
Rigel dan yang lain telah tiba di depan gerbang hitam dengan penjagaan ketat. Para penjaga memeriksa satu persatu orang yang masuk tanpa tertinggal satupun.
"Kau yang bertopeng di sana, berhenti!"
Seorang penjaga dengan tombak di tangannya menghampiri Rigel, yang berpenampilan sedikit mencurigakan. Terutama dengan topeng yang dia gunakan.
Mengikuti perkataan penjaga itu, Rigel berhenti berjalan dan diam di tempat, menunggu prajurit itu mencapainya.
"Buka topengmu, biarkan aku melihatnya!"
Rigel tidak bergeming dan tidak berniat melepaskannya. Dia hendak melakukan sesuatu terhadap penjaga itu, namun Cebol— Moris mengambil alih.
"Apakah ada yang bisa kubantu, penjaga?"
"Ahh, Tuan Moris! Senang melihat anda sehat. Apakah pria bertopeng dan demi-human itu orang-orang anda?"
"Yaa... Mereka adalah budakku yang menjadi penjagaku selama berada di sini. Seperti yang kau tahu, bahwa berjalan sendiri di sini mendatangkan kemiskinan. Lalu, dia memiliki cacat di wajahnya jadi dia mengenakan topeng untuk menutupinya."
Rigel tentu terkejut karena tidak menduga bahwa Moris cukup terkenal di tempat ini. Mungkin dia memang seorang pedagang budak yang ternama di tempat ini. Tidak akan mengejutkan bila dia memiliki banyak budak berkualitas di tempatnya.
Tidak hanya itu, Rigel juga sedikit tertarik dengan perkataan moris, tentang berjalan sendirian sama xengan mendatangkan kemiskinan.
"Ahh, jadi begitu. Meski begitu, maaf atas kelancanganku, namun aku tetap harus memeriksanya karena ini sudah peraturan pasar."
Moris hendak melawan argumen penjaga itu, namun Rigel mengukurkan tangan dan menandakan tidak apa-apa. Semakin dirinya menolak melepaskan topeng, semakin mencurigakan dirinya. Rigel perlahan membuka topengnya sampai cukup untuk penjaga itu melihat mata kanannya.
"Lihatlah mataku."
Mendengar itu, penjaga secara tidak sadar mengikuti ucapan Rigel. Matanya yang biru kini bersinar dan dia menggunakan kekuatannya untuk menghipnotis penjaga itu.
"Biarkan kami lewat."
"Dimengerti, silahkan masuk."
Rigel dan yang lainnya masuk atas izin dari penjaga itu. Moris dan Leo terkesima dengan hal menakjubkan yang baru saja Rigel lakukan.
Di dunia ini, tidak banyak orang yang bisa menggunakan hipnotis karena membutuhkan teknik tertentu. Rigel sendiri tidak kesulitan menggunakannya, kekuatan hipnotis itu dia dapatkan dari Labyrint dan membusuk di antara Skill hebatnya.
Begitu Rigel memasumi benteng, dia di sambut dengan pemandangan pasar yang ramai. Dia membayangkan sebuah tempat yang kumuh dan menjijikan, namun tak terduga ini kota yang indah dan bersih, tidak jauh berbeda dengan Britannia.
Yang membuatnya berbeda adalah, ada cukup banya Demi-human yang beraktivitas. Tidak seperti di Britannia, mereka hanya bisa di temukan saat melakukan pekerjaan berat.
Rigel menemukan beberala Elf cantik bekerja di toko minum dan rumah bordil bersama dengan Demi-human wanita lain. Untuk para budak pria, mereka nampaknya memperbaiki segala hal yang rusak dan mengambil sampah di sepanjang jalan. Setidaknya, kehidupan budak di tempat ini jauh lebih baik ketimbang Britannia.
"Tempat ini jauh di luar ekspetasiku." Rigel mulai bergumam, sementara Leo dan Moris nampak tahu betuk tentang tempat ini. Mereka akhirnya mulai mendekat pada Rigel dan berbisik, untuk menghindari orang luar mendengar percakapan mereka.
"Jangan tertipu dengan tampilan luarnya, Ayah. Kebusukan tempat ini berada di bawah bayang-bayang."
