lalu, bagaimana dengan sihir yang aku minta?" Rigel bertanya lagi.
"Ya... Itu juga berjalan dengan lancar dan kemungkinan akan siap pada malam hari esok. Aku terkejut tebakanmu tepat sehingga persiapan ini tidak sia-sia. Maaf jika aku terdengar lancang, Tuan Rigel. Namun aku entah kenapa merasa bahwa kau memang menantikan hal itu..." Ray berkata dengan sedikit kekhawatiran bahwa Rigel akan tersinggung dengan apa yang dia katakan.
"Tidak perlu khawatir, Ray. Seperti yang kau duga, aku sudah mengharapkannya sejak awal. Setelah mengetahui fakta ini, apakah kau ingin berpaling dariku?" Rigel tersenyum masam dan sedikit kesepian. Meskipun Ray tidak dapat melihat Rigel, dia dapat merasakan bahwa Rigel sedang tersenyum.
Ray yang berada di tempat yang di minta Rigel juga tersenyum dan berkata... "Aku telah bersumpah, apapun yang terjadi padamu, meskipun kau berubah menjadi iblis, kesetiaanku ada untukmu, Tuan Rigel."
"Hahahaha, aku senang mendengar itu darimu, Ray." Rigel tertawa senang.
"Sepertinya kita akan pergi ke neraka karena hal yang kita lakukan ini, ya." Ujar Ray.
Rigel menatap langit dan sinar bulan terpantul di matanya dengan sedikit Nostalgia. "Ya... Cukup kita saja yang merasakan neraka... Mungkin itu bukan tempat yang buruk~."