
Saat ini, semua penghuni Hutan Roh berkumpul disebuah tempat. Tempat indah dengan pemandangan danau bening yang sangat cantik, disertai bunga-bunga yang memanjakan mata.
Alasan mereka semua berkumpul hanya untuk menghadiri sebuah acara sekali dalam seumur hidup. Dimana pemimpin mereka, Ratu Peri Sylph akan mengikat janji suci dan untuk pertama kalinya muncul sang Raja Peri.
Raja Peri merupakan sebuah gelar yang hanya akan dimiliki pasangan sang Ratu, tentu atas kehendak pohon Roh yang menjadi pusat Hutan Roh. Lantas hal ini menjadi kebahagiaan dan sukacita mereka akan kelahiran sang Raja.
Meski sangat mendadak dan benar-benar tanpa direncanakan, Rigel tidak menduga akan menjadikan Sylph sebagai mempelai pertamanya. Dia tidak menyukai hal ini. Bukan karena mempelainya kurang cantik, justru mempelai itu sendiri dianggap sebagai perwujudan kecantikan. Namun tetap saja, ada beberapa ketidak nyamanan yang dia rasakan. Entah apa kata Priscilla atau Tirith bila mengetahuinya. Yah, dia sendiri tidak terlalu mengkhawatirkannya.
Jika bukan karena kemungkinan terburuk yang diceritakan Sylph sebelumnya, dia tidak akan pernah menyetujui hal ini. Tentunya ada pilihan dimana Sylph cukup menyaksikan dari kejauhan. Namun Sylph sendiri yang membantah dan menyatakan, jalan manapun yang diambil, hasil akhirnya kemungkinan akan tetap sama. Karena hal itulah, diperlukan persiapan mental maupun batin baginya.
Sampai akhir, Rigel hanya dapat berjuang sekeras mungkin untuk menghindari situasi terburuk dan berharap tidak ada hasil apapun yang tidak dapat diterima.
"Jadi, apa yang harus dilakukan selanjutnya? Aku sama sekali tidak tahu menahu pernikahan dunia ini ataupun peri."
Dia hanya pernah menyaksikan sebuah pertunangan, itupun dia hancurkan dengan kedatangannya. Pertunangan yang dimaksud adalah Tirith dengan bajingan yang pergi ke neraka. Yah, mari lewatkan cerita itu untuk lain hari.
"Biar pendeta yang menjelaskan urutannya."
Rigel tidak tahu pendeta yang dimaksud, apakah itu manusia atau itu peri?
Seakan menjawab pemikirannya, sebuah gelombang air berputar dan membentuk sosok gadis cantik dengan pakaian biru dan rambut biru yang serasi dengan pakaiannya. Wajahnya kecil dan mempesona dengan bibir kemerahan, Rigel sendiri cukup terpesona dengan keelokan gadis itu, namun dia tidak sebanding dengan Sylph atau bahkan Tirith.
"Peri air, peri tingkat tinggi, Undine. Dia yang akan menjadi pendeta dan saksi dari pengikatan janji suci."
Sylph menjelaskan kepada Rigel kepada sosok yang baru saja muncul. Selain Sylph, ini kali pertamanya melihat peri dengan wujud manusia. Mungkin karena dia roh tingkat tinggi sehingga tidak akan mengejutkan bila memiliki wujud dan dapat bicara.
Peri air—Undine berjalan dan berhenti tepat di depan Rigel dan Sylph. Dia berlutut dengan anggunnya dan menunjukkan ekspresi lembut kebahagiaan. Dengan senyuman lembut nan mempesona, dia berkata,
"Salam kenal, wahai calon Raja Peri, saya peri air yang mendiami danau ini, nama saya Undine..., Yang mulia Ratu, saya ucapkan selamat atas pengikatan janji suci anda. Mohon izinkan saya yang hina ini menjadi saksi dari kelahiran Raja Peri dan sosok yang menuntun pengikatan janji suci."
Sylph tersenyum lembut, selagi Undine berlutut dan terlihat jelas sangat bersukacita. Ekspresinya tidak berbeda jauh dengan seorang adik yang sangat bahagia ketika melihat kakak perempuannya berada di pelaminan.
Rigel di sisi lain hanya menatap dan mengamati Undine. Meskipun penampilannya calak dan rupawan, namun kekuatannya sungguh bukan main. Dari energi sihirnya saja mungkin setara dengan Ray atau Merial. Sejauh ini, setelah Sylph dan Priscilla, Undine mungkin menjadi salah satu yang terkuat diantara para peri dan roh.
