
Dua belas pahlawan berkumpul untuk menghadapi pasukan monster dan Tortoise yang sebesar gunung. Untuk pertama kalinya, pahlawan akan bertarung bersama untuk menghadapi bencana umat manusia.
"Sepertinya Tortoise itu berjalan lambat namun langkah yang di ambilnya cukup jauh. Bagaiman kalau aku, Petra, Yuri, dan Ozaru yang menghadapi bagian udara..." Ujar Rigel.
"Meski benci mengakuinya, aku setuju denganmu. Kami akan mengambil bagian darat." Ujar Marcel selagi mengayunkan Sabitnya.
"Baiklah kalau begitu, berpencar!" Teriak Rigel.
Semua pahlawan berpisah ke penjuru tempat dan mengalahkan Pasukan Monster terlebih dahulu. Untuk Yuri, dia tetap berada di tempat, karena dia satu-satunya pahlawan yang sangat cocok dengan pertempuran udara dan jarak jauh.
Rigel, Petra, dan Ozaru adalah pahlawan yang mampu bertarung di darat ataupun Udara, karena mereka bisa terbang. Jadi pilihan ini adalah yang paling cocok. Yah, meski begitu, mungkin Petra akan kesulitan karena dia harus menghempaskan dirinya agar tetap berada di udara.
Rigel melesat menuju pasukan Udara. Tiga Ekor Naga mengepungnya dari depan dan saat mereka berniat melancarkan serangan...
*Bang!......
Dua buah tinju emas yang terbuat dari Mana menghantam tiga ekor Naga itu di satu tempat dan menghabisinya. Rigel dengan cepat menciptakan Hand Of Midas dan meraih leher ke tiga Naga itu lalu melemparkannya dengan sangat kuat ke Naga lainnya.
*Bakk..... ...
*Bakk....... ...
Naga itu menghantam beberapa Naga lainnya sampai membuat mereka terjatuh dan mendarat di monster kecil yang berada di darat. Rigel terus membunuh Naga dan monster lain yang berada di hadapannya dengan senyuman kegembiraan di bibirnya. Sedikit noda darah menempel di pipinya, namun hal itu tidak menghentikannya untuk membunuh lebih banyak Monster.
Mari kita lihat pertarungan Ozaru. Saat ini dia sedang berhadapan dengan satu Peleton Griffin dan Naga yang menerjang ke arahnya.
"Dasar Monster bodoh, kalian tidak akan bisa mengalahkan Ozaru yang maha perkasa ini hanya dengan jumlah..." Ujar Ozaru, tersenyum mengejek.
Selagi Ozaru mengatakan itu, seekor Naga sudah berada tepat di depannya dan hendak mengunyah tubuhnya. Sebelum Naga itu menyentuh Ozaru, tongkat yang berada di tangannya memanjang. Menembus tubuh Naga itu dari mulut sampai ke punggungnya.
Ozaru tersenyum dan melompat dari Kinton menerjang Monster lainnya. Dia memutar tongkatnya di atas kepalanya dengan ayunan kuat dan secara mengejutkan, Tongkatnya memanjang dengan gila dan menghabisi seluruh monster yang berada pada jarak 15 meter darinya. Meski begitu, masih ada cukup banyak. Ozaru menjadikan Naga yang di kalahkannya sebagai pijakan dan melompat ke udara. Dia memegang tongkatnya dengan tangan kanan selagi tangan kirinya menggaruk rambut di kepalanya yang sedang bergeleng.
"Uooowaaa..." Teriak Ozaru, seperti Kera.
Ratusan helai bulu di rambutnya berterbangan di udara, dan dalam sekejap mata, benda yang awalnya hanyalah sehelai bulu berubah menjadi manusia kera dan menghajar monster yang ada. Menggigit, mengunyah, mencakar, mencabik-cabik monster yang ada. Mereka menggunakan apapun agar dapat melukai monster itu dan setelah monsternya mati, mereka melompat untuk mencari mangsa lain.
