
Setelah memperkenalkan Red kepada warga lainnya, Rigel langsung menyiapkan sebuah Gua yang akan menjadi sarang atau rumah bagi Red. Karena tidak ada gua yang cukup besar untuk menampung Red, pada akhirnya Rigel memutuskan untuk membuatkannya sekaligus sebuah ruang rahasia yang akan berada di dalam gua Red dan berada dalam penjagaannya secara langsung.
Red berulang kali memberikan pujiannya karena Rigel dapat melakukan apapun yang dia inginkan dengan sangat mudah dan efisien. Untuk membentuk gua, Rigel mengumpulkan Mana dalam jumlah besar dan membentuk bor raksasa yang melubangin dinding batu yang keras dan membuat gua yang nyaman di tinggali.
"Hahaha, dengan melihat kekuatanmu ini ntah kenapa aku merasa yakin kau bisa mengalahkan Naga keparat itu, Rigel." Red memamerkan taring tajamnya kepada Rigel.
"Lebar dan luas gua ini dua kali lebih besar dari tubuhmu, sehingga memungkinkanmu bergerak tanpa menabrak dinding batu ini."
Jika Rigel membuat gua dengan ukuran yang pas-pasan dengan tubuh Red, dia memiliki kekhawatiran Red akan menabrak dinding batu dan menggulingkan batu besar dari puncak gunung ke kota. Jika itu terjadi maka kerusakan dan korban jiwa tidak dapat terhindarkan. Rigel juga telah menyiapkan beberapa langkah pencegahan seperti membuat dinding besi yang dapat menahan setidaknya beberapa bongkahan batu besar.
"Ini memang bagus, namun aku tidak mengerti alasanmu menaruh banyak bongkahan logam sihir dan membuat sebuah tempat yang cukup megah di ujung guaku." Red menatap ke dalam gua yang gelap.
"Untuk bongkahan logam sihir ini, aku menginginkan mereka memakan aura Naga yang kau keluarkan dan membuat kualitas mereka meningkat dan dapat di buat senjata yang bagus. Tentunya aku harus menemukan pandai besi yang hebat jika ingin membuat senjata hebat."
Logam sihir adalah bahan dasar untuk membuat senjata-senjata hebat yang memiliki kekuatan spiritual. Ada tiga tingkat logam, di mulai dari kualitas biasa, kualitas langka dan yang paling tinggi adalah kualitas Dewa. Logam berkualitas rendah biasanya di gunakan untuk membuat senjata kualitas rendah yang biasa di pakai oleh prajurit kerajaan. Senjata dengan kualitas rendah lebih cepat hancur, setelah membunuh setidaknya tiga orang, pedang itu akan tumpul dan mudah hancur.
Logam tingkat langka biasanya di gunakan untuk membuat senjata Rare tier yang tidak akan tumpul dengan mudahnya. Bahkan jika pedang itu sedikit rusak dapat di perbaiki tanpa menurunnya kualitas dari pedang itu. Biasanya logam seperti ini sering di buat sebagai Armor karena ketahanannya yang sangat kuat. Namun, logam tingkat langka bukan tanpa kekurangan, senjata yang terbuat dari logam ini juga dapat hancur jika menghadapi serangan kuat. Misalnya saja nafas larva milik Red yang dapat melelehkan senjata Rare Tier. Sebagai catatan, logam tingkat langka tidak dapat di gunakan untuk membuat Iceland yang merupakan sebuah item sihir dan bukan peralatan tempur seperti pedang dan Armor.
Terakhir, Logam tingkat dewa adalah logam sihir terkuat di dunia ini. Biasanya logam jenis ini dapat di temukan dengan area yang memiliki sihir besar dan telah memakan sihir tersebut dalam waktu yang lama. Logam sihir tingkat dewa hampir tak terkalahkan, bukan hanya dari kualitas dan ketahanannya saja. Tetapi logam ini juga dapat memberikan kekuatan yang sangat hebat. Contohnya seperti Pedang Suci Excalibur dan Pedang Kusanagi. Dua senjata God Tier yang memiliki kekuatan dahsyat.
