
Ketegangan kembali terjadi, Tortoise yang seharusnya telah mati kini kembali bergerak. Hal ini di sebabkan oleh energi kehidupan Tortoise yang di lepaskan dari segel pahlawan masa lalu. Karena itu, Tortoise akan kembali bergerak selama sepuluh menit dan akan meledak setelahnya. Ntah sebesar apa ledakan yang akan terjadi, mungkin kekuatan ledakannya empat kali lebih kuat dari nuklir.
"Kalau dia meledak, apa yang akan terjadi dengan kuil batu ramalan di punggungnya?!" Takumi menyerukan pendapatnya.
"Ntahlah, aku pikir kuil itu akan baik-baik saja karena batu ramalan itu sendiri masih memiliki banyak misteri." Rigel menjawab kekhawatiran Takumi.
Lagipula, aku yakin lingkaran sihir yang terukir di lantainya hampir serupa dengan teleportasi. Ini hana kemungkinan, namun aku harap dia tidak teleport ke tempat yang jauh.
"Yang lebih penting, sekarang kita harus memikirkan cara menghentikan mahkluk itu! Jika di biarkan dia mungkin akan menghapus daerah ini dari peta!" Marcel berkata dengan sedikit kesal dan panik.
Benar, seperti apa kata Marcel. Hal paling dan sangat mendesak adalah ledakan Tortoise yang harus di tangani sekarang juga. Rigel dan pahlawan lain mulai berpikir dengan keras bagaimana cara mengatasinya. Rigel mulai frustasi, dia sama sekali tidak dapat memikirkan hal bagus.
Pikirkanlah! pikirkanlah! gunakan kepalamu dan cari solusi terbaik! apapun itu tidak masalah, ntah itu menghancurkannya atau menyerapnya...
Menyadari kata menyerap, Rigel mendapat pemikiran tentang sesuatu. Dia belum yakin apakah ini akan berhasil atau tidak, namun hal ini patut di coba.
"Kalian menjauhlah, aku memiliki sebuah rencana yang patut untuk di coba..." Rigel mengambil langkah menuju Tortoise yang berjalan tanpa arah.
"Apa yang ingin kau lakukan, Rigel?! jangan bilang kau ingin mengorbankan nyawamu?!" Takumi berkata dengan sedikit kemarahan. Jika itu niat Rigel, Takumi tidak akan pernah mengizinkannya. Perduli setan dengan ledakannya, dia tidak ingin kehilangan orang-orang di sekitarnya lagi.
Rigel berhenti berjalan dan berbalik menatap Takumi, "Tenang saja, aku tidak pernah berfikir untuk mengorbankan nyawaku. Setidaknya untuk saat ini..." Rigel tersenyum berani dan kembali berjalan menuju Tortoise.
"Kita tidak tahu apa yang akan dia lakukan, namun untuk sekarang lebih baik kita menjauh." Nadia memberikan saran selagi menatap Rigel yang menuju Tortoise. Meski hanya firasat, Nadia merasa bahwa keajaiban dunia akan benar-benar terjadi tepat di depan matanya.
Rigel mengambil langkah menuju Tortoise yang bahkan tidak menghiraukan nya. Tortoise terus berjalan tanpa memperdulikan apapun. Rigel menatap ke atas, saat ini, sebuah gunung melewatinya tepat di atas kepalanya.
Meskipun hanya sebuah hipotesis belaka, aku yakin kalau energi kehidupan adalah energi yang hampir sama dengan energi yang berasal dari inti jiwa. Jika benar, aku mungkin bisa menyerap energi kehidupannya dengan Void tahap ke tiga. Namun, aku belum benar-benar mengendalikan kekuatan ini.
Void memiliki lima tahap yang setiap tahap nya menjadi sangat kuat. Sampai saat ini Rigel mungkin baru menggunakan sampai tahap tiga. Karena dia tidak akan tahu apa yang akan menunggunya jika dia menggunakannya sampai tahap lima. Untuk sekarang, Rigel hanya perlu mencobanya. Dia mengangkat tangannya ke udara dan memejamkan mata. Mengambil nafas dalam dan mengaktifkannya sekali lagi, "Void..." Rigel membuka matanya.
"Tahap tiga : Kelahiran para Dewa!"
