The Legends Of Creator Hero

The Legends Of Creator Hero
Sepuluh White Tiger



10 White Tiger dengan ukuran yang sedikit lebih kecil dari sebelumnya. Entah bagaimana, nampaknya tidak ada yang pernah mengetahui bahwa dia hidup berkelompok.


Lantas situasi semakin mencekam dengan adanya lebih banyak dari mereka. Bahkan membunuh satu saja sangat sulit, mengingat kecepatannya menjadi kunci utama yang menyusahkan. Namun kali ini, terdapat sepuluh dari White Tiger di depannya.


Dia tidak mengerti apa yang tengah terjadi. Seharusnya dia telah melenyapkan White Tiger dengan Void dan menghapus jiwanya disaat yang bersamaan. Namun, nyatanya White Tiger masih hidup, dengan jumlah yang tidak masuk akal. Selama ini, tidak ada satupun informasi yang masuk ke telinganya, bahwa White Tiger tidak hanya satu individu, melainkan banyak individu.


Tentunya Rigel akan benar-benar murka kepada orang-orang yang mengetahui namun tidak memberitahu. Apalagi dengan alasan lupa, dia tidak akan pernah memaafkannya. Namun dikarenakan itu, dia tidak langsung main ambil kesimpulan.


Terdapat dua kemungkinan yang dapat terpikirkan olehnya. Pertama, sejak awal, White Tiger yang dia hadapi kini dan sebelumnya hanyalah manifestasi dari kabut yang menyertainya. Kemungkinan, diantara para White Tiger palsu, terdapat yang asli. Hal yang membuatnya terpikirkan ini adalah ketika bongkahan daging White Tiger yang dia hancurkan berubah menjadi kabut. Hanya orang idiot yang tidak menganggapnya sebagai hal aneh.


Kemungkinan kedua, White Tiger menggunakan semacam sihir ilusi atau juga Territory yang membuat kabut abadi itu sehingga tidak aneh kabut itu tidak kunjung hilang. Mungkin saja White Tiger berada di dalam kabut dan memperhatikan dari sana. Memang tidak ada teori yang menguatkan kemungkinan ini, namun tetap saja peluangnya tidaklah nol.


Lalu, memasuki kabut itu adalah hal yang sejak awal Rigel dan yang lain coba untuk hindari, dikarenakan beberapa informasi tentang kabut penghapus yang dapat menghapus keberadaan seseorang dari dunia. Bahkan, resiko yang mereka miliki dengan masuk ke sana lebih besar dari perkiraan. Selain dapat dihapus dari dunia, mereka juga dapat terbunuh dengan mudah, mengingat minimnya garis pandang yang tersedia.


"Kau menghinaku begitu jauh, manusia!! Akan kuhabisi dengan kekuatan penuh!!"


Nampaknya keadaan tidak terlihat baik, ya. Huh~, mau bagaimana lagi, batinnya.


Keadaan benar-benar tidak menguntungkan, terutama pada bagian 10 White Tiger. Belum lagi, hujan yang dia buat untuk menutupi bulan purnama hampir menghilang, maka tiada pilihan lain selain mengatur ulang rencana dengan cepat. Tanpa keraguan, Rigel secara sigap melontarkan sinyal asap ke langit, setidaknya asap itu lebih dari cukup untuk dapat dilihat Yuri yang memiliki mata tajam.


Dengan cepat, Rigel menembakan asap kuning yang jelas dipahami orang-orang yang berada di medan tempur.


Dilain tempat, Takumi dan yang lain berkumpul bersama Yuri. Tidak ada yang terluka, hanya nafas sedikit terengah-engah akibat berlari. Saat ini, mereka tengah menunggu tanda dari Rigel atau kedatangan Rigel itu sendiri.


Terdapat tiga sinyal yang akan ditembakkan Rigel. Sinyal memanggil Ozaru, sinyal menyerang habis-habisan dan yang terakhir...,


"Lihat! Rigel memberikan tandanya!"


Yuri yang berada di tempat tinggi menatap kejauhan, menemukan sinyap asap kuning ditembakkan. Beberapa saat, dia tidak dapat memproses maknanya, barangkali terdapat kesalahan dalam penembakan atau sesuatu yang menyerupai sinyal itu. Dia menunggu beberapa saat, namun tidak ada sinyal lain ditembakkan.


"Seperti apa sinyalnya?" tanya Takumi.


"..., mundur."


"Hah??" Takumi kembali bertanya, mungkin karena suara Yuri terlalu pelan dan juga, air hujan menghambat suaranya.


"..., mundur! Rigel memberi sinyal untuk kundur!"