"Peri air Undine, angkatlah kepalamu dan bantu kami dalam pelaksanaan janji suci. Lantaran kau kuanggap adik perempuanku, aku merasa sangat terberkati dengan sukacita dan kebahagiaan yang kau keluarkan untukku," Sylph melambaikan tangannya selayaknya menyuruh Undine bangkit.
"Saya merasa tidak pantas mendapat kehormatan seperti itu. Justru sudah kewajiban saya bersukacita atas kebahagiaan anda. Dikarenakan anda masih mau menerima keberadaan saya yang telah ternodai ini..." raut wajahnya sedikit pahit dan sedih, namun dengan cepat kembali menjadi kebahagiaan.
Undine berlutut, mengambil posisi diantara Rigel dan Sylph. Para kemilau cahaya yang merupakan peri dan hewan-hewan roh lainnya berkumpul dengan suasana riang. Seisi hutan dipenuhi kebahagiaan, sukacita dan haru.
Sebagai bahagia akan pengikatan janji suci Ratu mereka, sebagai bersukacita karena melihat Ratu mereka di pelaminan dan sebagian lagi haru akan kelahiran Raja Peri pertama.
Undine merentangkan kedua tangannya yang kurus. Rigel dan Sylph saling menatap satu sama lain. Sylph memiliki senyuman di wajah cantiknya, sementara Rigel tetap memakai wajah pokernya.
"Wahai Ratu Peri yang mulia, Sylph. Sebagai Ratu yang memimpin kami para peri selama lebih dari seribu tahun, satu-satunya Ratu yang pernah kami miliki. Engkau akhirnya menemui sosok yang akan berbagi suka maupun duka, susah maupun senang yang akan dilalui bersama. Sebagai Ratu para Peri, engkau tidak memiliki konsep umur. Bersediakah engkau menemani mempelaimu dan mencintainya sampai ajal menjemput dirinya?"
"Ya..., aku bersedia."
"Wahai engkau manusia dari dunia lain yang terpilih sebagai Pahlawan manusia, Pahlawan Creator, Amatsumi Rigel. Engkau akan menjadikan Ratu kami sebagai wanitamu, sosok yang berbeda ras maupun bangsa sebagai wanitamu dan mendapat gelar sebagai Raja Peri. Engkau yang seorang manusia memiliki batas waktu untuk hidup, berbeda dengan mempelai wanitamu. Bersediakah engkau menerima keberadaan yang benar-benar berbeda darimu??"
Rigel belum pernah memberitahukan nama atau apapun kepada Undine, namun entah bagaimana dia mengetahui segala hal tentangnya. Mungkinkah para peri kecil itu yang memberitahunya? Jika begitu maka tidak mengejutkan.
"Ya, aku bersedia."
"Bersediakah engkau berjanji untuk berbagai kebahagiaan, kesedihan, kekecewaan dan cinta satu sama lain??"
Sylph mengangguk senang dan menghilangkan senyuman di bibir, menggantinya dengan wajah serius dan menatap Rigel.
"Ya..., aku bersedia untuk berbagi kebahagiaan, kesedihan, kecewa dan memberikan cintaku padanya, selama sisa hidup yang ada," jawab Sylph dengan tegas dan tanpa keraguan.
"Bersediakah engkau mencintai dan merangkai kebahagiaan bersama wanita pilihanmu?"
"Ya, aku bersedia melakukannya," jawab Rigel dengan singkat.
Seekor peri kecil terbang dengan membawakan sebuah cincin dari akar tanaman yang ukurannya sebesar tubuhnya. Rigel mengambil cincinnya dan tentu memahami apa yang harus dia lakukan pada cincin itu. Sylph mengulurkan tangan kanannya dan Rigel meraih tangannya lalu memasukkan cincin ke jari manisnya.
Meski terdapat kata-kata dan janji rumit, pada umumnya pernikahan ini tidak jauh berbeda dengan yang Rigel ketahui. Pada akhirnya, dia tahu hal terakhir untuk menyelesaikan upacara ini.
Sylph yang sedikit lebih rendah dari Rigel menatapnya dan sedikit berjinjit, untuk mendekatkan bibirnya dengan Rigel. Begitu pula sebaliknya, hingga bibir mereka saling merasakan satu sama lain.