"Itu benar. Pemimpin di sini sengaja memberikan tampilan bagus di luar demi menarik uang masuk ke kantungnya lebih banyak. Bahkan dia juga mempekerjakan beberapa pencuri untuk mengambil uang pengunjung yang berjalan sendirian. Karena itulah, aku menyebutkan datang ke sini tanpa pengawal sama dengan membawa kemiskinan."
Sekarang Rigel mengerti sebagian besar tentang kota ini. Singkatnya, bangsawan yang memimpin kota ini sangatlah haus akan harta, hingga melakukan beberapa hal kotor di balik layar. Tidak hanya hasil dari penjualan budak, mungkin bangsawan itu mendapatkan penghasilan lain dari penjualan di atas dan pertarungan di bawah tanah, Fight To End.
"Selain itu, ayah. Semua orang yang ada di sini hanyalah budak suruhannya untuk menghasilkan uang."
"Orang-orang di kota ini hanyalah budak? Sungguh mengejutkan dan menarik."
Rigel tidak akan terkejut jika bangsawan ini bahkan lebih kaya ketimbang Ainsworth. Patut mereka tidak bisa memasuki tempat ini, mungkin karena keberadaan bangsawan saingan mereka atau semacamnya.
"Yaa, kalau begitu, ikuti aku Matsu, Leo." Moris memimpin jalan dan dia berbelok menuju ke toko hewan peliharaan.
Rigel tentu awalnya sedikit bingung, namun akhirnya dia memahami bahwa tempat ini akan menuntunya ke pasar gelap bawah tanah.
"Selamat datang. Hewan seperti apa yang ingin anda cari?"
"Sepasang cacing tanah untuk bertarung. Ini uangnya."
Moris menaruh tiga keping emas, sesuai jumlah orang yang akan masuk.
"Begitu. Hewan yang anda cari ada di ruang lain, silahkan ikuti anak tangga ini dan pilih cacing kesukaan anda."
Pria penjaga toko itu membuka sebuah pintu di lantai yang terhubung ke ruang lain. Moris tanpa ragu masuk dan Rigel mengikuti di belakangnya.
Jadi, pembahasan mengenai cacing sebelumnya adalah sandi yang digunakan untuk memasuki pasar bawah tanah. Tanpa kehadiran Moris, dia yakin bahwa dirinya tidak dapat masuk dengan damai seperti ini.
Setelah beberapa menit memasuki ruang sempit, Rigel terus berjalan hingga akhirnya sampai di penghujung jalan. Pemandangan yang di lihatnya adalah tempat yang terlihat kumuh, udara tercemar, banyak budah di taruh kurungan di pinggir jalan. Ada juga bangunan untuk penginapan, tempat makan dan berbagai jenisnya.
Rigel menyaksikan bahwa ada banyak budak, terutama budak wanita yang hanya di beri kain tipis untuk pakaian, namun sebagian besar tubuhnya masih tereskpos.
Beberapa budak wanita nampak melakukan gerak-gerik tertentu seperti memainkan tubuhnya untuk menggoda Rigel dan pengunjung lainnya.
Mereka sampai jatuh serendah itu hanya untuk di beli seseorang dan mendapatkan kehidupan yang sedikit layak... Tempat ini benar-benar layak di hancurkan!
Rigel merasa marah akan kehadiran tempat busuk ini, namun dia akan menahan untuk sementara, sampai pekerjaannya selesai.
"Berkeliling di tempat ini bukan hal yang bagus, karena hanya budak yang bisa di temui. Bagaimana jika kita langsung melihat arena Fight To End?" Moris menyarankan karena dia tahu bahwa Rigel hanya akan jadi semakin marah bila melihat kebusukan tempat ini.
"Ya... Aku tidak yakin dapat menahan diri untuk tidak menghancurkan tempat ini jika melihat lebih jauh. Mari pergi."
Mereka menuju arena yang menjadi daya tarik utama Darkness selain budak berkualitas. Selagi berjalan, Rigel menatap langit-langitnya. Semuanya tertutupi tanah, namun mengejutkannya tempat ini tidak gelap gulita. Mungkin karena beberapa kristal sihir yang di taruh di bangunan sekitar.
Dari pengamatannya, tidak hanya petualang dan pedagang budak, tetapi orang-orang kaya dan bahkan bangsawan juga datang mengunjungi tempat menjijikan seperti ini.