Tidak di ketahui persis sihir macam apa yang di konsumsi oleh Logam sihir yang membentuk pedang Excalibur, namun dapat di tebak bahwa itu menyangkut cahaya dan kekuatan peri. Untuk pedang Kusanagi sendiri, sangat jelas dia mengkonsumsi energi milik Hydra selama ratusan tahun dan kekuatannya tidak kalah hebat dengan Excalibur.
"Tidak hanya membuatku menjadi penjaga gunung, tetapi kau juga mengambil keuntungan dengan membiarkan logam sihir memakan energi sihirku yang bocor? Hahaha, kau memang manusia yang menarik, bocah Pahlawan. Lalu, bagaimana kau menjelaskan tentang tempat di ujung gua ini?" Red kembali menatap Rigel dengan penasaran.
Hanya ada satu jalan untuk keluar masuk dan jika seseorang ingin memasukinya, mereka akan berhadapan dengan Red terlebih dahulu. Bisa di anggap bahwa ruangan ini penting dan Rigel tidak menginginkan orang lain mengetahui keberadaan tempat ini dengan tujuan tertentu.
"Ya, kau akan mengetahuinya nanti saat aku telah menemukannya. Saat ini aku masih berusaha untuk melacak keberadaannya dengan bantuan roh kecil." Rigel menolak untuk memberitahu Red. Lagipula hal ini belum tentunya berjalan mulus seperti yang dia harapkan.
Rigel telah membicarakannya dengan Sylph sebelumnya bahwa Rigel meminta sedikit uluran tangannya untuk mencari sesuatu yang pergi di saat-saat terakhir sebelum Rigel melenyapkan seluruh bagian Tortoise. Sylph sendiri setuju dengan itu dan meminta Roh kecil untuk mencarinya.
"Meski sedikit menyebalkan karena aku tidak dapat mengetahuinya, namun baiklah. Cepat atau lambat aku akan segera mengetahuinya, kan?" Red perlahan berbaring di gua selagi terus menatap Rigel.
"Ya, hanya butuh waktu saja. Kalau begitu, urusanku di sini sudah selesai, aku akan undur diri karena banyak hal yang harus di tangani. Ah, dan juga, jika kau kelaparan pergilah mencari monster dan jangan memakan wargaku." Ujar Rigel selagi menjauh dari gua tempat Red berada.
"Ya, tidak perlu khawatir. Aku hanya akan tidur untuk saat ini." Red perlahan menutup matanya dan tertidur.
Satu pekerjaan telah selesai, namun seribu lain menanti bagaikan mencabut pedang dari jalan satu-persatu. Di lihat dari keadaannya, Pahlawan lain tampak tidak mengalami masalah apapun dalam pekerjaannya karena tidak satupun dari mereka menghubungi Rigel. Bahkan jika alat komunikasi yang menghubungkan mereka hancur, Rigel tentunya langsung menyadarinya.
"Kelompok Pahlawan dari Britannia tampak belum memiliki hal untuk di kerjakan. Mungkin ada baiknya aku meminta mereka memulai perjalanan ke gunung Vulcan duluan untuk menghemat waktu selagi yang lain memulai persiapan." Rigel bergumam sendiri selagi berjalan menuruni gunung dan melewati pohon-pohon.
Meski dia bisa dengan mudah pergi menggunakan teleportasi, alasan Rigel memilih berjalan adalah untuk memberinya waktu untuk berpikir dengan tenang. Apapapun yang terjadi, rencananya tidak boleh gagal dan harus di persiapkan sebaik mungkin.
"Tentu ada kemungkinan Takatsumi menyerang Takumi dan Yuri dalam perjalanan, namun dia tidak akan menjadi sebodoh itu untuk membuat diriku dan Pahlawan lain menjadi musuhnya."
Tentunya jika itu Rigel dia tidak akan melakukan sesuatu sebodoh itu. Misal saja Takumi dan Yuri terbunuh di tangan Takatsumi, Pahlawan lain tidak akan tinggal diam saja dan pastinya akan melewatkan Phoenix demi membunuh Takatsumi. Seekor rusa tidak akan tinggal diam saat mengetahui dirinya sedang di buru. Tidak ada yang lebih sulit dari membunuh target yang sepenuhnya waspada.
Jadi pilihan itu sudah tersegel dan dia pastinya tahu dengan betul bahwa akan sulit kabur dan bersembunyi dari Rigel yang memiliki kekuatan abad 21 dalam genggaman tangannya..