Kehangatan dan sedikit rasa nektar yang lembut dapat dirasakan dari sentuhan yang ada pada bibirnya. Dia memikirkan sesuatu, bahwa Ratu peri ini benar-benar gadis sempurna dalam hal tertentu yang sulit dijelaskan.
"Ini sungguh memalukan bagiku," Sylph menjaga jarak wajah selagi tersipu. Wajar saja dirinya bertindak seperti itu, lagipula dia tetap seorang wanita dan juga hal ini menjadi kali pertama baginya.
"Sekarang apa yang harus kita lakukan? Apa selesai dengan ini saja??" Rigel bertanya. Dia ingin menyelesaikan ini dengan cepat dan bertapa untuk mengumpulkan kekuatan sebelum malam tiba.
"Mengecualikan sesuatu yang harus dilakukan pada malam hari, yang tersisa sekarang adalah mengunjungi pohon roh saja."
Rigel bertanya-tanya mengapa tidak melakukannya diawal saja. Namun dia tidak berniat banyak protes dan mengikuti Sylph menuju pohon roh bersama peri lain tanpa terkecuali.
"Lalu, apa yang harus kulakukan atau kita lakukan??"
Entah harus dia sendiri yang melakukan hal terakhir atau mereka berdua, dia tidak tahu. Harapannya adalah agar tidak terjadi sesuatu yang merepotkan dan semoga ini cepat diselesaikan.
"Mudah saja. Kamu hanya perlu menyentuh kristalnya dan kamu akan tahu apa yang harus dilakukan ketika menyentuhnya. Begitulah yang tertulis pada dekrit."
Pada akhirnya tidak jauh berbeda dengan hal yang dia lakukan saat ujian menaiki pohon. Segalanya akan terjawab apabila dia menurutinya dengan menyentuh kristal itu.
Dengan sedikit keraguan, dia mengulurkan tangannya kepada kristal dan merasakan energi misterius masuk melalui telapak tangannya lalu menyebar ke seluruh tubuh. Kesadarannya ditarik ke suatu tempat gelap dengan cahaya redup bak bintang. Tidak salah lagi, tempat ini yang dia datangi ketika ujian.
"Jadi itu kau, ya. Sudah kuduga bahwa Sylph memang tertarik kepada manusia sepertimu..., atau mungkin harus aku panggil Pahlawan? Rigel?? yah tidak perduli."
Suara yang terdengar seperti anak kecil menggema, Rigel mencarinya namun tidak menemukan apapun, hingga cahaya kecil mulai berkumpul dan membentuk sosok anak kecil berambut kuning yang imut dan nampak semangat. Sosoknya sendiri hampir seperti lebah dengan wujud manusia berumur 8 tahunan. Pakaiannya nampak seperti sebuah kostum lebah, namun cocok dengannya.
"Cara bicaramu sangat tidak sopan, bocah. Lagian juga kau ini siapa? Bahkan memanggil nama pemimpinmu tanpa kata Ratu..."
Mendengar ucapan Rigel, bocah lebah itu nampak tersinggung. Urat mulai muncul di dahi dan alisnya berkedut tidak senang.
"Justru kau yang tidak sopan. Jabatanku lebih tinggi darinya, lantas untuk apa aku memanggilnya Ratu??"
"Hah? Aku tidak pernah mendengar tentang itu."
"Fufun," peri lebah itu tersenyum geli dan memasang wajah sombong. "Akulah sosok yang dipuja para peri, sosok yang menjadi pelindung hutan roh selama berabad-abad lamanya! Benar, akulah Pohon roh!!"
...
...
"Ngajak berantem??" ujar Rigel, menatap dengan bosan peri lebah itu.
"Apa?? Mungkinkah kau tidak percaya kepadaku?! Kurang ajar!!..."
Peri lebah itu mulai mengoceh dengan tidak jelasnya, sementara Rigel memikirkan kembali kata-katanya.
Kendati kesadarannya ditarik kedalam kristal pohon roh, maka secara otomatis tidak akan ada yang dapat memasuki tempat ini, bahkan Sylph sekalipun. Lantas peri lebah yang ada di depannya ini benar-benar wujud dari pohon roh?? Meski benci mengakuinya, namun Rigel mau tidak mau harus percaya dan menyelesaikan ini dengan cepat.
