The Legends Of Creator Hero

The Legends Of Creator Hero
Meledakan wilayah



..."...Tahap Pertama : Kehampaan..."...


Rune biru muncul d tangan kanan Rigel saat Rigel melepaskan tahap pertama dari kekuatan Void. Selama pelatihannya menggunakan Void, sejauh ini Rigel hanya mampu menguasai tiga dari lima tahap Void. Bahkan di tahap pertama, kekuatan ini sudah luar biasa, apa yang akan terjadi jika Rigel berhasil menguasai sampai tahap lima? Jika itu terjadi, Rigel bisa saja menguasai dunia ini dengan tangannya sendiri.


"Akhirnya kau menggunakan kartumu, Manusia..."


Hydra menggeram dan tersenyum berani ke arah Rigel lalu, dengan sangat cepat melesat ke arah Rigel untuk menghajarnya. Rigel sudah melepaskan Void tahap pertama, dia memfokuskan kesadarannya dan saat membuka matanya, dunia yang awalnya penuh warna menjadi dunia hitam putih. Semua yang di lihat Rigel bergerak sangat lambat di dunia tanpa warna ini. Rigel tidak menghentikan atau memperlambat waktu, namun karena matanya yang seolah dapat melihat masa depan sehingga waktu di sekitarnya melambat dan membuat Rigel tahu harus berbuat apa.


Sebelum Hydra mencapainya, Rigel melesat dan mengayunkan tinjunya ke rahang Hydra, sesaat sebelum tinjunya mengenai Hydra, dunia yang awalnya hitam putih kini kembali ke warna aslinya.


Bang!!!


Setelah dunia kembali ke warna aslinya, Hydra mendapatkan pukulan yang sangat kuat yang berasal dari rahangnya sehingga dia terhempas ke udara dengan sangat kuat. Takumi yang melihat itu, awalnya terkejut namun dengan cepat menghilangkannya dan mengambil kesempatan itu untuk menghajar Hydra.


Takumi berlari dan melompat ke Hydra yang masih di udara. Takumi memutar tombaknya untuk menghasilkan pukulan kuat ke arah Hydra.


"Haarrrgghh...!!!"


Tombak Takumi terlihat melengkung saat dia mengayunkannya dengan sangat kuat dan memukul jatuh Hydra.


Hydra terhempas dengan sangat cepat namun sebelum mencapai permukaan, dia memutar tubuhnya dan berhasil mendarat dengan selamat, meskipun terdorong cukup jauh.


"Shhh... Woaarrghhh...!!!"


Hydra menarik nafas panjang dan mengaum ke arah Rigel dan Takumi dengan auman kencang. Saat dia mengaum, laser berwarna merah gelap muncul dari mulutnya dan menyerang Rigel serta Takumi yang menutup telinganya karena suara bising. Rigel dengan tenang mengulurkan tangan kanannya dan menggumamkan sesuatu.


"Kembalilah ke kehampaan..."


Tangan Rigel hanya melambai saja, namun semua serangan Hydra berhasil di batalkan dan menghilang. Seolah sudah tahu jika serangan itu tidak akan berhasil, Hydra sudah melesat ke arah Takumi dengan tersenyum lebar.


"...Pertama, aku akan mengurusmu Tombak..."


Rigel mendecakkan lidahnya karena kesal. Nampaknya serangan sihir itu hanya umpan untuk Rigel dan membuatnya lengah sehingga Hydra bisa bergerak menuju Takumi. Hydra berputar dan menendang kepala Takumi menggunakan tumit kakinya.


Takumi berhasil menahannya dengan tangan kirinya, namun dia tetap saja terhempas cukup jauh. Rigel dengan cepat mengayunkan tangannya dari bawah ke atas. Mengikuti ayunan tangan Rigel, duri Es yang besar terbentuk dan menyerang Hydra. Menggunakan telapak tangan kirinya untuk menghancurkan Es, Hydra mrnghempaskan dirinya sendiri ke udara dan mulai mengaum.