Di sisi lain, Petra nampak bertarung sama baiknya dengan Rigel. Petra melemparkan kipasnya dan kipas itu berputar di sekitar selagi membelah tubuh Monster yang berada di dekatnya. Petra menangkap Kipasnya dan menghempaskan dirinya menuju punggung Naga di dekatnya. Petra kembali melebarkan Kipasnya dan Kipas itu bercahaya ungu.
"Tarian Kagura..." Ujar Petra, menggunakan Skill.
Jejak cahaya ungu muncul dari Petra, dia mengayunkan kipasnya masing-masing dan bilah ungu muncul dan menembus tubuh Monster di sekitarnya.
Petra, dan Ozaru tampaknya tidak mengalami masalah, bahkan Yuri yang berada di kejauhan dapat membunuh Monster meskipun jaraknya sangat jauh. Pahlawan lainnya tampak baik-baik saja, mereka bahkan tidak terlihat kelelahan. Namun, hanya masalah waktu saja sampai mereka mencapai batasnya. Untuk Rigel, dia tidak akan mendapat masalah jika bertarung terus menerus dengan istirahat yang sangat sedikit, dengan syarat bahwa dia harus mendapatkan minum. Untuk makan, itu perkara mudah, cukup panggang saja monster yang dia hadapi dan masalah makanan terselesaikan.
Jika ini dunia roh, Rigel sanggup bertarung selama bertahun-tahun karena Roh bisa tetap hidup meskipun tidak mengkonsumsi apapun. Namun ini dunia fana, tubuh tidak akan bertahan jika tidak mendapat gizi dari makanan.
"Meski kami terus membunuh Monster-Monster ini, jumlah mereka masih cukup banyak untuk menghancurkan Negara besar dalam semalam." Gumam Rigel.
Memang benar jumlah Monster yang ada sangat banyak, namun selain Rigel, itu adalah sebuah keuntungan. Dengan adanya banyak Monster yang mati, maka semakin banyak juga pasukan kematian yang berada di kendalinya. Meskipun begitu, Rigel masih tidak berniat mencoba menggunakannya selagi pahlawan lain ada di sini.
"Lalu yang menjadi masalah utama, aku tidak lagi merasakan getaran dari Tortoise." Ujar Rigel selagi menatap arah datangnya Tortoise.
Entah apa yang terjadi, namun sangat jelas bahwa dia telah berhenti bergerak. Firasat buruk menguasai diri Rigel, kekhawatiran tumbuh semakin besar sampai akhirnya, Rigel merasakan Mana alam bergejolak dan akan membumi hanguskan daerah tempat para pahlawan bertarung. Untuk saat ini, pilihan terbaik adalah mengabarkan ini pada Perisai umat manusia.
"HAZAMA!!! SERANGAN...!!" Rigel berteriak.
Semua pahlawan menoleh ke arahnya, bahkan Hazama yang sedang bertarung bersama Argo, pahlawan Pisau menoleh ke arahnya. Hazama tahu apa yang di maksud Rigel dan berlari menuju arah datangnya serangan. Sesaat dia hampir mencapai tempatnya, Rigel membangun gundukan batu agar Hazama memiliki pijakan untuk menahan serangannya.
"Aku akan membantumu mengatasi sisanya!" Ujar Rigel kepada Hazama.
Mengetahui bahwa ada yang tidak beres, para Pahlawan berkumpul di sekitar Hazama selagi menghabisi Monster yang mendekat. Bahkan Yuri berpindah untuk mencari tempat yang berada dalam jangkauan perlindungan Hazama, meskipun dia berada jauh darinya. Meski tidak seperti Rigel yang dapat merasakan Mana alam, setidaknya pahlawan lain memiliki insting yang bagus.
"Datang..." Ujar Rigel.
*Bum................
