
POV MIRAI.
Cahaya putih kebiruan menyinari seluruh ruangan. Aku tidak terlalu tahu apa yang terjadi, namun sebelum cahaya menyinari Arch Licht aku dapat melihat pria berlengan satu melompat ke arahnya.
Aku berfikir jika yang melakukannya adalah Rigel.
Aku merasa frustasi karena tidak dapat membantu apapun dan malah menangis disaat saat terakhir.
Tadinya kupikir, serangan kuat dari Anastasia akan berhasil membunuh si brengsek Arch Licht itu namun, kenyataan berkata lain.
Arch Licht itu masih hidup dan meregenerasi tubuhnya yang tersisa dan perlahan bangkit kembali.
Itu adalah pertama kalinya aku jatuh kedalam jurang gelap tanpa ujung yang bernama Keputusasaan. Aku dapat mendengar Rigel berteriak ke arahku namun aku tidak dapat berkata apa apa dan hanya meneteskan air mata.
Cahaya terang perlahan menghilang dan aku mencoba membuka mataku. Butuh beberapa waktu untuk mataku kembali menyesuaikan diri dengan keadaan sekitar.
Setelah mataku menyesuaikan diri, aku dihadapkan dengan sebuah kejutan yang tidak akan pernah muncul dalam kepalaku saat aku jatuh kedalam jurang Keputusasaan.
"Arch Lichtnya... Lenyap?"
Gumam Mirai dengan pelan.
Aku dapat merasakan suaraku bergetar. Aku ingin menangis, namun aku harus tetap menahan air mataku.
Benar! Dimana orang itu?
Aku mencari ke daerah sekitar dan melihat semua prajurit satu persatu sambil berharap menemukan orang yang sedang kucari, dia adalah Rigel.
"Dimana si pria berlengan satu Rigel?!"
Aku berusaha mengumpulkan kekuatanku dan berteriak kepada semua orang yang telah kembali ke kenyataaan.
Mereka mencari ke sekeliling dan menggelengkan kepalanya ke kiri dan kekanan yang menegaskan bahwa mereka tidak mengetahuinya.
Lalu, ingatanku saat Rigel menjelaskan proposal rencananya muncul di dalam kepalaku.
(Kilas balik.)
"Apa rencanamu untuk membuat mahkluk ini terpojok, Rigel?"
Tanya Mirai.
"Mudah saja. Pertama tama aku ingin kau membantu para petinggi lain untuk menyegel gerakan dari Dragon Zombie agar mereka dapat memfokuskan diri menghadapi Arch Licht."
Kata Rigel.
"Aku bisa membantu mereka namun bagaimana cara menyegel gerakannya? Dan siapa yang akan menghadapi Arch Licht selagi aku membantu yang lainnya?"
Tanya Mirai penuh kekhawatiran.
"Untuk menyegel gerakan Dragon Zombie itu mudah saja."
Ucap Rigel sambil mengambil sesuatu dari infertory.
"Gunakanlah rantai ini. Rantai ini adalah versi yang lebih lemah dari rantai Gleipnir, aku mendapat rantai ini dari salah satu boss lantai yang telah kukalahkan dan aku yakin ini lebih dari cukup untuk menahan gerakannya."
Ucap Rigel dengan percaya diri.
"Lalu, yang akan menghadapi Arch Licht seorang diri adalah aku."
Rigel mempertegas.
"Apa kau sudah gila?! Kau tidak akan sanggup mengalahkannya seorang diri!"
Mirai berteriak.
Bahkan aku tidak dapat menggores tulangnya yang sangat kuat, itu mustahil untuk Rigel yang hanya memiliki sebuah lengan untuk melukai Arch Licht.
"Tidak perlu bagiku mencoba mengalahkannya, aku hanya perlu menghadapinya dan mengulur waktu sebisaku sambil memberikan kerusakan yang kubisa."
Aku hanya diam mendengarkan proposal yang diajukan Rigel.
"Sebelum aku melanjutkan proposalku, bisakah kau menjanjikan aku sesuatu?"
Rigel bertanya.
"Apa yang kau inginkan?"
Kata Mirai.
"Mudah saja. Setelah penaklukan ini berakhir aku mungkin akan mendapatkan posisi yang lebih tinggi darimu. Namun, aku benci hal yang merepotkan seperti itu."
"Tetapi, jika aku memikirkan kembali tujuanku, kurasa aku harus mendapatkan posisi yabg menguntungkanku. Aku ingin kau mengajukanku berada di posisi yang memungkinkanku mendapatkan seluruh informasi mengenai empat pangeran neraka, bagaimana?"
Aku terkejut dan sedikit kesal karena dia mengatakan akan mendapatkan posisi yang lebih tinggi dariku. Itu berarti dia menyatakan bahwa dirinya lebih kuat dariku.
Meski aku ingin membantahnya, kami tidak memiliki banyak waktu dan terpaksa aku harus memenuhi keinginannya.