"Yah, kurasa tidak ada salahnya untuk melakukannya. Sebagai jaga-jaga, aku akan meminta Sylph memantau mereka." Rigel bergumam dan mulai mengakses Radio kecil di telinganya untuk menghubungi Takumi.
"Yaa, ada apa Rigel?" Dengan cepat panggilan Rigel di jawab oleh Takumi.
"Aku ingin kau, Yuri dan Takatsumi pergi lebih dulu ke pegunungan Vulcan dan menambahkannya sebagai titik teleportasi. Lalu, jangan sekali-kali mencoba mencari keberadaan Phoenix, bahkan untuk melihat-lihat juga jangan. Kembalilah ke Britannia setelah menambahkannya sebagai titik teleportasi dan tunggu sampai persiapanku selesai."
Jika saja Takumi dan yang lain mencoba melihat Phoenix sebentar saja, kekhawatiran terbesar Rigel adalah Phoenix mengamuk dan mereka harus mengalahkannya dengan persiapan yang belum matang. Jika begitu, seluruh rangkaian rencana yang telah Rigel persiapan akan hancur dengan begitu mudahnya.
"Apa yang Rigel katakan, Takumi?" Takumi menoleh dan menemukan Yuri menghampirinya dengan penasaran, begitu pula dengan Takatsumi.
"Dia menyuruh kita pergi ke gunung Vulcan untuk menambahkan tempat itu sebagai titik teleportasi demi mempersingkat waktu. Dia juga memperingatkan kita untuk tidak mencoba mendekati Phoenix bahkan hanya untuk melihat-lihat tidak di perbolehkan. Kupikir dia khawatir Phoenix akan mengamuk jika kita mendekatinya."
Tentunya masuk akal untuk tidak mencoba masuk ke dalam sarang beruang yang belum memulai hibernasi. Takumi tentu memahami akibat macam apa yang akan terjadi jika saja Phoenix mengamuk sebelum persiapan selesai. Korban jiwa dan kehancuran wilayah tidak akan bisa terhindarkan. Belum lagi, dari segala kekuatan yang ada, api adalah yang paling merepotkan.
Suhu tinggi dapat membuat manusia kehilangan lebih banyak cairan dan bahkan sampai membawa ke kematian. Untuk hal itulah keberadaan jubah tahan energi panas sangat di butuhkan dalam pertempuran kali ini. Namun bahan yang di butuhkan nampaknya belum terkumpul sampai-sampai Rigel membutuhkan waktu lebih banyak.
"Yah, itu hal yang masuk akal jika ingin menghemat waktu." Ujar Takatsumi sambil meletakan tangan kanannya di pinggang.
"Awalnya kupikir Rigel telah menyiapkan sesuatu yang dapat membuat kita pergi ke sana dalam sekejap. Namun nampaknya dia juga memiliki batasan kemana dia dapat pergi." Ujar Yuri.
"Tentunya Rigel memiliki hal-hal yang tidak akan bisa dia lakukan. Sudah menjadi tugas kita sebagai Pahlawan untuk saling melengkapi kekurangan itu. Mari kita mulai persiapan kita. Perjalanan ini nampaknya akan panjang." Takumi mengeluarkan senyum yang terlihat lelah namun juga senang.
Sudah cukup lama baginya tidak mulai berkelana ke berbagai tempat jadi Takumi sedikit menantikan perjalanan ini. Setidaknya Takumi memiliki waktu untuk menyegarkan pikiran dan dirinya dari segala kejadian yang ada. Dia juga harus tetap memainkan peran dimana belum mengetahui apapun dan masih menerka-nerka apa yang terjadi antara Rigel dan Takatsumi sampai saatnya tiba.
***
Setelah menghubungi Takumi dan memintanya pergi ke gunung Vulcan, Rigel juga menghubungi Sylph melalui Roh kecil yang berada di hutan Region dan meminta Sylph mengawasi Takumi dan yang lainnya melalui Roh alam. Sylph sendiri tidak merasa keberatan dengan hal itu, jika ini menyangkut tentang membangunkan kembali Priscilla, maka dia tidak akan sungkan mengulurkan tangannya.