Semua orang tercengang, tidak percaya bahwa tanda yang hampir tidak mungkin digunakan akan ditembakkan saat ini. Mereka tidak percaya, bahwa orang seperti Rigel dapat membuat pilihan untuk mundur ketimbang bertarung habis-habisan. Bila begitu, White Tiger nampak tidak mudah dihabisi. Pastinya terdapat sesuatu yang tidak mengenakan terjadi.


Berbeda dengan Pahlawan, Gahdevi, Odin, Garfiel telah berdiri di sekitar Natalia yang menyiapkan sihir Spatial miliknya. Tidak perduli tentang apa yang sebenarnya terjadi, Natalia akan menurutinya karena itu perintah.


"Apa yang kalian tunggu?? lebih baik bergerak sekarang, sebelum keparat itu datang menghampiri!"


Ozaru mendesak mereka yang tetap terlihat terkejut selagi dirinya menghampiri Natalia untuk meminta tumpangan teleport. Bukannya Ozaru juga memahami tindakan Rigel, dia hampir tidak tahu sebagian yang dipikirkan orang itu. Terkadang dia dapat membaca beberapa pemikirannya, namun sebagian besarnya tidak. Namun itu tidak penting untuk sekarang, dikarenakan mereka harus pergi ke tempat yang telah ditentukan saat mundur. Pastinya terdapat sesuatu yang bahkan Rigel sendiri sulit untuk menanganinya.


Bila dia saja yang dikatakan yang terkuat diantara Pahlawan tidak bisa, lantas yang lebih lemah bisa apa? Bisa mati?? tentu saja, jika itu menyangkut yang terakhir.


"Benar juga, mari tanyakan rinciannya nanti!! Teleport!!"


Mendengar apa yang dikatakan Ozaru, Marcel bertindak cepat, diikuti Ray hingga Pahlawan lain. Natalia dan orang-orang yang tidak dapat berteleportasi juga berpindah ke lokasi yang telah ditentukan.


Sekejap, mereka berpindah tempat dan berada di tengah hutan yang tidak jauh dari lokasi pertempuran. Tempat itu sengaja dibuat tampak seperti benteng yang tertutup, tanpa lubang yang membiarkan sinar bulan masuk. Hanya orang yang memiliki teleportasi saja yang dapat memasukinya, dikarenakan tidak ada pintu.


Tidak ada lubang bahkan untuk jendela, dikarenakan khawatir bila White Tiger dapat memasukinya. Bahkan untuk seukuran semut pun tidak dibiarkan ada. Bagaimana cara mereka mendapatkan udara?


Tentunya hal itu akan menjadi pertanyaan yang muncul di kepala semua orang. Namun ini dunia dengan sihir, semua yang tampak mustahil dan sulit akan terselesaikan dengan mudah di dunia ini. Dengan keberadaan batu sihir yang dikenal dengan batu angin, ruangan dapat menghasilkan udara yang sejuk seperti AC.


Yah, kesampingkan itu. Mengenai tempat itu sendiri berbentuk bundar yang terbuat dari besi hitam super tebal. Tidak hanya itu, dinding bagian dalamnya dihiasi Rune sihir penguat yang menyinari bagian dalamnya. Ukurannya tidak begitu megah, mungkin akan tampak seperti rumah sederhana pada umumnya.


"Ini mengkhawatirkan, aku akan pergi mencarinya!"


Ray nampaknya menjadi yang paling tidak sabaran terhadapnya. Meski tahu Rigel terlampau kuat, namun kekhawatiran tidak akan pernah hilang, karena termasuk dasarnya hati manusia.


"Tunggu Ray!! Jangan terburu-buru." Merial memperingatkan dan menepuk ringan punggungnya.


"Tapi, bagaimana bila sesuatu terjadi kepadanya?!"


Lantas Merial tahu perasaan Ray, karena dirinya juga merasakan. Bohong jika dia tidak memiliki niatan sama dengan Ray, namun hal itu akan menjadi kebodohan disaat seperti ini. Belum lagi, kali ini mereka bukan anak buah Rigel belaka, mereka kini memiliki tanggungjawab di punggung. Dan, sebagai catatan, Natalia dan Walther telah mendengar bila Merial dan Ray menjadi Pahlawan. Gahdevi dan Odin sama halnya dengan Natalia, dikarenakan mereka perlu mengetahui hal itu. Yah, mari kembali ketopik.


"Bukti bahwa kita masih mengingat namanya menandakan dia baik-baik saja, Ray. Kau tidak melupakan perkataan Rigel saat penetapan posisi, kan??"


Mendapati perkataan Ozaru, Ray sedikit menurunkan bahunya dan mengambil nafas selagi meredakan emosinya.