"Baiklah. Akan aku usahakan. Lanjutkanlah proposalmu, kita tidak memiliki banyak waktu."
Rigel mengangguk dan kembali melanjutkan.
"Lalu, aku ingin kau juga memberitahu Anastasia untuk melontarkan sihirnya tepat setelah aba abaku."
Aku mengerti setengah bagian mengenai rencana Rigel, namun aku tidak mengetahui setengah bagian lagi dari rencananya. Apa gunanya tim untuk membuat lubang?
Seakan mendapatkan wahyu dari langit, aku mulai mengerti apa tujuan dari rencana Rigel.
"Kau... Jangan-jangan.."
Sebelum aku menyelesaikan kalimatku, dia menyela kata kataku.
"Ya. Aku akan membuat Arch Licht itu jatug tepat ke arah serangan Anastasia untuk mempertinggi tingkat keberhasilannya dengan begitu, Arch Licht itu hanya akan bisa menerima serangan Anastasia."
Itu memang rencana yang brilian namun juga beresiko. Yang jadi masalah utama adalah bagaimana cara menjatuhkan Arch Licht raksasa itu?
Karena dia mengajukan rencana ini, aku yakin dia pasti telah menyiapkan caranya. Pria ini, meskipun hanya memiliki satu lengan dan satu mata untuk melihat, rupanya dia memiliki lebih banyak trik di lengan bajunya.
"Baiklah kalau begitu."
Aku bersiap untuk pergi ke arah para petinggi lain, namun Rigel menghentikanku.
"Tunggu dulu. Sebelumnya, aku ingin memberitahumu sesuatu untuk jaga jaga."
Aku diam mengangguk kepadanya karena wajah Rigel yang biasanya tampan dan santai berubah menjadi gelap dan marah.
"Jika misalkan skenario terburuk terjadi yaitu kegagalan serangan Anastasia, aku akan melakukan strategi terakhir yaitu dengan memindahkan Arch Licht ke luar dan membiarkannya terbakar sinar matahari."
Ucap Rigel sambil tersenyum.
Aku terkejut mendengar pernyataan berani yang dia buat.
Apakah dia berniat menteleportasikan boss lantai ke luar ruang boss? Jika begitu kemungkinan besar dia akan mengamuk dan membuat kekacauan.
"Apa kau sudah gila?!"
Tanya Mirai.
"Tenang saja, itu hanya skenario terburuk saja bagaimana? Mau bertaruh?"
(Kembali ke kenyataan.)
Jadi, cahaya barusan itu dan orang yang melompat sebelumnya adalah Rigel?
Aku tidak habis fikir jika dia benar benar akan menteleportasikan Arch Licht itu keluar dari ruang boss.
Arch Licht itu benar benar lenyap dari tempat ini dan hanya menyisakan jubah dan tudung yang dia kenakan sebelumnya.
"Rupanya ini item drop, ya?"
(Note: Dalam game bertemakan RPG, item drop adalah barang yang jatuh dari monster yang berhasil dikalahkan.)
Aku memasukannya kedalam Infertory untuk saat ini.
Aku melihat ke arah Anastasia yang terbaring di pangkuan salah satu penyihir wanita yang melindunginya.
'Dia hanya pingsan karena kehabisan mana, ya? Syukurlah.'
Aku bersyukur di dalam hatiku, para prajurit lain juga baik baik saja. Jika mengecualikan orang yang terluka parah, tidak ada korban jiwa dari pertarungan ini.
Aku berjalan perlahan menuju gerbang yang menghubungkan lantai 16 dan saat aku ingin membukanya,
Seorang pria yang membela Rigel sebelum memasuki ruangan boss menghadang pintu itu seolah mengatakan bahwa tidak ada seorang pun yang boleh membukanya.
Aku mengerutkan alisku karena tindakannya.
"Apa yang sedang kau lakukan?"
Tanya Mirai.
"Aku disuruh seseorang yang membawa pergi mahkluk itu untuk tidak membiarkan siapapun membuka pintu ini sebelum dia datang."
Katanya.
Aku terkejut dengan kata katanya.
"Apakah orang yang menyuruhmu itu pria berlengan satu yang bernama Rigel?"
Mirai bertanya untuk memastikan.
"Aku yakin itu namanya."
Aku mengerti alasannya menyuruh untuk tidak membuka pintu lantai selanjutnya adalah untuk menghindari kemunculan boss baru sebelum dia datang kesini.
Aku mengangguk perlahan dan menggantikan Anastasia untuk memberikan instruksi. Dragon Zombie yang berhasil kami segel telah menghilang karena ketidak hadirnya Arch Licht.
Aku duduk melipat kakiku dan menunggu kedatangan Rigel sambil beristirahat.
'Aku yakin entah bagaimana caranya dia akan menang dan muncul kembali disini dengan cepat.'