The Legends Of Creator Hero

The Legends Of Creator Hero
Mengungkapkan identitas



"Hey, hey, hey, hey, hey! Selamat pagi para pecinta Fight To End!"


"Whoaa!"


"Tidak terasa bahwa kita telah mencapai perempat final Fight To End! Dimana dari 50 kursi, hanya ada 5 orang yang bisa sampai ke perempat final ini! Aku akan menyebutkan lima orang ini berupa :


Dari zona A..., Pilar iblis, Marionette!


Dari zona B..., Sang gajah perang, Gahdevi!


Dari zona C..., Badan besi, Granger!


Dari zona D..., Orang yang dirumorkan memiliki sembilan nyawa, Sharkhan!


Dan dari zona E, yang menjadi sosok yang mungkin mampu bersaing dengan Pilar iblis Marionette, Necromancer, Matsu dan timnya!"


"WHOAA!"


Sorak sorai menggema, teriakan kebahagiaan tak terkira. Para petarung memasuki arena dari sisi yang saling berlawanan, tanpa terkecuali Marionette.


Diluar dugaan bahwa ada begitu banyak orang-orang yang memilih bertarung secara solo ketimbang tim. Entah apa alasan jelasnya, namun Rigel hanya bisa menebak bahwa itu dengan tujuan untuk memiliki hadiahnya sendiri.


Ini kali pertama Rigel berhadapan langsung dengan Marionette yang masih tampak jelas kegilaanya. Dia menatap para petarung dengan tidak tertarik, namun begitu dia melihat Rigel, wajah bonekanya yang tidak tertarik mulai mengalami perubahan.


Lima petarung akan bertarung, mereka masing-masing mengeluarkan niat membunuh satu sama lain. Tiada satupun dari mereka yang terlihat gentar meskipun adanya kehadiran Pilar iblis, Marionette.


Para penonton berkeringat dingin, beberapa menunggu hal menarik yang akan terjadi Setelahnya dan beberapa nampak sedikit ketakutan. Dihapadan tekanan mematikan Marionette, Garfiel tampak berkeringat dingin, begitu juga Leo. Namun, perbedaannya ada pada siapa yang ditakutkan. Leo justru lebih mengkhawatirkan tekanan yang dikeluarkan Rigel.


Dia pernah merasakannya sekali, namun tidak pernah berniat merasakannya lagi. Sejujurnya, bagi Leo itu adalah pengalaman yang sangat mungkin untuk tidak dapat dilupakannya seumur hidupnya.


"Bagus, bagus sekali, bukannya bagus, tentu bagus, barangkali bagus, bisa jadi bagus, karena itu mungkin bagus... Kalian nampak kuat, cukup kuat, mungkin kuat karena kalian cukup kuat, Gyagaga!"


"Sepertinya sikap gilamu tidak kunjung terobati ya..., perlu kucincang dan jadikan makanan babi? Kujamin sinting hilang nyawa melayang."


Rigel memprovokasi Marionette, namun dia sudah tahu bahwa hal remeh semacam itu tidak akan berguna dihadapan orang gila.


"Ya, ya, ya, ya, ya! Nampaknya situasi antara petarung mulai memanas! Lebih baik simpan kata-kata kalian saat perjumpaan kalian nanti..., sekarang, sebaiknya kita langsung saja memulai acara pertama! Mari kita saksikan pertarungan dari Gajah perang, Gahdevi dari zona B..., melawan si badan besi, Granger! Dari zona C!"


Para penonton bersorak sementara petarung yang tidak memiliki hubungan di arena menepi untuk menyaksikan pertarungan.


"Karena Pilar Iblis adalah sosok spesial, kami memutuskan untuk membuatnya bertarung difinal, jadi mohon nantikan!"


Meninggalkan kata-kata itu, para penonton mulai memasang taruhan kepada gacoan mereka. Pertarungan berlangsung cukup sengit, namun pemenang akhir telah ditentukan yaitu, Gahdevi.


"Hey, hey, hey, hey, hey! Itu memang pertarungan yang menarik dan sangat menghibur! Baiklah, selanjutnya mari kita saksikan pertarungan zona D dan E..., Sharkhan melawan Tim Matsu!"


"WHOAAA!!"


Semangat semakin pecah begitu mengetahui bahwa tim Rigel yang akan bertarung selanjutnya. Meski belum lama semenjak pertarungannya, nampaknya tim Matsu telah sangat terkenal di Darkness.