"Aku ingat, 'Jika salah satu dari kita terbunuh, maka kemungkinan besar kita terhapus dari dunia dengan tidak ada yang mengingat apapun tentang kita,' begitu kan??"


Mendapati itu, Ozaru mengangguk dan mengambil sesuatu yang dia selipkan di tongkatnya. Mau bagaimanapun, seekor kera tidak pernah mempercayai kantung. Mereka biasanya akan meletakan sesuatu di telinga atau bahkan lubang hidung. Namun Ozaru yang tengah berada di kepribadian cerdas memilih tongkat sebagai rujukan.


Yang dia ambil adalah sehelai kertas lecek dan berisikan beberapa catatan berupa nama.


"Karena itulah Rigel meminta kita membawa kertas yang berisikan nama orang dalam medan tempur ini kan?? Aku telah memeriksa semuanya dan mengingat nama-nama yang berada di dalam kertas ini. Yang artinya, semua masih hidup, termasuk Rigel."


Tiada cara selain cara itu yang lebih baik untuk mengkonfirmasi. Bila saja terdapat salah satu diantaranya mereka mati, maka kemungkinan mereka akan terlupakan dan bahkan anak SD akan menyadari bahwa terdapat nama yang tidak dia kenal berada di dalam bukunya.


Namun, bila yang mati tidak akan dilupakan dunia, maka tidak perlu ada alat atau sesuatu untuk mengkonfirmasi. Mereka hanya perlu melakukan kontak langsung atau hal lainnya dan akan tahu siapa yang mati begitu pertarungan selesai atau salah satu tidak hadir. Namun, seharusnya sangat kecil kemungkinannya.


"Benar juga. Maaf karena aku menjadi tergesa-gesa," Ray menundukkan kepala dan merasa malu akan kebodohannya sendiri.


Dia tidak patut disalahkan, karena semuanya akan bertindak sama bila saja ada seseorang yang memulainya.


Sriing!!


Suara kilatan terdengar tidak jauh di belakang mereka dan menemukan pria berambut putih yang nampak acak-acakan tiba.


"Maaf, aku terlambat. Dia menjadi semakin dan semakin merepotkan sekarang, sehingga tidak mudah meloloskan diri darinya."


Begitu dirinya mengangkat kepala dan tubuhnya, penampilan acak-acakannya semakin terlihat dengan sangat jelas. Dimulai dari pakaiannya yang kotor dan ternodai darah, hingga lengan kiri palsunya yang benar-benar hancur parah. Dilihat dari kerusakannya, nampak jelas tangan kirinya hancur karena digigit atau dicakar sesuatu. Tidak perlu dipertanyakan, sesuatu itu adalah White Tiger.


Mendapati semua telah berkumpul dan baik-baik saja, Rigel dengan lega bersandar di dinding belakangnya. Bukannya tidak memiliki tenaga, justru dia masih memiliki banyak. Namun, sebisa mungkin dia ingin menghematnya, mengingat ada lebih banyak malapetaka yang harus dihadapi. Meski kekuatannya nampak sedikit lemah, namun masih cukup kuat untuk hampir benar-benar membunuh Rigel.


"Apa yang terjadi?!" Tanya Takumi, berlari menuju arahnya dengan khawatir.


Natalia menerobos diantara mereka dan membantu dengan memberikan sihir pemulihan. Yah, Rigel berterima kasih untuk itu, namun kali ini menyampaikan informasi secepat mungkin adalah prioritas, sebelum monster itu menyusul kemari.


"Terdapat 10 White Tiger kali ini. Aku tidak yakin bila White Tiger merujuk kepada kelompok, ketimbang individu, namun kuyakini terdapat trik tertentu di balik hal itu."


Ringkas, jelas dan padat. Dia tidak perlu menjelaskan secara bertele-tele dikarenakan waktu benar-benar mendesaknya.


Alasan Rigel meyakini adanya trik, dikarenakan dia berhasil membunuh satu dari sepuluh White Tiger, namun entah bagaimana itu berubah menjadi kabut kemerahan dan White Tiger lain terlahir kembali.


"Sepuluh katamu?!"


"Ya...," dia hendak melanjutkan penjelasannya, namun memilih berhenti,"Tch..., dia sudah di sini saja."


Sesuai perkataannya, energi sihir yang kuat nan pekat mendekati mereka. Perbedaannya adalah, energi yang mendekat lebih dan lebih dari kuat ketimbang yang sebelumnya.


"Ayolah, setidaknya beri kami waktu istirahat untuk membahas rencana membunuhmu!" Gahdevi mengutuk akibat kesal dikarenakan keingintahuannya tidak akan terpenuhi dan harus bertarung. Pada akhirnya, mereka hanya terlihat mengganti lokasi pertempuran saja.