Selagi mengamati sekitar, mereka tiba di sebuah tempat yang mirip dengan stadion bola dengan tribun yang melingkarinya.
"Apakah ini tempatnya?"
"Yaa... Kita telah sampai arena pertarungan Fight To End, Arena Pemakaman."
Nama yang cocok untuk tempat yang menjadi Pemakaman pertarungan dari penjuru negri ini. Rigel penasaran, seperti apa pertarungan di dalam sana. Moris nampak menyadari dan membayarkan biaya masuk untuk tiga orang.
"Untuk saat ini, bagaimana kalau kita melihat pertarungan yang terjadi hari ini, Matsu? Untuk hadiah utama budak Dwarf dan barang lainnya, kemungkinan akan di adakan beberapa hari lagi, jadi kita masih memiliki banyak waktu sebelum pertandingan."
"Benar juga, sepertinya bukan pilihan yang buruk untuk menyaksikan pertandingan."
"Aku setuju, ayah. Selain itu, aku ingin mencari seseorang yang kukenal."
Rigel tidak tahu siapa seseorang yang di maksud Leo, mungkin saja itu budak yang bersama dengannya saat dia berada di sini. Mereka mencari kursi teratas, dimana orang yang menyaksikan sangat sedikit. Kebanyakan dari mereka mengambil kursi terdepan selagi berteriak kepada petarung jagoan mereka.
"Kalau begitu, saya akan mendaftarkan kalian untuk pertarungan beberapa hari yang akan datang."
"Ya. Kami akan menunggu di sini."
Meski ada baiknya mendaftarkan diri belakangan, namun nampaknya ada slot terbatas untuk setiap pertarungan jadi tidak ada pilihan lain.
Saat ini pertarungan yang sedang berlangsung adalah Hercules melawan Alexander. Rigel sedikkt tertarik dengan Hercules yang bertarung hanya dengan kedia tinjunya dan Alexander menggunakan palu dengan gagang panjang untuk bertarung.
"Hahaha! Tuan Hercules yang hebat ini akan mengalahkanmu!"
"Mari kita buktikan saja, langsung."
"Mari maju!"
Alexander melesat maju dan memutar palunya setengah lingkaran. Hercules menggunakan tangan kirinya untuk menahan laju Palu dan menggunakan tangan kanannya untuk mencoba meraih Alexander.
"Hoho? Kau cukup tangguh karena dapat menahan paluku. Namun, bagaimana dengan ini!" Dia menghantamkan palunya ke tanah dan menciptakan duri batu di pijakan Hercules.
Hercules tersenyum lebar dan mengadukan kedua tinjunya untuk menciptakan gelombang destruktif kuat yang menghancurkan duri.
"Apa hanya itu saja?" Hercules memprovokasi, namun dia tidak menyadari bahwa Alexander telah berada di belakangnya.
"Kau lengah!"
Alexander menghantamkan palunya tepat di punggung Hercules dan suara retakan tulang dapat terdengar.
"Kergh! Sialan!"
Hercules mengirimkan gelombang penghancur namun Alexander yang lincah dapat menghindari tanpa masalah. Dia kembali mengulurkan palunya bertubi-tubi dan membuat Hercules terpojok.
"Hebat... Bagaimana bisa dia bergerak secepat itu dengan senjata yang tidak ringan..." Leo nampak terkesima dengan pertarungan Alexander dan Hercules yang memiliki badan lebih besar dari Alexander.
"Ya... Namun sepertinya itu bukanlah palu biasa, aku dapat merasakan energi sihir dari palu itu... Pemenangnya sudah terlihat jelas."
Alexander mengambil langkah mundur, menjauh dari Hercules yang masih berdiri tegak.
"Apa kau sudah lelah? Sekarang giliranku menyerang."
"Tidak... Pertarungannya sudah berakhir dan kau yang kalah."
Alexander menjentikan jarinya dan Hercules mulai mengeluarkan darah dari tubuhnya dan kulitnya berubah menjadi ungu.
"Khak! Kau... Apa yang kau lakukan..." Hercules memuntahkan darah dan perlahan tumbang hingga akhirnya mati.