Yah, bukan hal yang buruk dikenal banyak orang, namun disisi lain bisa menjadi pisau bermata dua. Tentunya tergantung pada keadaan.


Rigel, Leo dan Garfiel memasuki arena, begitu juga Sharkhan yang melangkah dengan senyuman lebar di bibirnya. Nampaknya keyakinan yang dimiliki begitu besar, seakan tidak ada tempat dimana dia dikalahkan.


"Heh~, tidak kusangka lawanku adalah anak baru seperti kalian. Kupikir aku akan menghadapi Odin, namun nampaknya si lemah itu kalah dari anak baru. Sungguh memalukan~."


Percuma mengejek orang yang tidak ada di tempat dan tidak ada hal dari perkataan orang ini yang patut diladeni. Rigel, Leo dan Garfiel dengan acuh mengambil posisi bertarung yang sudah ditentukan.


"Kau terkenal dengan nama sembilan nyawa, ya. Mari kita lihat apa benar begitu. Aku akan membunuhmu sebanyak 9 kali dan membuktikan gelar itu."


Sharkhan sedikit bereaksi terhadap perkataan Rigel yang seakan benar-benar akan melakukannya tanpa keraguan. Rigel hanya mendengus ketika melihat hal itu dan kembali fokus pada pertempuran.


"Baiklah, mari kita mulai saja pertarungannya!"


Pembawa acara memberikan tanda, Sharkhan melesat dengan kedua belatinya dan mengincar Leo yang terlihat lemah. Namun dengan pergerakan lincahnya, dia dapat menahan belati Sharkhan dengan mudah. Garfiel menutupi celah Leo dengan berputar mengayunkan carkarnya yang membuat Sharkhan terhempas.


"Boleh juga, anak baru. Kalian cukup berkemampuan—"


"Lalu bagaimana dengan ini?"


CRUCH!


Sebuah tangan menembus dadanya, lebih tepatnya letak jantung berada. Rigel sudah berada di belakangnya dan mencengkram jantung Sharkhan dengan tangannya.


"Khak! Sejak kapan kau..., ada disana..."


"Sejak kau sibuk bacot sendiri..., sekarang, mari lihat apakah kau betul-betul memiliki sembilan nyawa!"


Rigel menghancurkan jantung di tangannya dan menarik tangannya, membiarkan tubuh Sharkhan jatuh tergeletak di tanah. Darah mulai merembes keluar, tubuh Sharkhan perlahan mendingin dan tidak lagi bergerak, yang mengartikan telah mati.


"Halah, kupikir kau benar-benar memiliki sembilan nyawa, namun nyatanya kau tetap manusia yang bila jantungnya hancur, akan mati."


WHOAA!


"Wah, wah, wah, wah, wah! Sungguh tidak terduga bahwa pertarungan akan berakhir dengan sangat cepat! Dengan ini kita memiliki tiga kandidat yang akan bertarung difinal!"


Tiga kandidat final, Marionette, Gahdevi dan tim Matsu yang berisikan Leo, Garfiel dan Rigel. Tentunya mereka bukan sosok yang lemah dan dari yang terlihat, akan terjadi bentrokan sengit antara tim Matsu dengan Marionette.


Kekuatan Gahdevi sendiri memang tidak dapat diremehkan, karena satu pukulannya dapat meretakan lantai arena. Memang cocok baginya mendapat julukan gajah perang, namun pastinya ada hal lain yang membuatnya mendapatkan julukan itu.


"Pertarungan final akan diselenggarakan tepat tengah hari, jadi selama jeda waktu tersebut, diharapkan untuk para petarung menyiapkan tenaga dan strategi sebelum pertarungan dimulai!"


Rigel mulai membuat simulasi pertarungan di kepalanya. Jika pertandingan akan di selenggarakan satu lawan satu lawan satu, maka akan ada dua musuh hebat yang harus dihadapi. Jika bisa, Rigel ingin membuat aliansi dengan Gahdevi untuk menjatuhkan Marionette terlebih dahulu dan baru menentukan peringkat satu dan dua setelah Marionette dikalahkan.


"Yah, baiklah mari kita kembali ke kamar untuk membahas beberapa hal dan juga, ada hal yang harus kulakukan sebelumnya. Jadi kalian kembali duluan dan tunggu aku."