"HAAARRRRGGGGHHH....!!" Hazama meraung kencang.
sebuah sinar warna-warni muncul dan menghantam Perisai Hazama yang mencangkup seluruh pahlawan termasuk Yuri. Rigel membantu dengan memperkuat tanah tempat Hazama berpijak. Jika dia tidak berhasil menahannya, kemungkinan besar para pahlawan akan di kalahkan.
Bukannya tidak mungkin untuk Rigel mengatasinya. Namun dia akan mengeluarkan banyak sekali tenaga hanya untuk melakukannya.
"Argh." Hazama merengek sakit. "Serangannya sangat kuat... lakukanlah sesuatu! jika begini terus... aku tidak akan bertahan...!!" Ujar Hazama selagi menahan sakit.
Serangan dari Tortoise sama sekali tidak berhenti sehingga Hazama harus bertahan lebih lama lagi. Di tambah, pasukan Monster mulai mengepung para pahlawan tanpa terkecuali. Yuri yang berada cukup jauh dari para pahlawan berusaha membantu, namun apa daya. Karena angin bertiup kencang, Yuri harus berpegangan pada dinding agar dirinya tidak terhempaskan.
Pasukan Udara Monster masih cukup banyak, Rigel tidak bisa menggunakan itu untuk saat ini. Haruskah Rigel menggunakan senjatanya? Tch! bukan waktunya untuk bimbang!
Semua orang mengikuti kata-kata Rigel dan mencoba mengulur waktu. Bahkan Takatsumi denan enggan harus mematuhi Rigel jika dia ingin tetap hidup. Rigel membuka mata kirinya, dia akan mengakses Ciel sekarang juga.
"System Call : Ciel, persiapkan senjata pemusnah No.1 dan hubungkan aku dengan Leo!" Perintah Rigel.
..."**Menjawab : Semua senjata sudah di persiapkan sejak awal jadi siap untuk di luncurkan. Menyambungkan panggilan dengan Code Name: Leo....
......Panggilan berhasil di hubungkan**! ......
Rigel terkejut saat mendengarkan semua senjata sudah di persiapkan sejak awal dan Rigel hanya perlu meluncurkannya. Leo mengerjakannya dengan baik, pilihan Rigel tidak salah untuk memberikannya izin mengakses Ciel.
"Ada apa, Ayah? apakah terjadi sesuatu yang berbahaya?!" Tanya Leo dengan sedikit khawatir.
"Aku akan mengabaikan panggilanmu... Untuk saat ini, ada hal yang lebih penting. Aku berniat meluncurkan senjata pemusnah No.1. Jadi, selama masa persiapan, aku menginginkanmu untuk tidak ada orang yang menyentuh ataupun mengganggunya. Lalu untuk berjaga-jaga, aktifkanlah pertahanan tingkat empat dan tetap pantau keadaan sekitar Region." Ujar Rigel.
"Baiklah, aku akan segera melakukannya!" Balas Leo.
Rigel dengan cepat memutuskan panggilan dan memfokuskan segalanya untuk mempersiapkan senjatanya.
"Ciel, pasangkan senjata pemusnah No1 dengan pesawat tanpa awak dan hubungkan pesawat serta senjata itu dengan mata kirimu..." Ujar Rigel.
..."Menjawab : Perintah di Terima. Menghubungkan kendali dengan Mata System. ...
......Berhasil di hubungkan!"......
Penghubungan kontrol telah selesai, dan persiapan pengiriman senjata itu juga telah selesai. Sekarang, sudah waktunya Rigel mengendarai pesawat itu dari kejauhan. Ini sama seperti bermain sebuah permainan.
Pahlawan lain yang bertarung membunuh Monster yang mendekat serta Hazama yang mulai kewalahan menahan serangan Tortoise mulai bingung. Di mata mereka, Rigel tampak berbicara seorang diri seperti orang gila. Wajar saja, karena mereka tidak memiliki benda yang dapat mendengar ataupun melihat oprasi Ciel saat ini.