Selain itu, Sylph juga masih memiliki satu hutang budi tak terbayarkan kepada Rigel dan dia harus sebaik mungkin membantu Rigel untuk melunasi hutangnya itu.
Selagi berjalan menuruni gunung, Rigel dapat melihat dari kejauhan bahwa tim yang di tugaskan mencari kulit Salamander telah kembali dari tugas mereka. Rigel menggunakan mata kirinya yang dapat berfungsi seperti teropong jarak jauh untuk melihat ekspresi di wajah para prajurit itu.
"Di lihat dari wajah mereka, nampaknya misi berjalan sukses dan jumlah mereka masih sama dengan yang kuingat. Kupikir akan butuh waktu sedikit lebih lama lagi, namun tidak terduga mereka selesai secepat ini. Sepertinya aku harus memuji mereka."
Tidak ada alasan untuk Rigel berjalan lagi, dia menggunakan teleportasi untuk kembali ke Region dengan cepat. Sesampainya di ruang tahta, Rigel menemukan Asoka tengah sibuk melihat dokumen yang mungkin berhubungan dengan permintaan kerja sama dagang dari beberapa pedagang terkenal dari penjuru negri.
"Sepertinya berat, ya menjadi seorang Raja." Ujar Rigel.
Mendengar sebuah suara yang akrab menembus telinganya, Asoka dengan lesu dan tampak lelah menatap Rigel yang menghampirinya.
Asoka memiliki kelopak mata hitam karena belum tidur ataupun istirahat selama beberapa waktu. Dirinya sendiri tampak kacau dan Rigel hampir tidak melihat Asoka saat ini memiliki wibawa sebagai Raja.
"Begitulah. Karena Region masih terbilang negara baru, ada begitu banyak permintaan perdagangan dari luar dan aku harus memeriksa latar mereka satu persatu. Nampaknya aku mengerti sekarang alasan kau tidak ingin menjadi Raja karena menduga akan seperti ini jadinya, ya." Asoka tersenyum lelah dengan matanya yang lelah.
"Begitulah, lagipula aku tidak tertarik untuk duduk dan memerintah saja. Rapihkanlah dirimu Asoka, tim yang kau kirim untuk mengumpulkan kulit Salamander akan tiba."
Rigel mengambil ramuan pemulihan stamina dari inventory dan memberikannya kepada Asoka untuk memulihkan sedikit staminanya.
"Terima kasih," Asoka meminum ramuan yang di berikan Rigel dan merapihkan dokumen yang berantakan setelahnya.
Tidak lama setelahnya pemimpin tim orang yang mencari kulit Salamander memasuki ruangan tanpa perlu membersihkan dirinya. Terlihat jelas dari armor yang menempel di armor nya yang terlihat sedikit hancur. Prajurit itu memberi hormat dan membungkuk selagi memberikan laporannya.
"Lapor! Kami telah menyelesaikan tugas kami untuk mencari kulit Salamander dan berhasil mengamankan 20 kulit Salamander. Tidak ada korban jiwa dari misi ini, setelah kehabisan persediaan kami memutuskan untuk kembali sehingga tidak mampu mengumpulkan lebih banyak dari ini, mohon maafkan kami!" Prajurit itu tampak frustasi karena tidak dapat mendapatkan lebih banyak kulit Salamander.
Rigel sendiri tidak memiliki permintaan khusus tentang seberapa banyak kulit Salamander yang di butuhkan. Setidaknya 12 kulit saja seharusnya sudah cukup karena hanya para Pahlawan saja yang akan mengikuti pertarungan melawan Monster malapetaka ini.
"Apa boleh buat jika begitu. Keputusanmu sebagai pemimpin sudah tepat karena tidak memaksakan diri untuk mendapatkan lebih banyak, kerja bagus prajurit! Aku sangat berterima kasih kepadamu dan rekan-rekanmu. Sampaikan rasa terima kasihku pada mereka juga." Rigel menggantikan Asoka untuk memuji prajurit yang berseri-seri karena di puji oleh Rigel.
"Ba-baik! Pasti akan kusampaikan!"
Kulit Salamander telah di dapatkan dan hari penaklukan Phoenix serta hari pembalasan akan tiba, tidak lama lagi.