Rigel meninggalkan arena, menuju suatu tempat yang pernah dia kunjungi sebelumnya. Tempat kakak Garfiel, Theresia berada.


Saat tiba di tempat yang tidak ada orangnya, Rigel menggunakan teleportasi dan tiba di tempat Theresia berada. Saat ini mereka berada di dalam kandang budak, tentunya untuk tampilan luarnya saja. Mereka terkejut begitu melihat Rigel muncul tiba-tiba dan menyadari bahwa itu adalah teleportasi instan.


"Tuan Matsu, dari mana kamu belajar hingga bisa menggunakan sihir teleportasi?"


Wajar untuk merasa curiga. Namun Rigel tidak memiliki niat untuk membongkarnya saat ini, karena diperlukan pengamanan informasi sampai akhir dari rencananya. Bahkan sedikit saja bocor, itu akan menyebar dengan cepat seperti wabah.


Untuk saat ini, pilihan terbaik adalah tidak memberikan sedikitpun jawaban terhadapnya dan Rigel hanya perlu membuat Theresia tidak mencarinya untuk saat ini.


"Itu tidak penting...., terlebih penting, bagaimana dengan tugas yang kuberikan kepada kalian untuk menyebarkan berita tentang mengamuk ketika kekacauan terjadi?"


"Y-ya, kami telah melakukannya dan memastikan hanya para budak yang mengetahuinya. Namun, apakah benar-benar akan ada pasukan yang datang untuk membebaskan para budak? Jujur saja, bagiku itu bahkan tidak akan pernah terwujud di dalam mimpi."


Mereka bukanlah orang-orang yang belum lama menjadi budak. Justru mereka dapat digolongkan senior perbudakan. Mereka telah melihat sisi busuk manusia dan orang-orang lemah yang menganggap derajatnya lebih tinggi dari yang lain.


Untuk budak, harapan seperti datangnya hari dimana kebebasan mereka kembali hanyalah angan-angan yang tidak akan pernah terwujud. Ketimbang harapan seperti itu, mereka berharap mendapatkan majikan yang baik. Setiap negara membutuhkan budak, bila ingin membuat kerajaan dan negaranya makmur.


Selain tidak dapat menolak perintah tuannya, keuntungan perbudakan adalah mereka tidak perlu membayar para budak untuk melakukan pekerjaan. Mereka hanya perlu memberikan air, makanan dan pakaian untuk membuat mereka tetap hidup. Karena itu ada pepatah dunia ini yang menyebutkan 'Banyaknya budak, menandakan kesuburan'.


Karena kata-kata itu, negara-negara mulai buru memburu budak untuk memakmurkan tanah air mereka masing-masing. Awalnya mereka mengalami kebuntuan karena mereka tidak bisa menggunakan rakyat mereka sebagai budak. Di tengah itu semua kehadiran demi-humanlah yang menjadi sasaran perbudakan.


Mengingat agama dunia ini, Ruberios menganggap bahwa monster adalah musuh para dewa dan manusia. Dengan adanya dekrit semacam itu, pada akhirnya orang-orang mencapai kesimpulan bahwa Demi-human termasuk kedalam jenis monster. Yah, untuk saat ini mari kembali ke topik.


"Tenang saja, aku akan menjamin penuh bahwa pasukan pembebasan akan datang. Jika pasukan itu tidak datang seperti kata-kataku, maka aku bersedia mengutuk diriku sendiri sampai tujuh turunan."


Meski tidak meyakinkan, setidaknya para budak menjadi sedikit lebih tenang.


"Kalau begitu baiklah... Lalu, selanjutnya apa yang harus kami lakukan?"


Rigel belum memikirkannya, namun dia tentunya telah memiliki gambaran tentang hal yang akan dia berikan kepada mereka untuk dikerjakan. Meski besar kemungkinan adanya mata-mata diantara para budak nanti bila dia melakukannya. Yah, akan baik jika memberikan hak budak kepadanya dan membuat mereka tidak dapat berkhianat.


Rigel meminta Theresia yang telah pulih dari penyakitnya untuk mendekat ke arahnya. Kandang budak itu tidak lagu dikunci semenjak Rigel mengambil alih tempat ini.


Theresia dengan canggung melangkah mendekat dan berdiri tepat di depannya. Rigel mendekatkan kepalanya ke telinga Theresia dan mulai memberikan instruksinya.