"Pesawat di luncurkan..." Gumam Rigel, berfokus pada mata kirinya.
Dari Region, lebih tepatnya laut Region. Sesuatu mulai keluar dari dalam laut dan meluncur terbang ke langit dengan sangat cepat. Ini akan menjadi debut pertama senjata Modern yang di miliki Region.
Senjata pemusnah telah di kirimkan, hanya butuh waktu satu menit untuknya sampai jika Rigel menggunakan kecepatan penuh pada Pesawat itu.
"Oii! masih lama?! Aku... aku... tidak akan bertahan...Lebih... lama dari ini..." Ujar Hazama.
Kaki Hazama mulai bergetar, tidak. Tetapi seluruh tubuhnya bergetar. Serangan Tortoise tidak hanya kuat. Serangan itu juga memberikan efek buruk kepada Hazama. Buktinya, beberapa bagian kulit lengannya berubah menjadi ungu kehitaman.
Rigel harus cepat, dia tetap harus menjaga konsentrasinya. Karena mau bagaimanapun, ini pertama kalinya dia menggunakan pengendalian jarak jauh seperti ini.
"Tunggu... hampir sampai... ayolah......." Gumam Rigel.
Benda ini telah terbang begitu cepat, tentu saja dengan bantuan kekuatan Rigel. Dia tidak tahu posisi pasti Tortoise berada, namun setidaknya dia tahu dimana bagian punggungnya berada, berkat gunung batu di punggungnya. Jadi, Rigel hanya perlu mengincar letak batu terbanyak berada.
Di langit, sebuah benda aneh melesat dengan kecepatan penuh. Karena kecepatannya itu, para pahlawan tidak sempat melihat benda apa itu. Namun yang pasti, itu adalah benda yang di kendalikan Rigel saat ini dan sedang melesat menuju Tortoise.
Rigel tersenyum mencibir dan menggumamkan "Explosion."
*Duar!!!.........
*Guuuooaaaa........
*Woosssshhhh......
Suara ledakan dan teriakan Tortoise bergema kencang. Angin bertiup sangat kencang, asap akibat ledakan meledak ke langit. Serangan Tortoise berhenti dan Hazama berlutut di tanah karena kelelahan lalu terhempas karena kencangnya angin.
Selagi angin kencang bertiup, Rigel melangkah untuk berdiri di tumpukan batu yang dia buat dan melihat pemandangan dari senjata yang menjadi kekuatan tempur terkuat di Bumi.
"Ledakan itu..." Gumam Marcel dengan wajah terkejut.
"Hanya bisa di hasilkan oleh senjata terkuat umat manusia di bumi..." Gumam Takatsumi, melanjutkan kata-kata Marcel.
"Itu adalah..." Gumam Petra.
"Ledakan Nuklir..." Gumam Yuri, seakan melanjutkan kata-kata Petra.
Selagi semua orang terkejut karenanya, hanya ada satu orang yang tertawa bahagia karenanya. Dia adalah sosok yang membawa senjata paling mengerikan itu ke dunia ini. Amatsumi Rigel.
"Heheh, hahaha, HAHAHAHAHA... LUAR BIASA, INI BENAR-BENAR LUAR BIASA, HAHAHA. INI AKAN MENJADI DEBUT PERTAMA, AWAL KELAHIRAN ABAD MODERN! LIHATLAH INI BAIK-BAIK, ENTAH ITU MALAIKAT, IBLIS, MANUSIA, ATAU DEWA SEKALIPUN. SAKSIKANLAH AWAL DARI LEGENDA KU! HAHAHAHA!" teriak Rigel, merentangkan tangannya selagi tertawa senang.
Dunia ini akan merasakan seberapa mengerikannya senjata Modern dan seberapa besar bayaran yang di terimanya, jika mengusik Region. Awal mula dari Era baru yang di bawa Rigel akan di mulai dari sini!