"Yah baiklah, terserah kau saja. Bila kau memang pohon roh, lantas kau tahu apa yang terjadi diluar dan tujuanku kemari," Rigel mengabaikan ocehannya dan langsung melompat ke intinya.
"Kau memang menyebalkan. Mengapa pula Sylph tertarik kepada orang seperti ini," gerutunya dengan kesal.
"Yah, biarlah. Sylph mengirimmu kemari ahar kau dapat bertemu langsung denganku dan mendapat berkah agar kau memiliki otoritas terhadap para peri. Meskipun aku seharusnya menolaknya, namun karena terdapat sesuatu yang menarik darimu, jadi aku mengurungkan niatku."
"Memangnya hal apa yang kau tahu tentangku?" tanya Rigel dengan sedikit kecurigaan.
"Hehe, aku melihat apa yang kau lihat dan apa yang akan kau lihat. Jika kau tidak percaya, maka aku dengan yakin mengatakan bahwa usia jiwamu seharusnya sudah mencapai seratus tahun," peri lebah itu tersenyum dan mendekati Rigel dengan penuh arti.
Rigel tentunya terkejut, sangat terkejut dengan ucapannya. Entah hanya asal tebakan atau bukan, peri itu memberikan jawaban yang sangat tepat. Rigel pernah terjebak di Labyrinth neraka selama seratus tahun, sehingga jiwanya lebih tua ketimbang umurnya.
"Tenang saja, tidak akan ada seorangpun yang mengetahuinya selain diantara kita. Lagipula tidak ada cara apapun bagiku mengumbarnya. Kamu dapat memegang perkataanku sebagai pelindung hutan."
"..., sepertinya kau memang pohon roh, ya. Akan kuanggap begitu. Hal-hal yang kau lihat tentang itu tidak memberikan kenyamanan padaku, jadi cepatlah lakukan sesuatu yang harus dilakukan."
Semakin lama berada di sini, maka dia akan semakin kepikiran dengan hal-hal yang sangat tidak penting seperti bertanya-tanya bagaimana pohon roh mengetahui sesuatu yang tidak seorangpun ketahui.
"Aku tahu, aku tahu. Kamu tidak suka membahas hal-hal yang kau kenal dengan neraka atau semacamnya itu kan? Lagipula aku telah melihatnya jadi tidak ada kebutuhan menanyakan hal tidak penting. Mari kita selesaikan dengan cepat."
Tik.
Dia menjentikkan jarinya dengan malas dan perlahan sesuatu serasa membakar kulit dada Rigel. Entah apa yang dilakukannya, kini terbentuk sebuah logo berbentuk daun hijau di dadanya. Nampaknya, tujuannya kemari untuk mendapatkan logo sederhana seperti itu saja.
"Sisanya kamu hanya perlu bercinta tujuh malam dengannya untuk membagi otoritas yang ada. Bersenang-senang lah," ujarnya dengan senyuman nakal.
Rigel hanya mengerutkan alis dan tidak mengatakan apapun, karena tidak begitu ahli adu argumen dengan sosok sepertinya.
"Oh ya, sebelum kau pergi aku akan memberikanmu beberapa nasehat," wajahnya kini berubah menjadi serius, matanya menatap dengan tajam dan sedikit mengintimidasi.
"Jangan terlarut dalam amarah hingga pikiranmu tidak jernih. Jika kau tergoda menggunakannya, kau akan mengetahui 'potensi sebenarnya' namun sebagai gantinya takdirmu telah ditentukan."
Rigel hanya mendengarkannya dan sama sekali tidak memahami maknanya. Namu sesuatu tentang potensi sebenarnya atau semacamnya membuatnya penasaran.
"Apa maksudmu? mungkinkah itu sesuatu dimasa depan atau yang lain??" Rigel bertanya untuk mendapat informasi terperinci.
"Entahlah, yang jelas ingat baik-baik perkataan itu. Aku dapat melihat apa yang telah kau lihat dan akan kau lihat..., sebaiknya aku tidak berbicara lebih jauh lagi, ya."
Perlahan Rigel merasa pusing dan pengelihatannya kabur. Jiwanya mulai ditarik keluar dan kesadarannya perlahan memudar saat peri itu hendak mengatakan sesuatu.
"Sampai sini saja. Ingatlah Pahlawan, jangan salah dalam membuat..., menyesal...,—pa kematian..." Kata-katanya tidak dapat terdengar jelas seakan terputus-putus hingga akhirnya dia kembali kenyataan.