"Pasukanku, seranglah orang ini dan juga kapal kapal yang tidak bergerak di sana...!!! Abaikanlah para naga itu...!!!"


Naga yang di maksud Hydra adalah naga yang di panggil Rigel dengan kekuatan Necromancer miliknya. Para monster kecil yang berada di udara mulai bergegas ke arah Rigel dan kapal kapal yang tidak bisa bergerak lagi karena lautnya membeku. Rigel ingin menolong mereka, namun monster kecil dan Hydra sendiri adalah pengganggu baginya. Namun, nampaknya Hydra ingin menyelesaikan Takumi terlebih dahulu, jadi dia meninggalkan Rigel dengan kawanan monster yang harus dia tangani.


Rigel dengan kesal mengulurkan tangannya ke arah kumpulan monster yang menuju ke arahnya. Di tangan kanan Rigel, listrik bertegangan tinggi sedang berkumpul bagaikan bola energi kuat. Dengan tambahan kekuatan Void di dalamnya, listrik itu akan sangat mematikan dan mungkin menjatuhkan kawanan monster dalam sekali serang.


Setelah terkumpul cukup kuat, Rigel melepaskan energi itu seperti laser listrik dan mengenai wyvern terdepan sampai hangus. Tidak hanya sampai situ, listrik itu terus menjalar seperti tanaman dan terus menyambar monster monster di sekitar sampai hangus dan mati. Rigel telah menyelesaikannya dengan cepat dan saat ini dia sedang dilema, akankah dia membantu Merial dan yang lainnya atau membantu Takumi?


Takumi mungkin masih bisa bertahan melawan Hydra, setidaknya dia harus bisa menahannya selama lima menit selagi Rigel membantu pasukan yang lainnya. Ada pesan yang ingin Rigel sampaikan, jadi dia memilih membantu pasukan. Namun sebelum itu—


"Penuhilah panggilanku... Bangkitlah pasukan kematianku..."


Rigel membangunkan jiwa jiwa monster terbang yang baru saja dia kalahkan dan memerintahkan mereka melindungi kapal serta menghabisi monster yang menyerang kapal itu.


Rigel bergegas pergi ke kapal yang di pimpin oleh seorang Gadis bangsawan. Hanya butuh satu menit untuk Rigel mencapai tempatnya. Disana, dia dapat melihat seorang gadis bangsawan yang sedang menyerap mana dari bola kristal dan mengalirkannya ke kristal lainnya. Tidak hanya itu, dia juga memberikan komando kepada pasukan yang membuktikan seberapa cakapnya dia. Rigel mendarat dan menghabisi monster di sekitar dengan petirnya.


"Tuan pahlawan...!!!"


Seorang pejuang berseru gembira saat Rigel datang.


"Jangan senang dulu, pertarungan belum berakhir."


"Ba-baik!"


Rigel berjalan ke arah Merial yang menatapnya dengan bingung.


Merial bertanya kepada Rigel dengan tergesa gesa. Rigel menatapnya dengan serius dan menjawabnya.


"Takumi sedang menahannya, namun tidak akan lama. Kita tidak punya banyak waktu, aku ingin kau menurut dan simpan pertanyaanmu untuk nanti. Untuk sekarang, berhentilah membekukan laut Territory ini dan beri jalan untuk kapal kapal pergi keluar daerah Territory Hydra, sampaikan juga pesan ini kepada Cold dan yang lainnya. Jangan khawatir mengenai monster kecil, pasukan monsterku ini yang akan mengawal kalian keluar selagi kau membuat jalan agar para kapal bisa pergi."


Rigel menunjuk ke arah Wyvern yang dia bangkitkan sebelumnya. Ada perbedaan tersendiri antara monster yang sudah mati dan di bangkitkan olehnya dengan monster yang masih hidup. Untuk monster yang di bangkitkan oleh Rigel, mereka memiliki aura biru di sekujur tubuhnya, meskipun tubuhnya tidak jauh berbeda dengan saat mereka masih hidup.