Sinar biru terang muncul dari Rigel. Rune berwarna biru mulai muncul dari tangan kanannya hingga pipi kanan Rigel. Dia dapat merasakan, energi dalam jumlah besar mengalir di tubuhnya. Ntah bagaimana, Rigel merasa dapat menundukan semua mahkluk di dunia ini dengan kekuatan miliknya. Namun, kekuatan yang besar selalu memiliki bayaran dan Rigel tidak dapat mengetahui apakah Void meminta bayaran atas kekuatannya.
"K-kekuatan apa itu? aku merasa sangat merinding sekarang." Aland menyerukan keluhannya, menatap Rigel selagi berlari menjauh.
"Itu kekuatan yang sama yang dia gunakan untuk melenyapkan kepala Tortoise. Namun, kekuatan ini lebih kuat dari sebelumnya." Hazama menyerukan pendapat. Melihat hal ini, Hazama justru semakin penasaran dengan seberapa kuat Rigel dan berapa banyak kartu yang dia sembunyikan.
Angin mulai bergemuruh, tanah di sekitar Rigel mulai retak dan Mana di sekitar berkumpul di tangan kanan Rigel.
"Jadi ini kekuatan misterius yang di berikan dewa padamu." Sylph berbisik ke telinga Rigel, meskipun dia sudah berada di hutan peri namun suaranya mencapai telinga Rigel.
Rigel tidak membalas atau bereaksi terhadap bisikan Sylph, dia hanya fokus pada kekuatannya, "Void : Life Extraction." Rigel menyerap energi kehidupan Tortoise dalam jumlah besar.
Tubuh Tortoise perlahan melambat dan energinya terserap secara teratur. Rigel merasakannya, dia dapat merasakan kekuatan dalam jumlah besar meresap ke dalam tubuhnya. Kelelahan fisik yang dia rasakan perlahan menghilang dan setiap luka di tubuhnya secara otomatis sembuh.
Energi kehidupan Tortoise masuk melalui tangan kanan Rigel. Namun Jumlahnya sangat banyak sehingga Rigel tidak yakin dapat menyerap seluruhnya dan selain itu, jika dia memaksakan diri dan menyerapnya sekaligus. Kemungkinan Rigel sendiri yang akan mati. Tidak ada pilihan lain selain menyerapnya sedikit lebih banyak lagi dan membiarkan Tortoise meledak di udara atau menghancurkannya sebelum meledak.
Sekarang aku memiliki dua buah pilihan yang harus di putuskan... Pertama, aku akan menghancurkan seluruh tubuh Tortoise menggunakan solar Eclipse, meskipun ada kemungkinan kalau tubuhnya tidak akan lenyap begitu saja... Lalu pilihan kedua, aku harus menerbangkan tubuh besar mahkluk ini setinggi mungkin dan membuatnya meledak di udara. Jika di pikirkan dengan logika, sangatlah mustahil untuk menerbangkan sebuah gunung...
Rigel telah membuat keputusannya. Dia akan menerbangkan Tortoise ke udara. Di dunia ini hukum fisika dan logika tidak lagi berlaku sehingga bukannya mustahil untuk melakukannya.
"Sylph, aku membutuhkan bantuanmu untuk sesuatu. Bantu aku mengumpulkan Mana alam dengan cepat untuk melakukan sesuatu terhadap mahkluk ini."
"Aku tidak tahu apa yang kau rencanakan, namun aku akan membantumu karena aku telah bersumpah akan memberikanmu dukungan penuh untuk menghadapi Tortoise." Sylph yang berada di hutan peri tersenyum dan mengirimkan Mana alam dalam jumlah besar.
Rigel menyerapnya bersamaan dengan Energi kehidupan Tortoise dan mengumpulkannya. Tubuh Tortoise semakin lemah, jika begini terus Rigel akan tertimpa tubuhnya. Dia membutuhkan bantuan satu orang lagi, semoga saja dia masih memegang kendali tubuhnya.
"Ozaru! gunakanlah tongkatmu untuk mengangkat Tortoise ini!" Meski tidak yakin apakah dia masih memegang kendali, Rigel tetap meminta pertolongannya.
Ozaru menarik rambut di kepalanya selagi mengaum. Dia seakan berusaha untuk tetap mempertahankan kesadarannya dan mengambil tongkatnya. Sesaat dia menggenggamnya, tongkat miliknya berubah menjadi ukuran yang sesuai dengan genggamannya.
Setidaknya bertahanlah sampai Tortoise selesai, Ozaru!
Ozaru yang sudah menggenggam tongkatnya berlari menuju Tortoise, dia mengulurkan tongkatnya ke bagian bawah tempurung Tortoise dan memanjangkan tongkatnya.