"Tepat tengah hari, kuyakin semua orang akan berkumpul di arena pemakaman untuk menyaksikan pertarungan yang jarang terjadi. Ditengah waktu itu, aku ingin kau dan yang lainnya pergi ke penjuru kota untuk membebaskan budak sekaligus menekan tombol hijau pada benda yang telah kuminta kalian letakan di berbagai sudut kota ini. Saat prajurit tiba, tunjukanlah ini kepada pemimpin mereka."


Rigel memberikan sebuah pistol tanpa peluru kepada Theresia. Tentunya hanya Region saja yang dapat memiliki senjata semacam itu dan bila ada orang luar yang memilikinya, maka satu-satunya jawaban adalah Rigel yang memberikannya.


"Benda apa ini?"


Theresia tidak tahu menahu tentang senjata itu, karena dia begitu terkurung di tempat ini sehingga sangat sedikit informasi yang dimiliki. Mungkin termasuk dengan informasi mengenai senjata hebat milik Region.


"Kau akan tahu bila tahu nanti..., aku serahkan disini kepadamu. Aku akan melakukan hal lain terlebih dahulu."


"Baiklah kalau begitu, hati-hati."


Rigel mengangguk dan berteleportasi ke tempat Leo dan Garfiel menunggu. Begitu tiba, tidak hanya Leo dan Garfiel. Tetapi keberadaan Odin tentunya mengejutkan karena seharusnya dia berada di ruang kesehatan. Jika dia datang atas inisiatifnya sendiri, maka tidak mengejutkan dia tahu situasinya sehingga tidak perlu menyusahkan diri untuk menjelaskan.


"Dimana Moris?"


"Sebelumnya dia berkata ingin mengambil uang taruhan atau semacamnya. Karena ayah—kau memanggulku, aku tidak dapat mengikutinya."


"Hmm, nampaknya ada kemungkinan bahwa dia mengkhianati kita. Yah, lagipula kita mendapatkan rekan baru dan mari kihat seberapa bergunanya dirimu, Odin."


"Kalau begitu baiklah. Tidak apa kan, bila aku membunuhnya?"


Rigel mengangguk, "Ya..., hanya jika bila dia berkhianat."


Jika Moris seorang pengkhianat, maka tidak ada alasan yang dapat membuatnya untuk tetap hidup. Pengkhianat harus dihukum mati, begitu hal yang Rigel tekankan pada diri dan prajurit Region.


Garfiel yang hanya menyimak sedari awal nampak bermasalah dan hendak mengatakan sesuatu, namun ragu-ragu dipertengahan, hingga akhirnya dia memutuskan untuk bertanya.


"Umm, bagaimana dengan strategi yang akan digunakan? Lalu, aku ingin bertanya, mengapa Leo dan Odin nampak sangat mengenalmu? Kupikir kita sama-sama belum melihat wajahmu, atau hanya aku saja yang belum melakukannya."


Leo jelas tahu identitas asli pria bernama Matsu, yang adalah Amatsumi Rigel. Untuk Odin, dia memang tidak melihat atau mendengarnya langsung dari Rigel, tetapi dia tahu melalui hasil pengamatannya sendiri. Yah, sepertinya sudah waktunya membeberkan jati dirinya keoada Garfiel yang malang yang tidak mengetahui apapun.


"Yah, sepertinya memang sudah waktunya. Lagipula ini adalah penghujung rencana sehingga tidak perlu menjaga identitas darimu lagi...,"


Rigel perlahan melepaskan rambut palsu dan topeng di wajahnya. Garfiel menenggak air liurnya dan terbelalak begitu melihat wajah yang selama ini berada dibalik topeng menyeramkan itu. Hanya ada keterkejutan di wajahnya.


"Kau, kalau tidak salah...,"


Rambut putih dengan mata dan tangan kiri yang aneh. Hanya ada satu orang yang memiliki penampilan seperti itu.


"Orang-orang memanggilku Pahlawan Creator. Namaku Amatsumi Rigel, kau cukup memanggilku Rigel saja."


Sosok Pahlawan yang berada di tanah terpuruk Darkness mengungkapkan identitasnya.


Note :


Maaf atas keterlambatannya karena kemarin bertepatan dengan hari raya idul fitri dan sebagai seorang muslim, gw harus keliling menemui saudara dengan tujuan minta maaf dan meminta mereka mengisi dompet gw yang kosong melompong. Hehe.


Minal aiidzin wallfaidzin, mohon maaf lahir dan batin.