"Pergi dari territory? Setidaknya izinkan aku mengetahui apa yang ingin kau lakukan dengan ini??"


'Aku tidak tahu rune apa yang ada di tubuhnya, namun entah kenapa kekuatannya sangat besar dan juga memancarkan aura yang menakutkan, namun menenangkan.' pikir Merial.


Merial mengajukan pertanyaan singkat kepada Rigel. Bahkan Rigel tidak perlu membuang waktu untuk menjelaskannya, Merial pasti mengerti hanya dengan kata kata ini.


"Akan kuledakan seluruh wilayah Territory Hydra."


Mata Merial terbuka lebar, dia langsung mengerti setelahnya dan mulai bangkit berdiri menghadap Rigel.


"Sepertinya aku mengetahui garis besar yang akan terjadi nanti. Baiklah, aku akan segera mematikan Iceland dan membawa semua kapal pergi keluar."


Merial memejamkan matanya dan mencabut belati yang tertancap di bola kristal Iceland. Saat belati itu di cabut, kristal Iceland hancur menjadi kepingan kepingan kecil dan perlahan tapi pasti, laut yang membeku secara perlahan mencair kembali.


"Kuserahkan yang disini kepadamu. Berikanlah sebuah tanda kepadaku jika semuanya sudah beres."


Setelah mengucapkan itu, Rigel melompat keluar dari kapal dan terbang menuju pertempuran yang sebenarnya. Merial melihat punggung Rigel yang semakin jauh dan mulai memberikan komando.


"Kirimkan semua sinyal asap kuning kelangit...!!!"


Merial berteriak kepada seluruh pejuang yang sedang bertarung melawan monster kecil yang terbang di udara.


"Baik...!!!"


Mereka tanpa banyak bertanya mematuhi perintah Merial dan mulai mempersiapkan meriam asap. Di kapal lain, Cold yang sudah masuk ke dalam wujud binatangnya sedang bertarung di udara. Rambut coklatnya kini memanjang sampai ke punggungnya, hampir seperti singa. Seluruh tubuhnya di tutupi bulu kuning tipis, cakar dan taringnya memanjang dan sanggup mematahkan sebuah pedang. Kelpoak matanya berubah menjadi warna orange kemerahan dan di dua bahunya terbentuk sebuah rune yang melingkar.


Cold menggunakan cakar dan taringnya untuk membunuh monster kecil di udara seperti Wyvern dan beberapa Griffon. Cold melompat dari satu monster ke monster lain sampai seorang prajurit memanggilnya.


"Tuan Asoka...!!"


Cold di panggil oleh seorang prajurit dengan nama aslinya, Asoka. Dia turun untuk berhadapan dengan prajurit itu.


"Ada apa?"


"Baik... Dari kapal pertama, sinyal asap untuk mundur telah di tembakkan."


"Apa...??"


Cold bingung dengan hal itu. Dia berpikir :


Kenapa Merial memilih untuk menarik mundur pasukan...? Apakah para pahlawan telah dikalahkan...?? Tidak, itu tidak mungkin. Pasti ada alasan lain mengapa dia menarik mundur pasukan. Untuk sekarang aku hanya perlu mengikutinya dan mengetahuinya langsung nanti.


Cold mengangguk dan memerintahkan prajurit itu untuk menembakan sinyal asap mundur juga.


"Baiklah, kita juga akan mundur... Tembakkan sinyal asap yang sama agar Ray, Misa dan Nisa mengetahuinya."


"Baik...!!!"


Prajurit itu bergegas pergi berlari dan menembakan sinyal asap berwarna kuning yang sama dengan Merial. Tidak lama setelay itu, Ray, Misa dan Nisa merespown dengan menembakan sinyal asap yang sama. Di sisi lain, Merial menggunakan pedang sihirnya untuk memotong Es agar seluruh kapal dapat bergerak.


Cold mulai berfikir.


"Aku tidak tahu apa yang kau rencanakan, Rigel. Namun, aku akan terus percaya jika kau akan membalaskan kematian orang tuaku. Tetaplah hidup, teman."