Tubuh Tortoise perlahan terangkat, dan di saat yang bersamaan, Rigel mulai bergerak, "Mari kita mulai sekarang!"
Rune di tubuh Rigel bersinar terang dan dia menundukan tubuh atasnya untuk ancang-ancang. Mata kanannya bersinar seperti seorang pembunuh, Rigel mengatupkan giginya sekuat tenaga dan mengepalkan tinju kanannya. Rigel mengulurkan kedua tinjunya menuju tempurung Tortoise yang berasa di atas kepalanya, "Harrrgggghhhhh!!" Rigel mengaum.
"Oii Oii... Apa-apaan itu? apa dia berniat menerbangkan mahkluk besar itu?!" Aland menatap dengan tidak percaya.
"... D-dia mungkin sudah gila..." Bahkan Marcel tidak percaya.
Selagi para Pahlawan menatap Rigel dan tidak percaya bahwa hal itu dapat di lakukan, Nadia justru menatapnya dengan kagum. Matanya berkilau karena air mata kegembiraan, "Itu tidaklah mustahil... Saat ini, kita akan menyaksikan keajaiban dunia!"
Rigel mengerahkan banyak tenaga miliknya. Dia menyadari bahwa Ozaru sudah tidak lagi dapat mengendalikan dirinya lagi sehingga Rigel harus melakukannya seorang diri, "Territory Void : World Of Void..." Rigel mengaktifkan Territory terkuat miliknya saat ini, Dunia hampa.
Territory ini spesial, Rigel bisa mengatur seberapa luas jangkauan Territory yang dia inginkan semaunya. Rigel hanya mengaktifkan Territory nya sebatas ukuran tubuh Tortoise sehingga pahlawan lain dan Ozaru yang telah menggila dan pergi tidak terkena Dampaknya.
Kilatan cahaya muncul dan menutupi Rigel bersama Tortoise. Dunia di sekitar Rigel berubah menjadi sebuah kekosongan abadi, ruang hampa. Hanya ada hitam dan putih, dunia tanpa suara, dunia tanpa warna, dan segala hal yang ada di sini telah dimurnikan oleh kehampaan.
"Karena kau adalah monster Roh, aku tidak bisa menghapus keberadaanmu di sini dan aku juga tidak bisa membiarkanmu meledak di sini karena dampaknya akan berbekas di dunia luar."
Benar, alasan Rigel tidak membiarkan pahlawan lain atau seseorang berada di dalam Territory miliknya karena dia bisa menghapus keberadaan seseorang namun dia tidak dapat menghapus keberadaan Roh. Di dalam Territory ini, segala hukum dunia yang ada tidak berlaku, bahkan termasuk berat dari suatu benda atau mahkluk hidup sekalipun.
Rigel mengangkat Tortoise dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya mengepalkan tinju"Inilah akhir darimu, Selamat tinggal." Rigel mengerahkan seluruh energinya dan memukul Tortoise dengan sangat keras dan mengembalikan dunia ke keadaan semula.
Territory Void menghilang, semua orang dapat melihat Rigel dan menyaksikan pemandangan super menakjubkan. Bersamaan dengan hilangnya Territory, sebuah tinju super besar yang seukuran tubuh Tortoise melesat dari tanah dan membawa Tubuh Tortoise terbang menembus angkasa tinggi.
*BOOM!
Langit terbelah karenanya dan di ketinggian maksimal Tortoise meledak tepat setelah melewati Atmosfer Earthland. Energi kehidupan Tortoise meledak bersama dengan tubuh serta rohnya. Energi itu perlahan turun kembali ke Earthland dalam bentuk kepingan cahaya kecil seperti sebuah salju. Rigel menatap langit yang berkilau kecil karena serpihan energi kehidupan yang jatuh menghujaninya.
Seluruh orang yang menyaksikan pertempuran melalui Kristal dan layar Proyektor menangis terharu. Berbeda dengan kematian Hydra, saat ini mereka menyaksikan sendiri bagaimana jalannya pertempuran ini.
Rigel mengangkat tinju kanannya ke langit dan tertawa, "Hahah... Aku menang... khak!" Rigel memuntahkan darah dari mulutnya, kakinya tidak lagi kuat menahan tubuhnya dan perlahan Rigel tumbang di tengah hujan cahaya.
Hazama berlari dan menangkap Rigel yang hendak membentur tanah, "Terima kasih atas kerja kerasmu, Kerja bagus, kau melakukannya dengan sangat baik..." Hazama memberikan pujian, matanya berkilau air mata bahagia, sama seperti pahlawan lainnya.