"Palu ini bukan palu biasa... Palu ini memiliki kutukan destruktif yang merusak tubuhmu dari dalam. Syarst mengaktifkannya sangat mudah, aku hanya perlu membuat targetku menyentuh Paluku maka kutukannya akan aktif dan membuatmu mati."
"Whoaa!"
Sorak para penonton mulai pecah akan kemenangan Alexander dan beberapa kecewa, mungkin karena mereka bertaruh kepada Hercules.
"Itu memang pertarungan yang bagus... Leo, kau harusnya mendapat banyak pelajaran dari pertarungan itu. Memperhatikan lawan dan tetaplah waspada terhadao trik kecil yang mereka miliki di lengan baju."
"Baik! Aku akan mengingatnya baik-baik."
Selagi mereka berbicara, Moris telah kembali dan sudsh mendaftarkan nama Rigel dan Leo di pertarungan yang akan datang dalam beberapa hari.
"Maaf membuat kalian menunggu. Kabar baik bahwa aku mendaftarkan kalian tepat saat slotnya penuh. Lalu kabar buruknya, ada tiga buah nama petarung yang meresahkan."
"Meresahkan? Apa mungkin mereka jawara di tempat ini?"
"Ya... Yang pertama adalah pembunuh putraku, Odin si pembunuh masal. Lalu ada Tiger yang merupakan ras langka dari Demi-human dan yang terakhir, aku tidak tahu betul. Ada kemungkinan hanya namanya yang mirip atau memang orang yang sama. Dia adalah si pengendali boneka Marionette. Orang yang memiliki nama yang sama dengan Pilar iblis."
Rigel sedikit terkejut, kehadiran pilar iblis sungguh tidak terduga. Pertarungan yang terjadi tentunya tidak akan mudah.
"Pilar iblis? Memangnya sosok seperti itu di perbolehkan ikut dalam pertarungan Fight To End?" Leo nampaknya khawatir. Yah, kekhawatirannya tentunya wajar karena Pilar iblis adalah julukan yang di kenal semua orang.
"Ya... Di tempat seperti ini tidak perduli iblis atau siapapun, mereka di terima jika ingin bertanding. Namun tentunya, jika Pahlawan ikut turut andil dalam pertarungan, tentunya itu akan menimbulkan beberapa konflik dan mencemari nama Pahlawan itu sendiri."
Yah, Rigel sendiri tidak perduli dengan mencemari nama atau apapun. Namun dia tidak ingin orang-orang dari pihak Darkness menyembunyikan Dwarf yang menjadi tujuan utamanya.
"Begitu... Tidak perduli apakah dia pilar iblis atau bahkan Dewa sekalipun, aku tidak akan membiarkannya menghalangi jalanku."
"Hahaha... Seperti yang di duga dari anda. Namun kupikir Dewa tidak akan pernah turun ke tempat rendah seperti ini."
"Kalau begitu, ayah. Apa yang harus kita lakukan sekarang?"
"Hmm, untuk sekarang lebih baik kita mencari tempat untuk bermalam dan memikirkan beberapa rencana untuk pertarungan yang akan datang. Kuharap kau tidak menjadi takut hanya mendengar bahwa Pilar iblis ada di sini."
"Tentu saja tidak, karena ayah ada di sini... Selain itu, aku penasaran dengan ras langka dari Demi-human yang di sebutkan tadi."
"Memangnya orang yang kau cari termasuk Demi-human ras langka?"
Rigel sudah penasaran sejak tadi tentang teman yang Leo maksud. Jika dia ikut bertarung dan kebetulan bertemu dengan mereka, maka akan sulit menyalahkan tanpa membunuhnya.
Jika dia seorang budak, maka dia tidak memiliki barang berharga apapun untuk di tukar dengan nyawanya dan terpaksa Rigel harus mengambil nyawanya. Dia sendiri tidak masalah untuk membunuhnya, namun tentunya Leo berbeda.
"Ya... Dia seorang petarung yang hebat dan Ras yang mirip dengan monster malapetaka, Macan putih. Aku tidak tahu apakah dia masih hidup atau tidak, namun aku harap dia masih hidup."
Setelah berbincang-bincang mereka akhirnya pergi untuk mencari penginapan. Ada beberapa hal yang perlu Rigel lakukan, sehingga ada kebutuhan untuk pergi berkeliling.