Rigel tidak tersenyum atau senang, "Belum... Masih, ada... satu masalah... lagi..." Rigel berkata dengan lemah, mungkin karena efek penggunan Void dan beban yang dia terima. "Ozaru... Buatlah, dia... sadar kembali..." Rigel langsung terbaring lemas dan pingsan karena kelelahan yang menumpuk.
"Rigel!" Takumi berlari menghampiri Rigel dengan sangat khawatir.
"Tenang saja, dia hanya pingsan karena lelah.. Yang lebih penting, sekarang kita harus mengurus yang satu itu." Hazama menatap Ozaru yang mulai berdiri dan mengeluarkan niat membunuh yang sangat besar.
"Benar juga... ini masih belum berakhir." Takumi mengerutkan alisnya.
Ozaru berbalik menatap mereka seperti hewan buas. Ozaru sudah tidak memegang kendali dirinya, dia benar-benar berubah menjadi seekor Monyet raksasa tanpa akal.
"Tetapi, bagaimana cara kita menyadarkannya?" Petra bertanya.
Hazama ingat apa yang di katakan Ozaru kepada Rigel sebelum dia berubah, Jika diriku lepas kendali, bunuhlah aku.
Membunuh dengan menyadarkannya kembali dua hal yang sangat berbeda. Rigel meminta Hazama untuk mengembalikan Ozaru, bukan membunuhnya. Namun dia tidak tahu bagaimana cara menyadarkannya.
"Umm, aku memiliki satu pemikiran tentang ini." Hazama menoleh ke arah suara, dan menemukan Yuri yang mengangkat tangannya.
"Apa itu? katakanlah!" Hazama berkata dengan terburu-buru, selagi membawa Rigel menjauh bersama Takumi.
"Aku tidak yakin apakah ini berhasil atau tidak... Kalian pasti mengetahuinya kan sebuah cerita dari Cina tentang kera suci? Bahkan di Jepang ada juga cerita tentang anak yang mencari bola naga kan?" Yuri mencoba menghubungkan kasus Ozaru dengan film dan cerita yang ada di bumi.
"Aku juga mengetahui cerita itu, memangnya kenapa?" Nadia bertanya.
"Dalam cerita itu, pernah sekali anak itu berubah menjadi kera raksasa seperti ini kan? untuk mengembalikannya ke dalam bentuk Humanoid nya..." Selagi Yuri berusaha menjelaskan, "Kita harus memotong ekornya, kan?!" Hazama menyela dan langsung membahas inti dari apa yang ingin di sampaikan oleh Yuri.
Para pahlawan mulai menemukan secercah cahaya harapan. Meskipun tidak pasti, bukan berarti itu hal yang buruk untuk mereka coba.
"Benar juga! kita mungkin dapat mencoba hal itu!" Takumi mulai bersemangat.
"Yah, sekarang, mari kita urus Monyet itu dan merayakan pesta kemenangan kita!" Marcel bersemangat.
Marcel, Takumi, Argo, dan Takatsumi bersemangat, mereka menatap Ozaru yang berada di hadapan mereka. Ozaru mengeluarkan nafas yang terengah-engah dan terlihat tidak sabaran untuk segera membunuh seseorang.
"Baiklah, kalau begitu... Ayo!" Marcel memimpin serangan dan di ikuti pahlawan lain.
Di lain sisi, di sebuah hutan peri. Ratu Peri Sylph sedang menyiapkan sihirnya dan melelehkan Kristal Es yang memenjarakan seorang gadis di dalamnya. Dalam satu lafalan mantra, Kristal Es yang membekukan gadis itu menghilang dan menjadi serpihan kecil. Gadis yang sebelumnya terjebak itu telah di baringkan di sebuah kasur yang berada di bawah sebuah pohon. Sylph membelai rambutnya dengan penuh kasih sayang dan tampak sedih.
Gadis itu masih bernafas, namun dia tidak kunjung membuka matanya. Sangat persis seperti putri Tidur.
"Begitu ya... Nampaknya jiwamu tidak lagi berada di tubuhmu sehingga kau tidak akan terbangun. Setidaknya, aku akan berada di sisimu selagi kau tertidur untuk selamanya putriku, Priscilla." Sylph tersenyum dan tetesan air matanya jatuh ke wajah gadis itu, Priscilla Flamesword.
..._______End Of Tortoise Arc______...